Glow

tw // suicide trial, crash

Dingin.

Salju yang turun deras malam itu serta merta membekukan seluruh persendian. Bagi Minho dan Lia perasaan.

Dingin.

Pelukan yang biasa terasa hangat itu menjadi berkali lipat dingin oleh bekunya hati yang diliputi rasa takut. Membayangkan kekasih yang paling dicinta menghilang dari muka bumi di musim dingin bukanlah ingin Minho. Lia lebih dari sekedar semestanya.

Sebelum bertemu Minho, dunia Lia hanya seputar situ saja. Bahkan tak sampai sebatas pandang. Ia hanya mengikuti alirannya. Saat tersangkut batuan, ia hanya akan diam. Menunggu arus lain yang akan mendorongnya menjauh dari batu itu. Atau malah ada orang lain yang menyingkirkan batu itu untuknya. Tidak ada sensasi. Apa lagi yang harus ia upayakan ketika hidupnya sudah terlalu nyaman dengan segala yang ia miliki. Kendati itu milik orangtuanya.

Erat. Tangis Lia tak kunjung reda sehingga Minho tetap memeluknya erat. Jikalau bisa bertukar tempat, Minho rela gantikan rasa sakit Lia. Perempuan yang selama 5 tahun terakhir ini menjadi bidang edarnya. Perempuan yang 2 tahun lalu ia ikat dalam janji bersaksi semesta. Perempuan ceria yang baru belajar betapa luas jangkauan dunia untuk ia cicipi satu per satu sampai ia menemukan impian yang tak pernah terlintas di angan.

Hidup hakikatnya bak roda pedati. Lia lupa. Pedati yang dulu hanya diam telah berjalan. Perputaran roda Lia di atas ketika kebahagiaan bertubi-tubi menimpa sampai rasanya ia lupa bahwa tak ada yang selamanya. Bahkan jika ia sempatkan waktu sejenak untuk berpikir, laki-laki yang paling dicintainya—setelah Papa—ini pun bukan makhluk abadi. Suatu saat pasti pergi.

Dan ketika pedati itu terus berjalan, rodanya tiba di bawah. Melewati jalan bebatuan. Beruntung bila tak ada paku. Sayangnya, milik Lia ada. Pilu yang tak pernah ia bayangkan, kehilangan yang tak pernah diduga. Celaka yang tak pernah diharap.

“Maaf.”

“Maaf.”

“Maaf.”

Seolah belum cukup dengan kehilangan, rasa bersalah turut hadir dan tak terhitung jagatnya. Diamnya Lia selama beberapa waktu ini adalah isyaratnya terluka. Bahwa mendadak dunianya menjadi hitam gelap. Dan kehadiran Minho hanya semakin membuatnya merasa sia-sia. Perjalanan pedati itu tertahan sesaat.

“Sudah, Li.”

Lembut Minho mengusap punggung Lia. Hujan salju semakin deras. Berdua di balkon rumah mereka masih saling memeluk.

Minho tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia terlambat 10 detik saja. Menangis. Bersama Lia malam itu akhirnya ia menangis. Ia juga sedih. Tapi sedihnya tak bisa dibandingkan dengan sedih Lia.

“Aku ibunya. Maaf aku gak bertanggung jawab. Maaf.”

Permintaan maaf Lia adalah sesal terbesar Minho. Bagaimanapun sedikit banyak ia menjadi bagian dari terbentuknya Lia menjadi perempuan kuat yang pantang menyerah. Lia sendiri yakin jika tidak jatuh cinta pada Minho, ia mungkin akan tetap menjadi Julia anak kaya raya yang manja dan tak tahu apa-apa.

“Kita masuk ya, Sayang. Di luar dingin. Nanti kamu makin sakit.”

Butuh beberapa saat sampai Lia kehilangan tenaga yang terkuras untuk menangis. Saat itulah Minho ambil kesempatan menuntun Lia kembali ke dalam rumah. Menutup rapat pintu balkon. Perlahan Minho baringkan Lia di ranjang lantas menarik selimut untuk membalut tubuh kedinginan Lia.

Minho sudah akan beranjak mengambilkan air putih hangat. Tapi tangan dingin Lia menahan ujung lengan kaos yang tengah dikenakannya. Minho kembali duduk di tepi ranjang akhirnya.

Jemari Lia mencari rumahnya. Terasa dinginnya di kulit telapak tangan Minho. Paham, Minho tautkan juga miliknya untuk Lia. Hal yang selalu Lia lakukan setiap kali merasa takut adalah menggenggam erat Minho sampai rasa itu sirna.

“Maaf, Kak,” lirih Lia berucap. Kata yang sama sejak satu jam yang lalu dan Minho sudah jengah mendengarnya.

Minho menggeleng. “Aku gak perlu maafin karena kamu gak bikin kesalahan apapun, Sayang.”

“Aku harusnya nurut sama kamu. Aku harusnya gak pergi jauh.”

Hari itu seperti sambaran petir tepat di kepala yang membuat Minho tak bisa mengendalikan diri. Sedih, takut, menyesal. Lia seharusnya tetap di rumah tetapi keinginannya untuk mengikuti workshop dari desainer idolanya lebih besar dari apapun. Netra yang pancarkan kehidupan penuh optimisme, yang membuat Minho luluh dan membiarkan Lia mengejar mimpinya.

