HUJAN-HUJANAN
“Kapan redanya?” keluh Ryujin.
Sore itu, hujan mengguyur bumi seolah enggan untuk berhenti. Deras bukan main. Sesekali terdengar suara gelegar di ujung langit. Angin yang berhembus pun kencang membuat Ryujin harus berjalan menutup satu per satu daun jendela kelas.
Shin Ryujin. Gadis 18 tahun itu masih terjebak di sekolah. Melewatkan salam terakhir dari guru karena terlanjur lelap dibawa buaian alam bawah sadar. Sialnya kali ini karena tidak ada teman-teman yang membangunkan seperti biasa. Ia juga heran kenapa tidak ada teman yang membangunkan.
”Aku udah bangunin tadi. Kamu aja yang beler, Ryu.”
Adalah pesan balasan dari Chaeryoung, teman sebangkunya. Ryujin mengeluh karena merasa tidak dibangunkan padahal Chaeryoung sampai emosi. Menurut gadis yang kini sudah damai di balik selimut kamar tidurnya, Ryujin sudah sempat bangun dan memakai tas. Entah bagaimana bisa dia kembali jatuh tertidur.
Baiklah. Ryujin hanya bisa menerima kenyataan kalau memang begitu adanya. Ia juga yakin Chaeryoung tidak mungkin berbohong sebab gadis bersurai sebahu ini memang tidur dengan tas yang sudah menggantung di punggung.
Salah Ryujin karena tidak bisa tidur semalam suntuk. Memikirkan tentang hari ini. Kenapa?
Karena hari ini adalah hari ulangtahun seseorang yang Ryujin suka. Her crush.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini sebagai murid sekolah menengah atas, Ryujin tidak pernah membayangkan dirinya akan memiliki seseorang untuk ditaksir. Di SMP Ryujin tidak pernah tertarik pada siapapun kecuali basket. Bergabung dengan tim basket putri dan menjuarai beberapa turnamen tingkat Sekolah Menengah Pertama. Ia tidak sempat menghabiskan masa pubertas awalnya dengan jatuh cinta apalagi sampai patah hati.
Baru di SMA ini Ryujin tahu bagaimana rasanya kupu-kupu beterbangan dalam perut. Pekan raya yang dipenuhi makanan manis di pusat kota mendadak pindah di sekitarnya lengkap dengan hujan kelopak bunga merah muda dan langit berhias pelangi. Gemuruh di dada setiap kali berpapasan dengan si crush mengingatkan Ryujin pada sensasi sebelum ia melakukan three-point shoot.
Jika ada yang tahu tentang orang yang disukai Ryujin, bisa dipastikan mereka akan menjawab siapa yang tidak suka dengan dia? Ya, orang yang disukai Ryujin bukan sekedar murid biasa. Ia dikenal ramah, aktif di kegiatan olahraga dan tampan. Bahkan siswa laki-laki pun mengakui bahwa ia memang tampan.
Tapi bukan tampan itu yang membuat Ryujin menyukainya. Jika hanya dengan ketampanan Ryujin bisa jatuh cinta, seharusnya itu terjadi di pertemuan pertamanya. Pertemuan pertama ketik para sneior berlomba-lomba agar club mereka diminati oleh junior yang baru saja bergabung ke sekolah. Ryujin sempat mampir di stan club sepak bola hanya untuk menemani Choi Beomgyu—sahabatnya—mengantar formulir pendaftaran club.
Ryujin justru mulai tertarik pada sosok seniornya ini saat tidak sengaja melewati ruang kesenian. Mendapati sosok tampan itu sedang duduk menggambar dengan fokus. Di hadapannya adalah sebuah i-pad yang tampilkan sosok—entah siapa—seseorang yang kemudian digambar kembali oleh si senior dengan pensil.
Ryujin tidak melihat hasil gambar itu seketika karena sudah barang tentu mustahil. Ia baru melihat hasilnya ketika si senior mengunggah di laman social medianya. Postingan itu langsung mengundang ratusan komentar pujian dari teman-temannya. Ryujin sendiri dibuat takjub. Untuk ukuran Ryujin yang tidak punya ketertarikan sama sekali dalam hal menggambar, hasil gambaran si senior itu bukan main apiknya.
