Dari Julia...
Aneh sekali rasanya ketika tiba di rumah dan tidak ada yang menyambut. Seperti ada bagian yang hilang dari sirkadian. Begitulah adanya yang dirasakan Minho malam ini. Membuka pintu rumah dan hanya ruang-ruang kosong menemaninya terhitung dari hari ini hingga esok.
Julia, istrinya sedang pulang ke rumah orangtuanya. Ingin melihat keponakan baru, katanya. Minho sendiri yang mengantar tadi pagi tapi ia tidak bisa bergabung untuk menginap karena jadwal operasi besok yang tidak bisa dia tinggalkan.
Minho merehatkan sejenak tubuhnya di sofa ruang tengah. Penerangan ruang ia biarkan tetap remang. Ia nyaris saja terlelap di sana kalau tidak karena suara perutnya yang cukup mengejutkannya.
Ia putuskan untuk bangun dan membersihkan diri. Sempat luput dari pandangannya sebelum ia menyadari secarik amplop biru muda tergeletak di tengah tempat tidur.
Untuk Suamiku, Lee Minho
Begitu tulisan di amplopnya. Minho tak dapat menyembunyikan senyum sumringahnya. Rasa lapar tadi seakan menguar. Berganti rasa penasaran akan isi di balik amplop dari Julia ini. Akhirnya ia duduk di tepian ranjang untuk kemudian membaca dengan seksama surat dari Julianya.
Sudah dekat tahun ketujuh ya?
Ah...benar. Sebentar lagi mereka akan memasuki tahun ketujuh sebagai sepasang yang tak terpisahkan. Meski ikatan pernikahan baru diikrarkan 3 tahun yang lalu. Namun, sedari awal keyakinan Minho untuk menjadikan Julia kekasihnya ia tak pernah membayangkan akan dipisahkan oleh apapun dengan Julianya.
Tapi aku masih merasa seperti mimpi. Setiap kali terjaga dan melihat Kakak tidur di sampingku, aku masih merasa ini tidak nyata. Seorang seperti Kak Minho mau menjadi rekan hidupku. Saat pertama kali kakak membawaku bertemu teman-teman kakak—sesama mahasiswa medical—, rasanya aku ingin melebur menjadi debu lalu terbawa angin melayang di udara terbang ke arah lautan dan tenggelam ke dasar bumi.
Minho dibuat Lia tertawa oleh metaforanya. Tidak menyangka bahwa sang istri akan menulis perumpamaan seacak ini.
Demi apapun itu pertama kalinya aku begitu pasif dalam sebuah pertemuan. Tetapi teman-teman kakak baik dan mereka mau menjelaskan apapun yang tidak kupahami ketika mereka menangkap ekspresi bodoh di rautku.
Tentu saja Minho ingat. Itu adalah pertama kalinya ia membawa Lia bertemu teman-temannya di acara pernikahan salah satu temannya. Dan pertama kali pula bagi teman-temannya mengetahui identitas kekasih Minho yang selama ini dirahasiakan. Beberapa bahkan terkejut karena sebagian dari mereka telah mengetahui latar belakang Lia. Bahkan salah satu temannya adalah penggemar berat band Kak Dowoon, Kakak Lia.
Lia memang lebih banyak diam hari itu. Tetapi sesekali ia akan bertanya ketika teman-teman Minho membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Lia adalah gadis yang pandai berkomunikasi. Ia paham kapan harus bertanya dan kapan harus menyela tanpa membuat sebuah obrolan menjadi canggung.
Jauh sebelum itu, yang paling legendaris adalah sewaktu kakak datang ke rumah. Bertemu Mama, Papa dan Kak Dowoon. 1. Aku malu! 2. Aku malu banget!!! 3. AKU MALU BANGET LEE MINHO!!! Aku gak paham ide darimana yang kakak dapatkan sampai harus mengajakku berpacaran di depan keluargaku. Hari itu aku benar-benar tidak bisa memikirkan apapun selain “Wah, Lee Minho ini mengajakku pacaran saja seperti ini, bagaimana jika dia melamarku nanti?”
Sejujurnya, Minho sendiri pun tak tahu darimana ide gila itu muncul. Bahkan hari itu cenderung impromptu. Ia memang berencana mengungkapkan perasaannya pada Julia. Awalnya hanya ingin pamit mengajak Julia pergi. Tetapi entah bagaimana ia merubah haluan dan berakhir mengungkapkan perasaannya di hadapan orangtua dan kakak Julia.
