HAI....
Di persimpangan jalan itu untuk pertama kalinya aku menjumpa. Satu sosok yang tinggalkan kesan baik. Menjadi alasan pikiran yang melanglangbuana tak tentu arah di ujung malam.
Dan ketika aku bertemu lagi dengannya hari ini, aku beranikan diri tuk hampiri.
“Hai, ada yang bisa saya bantu?” sapaku pada sosoknya yang sibuk mengobrak abrik isi tas. Sapaan itu pun tak kunjung membuatnya menoleh.
“Permisi.” Sekali lagi aku menyapa. Oh, dan berhasil.
Manis. Namun, ada kelabu tak kasat mata di parasnya.
“Sepertinya saya meninggalkan dompet di rumah,” jawabnya sendu.
“Saya bisa meminjamkan dulu,” responku cepat sembari mengambil dompet di saku belakang celana dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang kiranya cukup untuk transportasinya pulang pergi.
“Tapi—”
“Bisnya datang,” potongku cepat sebelum ia menolak.
“Ini terlalu bany—”
“Tidak apa. Saya hanya meminjamkan bukan memberi.”
Ia terlihat menimbang-nimbang sebelum akhirnya menerima beberapa lembar uang tersebut.
“Akan saya ganti. Terima kasih.”
Bergegas ia undur diri dan masuk ke bis. Ah, sepertinya ia lupa sesuatu. Sebelum bis meninggalkan halte, lekas aku berlari menahan pintu. Memohon paksa pada kondektur agar memberiku waktu sebentar.
“Nona bergaun bunga!” panggilku hingga membuatnya sedikit tersentak—dan terlihat gugup ketika tiba-tiba menjadi pusat perhatian orang-orang dalam bis.
“Nona jangan lupa ganti uangnya. Tapi bagaimana cara Nona mengganti sementara kita tidak saling kenal?”
Aku mengulas senyum padanya. Sementara ia menepuk kening sekali.
“Itu—bagaimana ya?”
“Bagaimana?” Aku mengedikkan bahu.
“Bung, ajak dia bertemu di Restoran Nelayan saja besok pukul 5 sore,” usul salah satu penumpang yang terlihat tak sabar karena perjalanannya terusik oleh ulah 2 insan yang tak saling kenal.
“Iya di sana saja. Ayo supir jalan saja!” sahut yang lain.
“Saya tunggu Nona di Restoran Nelayan esok sore pukul 5,” ucapku final sebelum kondektur menarikku turun.
Di balik jendela kudapatinya mengangguk setuju. Dan seulas senyum manis terpatri di wajahnya sebagai ucapan perpisahan sebelum bis benar-benar menjauh dari tempatku berdiri.
Sampai jumpa di senja esok hari, Cantik