Apakah ada manusia sesempurna ini? Dianugerahi paras yang tampan, bakat di bidang seni dan olahraga. Kendati peringkat formalnya tidak begitu bagus, tapi juga tidak bisa dikatakan buruk. Di tengah-tengah. Belum lagi perangainya yang baik dan ramah.
Keramahan dan kebaikan itu Ryujin rasakan sendiri saat ia baru bergabung di club basket SMA. Sebuah bola basket yang dilempar rekan clubnya salah arah dan nyaris menimpuk kepala Ryujin. Entah darimana datangnya si senior karena bola itu malah membentur punggungnya alih-alih mengenai kepala Ryujin. Ryujin sempat heran kenapa ada anak club sepak bola datang di lapangan basket. Ternyata karena ia menemui kembarannya yang merupakan manajer tim basket putri.
Ryujin merogoh laci mejanya. Memastikan keberaadaan kotak hadiah kecil yang akan ia berikan pada senior yang disukainya. Sayangnya Ryujin tidak tahu bagaimana cara memberikannya. Ia hanya menyukai diam-diam. Bahkan Beomgyu yang merupakan sahabatnya sejak kecil pun tidak ia beritahu. Ryujin merasa memberitahukan perasaan ini kepada orang lain hanya akan semakin membuatnya repot.
Mungkin harus Ryujin letakkan di lokernya? Tidak. Itu bukan keputusan yang tepat. Atau mungkin Ryujin harus menyelinap ke kelasnya? Tidak juga.
“Masih ada orang rupanya.”
Satu suara dari arah pintu ruang kelas membuat Ryujin seketika menoleh. Pemandangan langit kelabu sebelumnya telah berganti menjadi sosok yang baru saja Ryujin pikirkan.
Sebentar.
Ryujin segera menegakkan posisi duduknya ketika pemuda itu masuk kelas. Berjalan mendekat lantas duduk di kursi tepat di hadapan Ryujin.
Tolong siapapun Ryujin tidak ingin dibangunkan kalau ini hanya sebuah mimpi di siang bolong.
“Kak Hyunjin belum pulang?” Ryujin beranikan diri ajukan tanya. Sebab pemuda yang sejak beberapa saat lalu masuk kelas ini hanya mengusak surainya yang basah dengan handuk kecil.
“Kalau sudah pulang, aku gak bakal ada di sini.”
Ryujin merutuki diri dalam hati. Merapalkan sumpah serapah untuk satu tanya yang tidak berfaedah. Tetapi maksud pertanyaannya bukan begitu. Apakah Ryujin kehilangan kemampuan berkomunikasi hanya karena pemuda bernama Hwang Hyunjin itu kini sedang menatapnya lekat-lekat.
“Kamu sendiri belum pulang. Kenapa?” Hyunjin balik bertanya.
“Aku ketiduran.”
“Gak ada yang bangunin?”
“Ada. Tapi aku ketiduran lagi,” jawab Ryujin apa adanya yang membuat Hyunjin tertawa. “Kak Hyunjin sendiri kenapa masih di sekolah?” lanjut Ryujin bertanya.
“Habis mandi.”
“Mandi?”
“Iya. Habis kotor-kotoran sama anak-anak sepak bola. Gak enak mau langsung pulang jadi mandi dulu. Eh, ternyata hujan.”
“Berarti anak-anak sepak bola masih di sekolah juga?”
Hyunjin mengedikkan bahu. “Entah. Mungkin sebagian udah pulang.”
Meskipun jatuh cinta diam-diam, Ryujin bersyukur karena dia sudah sempat berkenalan dengan seniornya ini. Paling tidak, Hyunjin tahu namanya.
“Anak klub basket gak ada kegiatan?” Hyunjin kembali bersuara.
Ryujin menggeleng. “Pelatih dan Kak Yeji sepakat buat ngasih waktu rehat dulu seminggu setelah turnamen terakhir kemarin.”
“Selamat ya untuk kemenangan kemarin.”
“Terima kasih, Kak.”
[***]
Boleh tidak sih Ryujin minta hujan setiap hari dan ketiduran setiap hari lalu ditemukan Hyunjin seperti ini?
Saat ini keduanya sudah berjalan bersisian. Bernaung di bawah payung hasil pinjam dari satpam keduanya berjalan menuju halte bis terdekat. Hujan sudah reda, tetapi malam gelap telah datang.
