Bunda dan Jeje
Pukul 04.15 petang.
Seperti biasa, Jeongin atau yang kerap disapa Jeje—panggilan dari Sky yang akhirnya menjadi panggilan kesayangan para kakak untuk si bungsu—sudah duduk di ruang keluarga. Terlihat seperti menunggu kehadiran seseorang—mungkin sesuatu—yang selama ini selalu menemaninya di waktu petang sebelum penghuni rumah yang lain pulang.
“Bunda sini,” panggil Jeongin pada gerangan yang ditunggu. Bunda.
Seisi rumah tak ada yang tahu tentang ini. Malah salah satu teman sekolah Jeongin yang tahu tentang kehadiran Bunda di rumah setiap sore. Sebab ia juga bisa melihat Bunda.
“Kenapa, Dek? Kok mukanya kesel gitu?” tanya Bunda yang sudah duduk di sisi Jeongin.
“Iya. Kakak kakak yang SMA pada makan bareng Kak Lia. Aku gak diajak, Bun,” adu Jeongin yang membuat Bunda tertawa.
“Adek kan sekolahnya jauh dari Kakak Kakak.”
“Sia-sia aku sekolah cepet. Ternyata tetap gak bisa bareng Kak Sky,” gerutu Jeongin.
Setiap kali mendengar Jeongin bercerita, Bunda selalu merasa bersalah. Kesempatannya untuk tetap bisa berbincang dengan Jeongin perlahan berkurang. Cepat atau lambat, waktu 1 jamnya setiap sore bersama dengan Jeongin tidak akan pernah ada lagi.
“Kak Lia tuh baik banget ya, Bun.”
“Iya. Baik banget.”
Bunda jelas tahu tentang Lia. Putri tunggal sahabatnya, Mina. Gadis kecil yang berhasil membawa putra sulungnya keluar dari ruang jerat rasa bersalah dan trauma. Gadis kecil yang kini telah tumbuh dewasa dan tetap menjadi teman tempat Minho bersandar.
“Bunda mau punya menantu, Kak Lia?”
“Eeehh?”
“Aku mau punya kakak perempuan kayak Kak Lia. Baik, cantik, pintar, terkenal.”
“Maaf ya. Bunda juga gak nyangka bakalan punya anak cowok semua.”
Jeje buru-buru menggeleng. “Bukan gitu, Bun. Aku seneng kok sama kakak-kakak walaupun kadang ngeselin—terutama Kak Abin suka pinjem sepatuku sembarang. Maksud aku Kak Ino.”
“Kenapa Kak Ino?”
“Kenapa gak pacaran sama Kak Lia? Atau ngajak Kak Lia nikah? Kayaknya Ayah juga bolehin soalnya Om Bambam sama Ayah kan temenan.”
“Menurut adek kira-kira kenapa tuh Kak Ino gak ngajak Kak Lia pacaran?”
Jeje diam berpikir. Namun sepertinya ia tidak menemukan jawaban dari pertanyaan Bunda.
“Entah. Mungkin Kak Ino gak suka sama Kak Lia?” terka Jeje ragu.
“Kak Ino suka kok sama Kak Lia. Suka banget malahan.”
“Kok Bunda tahu?”
“Tahu dong. Kak Ino kan anak Bunda juga.”
Jeje menatap Bunda penuh selidik. Merasa tidak puas dengan ucapan Bunda barusan.
“Coba Adek tanya Kak Ino sendiri,” saran Bunda yang langsung direspon gelengan kepala Jeje.
“Gak bakal dijawab. Pasti nanti ngatain apasih anak kecil mau tau aja urusan orang dewasa. Gitu.”
Tak lama kemudian, pasukan kakak-kakak SMA tiba di rumah. Jeje buru-buru meminta Bunda bersembunyi. Padahal tak perlu bersembunyi pun kakak-kakaknya tidak akan melihat Bunda.
Bunda memang masih ada di rumah. Hanya 1 jam di sore hari waktunya untuk berbincang dengan Jeje. Dan hanya 1 jam itu pula Jeje bisa melihatnya.
Keberadaannya di rumah ini mungkin tak lagi lama. Sebentar lagi ia sudah harus pergi dan berhenti 'mengganggu' Jeongin. Rasa bersalahnya pada Jeongin begitu besar, tapi hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa berpisah dengan semuanya secara lebih baik.