Demam
Sebesar apapun inginnya Calvin menahan agar gadis ini tetap tinggal, semua hanya akan tertahan di ujung lidah tanpa pernah rilis. Mana berani Calvin meminta lebih ketika si gadis dengan tegas menyebutkan untuk yang ke-11091999x—atau mungkin lebih—bahwa ia sangat bersyukur memiliki sahabat yang selalu menerimanya dalam bagaimanapun keadaannya. Sahabat; Calvin Antares.
“Mau dianter ke dokter gak?”
Kalimat tanya yang entah sudah berapa kali Calvin dengar dari bibir Claudia. Perempuan yang hari ini mengenakan dress santai motif floral sebatas lutut yang tampak sangat pas membalut tubuh mungilnya.
Tolong jangan ingatkan Calvin bahwa dia baru saja merusak janji temu Claudia dan pacarnya hanya agar gadis ini membuatkannya semangkuk bubur bertabur sayur untuk tubuhnya yang kini terbujur di kasur. Kuyu. Flu itu benar-benar mengganggu.
“Mau dianter ke dokter gak, Calvin Antares?”
Kali ini Claudia muncul di ambang pintu kamar Calvin dengan dress floral tadi yang sudah dilapisi apron. Mengira bahwa tanya sebelumnya tidak bisa Calvin dengar—padahal memang tidak ingin ia jawab.
“Gak,” jawab Calvin lirih. Lemas. Claudia mendengkus.
“Gue telpon Mbak Cla—aw lo sakit gak sih? Masih bisa ngelempar orang.”
Claudia mencebik kesal. Calvin kembali sembunyikan kepalanya di balik selimut. Dia tidak suka Clara—kakak perempuannya—datang. Duh, ribet urusannya. Calvin pasti diseret bawa pulang ke rumah. Dia sedang tidak ingin mendengar ocehan 2 perempuan penguasa rumah (read: mama dan mbak Clara).
“Begadang terooos!!”
“Minum es kopi terusss!”
Cukup begini saja. Claudia ada itu sudah cukup. Gak perlu tambah yang lain.
1 jam yang lalu Calvin menghubungi Claudia yang sebelumnya mengirim pesan bahwa ia akan pergi dengan pacarnya hari ini.
“Bikinin gue bubur dulu sebelum lo cabut.”
“Lo sakit, Cal?”
“Iya kayaknya.”
“Anjir ini tuh sejam lagi gue dijemput. Gue beliin aja ya?”
“Gak mau. Yang beli-beli gitu biasanya berminyak.”
“Buburnya doang.”
“Bikinin plis. Alesan dulu ke pacar lo mules gitu habis makan sambel pecel.”
“Sumpah ya, Cal. Gue siram muka lo pake bubur.”
Saat Claudia datang, Calvin masih meringkuk di couch. Serta merta si gadis menuntun Calvin yang tak berdaya ke kamarnya. Merapatkan selimut untuk menghangatkan tubuh pemuda Antares. Menghela napas saat mengukur suhu tubuh si pemuda yang berada di 39,2 derajat—tapi tetap keras kepala tidak ingin mengunjungi dokter. Untungnya ia sempat mampir apotek untuk membeli plester pereda demam dan menempelkannya ke kening Calvin sebelum mulai membuatkan bubur.
“Lo habis ngapain bisa-bisanya demam tinggi begini?”
“Gak darimana-mana.”
Claudia sedang berbaik hati menawarkan diri untuk menyuapi Calvin dengan sabar. Jawaban Calvin membuatnya kesal hingga menyendokkan satu sendok penuh lebih banyak bubur dari sebelumnya.
“Makan nih bubur. Seneng banget boong.”
Susah payah Calvin menelan bubur yang baru saja masuk ke mulutnya sembari menahan tawa. Tolong jangan ingatkan Calvin bahwa perempuan yang sedang menyuapkan bubur ini seharusnya sedang menghabiskan waktu jalan-jalan dengan pacarnya. Bukannya merawat pemuda cupu yang sedang lemas tak berdaya ditimpa flu.