“Kabarin kalau kerasa sakit, ya. Maaf aku gak bisa nemenin. Ada jadwal operasi.”

Anggukan Lia hari itu penuh keyakinan. Pelukannya terasa sangat mendebarkan seperti pertama kali Lia memeluknya dulu ketika Minho sakit dan hanya ada Lia yang merawatnya. Semuanya seperti biasa. Tapi tidak sampai Minho keluar dari ruang operasi dan dihampiri rekannya.

“Julia kecelakaan.”

Dunia Minho seakan runtuh saat itu juga. Ditambah kabar Julia yang harus menjalani beberapa operasi termasuk operasi pengangkatan janin karena benturan yang keras menyebabkan plasenta lepas. Sementara lokasi kecelakaan cukup jauh dari rumah sakit terdekat untuk memberi pertolongan pertama sehingga calon anak pertama mereka tidak bisa diselamatkan.

Langkahnya memburu ruang operasi tepat sebelum dokter yang bertanggung jawab untuk operasi Lia masuk ke ruangan. Minho sempat memaksa ingin ikut masuk tapi ditahan oleh dokter yang merupakan senior sekaligus pembimbingnya semasa magang dulu.

“Dokter tolong selamatkan Julia.”

Minho berlutut memohon pada dokter untuk Julia. Cukup baginya kehilangan calon anaknya. Tapi tidak dengan Julia. Minho tidak tahu apa yang bisa ia lakukan jika Julia pergi dari hidupnya.

Minho dengan setia menunggu di depan ruangan operasi. Orangtuanya datang begitu pula orangtua Julia. Semua menenangkan Minho sampai akhirnya dokter keluar dan memberitahu operasi Julia berhasil meskipun ia koma.

Satu minggu itu terasa sangat berat dan kelam. Minho tetap berada di sisi Julia menunggu kekasihnya sadar. Ia sempat pergi ketika harus menguburkan calon anaknya, setelah itu ia tak pernah jauh-jauh dari Lia. Sampai akhirnya Lia bangun dari koma. Perlahan ia membiasakan diri hingga ia menyadari ada yang tidak biasa dengan tubuhnya.

“Kak, janinnya baik-baik aja kan?”

Tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. Minho peluk Lia erat meski Lia berusaha memberontak. Seolah tahu bahwa bayinya tidak baik-baik saja. Lia menangis mengelus perutnya yang kosong. Merapal sesal yang tak ada habisnya. Menyalahkan diri sendiri lantas mencoba untuk 'pergi'.

Hari ini tepat dua bulan setelah kecelakaan itu terjadi. Lia terlihat normal. Menjalani hari seperti biasa—kecuali tangan kiri yang belum sepenuhnya pulih. Tetapi selama itu pula sudah 4 kali Lia mencoba mengakhiri hidup karena rasa bersalah yang masih kerap menghantui. Dan Minho selalu berhasil mencegahnya meski hari ini ia nyaris saja terlambat.

“Kak, kamu harusnya marahin aku. Kenapa kamu gak marah sama aku padahal aku udah bikin kamu kehilangan anak.”

Minho menggeleng. “Apa dengan aku marah anak kita bisa kembali? Apa dengan aku marah kecelakaan itu bakalan tidak terjadi?”

Lia bungkam. Tatapan Minho diselimuti putus asa. Ia tidak tahu lagi bagaimana menguatkan Lia.

“Lia, kamu mau dengerin Kakak gak?”

Lia mengangguk. Ia juga sedih melihat Minho yang tak bercahaya seperti sebelumnya. Berpikir bahwa itu karena dia yang gagal merawat janin di perutnya.

“Lia kamu gak salah. Kecelakaan itu terjadi bukan salah kamu. Kamu juga tidak ingin kecelakaan itu terjadi.” Lia mengangguk. “Tolong berhenti menyalahkan diri kamu, Lia. Kakak sayang sama kamu. Tolong jangan melakukan hal-hal yang bikin Kakak kehilangan kamu. Cukup untuk kita kehilangan calon anak kita, Lia. Kita masih punya satu sama lain. Kalau kamu pergi, Kakak gak tahu harus gimana, Lia.”

Tangan yang awalnya saling menggenggam itu terpisah oleh Minho yang mengusap wajahnya. Menutup muka meredam tangis yang tak bisa terbendung. 2 bulan dengan kondisi psikis Lia yang tak menentu membuatnya dibayang-bayangi ketakutan jika Lia pergi.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, Lia duduk dan memeluk Minho. Minho lekas membalas pelukan itu erat seakan esok hari ia tak dapat lagi merasakannya. Lia mengusap lembut punggung Minho, menenangkan laki-laki kecintaannya. Ini adalah kali pertama Lia menyaksikan Minho benar-benar terpuruk. Semua karena ia yang egois.

Lia sadari keegoisannya. Lia sadari bahwa ia telah terjebak pada hitam kelam yang ia ciptakan sendiri. Padahal Minho susah payah memastikan cahaya yang ia nyalakan untuk membawa Lia kembali tak padam diterpa angin. Lia hanya memikirkan diri sendiri tanpa tahu bahwa ada Minho yang kesedihannya tak bisa Lia bayangkan.

“Jangan pergi, Lia. Jangan pergi,” pinta Minho putus asa.

“Aku gak pergi, Kak. Aku gak akan pergi.”


“Kakak kasih dia nama?”

“Iya.”

“Namanya.”

“Lee Bitna.”


160621