Anak-anak...

Kalau bisa mengulang waktu, Minho ingin mengulang hari saat Jeongin lahir. Hari yang sama saat Bunda pergi. Hari dimana ia dan Changbin berlagak seperti superhero untuk Hyunjin.

Berangkat sekolah terasa menakutkan di hari-hari setelah pemakaman Bunda. Minho sampai harus menjalani perawatan khusus. Mimpi buruknya sama setiap malam. Rentetan kejadian sepulang sekolah di hari Jeongin lahir. Seperti itu terus setiap malam. Minho akan berakhir menangis menjerit di tengah malam. Sampai akhirnya ia benar-benar tidak ingin pergi ke sekolah.

Akhirnya Minho menjalani home-schooling sampai SMP. Saat SMA Minho memberanikan diri sekolah formal seperti anak-anak umumnya. Semua berkat usaha Julia—anak tante Mina.

Selama sekolah di rumah, Minho tentu kesepian dan tidak punya teman lain selain saudara-saudaranya. Tante Mina kerap bertandang bersama suami dan anaknya, Julia. Keduanya menjadi semakin dekat seiring berjalannya waktu. Julia pun kerap berbagi cerita bagaimana rasanya sekolah di luar.

“Kamu gak mau nyoba sekolah di luar?”

“Kamu mau sekolah SMA dimana?”

“Di SMA 85.”

“Oke. Aku mau sekolah tapi sama kayak kamu.”

Dengan begitu Minho kembali menjalani kehidupannya sebagai remaja. Sekolah, belajar, bermain, memiliki lebih banyak teman. Mimpi-mimpi buruk itu tidak pernah datang. Hanya sesekali ketika ia benar-benar penat.

“Aku yakin Bunda kamu pasti senang lihat kamu bisa kembali berbaur daripada terkurung di rumah.”

Hingga 15 tahun berlalu sejak Bunda pergi. Rindu itu tentu saja selalu ada. Minho sudah lebih bisa mengontrol emosinya tapi ia tidak bisa menahan airmata setiap kali melihat ayah menangis diam-diam di kamar memeluk pigura Bunda.

Ayahnya kuat. Maka Minho pun harus begitu. Paling tidak ia harus bisa menjadi yang diandalakan oleh adik-adiknya. Seperti permintaan Bunda yang hampir setiap hari Minho dengar.

“Jaga adik-adik ya, Kak.”

Changbin adalah yang paling duluan “sembuh” dari keadaan yang kacau itu.

Awalnya terasa berat karena ia tidak bisa mengajak Minho berbincang seperti dulu. Setiap kali ia mendekat, Minho selalu membentak tidak ingin diajak berbicara. Akhirnya ia menghabiskan waktu lebih banyak bersama Hyunjin.

Ia kecewa karena Minho tidak mau keluar rumah bahkan sampai harus sekolah di rumah. Padahal kalau sekolah seperti biasa, semua terasa lebih ringan. Begitu pikir Changbin sampai usianya menginjak SMA. Saat sudah lebih besar, ia baru paham seberapa tersiksanya Minho waktu itu. Menyaksikan bagaimana Bunda akhirnya terbaring di aspal yang dingin.

Ketika melihat Minho mengenakan seragam, Changbin merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Kak Minhonya kembali bersekolah.

“Udah rapi belum, Bin?”

“Udah.”

Minho mengulas senyum yang membuat Changbin tertegun sesaat. Semua orang benar ketika berkata bahwa Minho adalah versi copy+paste dari Bunda. Rasa rindu itu membuncah. Pagi-pagi buta di hari pertama Minho sekolah, Changbin menangis.

“Ayah sedih, kakak sedih, kalau aku juga sedih Hyunie bagaimana? Aku sedih tapi aku gak mau jadi lemah karena bunda bilang anak-anaknya harus kuat.”

Selama ini, Changbin pendam sendiri semua perasaannya. Karena keadaan Minho, ia menjadikan dirinya lebih kuat. Ketika Hyunjin merindukan Bunda, ia yang akan menghibur. Ia banyak membaca buku, ia juga semakin rajin belajar karena dia ingin adik-adiknya nanti mencarinya saat mereka butuh diajari pelajaran.