Atau sebaiknya Calvin harus berterima kasih pada flu karena tanpa hadirnya maka bubur buatan tangan Claudia tidak akan memanjakan indera pengecapnya hari ini. Kendati rasanya tetap tidak seenak saat dimakan di waktu sehat.
“Gue kemaren nemuin Kak Ino. Dia balik Surabaya tapi pake mobil gue.”
“Mobil Kak Ino kemana?”
“Diservice. 2 hari lalu lampu belakangnya pecah ditabrak orang.”
“Kok lo ujan-ujanan?”
“Gue motoran.”
“Motor siapa?”
“Ai. Kak Ino baliknya bareng Ai. Nikahan sepupunya.”
“Kenapa gak nunggu reda sih baru jalan?”
“Keburu malem.”
“Dih, apaan Calvin Antares takut malam. Kayak bakal diculik aja.”
“Ya gue ngapain lama-lama di rumah Ai. Main catur ama bokapnya?”
Jujur nih ya, Claudia sebal. Kesal dengan Calvin yang suka sekali menyusahkan diri sendiri. Tapi bisa-bisanya dia bercanda padahal dalam kondisi lemas begini.
“Biasanya nih ya, di jok motor tuh ada mantel.”
“Gue gak ngecek. Nanggung juga udah di lampu merah deket doa ibu.” Calvin menyebutkan nama warung nasi uduk langganannya yang membuat Claudia menepuk kening.
Padahal inginnya menepuk belakang kepala Calvin. Tapi Claudia masih memiliki rasa kemanusiaan. Dia tidak mau Calvin semakin lama sakitnya dan semakin sering merengek meminta dibuatkan bubur.
“Itu masih jauh ya, Calvin. Kenapa gak nepi di doa ibu?”
Calvin menghela napas. “Yaudah sih udah kejadian. Gue sakit juga tetep kena marah ya.”
Claudia mengusak surai Calvin. “Sorry. Maksud gue gak gitu. Ya udah lo tidur gih.”
Claudia sudah siap beranjak ketika tangan Calvin—yang masih terasa hangat—menahannya.
“Apa lagi?”
“Lo jadi jalan?”
Claudia menghela napas. Menoleh ke arah jam dinding. Sudah lewat 2 jam dari waktu seharusnya ia bertemu dengan pacarnya.
“Gak jadi. Gue udah bilang orangnya juga.”
“Lo bilang apa?”
“Gue bilang apa adanya lah. Cowok gue yang ini gak ribet. Yang penting jujur.”
“Bagus deh. Baik-baik. Gak usah drama-dramaan lagi dah.”
“Iya. Udah buru tidur. Malah ngoceh.”
Claudia benar-benar meninggalkan Calvin di kamarnya. Menutup rapat pintu kamar Calvin agar tidak terganggu istirahatnya.
“Makasih, Di. Makasih karena tetap mau repot buat temen lo yang cupu ini.”
“Lo pernah kepikiran pacaran sama gue gak, Di?”
“Gak pernah.”
“Misalkan gue suka sama lo?”
“Gak gak. Gak usah. Lo ngapain sih mikir aneh-aneh aja.”
“Gue kadang kesel sih lo kalau putus sama pacar lo gitu galaunya nyusahin. Mending pacaran sama gue kan?”
“Lo mabok, Cal?”
“Hehe. Tenang aja. Kalau udah gak ada lagi cowok yang mau sama lo, masih ada gue.”
“Mabok ni anak. Gue yang gak mau.”
“Kenapa lo ogah banget kayaknya?”
“Ya ngapain? Kita udah cocok banget jadi temen. Geli dah bayangin manggil sayang-sayangan.”
“Sayang.”
“Cal, lo belom pernah dilempar galon, ya?”