Ayah...

Sewaktu pertama kali kenal dengan Sana, Chan tentu saja tidak menduga bahwa ia dan Sana akan berakhir dalam ikatan pernikahan. Lebih tidak menyangka lagi kalau ternyata bakalan punya banyak anak.

Hubungan itu bermula dari sebatas kenalan. Sahabat Chan—Bambam—mengajaknya liburan dan membawa serta kekasihnya—Mina. Karena Mina tidak mungkin diizinkan pergi sendiri maka ia membawa serta Sana. Dari situlah awal kisah keduanya dimulai.

Siapa yang jatuh cinta duluan?

Tentu saja Chan.

Kalau hari itu dia lebih memilih menyiapkan ujian ketimbang mengamini ajakan Bambam untuk liburan, ia mungkin tak punya kesempatan lain lagi untuk bertemu Sana. Sejak hari itu keduanya sering menghabiskan waktu bersama karena ternyata mereka partner konversasi yang baik untuk satu sama lain.

Chan juga jadi mengerti seperti apa seorang Sana. Baik, pekerja keras, tahan banting, berisik, humoris, pintar masak dan suka menggambar. Ini hanya sebagian kecil yang bisa disebutkan. Belum jika ditambah hal-hal yang tebilang sederhana dan kerap terabaikan.

Chan ingat pertama kali ia melihat Sana menangis adalah sewaktu karyanya diberi nilai E oleh dosen. Salah satu teman yang tidak suka akan karir Sana menyebar fitnah bahwa Sana memplagiat karyanya.

“Kamu beneran plagiat gak?”

“Ya gak lah. Kamu sendiri kan saksinya aku gak tidur 2 hari 2 malam demi desain itu. Aku harus gimana, Chan? Ini pihak majalah juga nuntut kebenarannya. Aku udah jelasin tapi mereka gak percaya.”

“Jangan cuma jelasin, kamu harus buktiin, Kak. Dan jangan berhenti. Kamu harus gambar terus.”

3 minggu kemudian Sana bebas dari tuduhan plagiarisme. Dibantu oleh Chan, ia mengumpulkan bukti-bukti bahwa ia tidak melakukan hal terhina itu. Teman yang menyebarkan fitnah sampai berlutut meminta maaf pada Sana karena ternyata dia sendiri yang melakukan plagiasi dari desain majalah beberapa tahun lalu.

Nilai Sana kembali. Desain-desainnya di majalah tetap rilis untuk bulan itu tapi kemudian Sana tidak memperpanjang kontrak dengan mereka karena dia direkrut oleh majalah yang telah menjadi impiannya sejak kecil.

Chan sangat menyukai Sana ketika sedang bersemangat. Apalagi saat ide-ide menggambar telah penuh sesak di kepala dan menuntut untuk segera dituang di atas sketch book a5 yang selalu dibawanya kemanapun.

“Aku suka sama kamu, Kak.”

“...”

“Kak Sana.”

“Diem jangan ganggu dulu aku lagi—sial buyar aaaarrrghhh.”

“Kak.”

“Iya aku juga suka sama kamu, Chan. Puas?”


Minho datang lebih cepat dari yang mereka duga. Kedua keluarga menyambut bayi laki-laki itu dengan gembira. Tidak menyangka bahwa mereka tidak perlu menunggu waktu lama untuk menimang cucu.

Kebahagiaan itu terus menghampiri keluarga Chan dan Sana. Apalagi ketika si kembar lahir. Meski kembar keduanya lahir di hari yang berbeda. Selisih 10 menit. 11:55 dan 00:05.

Dari Minho hingga Sky, semua laki-laki. Baik Sana dan Chan tidak pernah mempermasalahkan gender karena semua pemberian Yang Mencipta.

Bagi keduanya asalkan anak-anak mereka terlahir sehat, itu sudah cukup. Mereka berdua telah berjanji akan membesarkan anak-anak itu menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang selalu menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar mereka. Pribadi yang saling menyayangi satu sama lain.

Manusia hanya bisa berjanji. Manusia juga bisa mengingkarinya. Manusia juga suka membuat rencana. Tapi ada yang menentukan.

Saat mendengar ungkapan cinta dari Sana sore itu lewat panggilan telpon, ada perasaan aneh menjalar. Kendati ucapan itu bukan pertama kalinya ia dengar, namun rasanya sudah lama ia tidak merasakan sensasi itu. Ketulusan dari satu ucapan yang membuatmu merinding.

Seumur hidupnya, Chan bisa menghitung berapa kali ia terlambat datang ke sekolah. Mama dan Papa selalu mengajarkannya kedisiplinan waktu. Ia lebih baik menunggu daripada ditunggu. Ia akan merasa bersalah pada siapapun yang menunggunya ketika memiliki janji temu.

Sore itu, Chan tidak akan lupa. Ia terlambat. Chan sadar, semua ini karena ia datang terlambat.

