fallinlove—again

Bagi Calvin Antares, jatuh cinta itu agaknya sukar. Karena kenyataannya, bisa dihitung jari berapa kali ia jatuh cinta kendati dekat dengan beberapa perempuan. Sampai dia bertemu Claudia dan berpikir bahwa ia bisa berakhir “baik” dengan perempuan itu. Nyatanya disinilah Calvin. Duduk di antara sekian banyak hadirin tamu undangan, menikmati hidangan yang seharusnya bisa ia nikmati. Tetapi masih dominan pahit dalam hati melihat Claudia di singgasana berteman laki-laki yang siap bertanggung jawab untuk kehidupan barunya.

Ternyata flu beberapa bulan lalu menjadi terakhir kalinya Calvin mencari perempuan itu dalam keadaan mendesak. Sayangnya, Calvin kecewa pada Claudia. Sebab ia lebih dulu mengikat janji sehidup semati dengan laki-laki pilihannya bahkan sebelum Calvin jatuh cinta lagi.

Hh ... bagaimana bisa Calvin jatuh cinta lagi ketika Claudia yang sudah diikat begini saja masih ia harapkan?

Calvin dan cinta sepertinya kurang bersahabat.

Tapi Calvin dan rasa dingin yang tiba-tiba menjalar di area perutnya membuat kesadarannya kembali.

“Aduuh, maaf-maaf Mas, gak sengaja.”

Sungguh demi apapun, Calvin hampir meledak marah. Tidak masalah sebenarnya kalau hanya air putih dingin, tapi ini es krim.

Kemarahan Calvin tertahan begitu saja ketika melihat sepatu perempuan yang menumpahkan es krim di bajunya patah heelsnya. Namun, ia seperti tak peduli dengan pergelangan kakinya—yang pasti akan terasa sakit beberapa saat lagi—, malah sibuk mengeluarkan berlembar-lembar tisu guna membersihkan kemeja Calvin.

“Gak apa-apa, Mbak. Sini saya bersihkan sendiri.”

“Maaf ya, Mas. Saya cuciin aja bajunya.”

“Gak usah, Mbak. Ini gak apa-apa kok.”

“Ini es krim. Manis bikin lengket. Mengandung susu juga baunya nanti gak enak. Mending Mas ganti baju. Jasnya kena gak, Mas?” Perempuan itu kini beralih memeriksa jas Calvin setelah sebelumnya ia melepas sepasang sepatu yang sudah patah heelsnya.

“Tapi saya gak bawa baju ganti. Gak apa-apa Mbak. Ini saya juga mau pulang.”

“Ya udah sekalian kita ke parkiran. Saya ada kaos putih baru di mobil bisa buat Mas.”


“Rola?”

“Hmmm.”

“Gue suka sama lo.”

Insiden tak terduga di acara nikahan Claudia malah membawa Calvin pada temu tak terduga dengan Rola. Seakan semua sudah direncanakan langit. Rola dan es krim yang tumpah di baju Calvin. Rola dan kemeja Calvin yang ia kembalikan dengan cara yang sama tak terduganya.

Awalnya Rola bingung, bagaimana Calvin bisa tahu tempa kerjanya? Apa mungkin laki-laki itu diam-diam mencaritahu tentang Rola yang sudah menjanjikan segera mengembalikan kemejanya—tapi dengan bodohnya Rola lupa meminta nomor kontak yang bisa dihubungi.

Karena wujud Calvin yang tiba-tiba ada di hadapannya—di lobby utama kantornya—membuat Rola lekas menarik pemuda itu ke parkiran untuk mengembalikan kemejanya.

“Maaf ya, Mas. Tapi saya gak nyangka Mas sampai bisa nemuin kantor saya demi kemejanya.”

“Oh, bukan-bukan. Jangan salah paham, Mbak. Saya mau nemuin Papa saya.”

“Papanya kerja disini juga, Mas? Di divisi mana? Biar saya anterin kalau gitu.”

“Di lantai 8.”

“Lantai 8?! Lho....?”

Kepalang malu, tapi Rola betulan mengantar Calvin ke lantai 8—Ruang Direktur—meskipun si adam sudah hafal seluk beluk kantor ini. Sebelum pulang, Calvin sempatkan mampir di lantai 6 dimana divisi Rola berada. Meminta nomor ponsel si gadis dan menjanjikan temu minum kopi bersama untuk kaos putih yang si gadis berikan pada Calvin.

“Calvin lo serius?”

Kata ganti formal mereka luruh di pertemuan minum kopi. Berganti sapaan akrab layaknya kawan lama. Saling mengenal dan memberi informasi satu sama lain tentang hal-hal trivia. Kendati tak banyak hal yang selaras, tapi tidak sedikit pula yang bisa diikat, disambung dalam obrolan panjang 3 jam pertama mereka.

Hari ini, di tempat kopi yang sama Calvin berdeklarasi. Belajar dari yang lalu bahwa perasaan suka semestinya diutarakan. Perkara diterima atau ditolak sudah paten jawabannya hanya seputar dua kata itu.

