Bunda...
15 tahun yang lalu
“Bu Sana, Minho dan Changbin bertengkar dengan temannya.”
“Bunda dia yang mulai duluan ngeledek Hyunie.”
Kegiatan Sana mendesain untuk pekan busana yang akan diselenggarakan 2 bulan ke depan siang itu terdistraksi oleh panggilan telpon dari sekolah. Tidak biasanya sekolah menghubunginya sebab semenjak ia hamil kali ini, Chan yang mengajukan diri untuk mengambil alih urusan sekolah 3 anak tertua mereka karena ia sempat bed-rest di awal kehamilan.
“Boleh saya bicara sebentar dengan Minho, Bu?”
Telpon di seberang segera diarahkan pada Minho oleh gurunya. Sana dapat mendengar helaan napas berat Minho. Kebiasaan si sulung setiap kali menahan tangis.
“Ada yang nangis, Kak?” tanya Sana untuk memastikan keadaan di sana.
“Hyunie nangis. Bunda jangan marahin Abin, ya. Emang teman-teman yang nakal ngeledek Hyunie.”
“Temennya diapain, Kak?”
“Ino buang tasnya di tempat sampah. Abin mukul kepala yang ngeledek Hyunie.”
Sana menghela napas. Ia harus akui kerjasama tim anak-anak tertuanya luar biasa. Seperti ketika ia meminta ketiganya membersihkan halaman belakang, si sulung berinisiatif membagi tugas supaya pekerjaan lekas tuntas.
Untuk kali ini, sepertinya ia tidak bisa untuk tidak marah.
“Kakak, Bunda udah pernah bilang kan kalau diledek diemin aja? Mereka mukul Hyunie gak?”
“Gak, Bunda.”
“Sekarang Bunda mau Kakak, Abin dan Hyunie minta maaf ke temennya karena udah buang tas dan mukul kepalanya.”
“Tapi dia ngeledek Hyunie, Bunda. Dia bilang Hyunie anak pungut di tempat sampah.”
Hari ini entah kenapa Minho lebih keras kepala. Sana sampai harus memijat kening. Di tambah pinggangnya yang nyeri karena hamil besar,
“Kenyataannya gitu gak, Kak?”
“Enggak. Hyunie lahir di rumah sakit waktu Kakak lagi di tk.”
“Temennya dikasih tahu kalau Hyunie lahir di rumah sakit. Nanti pasti temannya minta maaf karena udah salah sangka.”
“Tapi Bun—“
“Kak Minho... Mau dijemput Bunda gak?”
“Mau...” jawab si sulung dengan suara serak. Sana terka ia sudah menangis.
“Nurut kata Bunda. Minta maaf dulu karena kalian kelewatan balas nakal temennya. Habis itu bilang ke temennya kalau Hyunie bukan anak pungut dari tempat sampah. Bunda panggil taksi dulu ya, habis itu kita pulang. Nanti Bunda bikinkan pie cokelat untuk kudapan malam.”
Pesawat telpon telah kembali pada ibu guru tapi Sana minta untuk disambungkan pada orangtua si teman yang mengatai Hyunie. Ia bermaksud meminta maaf malah orangtua anak itu meminta maaf lebih dulu. Ia mengaku bahwa suaminya bekerja di perusahaan milik Chan dan berharap perkara ini tidak menyebabkan hal buruk pada suaminya.
“Gak apa-apa, Bu. Ini masalah anak-anak dan tidak ada hubungannya dengan ayah mereka. Saya maklumi mereka masih kecil tapi tolong ibu ajari anaknya agar hati-hati dalam bertutur apalagi jika itu bukan sesuatu yang baik. Saya juga mohon maaf karena anak-anak saya keterlaluan.”