Ia sempat memeluk Changbin dan Hyunjin, tapi tidak dengan Minho yang lebih dulu menyadari semua. Menyaksikan bagaimana tubuh perempuan kecintaannya itu tertabrak kendaraan angkutan umum yang kehilangan kendali.

Chan menitipkan anak-anak di pos satpam tetapi ketiganya tetap mengikutinya. Ketika kerumunan telah berhasil ia terobos, yang ia saksikan adalah tubuh kekasihnya yang telah kehilangan kuasa. Likuid merah mengalir dari kepalanya.

Anak-anak berteriak memanggilnya. Begitu juga dengan Chan. Namun, ia tetap bergeming. Tangan lemas itu Chan genggam. Seadanya kekuatan yang ia miliki, maka itulah yang coba ia salurkan pada Sana

Bayi laki-laki itu menangis saat akhirnya ia bisa menghirup udara dunia. Tidak perlu lagi bergantung pada makanan ibu. Sayangnya, napas pertamanya di dunia adalah napas terakhir sang ibu. Ia kehilangan kesempatan merasakan pelukan ibunya. Ia kehilangan kesempatan merasakan makanan yang dibuat oleh tangan ibunya.

Ia kehilangan kesempatan melihat langsung wanita yang melahirkannya di dunia.

Raga itu telah memutih. Chan menggenggam tangan dinginnya. Menangis pilu tak sempat ucapkan selamat tinggal yang lebih baik.

”Maafin aku, Chan,” ucap Sana dalam tangis yang tak bisa lagi didengar oleh Chan meskipun mereka masih di ruang yang sama.


Setelah disemayamkan semua kembali ke rumah. Minho enggan pergi ke sekolah. Changbin berdiam diri di kamar. Hyunie menangis setiap sebelum tidur. Si kembar terus bertanya. ”Bunda kemana?” ”Bunda bilang mau bikin pie choco.” ”Kenapa foto bunda diberi kalung bunga?” Sementara Sky terus menangis gelisah. Jeongin juga sudah dibawa pulang ke rumah oleh kakek neneknya—orang tua Sana.

Rumah besar itu ditempati juga oleh orangtua Sana dan orangtua Chan untuk sementara. Kedua keluarga sepakat menemani Chan dan cucu-cucu untuk sementara waktu.

Sementara. Pemilihan kata itu diartikan cukup lama untuk Chan bisa benar-benar bangkit. Rasa bersalahnya masih membumbung. Kekosongan itu masih terlalu jelas untuk ia tutup paksa. Ia bahkan tak berani menatap anak-anaknya.

“Bangun. Mau sampai kapan kamu merenung Sana gak akan kembali. Anak kamu bukan hanya satu. Apa kamu gak mikir perasaan mereka? Yang kehilangan bukan cuma kamu. Kamu harusnya mikir juga perasaan orangtua Sana.”

“Kalau kamu masih terus begini, anak-anak kamu papa bawa ke Aussie dan ke Jepang. Biar kamu mati kesepian sendiri disini. Biar kamu makin merasa bersalah dengan Sana karena gak bisa rawat anak-anak kamu.”

Tamparan kata-kata dari papanya hari itu membuat Chan malu. Malu pada dirinya dan Sana yang bercita-cita tidak ingin membuat anak-anak mereka merasa kesepian. Dia malu karena tidak bisa membesarkan hatinya dan menjadi sandaran untuk anak-anaknya. Chan akhirnya sadar, ia tidak ingin lagi kehilangan. Cukup Sana. Tidak dengan anak-anaknya.

Setelah semua keluarga berunding, akhirnya diputuskan. Untuk sementara si kembar akan dibawa ke Aussie bersama orangtua Chan. Sementara Sky dibawa ke Jepang bersama orangtua Sana beserta Jeongin—yang dijemput setelah berumur 6 bulan. Chan hanya akan ditemani oleh trio tertua. Terlebih Minho yang harus benar-benar mendapat perhatian lebih dari Chan karena ia menyaksikan semuanya dan terus bermimpi buruk setiap malam.

Anak-anak akan kembali ke rumah saat Chan sudah benar-benar siap merawat mereka bertujuh. Atau saat anak-anak sendiri memang sudah ingin pulang ke rumah.

Dalam waktu berdekatan Chan harus menghadapi perpisahan. Perpisahan selamanya dengan Sana, dan perpisahan sementara dengan anak-anaknya yang masih balita.

Saat mengantar Jeongin kecil, ia tak bisa menahan airmata dipeluk ibu mertuanya. Meminta maaf karena tak bisa menjaga Sana dan harus merepotkan mereka dengan mengurus sementara Sky dan Jeongin.

“Kamu harus kuat buat diri kamu dan anak-anak. Saat kalian sudah siap untuk bersama, kamu bisa jemput mereka. Tangan ibu dan ayah selalu terbuka buat kamu begitupun papa mama kamu. Kamu gak sendirian, Chan. Dan makasih sudah jadi yang paling baik untuk Sana.”