Hari itu masih membekas di ingatannya—dan tak akan pernah bisa hilang dari sana. Meski gugupnya tak bisa mengalahkan saat ia berdiri di altar untuk kemudian mengambil alih genggaman Julia dari ayahnya.
Tapi setelah dijalani, aku mulai paham tujuan kakak melakukan hal itu. Terlebih ketika melihat raut bungah dari Papa setiap kali kakak mampir ke rumah. Senyum hangat Mama dan antusiasme beliau setiap kakak datang. Bahkan Kak Dowoon—yang terlihat tidak peduli—pun pernah berkata “Aku lebih merasa aman kalau kamu pergi sama Minho daripada kamu pergi kemana-mana sendiri.”
Bagaimana jika Julia tahu bahwa Minho sendiri saat itu tak memiliki tujuan apapun? Tetapi ya, jujur, Minho sadari bahwa semua terasa mudah. Maksudnya, ia menjadi lebih mudah dekat dengan keluarga Julia. Dan ia sendiri menyadari bahwa keluarga Julia benar-benar menyambutnya seakan ia memang telah menjadi bagian dari keluarga itu untuk waktu yang lama.
Ya, seiring waktu berjalan, Minho pun paham bahwa tindakan impromptu itulah yang justru semakin meyakinkannya bahwa ia tidak salah mengambil langkah. Alih-alih mengutarakan secara empat mata, ternyata lebih menguntungkan ketika memupuk keberanian lebih bermodal nekat dan keyakinan bahwa ia pasti diterima.
Seandainya hari itu ia ditolak Julia, hmmmm tidak! Minho tidak pernah berpikir Julia akan menolaknya. Ia percaya diri.
Terima kasih, Kak Minho. Terima kasih telah membuat orang-orang kesayanganku percaya bahwa kakak adalah laki-laki yang pantas menjagaku.
Minho mengulas senyum. Lembar pertama dari 3 lembar surat itu ia pindahkan ke bagian belakang untuk kemudian meneruskan membaca lembar berikutnya.
Belum ya, Kak. Suratnya belum selesai... ehe~
Lagi Minho terkekeh. Dalam benak dihampiri raut Julia ketika mengucapkan kalimat di atas.
Menggemaskan. Minho jadi rindu.
Aku belum pernah cerita ke kakak soal ini. Soal Papa Mama yang sangat bersyukur karena kakak membantuku menemukan mimpiku—ya meski bisa dikatakan sudah cukup terlambat. Sejatinya papa mulai khawatir padaku ketika aku mulai bekerja di perusahaannya. Aku bisa mengikuti flow, tetapi aku tidak punya passion. Dan itu membuatku terlihat seperti mayat hidup—begitu kata papa.
Dan ketika akhirnya aku telah menemukan mimpiku, Mama bilang aku lebih terlihat seperti manusia. Sibuk dengan duniaku sendiri tetapi produktif. Meski harus merelakan waktu tidur, tetapi aku terlihat bahagia. Tanpa dorongan dari kakak, aku gak yakin apakah aku akan pernah mulai menggambar.
Jika mengulik ke belakang cerita mimpi Julia, sungguh menurut Minho ia tak banyak membantu. Selain karena kesibukannya yang kala itu masih menjadi asisten, ia benar-benar hanya bisa menjadi pendengar.
“Kakak emang dari kecil mau jadi dokter?”
“Gak juga. Waktu kecil, saya mau jadi astronot. Tetapi akhirnya saya lebih suka biologi alih-alih fisika. Dan karena saya sering ikut volunteer, saya jadi mengambil kesimpulan sendiri bahwa manusia di bumi membutuhkan dokter lebih banyak daripada bertualang di andromeda.
“Keren!”
“Lia sendiri? Mau jadi apa dulu?”
Lia mengedikkan bahu. “Entah. Aku gak pernah kepikiran.”
“Ada sesuatu yang kamu suka gak?”
“Entah....Baju? Koleksi bajuku banyak di rumah. Aku suka beli baju.”
“Hmmm...fashion ya? Pernah gambar?”
“Pernah. Sering sih dulu waktu kuliah kalau bosan aku biasa gambar di kertas kosong gitu. Iseng-iseng aja.”
“Kenapa gak ditekuni?”
“Kan cuma iseng.”