Di SMA, Changbin akhirnya menemukan cara agar ia bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini ia simpan sendiri. Musik. Ia banyak mendengarkan musik. Awalnya ia hanya membuat tulisan-tulisan acak. Lama-kelamaan ia mulai membuat melodi. Gitar, piano, ia coba apapun yang ia bisa.

Jika tidak menemukan Changbin di kamar, berarti dia sedang bertapa di studio. Ia minta ayah merombak kamarnya yang luas agar memiliki studio—yang masih digunakannya sampai hari ini. Studio yang menjadi saksi setiap airmata Changbin merindukan Bunda.

“Gak apa-apa nangis. Yang penting tangisan itu bikin kamu semakin kuat.”

Hyunjin itu hatinya paling mudah rapuh. Anak yang mudah meneteskan airmata karena tersentuh.

Sewaktu awal-awal Bunda pergi, Hyunjin menangis tiap malam. Ayah belum sembuh apalagi Minho. Hanya Changbin yang menghampirinya. Menemaninya tidur. Sewaktu Oma Opa dari Sydney masih di rumah, maka Oma lah yang menemaninya.

Hyunjin lupa bagaimana akhirnya ia bisa kembali menjalani hari seperti biasa. Kendati di waktu-waktu tertentu ia kerap merasa ada bagian yang hilang dari hidupnya.

Bunda.

Setiap kali kumpul bersama teman-temannya yang menceritakan betapa mereka lelah mendengar ocehan ibu-ibu mereka, Hyunjin hanya menyimak. Membayangkan jika Bunda masih ada, apakah ia juga akan mendengarkan ocehan beliau? Apakah Bunda akan memarahinya karena sering pulang larut? Apakah bunda akan menyiramnya dengan air karena sulit dibangunkan di pagi hari?

Hyunjin pernah menyadari bahwa teman-temannya kerap merasa bersalah pada Hyunjin setiap kali mereka selesai mengeluhkan tentang ibu mereka. Namun, Hyunjin berbalik merasakan hal yang sama karena membuat keadaan yang dialaminya menjadi penghalang keseruan teman-temannya.

“Santai. Gue kalau masih ada Bunda juga paling kayak kalian. Gue suka dengerin cerita kalian. Gak usah gak enakan gitu lah.”

Saat pertama kali Hyunjin jatuh cinta, ia seperti disihir. Perempuan itu seakan menjelma menjadi sosok Bunda. Memarahinya, menanyainya ini itu, memastikan dia meminum air putih dan tidak tidur lewat dari jam 1 pagi jika memang ada tugas yang harus segera dituntaskan. Bahkan gadis ini pula yang kerap membangunkannya. Menerobos ke kamarnya—atas izin ayah tentunya—menyibak tirai pun selimut yang hangat mendekap Hyunjin.

“Bangun! Kalau jam segini masih tidur, gimana mau bangun gedung 100 lantai?”

Dengan perempuan ini pula Hyunjin untuk pertama kalinya mengungkapkan segala rasa bersalah dan sesal setelah perginya Bunda. Bersama perempuan ini pula, luka lama Hyunjin yang hanya ia perban seadanya, dirawat dan disembuhkan dengan sabar olehnya. Perempuan yang selalu tahu kapan Hyunjin butuh pelukan hangat dan penuh ketulusan.

“Kamu bilang Bunda selalu meluk kamu tiap kamu nangis dulu. Kasih tahu aku kalau kamu sedih. Biar aku yang peluk kamu kalau gak ada yang bisa.”

The Twin. Si kembar kesayangan keluarga. Yang kelahirannya disambut gegap gempita. Bahkan Oma Opa di Sydney serta Kakek Nenek di Jepang turut menyambut kehadiran keduanya.