Ryujin sebenarnya tak masalah jika harus berjalan sendiri tanpa payung. Namun, Hyunjin yang tidak mengizinkan.
“Kak, bahunya basah lagi itu.” Ryujin menunjuk pada bahu kanan Hyunjin yang tidak dilindungi payung dan terus menerima tetesan hujan.
“Gak apa-apa. Kamu basah gak?”
“Gak.”
Ryujin tidak bermimpi apapun semalam karena ia tidak bisa tidur. Tetapi hari ini, ia seperti berada di alam mimpi. Jalan berdua dengan orang yang dia sukai. Ryujin berharap degup jantung yang sudah tak beraturan ini tak sampai didengar oleh Hyunjin.
“Selamat ulangtahun, Kak Hyunjin,” ucap Ryujin begitu saja.
Ia tidak punya pilihan selain mengucapkan itu sekarang. Ia tidak tahu apakah besok dia masih punya kesempatan untuk jalan berdua begini bersama Hyunjin atau tidak.
“Terima kasih, Ryu—eh apa ini?”
Ucapan terima kasih Hyunjin terpotong karena Ryujin mengulurkan kotak hadiah.
“Ini buat Yeji?” Hyunjin kembali ajukan tanya karena tak kunjung menerima jawaban dari Ryujin yang saat ini ingin tenggelam saja dalam genangan.
“Buat Kak Hyunjin.”
“Serius?”
Ryujin mengangguk. Terlalu kelu untuk mengucap bahkan hanya sepatah kata. Kupu-kupu sialan ini kini terbang tak tentu arah di sekujur tubuhnya. Ryujin pusing sekarang. Apalagi ketika Hyunjin tersenyum menatapnya.
“Terima kasih, Ryujin,” ucap Hyunjin tulus. “Omong-omong boleh aku tanya sesuatu?”
Keduanya telah tiba di halte. Menduduki bangku yang kosong dan menunggu bis yang akan datang sekitar 10 menit lagi.
“Kak Hyunjin mau tanya apa?” Ryujin menghadapkan diri pada Hyunjin yang duduk di sampingnya.
“Beomgyu pacar kamu?”
Ryujin membulatkan kedua bola matanya. Berikutnya yang terjadi adalah Hyunjin berusaha menenangkan tawa Ryujin yang terpingkal-pingkal. Apa katanya? Beomgyu pacar Ryujin?
“Ya Tuhan...Kak...hahaha...mana ada...aku juga...hahaha gak mau sama Beomgyu kalau ditembak...hahahaduh tapi juga gak mungkin dia udah ada pacar hahaha lucu banget pertanyaannya astaga.”
Hyunjin mengelus tengkuknya dan mengulas senyum salah tingkah. Ryujin memang sedekat itu dengan Beomgyu sehingga wajar jika orang-orang di sekolah mengira keduanya berpacaran. Padahal Beomgyu sudah ada pacar meskipun berbeda sekolah.
“Berarti kalau aku bilang aku suka kamu, kamu terima?”
Apa katanya?
“Gimana, Kak?”
“Aku suka kamu,” bisik Hyunjin tepat di telinga Kanan Ryujin.
Gila. Jika ini nyata, Ryujin pasti sudah gila.
Tolong ingatkan Ryujin agar cukup tidur supaya tidak terlalu sering berhalusinasi. Mungkinkah sejak di sekolah tadi hingga detik ini halte bus hanya adegan-adegan dari mimpi Ryujin untuk tidur siangnya? Atau apakah setelah Hyunjin naik bis untuk membawanya pulang lebih dulu akan membangunkan Ryujin seketika bis itu berjalan?
Ryujin tidak sempat memproses kerja otaknya. Terlebih ketika Hyunjin mengacak pelan puncak kepalanya sebelum masuk ke dalam bis. Semakin berantakan rasanya. Hyunjin melambaikan tangan dari balik jendela. Dan memberi isyarat agar Ryujin menilik ponselnya.
Dunia Ryujin berubah seketika satu pesan itu tiba. Lututnya yang kokoh hasil kerja kerasnya sebagai atlet basket entah bagaimana jadi seperti jelly.
Ryujin jadi ingin hujan-hujanan saja sekarang.
[end]