“Mau coba lagi gak? Gambar lagi maksudnya? Terus diikutin lomba.”
“Kakak nih becanda.”
“Saya gak becanda, Lia. Gak ada salahnya kan nyoba? Siapa tahu itu memang mimpi kamu yang gak kamu sadari karena kamu terus menyangkal? Mungkin kamu anggap itu hanya iseng untuk mengikis waktu luang, tetapi kamu tidak pernah tahu, Lia. Sama seperti saya jika tidak pernah ikut volunteer, bisa jadi hari ini saya betulan sudah di neptunus.”
Terima kasih, Kak Minho. Terima kasih karena telah membantu Julia si anak manja ini menemukan 'hidup'nya.
Minho ingat betul hari ulang tahun Lia bertepatan dengan pegumuman lomba. Si gadis menangis tersedu-sedu di pelukannya dan Minho benar-benar bangga dengan Lia. Minho senang karena Lia akhirnya menemukan 'hidup'nya.
Kendati suatu hari dari hari itu, 'hidup' itu pula yang membawa Lia pada trauma baru dan luka kehilangan yang memakan waktu untuk disembuhkan.
Belum, Kak. Ini terakhir...maksudku ini bagian terakhir
Lembar ketiga dimulai. Namun, tiba-tiba saja dunia menjadi begitu kabur. Oleh rintik-rintik pilu yang bergumul di pelupuk.
Setelah menikah, banyak hal-hal tak terduga terjadi. Tetapi yang paling kuingat adalah tangisan kakak di malam-malam itu.
Aku tahu, memejamkan mata terasa sulit untuk kakak. Khawatir kalau aku iba-tiba pergi. Tidak banyak yang bisa aku lakukan sebab kala itu aku pun ketakutan pada diriku sendiri.
Kosong, takut. Padahal nyata-nyata aku lihat ada yang lebih hampa dan takut daripada aku. Ada yang menangis diam-diam sepanjang malam sementara aku tetap pada egoku yang inginkanku pergi. Berpikir bahwa kepergianku mampu mengurangi beban emosional kakak. Maaf kak, waktu itu aku lupa kita saling mencintai...
Pengalaman pertama—dan terakhir—bagi keduanya. Dihadapkan pada kehilangan pertama akan sosok yang sangat dinantikan dalam sebuah rumah tangga. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Berdua sama-sama kehilangan, berdua sama-sama berusaha kembali hidup meski yang satu nyaris di ujung putus asa.
Terima kasih, Kak Minho. Terima kasih, Kekasihku. Terima kasih karena sabarmu telah berhasil menarikku kembali di jalur yang semestinya. Sebagaimana yang kamu katakan bahwa kamu bukan di depan ataupun di belakang, tetapi kamu ada di sisiku. Membersamai langkahku agar tidak terburu apalagi tertinggal. Setiap kali aku melihat kakak tersenyum saat kita bertukar kata, aku disadarkan pada pemahaman bahwa perjalananku masih panjang dan hidupku sangat berarti.
Maafku sungguh besar jagatnya. Sebab aku masih sering merepotkan kakak alih-alih menjadi pelipur lara. Tetapi terima kasih untuk kebesaran hati kakak yang tetap mau menerimaku menjadi teman hidup kakak.
Sedikit yang bisa kuberi... aku ingin menulis lebih banyak lagi tetapi sepertinya aku merindukan kakak. Mungkin kita harus lebih banyak mengobrol dari biasanya setelah ini.
Bukan. Bukan berarti Minho dan Lia jarang mengobrol. Hanya saja, keduanya jarang berbicara serius. Sama-sama dibayangi rasa takut akan topik tabu yang tanpa disadari masih membayangi keduanya.
Aku sayang kamu, Lee Minho. Mari kita tetap saling menyayangi dan mengingatkan satu sama lain bahwa kita akan tetap saling menyayangi untuk waktu yang tak dapat ditentukan.
-Your half- -Julia-
Ps. Tolong buka laci, kemudian telpon aku ya, Kak
Rasa laparnya kini telah benar-benar hilang. Berganti kerinduan pada Lia. Pada gadis yang baru saja membuatnya menangis bahagia. Dan kembali membuatnya menangis ketika membuka laci dan mendapati sebuah bahagia baru menantinya di depan.
“Halo, Lia.”
“Kak Minho?”
“Terima kasih.”
“Kak aku ngantuk. Besok ya.”
end