Setelah urusan sekolah ketiga anak tertuanya bisa ia atasi sementara, Sana segera menghubungi Chan. Sayangnya panggilan telpon itu hanya diangkat oleh sekretaris Chan. Ia memberitahu Sana kalau atasannya sedang bertemu dengan klien dan baru akan kembali pukul 4. Sana memutuskan bergegas merapikan diri untuk kemudian memesan taksi menjemput ketiga anak tertuanya.
Tak lupa ia menghubungi orang rumah. Memastikan keadaan si kembar dan adik mereka yang diawasi oleh Bibi Jung—Nanny mereka—aman.
”Tadi Peter dan Felix berebut sumpit karena beda warna. Jadi saya pisah pisah warnanya biar masing-masing dapat 2 warna.”
“Ada-ada aja.”
”Bunda cepat pulaang Lix mau pie choco.”
”Peter ditambah keju, Bundaaaa.”
“Iya. Nurut sama Bibi Jung, ya. Jangan nakal sama Sky. Jangan berebut. Nanti bunda pisahin kalian kalau berantem. Peter ke Jepang, Felix ke Sydney. Mau?”
”Nooooooooo, gak mauuuuuu.”
Panggilan diakhiri saat Sana diberitahu asistennya bahwa taksi yang menjemput sudah tiba. Segera ia berangkat menjemput Minho. Changbin dan Hyunjin.
[...]
Orang-orang yang melihat Sana sering bertanya apa tidak repot memiliki anak banyak. Mereka juga masih kecil-kecil dan sekarang Sana sudah hamil lagi anak ketujuh. Memangnya tidak lelah? Rasanya mengurus satu saja sudah ingin menyerah.
Namun, baik Sana dan Chan mereka memang sepakat ingin punya anak lebih dari 1. Selama dokter berkata aman untuk Sana, Sana selalu siap. Sebagai sesama anak tunggal, Sana dan Chan tak ingin membiarkan anaknya kesepian seperti yang pernah mereka alami. Mereka ingin suasana rumah tetap hidup meskipun seiring berjalannya waktu anak-anak mereka akan meninggalkan rumah untuk kehidupan masing-masing.
Saat di taksi, Sana akhirnya menerima telpon dari Chan.
“Tadi sekretaris ayah bilang kalau ada telpon dari sekolah. Bunda juga nelpon.”
“Iya. Hyunie diejek temennya, kakak-kakaknya gak terima jadi nakalin temennya.”
“Temennya diapain, Bun?”
“Ino buang tasnya, Abin mukul kepalanya.”
Chan menghela napas. “Adaaa aja kelakuan bertiga ini.”
“Tadi aku udah minta anak-anak minta maaf. Aku juga udah minta maaf sama ibunya si temen mereka. Ini aku udah di taksi mau jemput. Bentar lagi sampai,” lanjut Sana meredakan emosi suaminya.
“Ya udah nanti tunggu di sekolah ya, Bun. Biar ayah jemput. Habis ini ayah langsung jalan.”
“Oke, Captain. Hati-hati. I love you.”
“I love you more. Tumben banget.”
“Gak apa-apa. Pengen aja. Udah sana buruan.”
“Haha. Iya.”
Di siang jelang sore hari itu, langit begitu cerah. Angin yang berhembus pun menyejukkan. Asalkan mengenakan pakaian yang hangat di penghujung musim dingin ini, semua terasa begitu menenangkan.
Sana tiba di sekolah dan langsung menuju ruang konseling dimana saat ini anak-anaknya berada. Ibu dari anak yang mengejek Hyunjin pun masih di sana. Sana langsung meminta maaf sekali lagi kepadanya dan juga pada guru yang bertanggung jawab. Sementara ketiga anak-anak Sana duduk menunduk tidak berani menghadap ibunda.
“Kak Minho, Kak Abin, Kak Hyuni gak ada yang mau disampein ke Bunda?” tanya Sana.
Hanya tinggal ia dan ketiga anak tertuanya yang masih berada di ruang konseling. Pihak-pihak yang terlibat sudah undur diri lebih dulu.