4 tahun pertama sejak dilahirkan di dunia mereka habiskan waktu bersama Ayah Bunda. 6 tahun berikutnya, bersama Oma Opa di Sydney. 6 tahun berikutnya masih bersama Oma di Sydney dan 2 tahun berikutnya mereka habiskan sendiri di Sydney. Di usia 18 tahun mereka kembali ke rumah.

3 kali—4 jika dihitung dengan perpisahan antara keduanya dengan Ayah serta kakak dan adik mereka—total perpisahan yang dihadapi si kembar. Tetapi keduanya tetap kuat dan tumbuh dengan baik berdua. Saling bergantung satu sama lain tanpa mengganggu kehidupan pribadi masing-masing. Saling mengerti satu sama lain meskipun sering bertengkar dan sering pula menangis menyesal mengapa harus bertengkar.

Sewaktu pindah ke Sydney pertama kali, baik Felix dan Peter tidak begitu memiliki ingatan yang bagus. Selain fakta bahwa keduanya sempat dikejar kawanan burung saat berkunjung ke gedung opera bersama Oma Opa. Kenangan itu sangat membekas.

Tentang Bunda, keduanya justru lebih dewasa dalam menghadapi. Lebih cepat menerima bahwa antara kehidupan dan kematian itu hanya dipisah oleh seutas benang. Jika masa hidupmu usai, kamu akan mati. Begitu yang diterangkan Opa.

“Berarti masa hidup Bunda sudah habis?”

“Kenapa masa hidup Bunda cuma sebentar?”

“Kalian pilih bunga yang cantik atau bunga yang layu untuk dipetik?”

“Yang Cantik.”

“Di taman gak boleh asal petik bunga, Opa. Tapi Peter pilih yang cantik.”

“Ya seperti itu. Bunda kalian orang yang baik dan cantik, sehingga ia dijemput duluan.”

“Berarti kalau gak mati-mati, orang jahat?”

“Gak juga. Itu tandanya diberi kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik sampai waktunya dipanggil.”

“Jadi, kalau suatu saat Opa dan Oma dipetik atau mungkin Ayah kalian dipetik kalian jangan takut dan panik apalagi sampai merasa tidak ada lagi gunanya untuk hidup karena tak ada lagi orang yang disayang. Sebab kematian itu tidak bisa kita diduga, tidak bisa ditunda apalagi ditolak. Dia datang begitu saja. Dan kalian harus rela.”

Petuah-petuah Oma Opa menjadikan si kembar betah berada di Sydney. Peter dan Felix akhirnya sepakat akan pulang ke rumah Ayah dan berkumpul bersama saudara-saudaranya nanti setelah Oma dan Opa tiada.

Ketika Opa pergi, Felix dan Peter tentu saja menangis sedih di pelukan Ayah. Tetapi keduanya juga melihat sendiri bagaimana Oma tetap tegar berdiri. Seolah beliau sudah siap untuk berpisah.

“Sebagaimana ada siang ada malam. Ada panas ada dingin. Begitu pula pertemuan akan ada perpisahan.”

Sky. Si cerdas.

Dia tidak tahu apa-apa. Dia juga tidak punya banyak ingatan soal Bunda. Ia bahkan tidak tahu—jika tidak ada yang bercerita—bahwa kata pertama yang bisa ia ucapkan adalah “Una” alias Bunda.

Sky dan Jeje—nama panggilan Jeongin dari Sky—tidak lama tinggal di Jepang. Sebagaimana si kembar yang dikunjungi setiap liburan, begitu pula Sky dan Jeje. Di kunjungan Ayah saat usia Sky 8 tahun, ia menahan jaket Ayah sebelum beliau berangkat kembali ke rumah. Ujung jaket Ayah yang bisa diraihnya ia genggam kuat-kuat. Sky ingin pulang. Sky ingin ikut ayah.

Selama di Jepang, Sky banyak menghabiskan waktu dengan Kakek. Belajar memancing, bersepeda, bermain baseball. Kakek begitu sayang padanya dan Jeje. Namun, entah kenapa hati Sky selalu merindukan ayah. Ia selalu bertanya kapan hari libur akan datang sehingga ayah mengunjunginya. Bukannya tidak betah di Jepang bersama kakek nenek. Dia hanya merasa tempat ini bukan untuknya. Bukan untuk ia tempati lebih lama lagi. Dengan begitu Sky pulang lebih dulu. Jeongin menyusulnya 2 tahun kemudian.

