ID CHAT

Yeji ingin sekali mematahkan kaki saudara kembarnya, Hyunjin. Demi apa, Yeji sudah cukup lelah berhadapan dengan ratusan murid SMP di tempatnya mengajar sebagai guru kesenian. Sekarang waktu istirahat akhir pekannya diganggu oleh panggilan dari Hyunjin di saat matanya baru terbuka.

“Kamu harus datang di acara Reuni Akbar sekolah kita, Hwang Yeji. Membawa nama baikku. Jangan lupa dan jangan membuat malu.”

Sebuah reminder yang berguna karena Yeji sungguh lupa adanya agenda Reuni Akbar di akhir pekan ini. Tetapi ia sedikit kesal dengan kata-kata kembarannya. Apa tadi? Jangan bikin malu? Hyunjin ini memang tidak sadar diri. Padahal dirinya yang suka malu-maluin waktu sekolah dulu bersama ketiga karibnya yang lain.

Hwang Hyunjin memang jarang sekali di rumah semenjak dia menjadi pilot. Padahal Yeji pikir ia bisa berangkat bersama kembarannya karena Yeji terlalu lelah untuk mengemudi. Namun, apa boleh buat. Toh nanti ia juga akan bertemu teman-teman yang lama tak ia jumpai seperti Julia dan Yeonhee pun beberapa juniornya di klub tari—Ryujin dan Chaeryeong.

Mari tetap bersemangat meskipun lelah, Hwang Yeji! Begitu Yeji merapal mantra dalam hati.

Setibanya Yeji di sekolah—yang menjadi tempat diselenggarakannya reuni, ternyata sudah banyak orang yang datang dan tidak dikenali Yeji. Ada yang sudah berusia seperti ibunya yang membuat Yeji sadar bahwa sekolahnya sudah sangat tua. Yeji langsung mengambil ID card dan mencatat buku kehadiran.

Namun saat berbalik, Yeji malah menabrak sesuatu. Seseorang lebih tepatnya dan menjatuhkan tas juga ID cardnya. Yeji bergegas mengucapkan kata maaf dan meraih tasnya. Tapi tidak dengan ID cardnya yang lebih dulu diambil oleh orang yang ditabraknya tadi.

“Makas—Eh? Kak Bangchan?” terka Yeji seketika mendongak untuk menatap gerangan yang ditabraknya.

“Hwang Yeji? Kembarannya Hwang Hyunjin kan?” Yeji buru-buru mengangguk dan mengulas senyum.

“Lama gak ketemu, ya? Bagaimana kabarmu dan Hyunjin? Kamu datang sama dia kan?” Bangchan, laki-laki yg merupakan senior 2 tingkat di atasnya semasa SMA dulu celingukan mencari keberadaan Hyunjin—padahal Yeji datang sendiri.

Tolong ingatkan Yeji bahwa ini tahun ke 10 untuknya dan ke 12 untuk Bangchan sejak lulus SMA. Sialan sekali rasa gugupnya setiap kali berhadapan dengan senior ini ternyata tidak pulih meski telah termakan masa.

Coba lihat senyuman Bangchan. Manis. Manis sekali. Sangat tidak sehat untuk waktu sepagi ini mengkonsumsi yang terlalu manis.

“Kabar kami baik. Sayangnya aku datang sendiri, Kak. Hyunjin ada jadwal terbang jadi dia gak datang,” jawab Yeji berusaha setenang mungkin.

“Wah, sayang sekali. Oh ya, aku minta ID chatmu boleh kan, Yeji?” Bangchan mengeluarkan ponselnya dari saku jas bagian dalam. Padahal Yeji masih belum bisa memproses secara cepat kalimat Bangchan barusan.

Apa? Minta apa?

“Gimana, Kak?” Bodoh. Rutuk Yeji dalam hati. Kenapa malah balik bertanya.

Bangchan terkekeh. Menangkap ekspresi terkejut dari Yeji. “ID chat. Aku minta ID chat milik mu, boleh kan?” Bangchan mengulang ucapannya yang membuat Yeji tersadar ia tidak sedang berhalusinasi.

“Tentu saja boleh. Untuk apa, Kak?” Bodoh. Yeji sekarang sedang menghitung berapa kali pagi ini ia sudah mengatakan bodoh untuk dirinya sendiri.

Gak gak. Yeji jenius. Yeji pintar, Tuhan. Yang tadi bodoh itu bukan Yeji.

Yeji yakin kemampuannya sebagai guru yang pandai berbicara di depan khalayak hilang mendadak saat ia dihadapkan dengan Bangchan.

“Tentu saja menghubungimu. Aku ingin makan nasi kari buatanmu lagi atau kimbab yang dulu selalu kamu titipkan pada Hyunjin untukku.”

Seketika kotak makan siang yang kadang Yeji sediakan untuk Bangchan terlintas di kepala. Panas. Pipi Yeji seketika panas. Tersipu. Sebegitu ambiskah dia dulu mengejar cinta seniornya ini?

“Kukira dulu Kakak gak suka sama makanan-makanan itu.” Yeji mengusap tengkuknya meredam malu . “Memangnya Hyunjin tidak berkata apa-apa? Padahal aku berpesan padanya untuk mengatakan padamu bahwa makanan ini enak. Lebih enak dari makanan kantin sekolah. Anak itu.” Bangchan tertawa mengingatnya. Sementara Yeji mengumpat dalam hati di sela tawanya dengan Bangchan.

Hwang Hyunjin kau benar-benar mati pulang nanti. Batin Yeji. Yeji lalu memberikan ponselnya pada Bangchan dan bertukar ID KaTalk.

“Oke, terima kasih, Yeji. Sampaikan salamku untuk Hyunjin. Sampai jumpa nanti.” Bangchan pun berbalik arah. Yeji melambaikan tangan melepas perginya. Namun, di langkah ketiga Bangchan berbalik ke arahnya lagi.

“Aku lupa sesuatu, Yeji,” kata Bangchan sembari menatap Yeji.

“Iya?”

Bangchan mendekat ke arahnya. Lantas membisikkan kalimat yang sukses membuat persendian lutut Yeji menjadi jeli.

“You used to be pretty, and now you’re prettier.”

Biar apa? Biar apa berkata begitu, tersenyum, lalu pergi?

Meninggalkan Yeji membatu bersama pipi yang bersemu. Adakah kesempatan untuk cinta Yeji kembali bersemi?


Created 180716 Recreated 180521