“Maaf ya, Bunda.”
“Abin minta maaf, Bunda.”
“Maafin Hyunie ya, Bunda.”
Ketiganya saling bersahutan mengucapkan maaf. Sana mengusap puncak kepala ketiganya bergantian. Ditambah mengusap pipi yang paling muda dari ketiganya karena ia telah meneteskan airmata.
“Janji ya sama Bunda yang seperti ini gak boleh terulang.” Ketiganya mengangguk patuh.
Sana segera membawa ketiganya keluar dari ruang konseling.
“Kak Minho,” panggil Sana sebelum si sulung berlari ke kelas mengambil tasnya.
“Iya, Bunda.”
“Nanti tunggu di dekat Om Satpam, ya. Bunda mau ke mini market dulu beli bahan pie cokelat.”
“Minho ikut Bunda aja.”
“Nanti Abin sama Hyunie gimana?”
“Ikut juga.”
Bunda menggeleng. “Tunggu aja ya. Bunda gak lama. Nanti kita dijemput Ayah kok.”
Kedua netra Minho berbinar begitu mendengar ayah akan menjemput. Sudah lama tidak pernah dijemput ayah.
“Oke Bunda hati-hati, ya.”
“Iya. Adeknya dijaga ya, Kak.”
Pesan itu selalu Sana ucapkan pada si sulung. Sayangnya, itu akan menjadi yang terakhir kalinya didengar si sulung.
Langit biru dengan gumpalan awan seputih kapas adalah hal terakhir yang Sana lihat ketika tubuhnya terhempas sesaat sebelum menyebrang. Suara orang-orang yang mulai mengerumuninya bersahutan memerintah untuk panggil ambulance hanya terdengar samar. Dikalahkan oleh suara riang tawa anak-anaknya saat bermain di halaman belakang yang entah bagaimana bisa terdengar olehnya.
Waktu pertama kali Sana berkencan dengan Chan.
Waktu pertama kali ia memberitahu Chan perihal kehamilannya.
Waktu orangtua mereka memberi hadiah rumah tinggal megah untuk hidup mereka dan anak-anak setelah menikah.
Waktu satu per satu anak-anaknya lahir.
Waktu ia membuka butik dan WO-nya bersama Mina, karibnya.
Waktu pertama kali mengantar Minho ke sekolah.
Waktu ia berhasil menampilkan karyanya di panggung pekan busana ternama dunia.
Waktu Chan kalang kabut mengurus anak-anak sementara ia harus bed-rest di kehamilan keenam ini.
Semua waktu-waktu berharga itu berputar seperti film dokumenter. Senyum, airmata haru, tawa. Semua hal-hal yang telah terjadi hingga hari ini ternyata sudah sangat banyak yang ia alami. Sana seperti disadarkan bahwa ia telah dicintai dengan baik selama hidupnya. Ia telah bahagia dengan semua capaian-capaian yang ia upayakan sedari dulu.
Impian, menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya, memiliki anak-anak yang sehat dan baik.
Ia telah mencapainya.
Sakit.
Semua terasa sakit.
“Sana.... Sana....”
Suara itu. Suara milik laki-laki yang paling mencintainya. Genggaman tangan itu, Sana tahu hanya ia pemiliknya. Raut panik terpancar di wajahnya. Sana tidak ada kekuatan lagi untuk meraihnya.
Sakit.
“Bunda....”
“Bunda....”
“Bunda....”
Suara itu dekat. Begitu dekat tapi Sana tak lagi dapat bersuara selain merintih menahan sakit. Padahal masih ada banyak yang ingin ia katakan pada mereka.
Airmata adalah isyarat rasa sakitnya. Pun satu kalimat pinta pada tenaga medis saat ia mulai dipindahkan dari dinginnya aspal ke atas stretcher sebagai hal terakhir yang bisa ia ucapkan saat ini.
“Tolong...tolong selamatkan bayinya...”