6 bulan rasanya cukup bagi Calvin menafsirkan perasaannya sendiri. Bahwa menjemput Rola saat perempuan itu mesti lembur bukan sekedar perhatian biasa. Bahwa menunggu lampu kamar perempuan itu mati hanya untuk memastikan ia tidur tepat waktu saat dilanda sakit bulanan adalah bukan kekhawatiran tak berdasar. Bahwa debaran saat melihatnya tersenyum dan efek halo berlebihan pada sosoknya saat gembira adalah bukan sekedar gugup yang dibuat-buat.

“Serius. Tapi gue gak masalah harus nunggu. Gue juga gak akan maksa lo buat ngasih jawaban. Gue bilang begitu karena gue pengin ngebebasin perasaan gue. Gue gak mau perasaan itu berakhir terkubur paksa tanpa pernah bernapas bebas.”

Bagi Rola sendiri, ia terlampau paham. Perhatian-perhatian Calvin tentu bukannya tidak bermaksud. Meski sempat dibayangi dua kegamangan bahwa semua dari Calvin Antares entah itu benar-benar ketertarikan sebagai 2 entitas berbeda, atau sekedar kepedulian antara 2 manusia yang saling mengenal.

Hari ini Rola mendapatkan jawaban kegamangan yang melandanya. Sejatinya, ia tidak begitu menaruh harap pada apa-apa yang telah Calvin tujukan padanya. Baginya memiliki Calvin sebagai teman dekat saja sudah lebih dari sekedar cukup. Pun usia mereka adalah kekhawatiran lain dari Rola.

“Gue lebih tua, Cal.”

“Gak nyampe setahun,” tukas Calvin cepat seakan telah menduga pernyataan itu.

Rola terkekeh. “Lo bilang lo gak bakal maksa.”

Calvin menghela napas. “Gue gak maksa. Gue cuma ngasih lo keyakinan lebih biar lo percaya kalau umur bukan jadi masalah buat gue, La.”

Jujur hal itu juga sempat menjadi kekhawatiran bagi Calvin. Bukan, bukannya Calvin takut akan pandangan orang. Ia lebih takut pada Rola yang mungkin tidak nyaman harus bersanding dengan laki-laki yang lebih muda meski terpaut tak sampai setahun jika tidak melihat angka tahun lahir mereka.

Namun apalah artinya Calvin tanpa pahlawan di balik keyakinannya untuk maju. Mama dan Kirino—yang mengutip dari Bang Bayu.

“Waktu penciptaan, kita gak bisa minta Tuhan buat jodohin kita dengan siapa siapa secara spesifik. Tetapi ketika kita akhirnya dilahirkan dan dibiarkan Tuhan berkelana di muka bumi, Tuhan memberi kita kesempatan untuk meminta meski tak selalu Tuhan kabulkan. Kalau tidak dikabulkan, bukan berarti tidak baik. Mungkin sudah Tuhan siapkan untuk kita versi upgrade dari doa kita. Hanya Tuhan yang tahu. Jadi, mau dia lebih tua, lebih muda, kalau kamu ngerasa dia ada di antara substansi doa-doa kamu pada Tuhan, ambil.”—Mama Calvin.

“Nih ya kata Bang Bayuaji, S.Sos. umur tuh cuma angka. Kata lo dia seumuran gue kan? Lo kalau manggil gue juga kadang Kirina Kirino doang elah gini aja dipikirin. Suka ya suka aja. Dikejar. Diusahain. Jangan kalah lagi sebelum perang. Belajar kek dari yang sebelumnya.”—Kirino 'galak' Isha Khalil.

“Oke deh.”

“Apanya?”

“Jalan aja kita.”

“Kenapa lo jawabnya kayak terpaksa gitu sih, Rola?”

Melihat raut kesal Calvin membuat Rola tergelak. “Ya emang harus gimana lagi kalau gue juga suka sama lo, Calvin Antares?”

“Kan bener.”

“Apanya?”

“Gue tahu lo juga suka gue.”

“Sok tahu ah kayak mbah dukun.”

Usai deklarasi itu berdua masih larut bercengkrama. Berteman es kopi kesukaan masing-masing menyulam kata dalam susunan kalimat hingga menjadi kisah awal perjalanan mereka dalam relasi baru.


“Titik awal yang bikin lo sadar kalau lo emang suka sama gue?”

“Waktu lo lembur dan posisinya lo udah kena gejala flu. Itu pertama kalinya gue jemput lo. Awalnya lo nolak karena lo bawa mobil. Tapi gue tetap dateng karena denger suara lo loyo parah.”

“Sumpah gue bingung pas lo dateng. Bingung kenapa lo dateng padahal udah gue bilangin gak usah. Bingung juga karena lo ada 3. Gue pusing banget.”

“Kan ... jadi apa lo kalau gak gue jemput hari itu?”

“Hehe ... terus? Masa gara-gara itu doang?”

“Ya emang gara-gara itu doang. Gara-gara itu gue gak pengin lihat lo sakit. Gue pengin jagain lo. Gue juga pengin jadi orang yang ada di opsi pertama lo waktu lo butuh seseorang buat ada di sisi lo. Gue juga pengin jadi orang bisa lo percaya dan lo andalkan.”

“Cal.”

“Hmm.”

“Lo ngerasa lebih bucin dari Kirino temen lo itu gak sih?”

“Gak. Levelnya beda. Bucin gue berkelas.”

“Sekelas telor ayam atau telor bebek martabak telor kesukaan bapak gue?”

“Gue cuma gak pengin main catur kayak Kirino.”

—-end—-

06/07/2021