Tiba di rumah, ia disambut hangat oleh ketiga saudara tertuanya. Minho sudah membaik dan mulai bersekolah saat Sky kembali ke rumah. Meski begitu, Changbin dan Hyunjin yang lebih sering menghabiskan waktu dengannya untuk belajar.

Sky bukan anak yang berisik seperti si kembar. Pendiam juga tidak sebenarnya. Tenang. Kepribadiannya tenang seperti Ayah. Bahkan sejak dalam kandungan pun, Sky adalah bayi yang tenang. Dia berbicara seperlunya. Jika dia sudah mencapai puncak lelahnya belajar, ia akan bernyanyi sekeras mungkin. Karena cukup mengganggu, kerap kali Changbin menyeretnya agar bernyanyi di studio miliknya sebelum Minho menyerang.

Musuh abadinya adalah Minho karena kakak tertuanya itu entah mengapa senang mengusilinya. Siapa sangka keusilan Minho malah jadi pelajaran yang dipraktekan Sky kepada saudaranya yang lain.

Sky mungkin tidak mengungkapkan bagaimana senangnya ia begitu akhirnya semua saudara-saudaranya berkumpul di rumah ini. Meski ia lupa bagaimana Bunda dan tak banyak kenangan yang ia miliki tentang Bunda, Sky tetap bersyukur dilahirkan di keluarga yang hangat ini. Semua seolah tahu bahwa setiap individu di rumah ini memiliki kekosongan yang nyata. Tetapi kebersamaan yang diciptakan lewat kasih sayang antar sesama penghuni rumah ini cukup mampu menambal kekosongan itu.

”Terima kasih sudah jadi anak bunda yang paling cerdas, Sky.”

Ucap Bunda dalam mimpi Sky di malam ia tidur setelah menerima pengumuman keberhasilannya masuk kelas akselerasi.

[...]

Jeongin dan sekarang ia lebih senang dipanggil Jeje.

Saat pulang ke rumah, terasa asing. Benar-benar asing sampai ia ingin sekali kembali ke Jepang. Hanya Sky yang bisa dia percaya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa terutama dengan Hyunjin yang selalu mencoba dekat dengannya.

Begini rasanya punya kakak banyak?

Semuanya begitu menyayangi Jeongin. Apapun yang dia minta, selalu diberi. Apapun yang ingin dia lakukan selalu ada yang mau menemani.

Selama di Jepang dan hanya berdua dengan Sky, Jeongin jarang sekali bertengkar. Kakek dan nenek selalu memberikan apapun dalam jumlah genap sehingga tidak ada yang saling berebut. Meskipun Ayah juga selalu membelikan sesuatu berjumlah sesuai dengan penghuni rumah, bukan saudara namanya kalau tidak menggoda yang paling bungsu.

Lagi-lagi siapa? Benar. Minho.

Sewaktu awal-awal datang Jeongin benar-benar tidak mau dekat-dekat dengan Minho karena selalu jahil. Lama-kelamaan Sky juga ikut-ikutan seperti Minho dan hanya Hyunjin bisa diandalkan Jeongin. Changbin juga suka ikut-ikutan usil tetapi ia akan segera meminta maaf jika Jeongin sudah menjerit.

Namun, tidak ada yang tahu.

Jeongin tidak pernah mengatakan pada siapapun.

Jeongin mungkin tidak tahu seperti apa rasanya dipeluk Bunda, bagaimana rasa masakan Bunda. Tetapi Jeongin tahu bahwa ketika ia tiba di rumah ini, ia disambut dengan penuh haru. Hanya ia yang tahu, hanya ia yang bisa mengajaknya berbincang meskipun terbatas di waktu tertentu.

“Selamat datang, Jeongin. Anak Bunda yang tidak sempat Bunda peluk. Terima kasih karena sudah kuat dan tetap bertahan.”