Jalan [1]
untuk waktu yang tidak sebentar aku biarkan ruangan itu gelap bunga bougenville di dalamnya tumbuh tanpa bunga hanya kuncup yang tak sempat merekah karena jendela dan pintu tertutup rapat hari ini ... hari ini akhirnya pintu-pintu dan jendela dibiarkan terbuka memberi sambutan hangat mentari di ujung sana memberi hak pada kuncup bougenville tuk lebih indah
Pukul sepuluh pagi lewat sedikit mobil Ezra terparkir di depan kediaman keluarga Dandelya. Si bungsu yang akan dibawa pergi masih sibuk memilih warna lipstik. Oranye atau merah muda? Sementara Ezra sudah asyik bercengkrama dengan bunda dan Braja. 10 menit kemudian, Dandelya keluar dari kamarnya. Mengulas senyum serta melambaikan tangan kanannya menyapa Ezra.
“Tambah cantik aja ini adiknya Braja. Mau kemana?” goda Ezra yang membuat Dandelya tersipu. Si cantik membuat gerakan tangan seolah siap memukul Ezra saat itu juga sehingga mengundang tawa dari yang lainnya.
“Dijaga adek gue. Awas aja kalau baliknya gak utuh,” pesan Braja bernada gurau sebelum Ezra membawa adiknya pergi.
Dandelya masih tidak tahu kemana Ezra akan membawanya. Kenapa harus dia yang diajak pergi padahal bisa saja dia pergi dengan Braja seperti biasanya.
“Mau kemana sih, Kak?”
Ezra yang fokus mengemudi menoleh dan mengulas senyum pada Dandelya. Lemas, kaki Dandelya seperti tak bertulang. Senyum yang sama ketika sekuntum bougenville putih ia terima dari Ezra dua belas tahun yang lalu.
“Ntar juga tahu. Kalau aku bilang sekarang kamu gak bakalan mau nemenin kayaknya.”
Dandelya mencebik. Tangan kiri Ezra terulur menepuk puncak kepala Dandelya. Si gadis setengah mati berusaha terlihat biasa saja.
“Apaan sih pegang-pegang. Aku bilangin Mas Braja lho,” ancam Dandelya yang membuat Ezra terkekeh dan menggelengkan kepala.
“Kamu makan apa sih, Ly? Bisa-bisanya jadi cantik begini?” Ly. Lya. Ezra seorang yang memanggilnya Lya. Alasannya karena Lya ada dalam unsur Dandelya. Adel terlalu dipaksa katanya.
“Makan bunga kertas,” jawab Dandelya asal.
“Suzana?”
“Itu sih melati. Lagian aku udah cantik dari dulu ya.”
Ezra terkekeh. “Dulu biasa aja.”
“Biasa aja tapi—“
“Tapi apa?”
Dandelya memotong begitu saja kalimatnya. Menggantung tak bernyawa biarkan Ezra pikirkan sendiri lanjutannya. Tak peduli. Meski sendiri merasa telinganya bisa meledak saat itu juga ketika Ezra memujinya cantik beberapa saat lalu.
Mobil Ezra kini terparkir di lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan paling besar di kota ini. Demi apapun, Dandelya sedikit kecewa karena ia pikir Ezra akan membawanya pergi jauh menghabiskan waktu keluar kota. Menikmati udara yang jauh lebih segar dari ibukota provinsi ini kendati udara disini pun sudah lebih baik daripada di kota tempat domisilinya saat ini.
“Jadi, aku jauh-jauh mudik cuma buat nemenin dosen lulusan univ luar negeri masuk mall?”
Ezra melepas tawa. “Emang ngirain mau kuajak kemana sih kayaknya berkespektasi tinggi banget?”
“Sumba.”
“Mimpi.”
“Ya Tuhan, serius mending aku pulang aja.”
“Eh jangan dong. Beneran butuh saran kamu ini, Dan.”
“Dan? Komandan?”
“Sejak kapan adeknya Braja jadi receh gini sih.”
Melempar gurau yang tak begitu berarti adalah apa yang keduanya lakukan mengiringi langkah kaki yang masuk lebih dalam ke kawasan pusat perbelanjaan. Ezra sedikit berjalan lebih cepat. Sesekali menoleh memastikan Dandelya masih mengiringi langkahnya.
“Beliin aku kopi, Kak.”
“Nanti ya, Adik Manis. Upahnya setelah kamu nolongin aku.”
Rasa penasaran Dandelya semakin menggebu manakala langkah Ezra berhenti di outlet perhiasan. Segudang pertanyaan berkumpul dalam benak. Membuat Dandelya terpaku sesaat sampai tangan Ezra menarik pergelangan tangannya.
“Ngapain ke sini?” tanya Dandelya, clueless.
Ezra menatap Dandelya dengan seulas senyum lebar. “Bantu milih.”
Ezra dan Dandelya kini sudah duduk berhadapan di salah satu sudut coffee shop masih di dalam kawasan pusat perbelanjaan. Latte dingin yang menjadi pilihan Dandelya masih tak menyurutkan perasaan kacau yang kini melandanya.
Lucu sekali Ezra ini.
“Betah banget kamu sama Braja tinggal di sana? Gak pengin balik sini, Ly?” Ezra mengawali obrolan setelah keheningan beberapa saat oleh Ezra yang menerima panggilan telpon.
“Ya kenapa mesti gak betah. Kan tinggal sama nenek sendiri,” jawab Dandelya. “Lagipun, bentar lagi Ayah pensiun juga balik ke kampung halamannya kok,” sambung Dandelya.
“Iya sih.” Ezra mengangguk mengamini. “Cewek aku orang sana btw,” lanjutnya membeberkan informasi penting-tidak penting untuk diterima Dandelya.
Ceweknya ya? Perempuan yang menjadi alasan Ezra membawanya ke tempat ini. Perempuan yang akan menerima kalung bertahta bunga mawar pilihan Dandelya?
“Oh ya? Jadi pengin tahu kok bisa mau sama modelan Ezra gini,” gurau Dandelya sembari menggerling pada Ezra yang kini mendelik.
“Modelan Ezra gini? Aku laki-laki baik-baik lho.”
“Tapi tadi ngelus-elus rambutku.”
Ezra tertawa menanggapi. “Kamu kayak adek sih buat aku. Biarpun udah lama gak ketemu, ternyata masih tetap gini rasanya.”
“Kamu kan punya adek juga, Kak.”
“Si Satya kan cowo. Dipegang rambutnya, langsung ditendang.”
“Besok-besok lagi kalau Kak Ezra ngelus rambutku, kutendang.”
Masih panjang. Tukar kata dan kabar antara keduanya masih berjalan. Bungah di hati Ezra bertemu kembali dengan “adik perempuannya” tetapi porak poranda bagi Dandelya yang dikhianati harapan.
Ah....hujan masih deras rupanya kelabu angkasa masih mendominasi mentari belum benar-benar berkuasa kuncup bougenville kembali layu menyepi
27721