Kak Minho dan Ayah
“Masuk, Kak.”
Adalah jawaban ayah ketika mendengar suara pintu ruang bacanya diketuk. Sudah tahu bahwa si sulung yang akan datang.
Tapi tidak tahu ada 'yang lain' ikuti si sulung ingin mencuri dengar. Siapa lagi kalau bukan Bunda.
“Ino gak ganggu kan, Yah?” Sekali lagi Minho pastikan bahwa keinginannya untuk bicara serius dengan Ayah malam ini sama sekali tidak mengganggu aktivitas beliau.
“Gak. Kenapa? Mau bicara apa kayaknya serius, ya?”
Minho duduk di couch. Sementara Ayah masih memilah buku sebelum akhirnya beliau juga duduk di sisi Minho.
Dan Bunda duduk di sofa ottoman dekat Ayah.
Minho nampak gusar sebelum akhirnya melontar tanya. “Ayah dulu waktu nembak Bunda gimana?”
Mendengar pertanyaan dari Minho, membuat sang ayah terpekur. Sementara Bunda menatap Minho iba. Salah banget nanya ke ayah.
“Ayah kamu gak romantis. Jangan ditiru.”
“Kayaknya Bunda kamu kesel waktu itu,” jawab Ayah sembari menatap langit-langit ruang bacanya. Seolah disana tengah berlangsung sebuah film dokumenter bagaimana beliau dulu mengungkap perasaannya pada Bunda.
“Kenapa kesel?” tanya Minho masih menatap ayahnya tidak mengerti.
“Bunda kamu lagi serius waktu itu. Numpang gambar di unit apartemen Ayah karena lokasinya dekat sama kantor redaksi majalah tempat bunda kerja waktu masih kuliah. Pokoknya Bunda serius sekali menggambar. Ayah cuma duduk di hadapannya. Tebak hari itu Bunda pakai baju apa?”
Minho berpikir sejenak. Mengingat-ingat baju apa yang sering Bunda pakai ketika sedang menggambar.
“Dress?”
“Kaos oblong putih. Ada coretan bolpoin di bagian perut kaosnya.”
“Kok tahu ada coretan bolpoin?”
Minho mengangguk-angguk paham. Dalam kepala membayangkan keadaan Bunda hari itu.
“Bunda kamu paling cantik kalau sedang serius. Setiap kali menggambar, seolah-olah kepalanya bisa pecah hingga membuat ide-idenya tumpah ruah. Fokus sekali. Apalagi hari itu Bunda sedang mengejar desain untuk edisi bulan berikutnya yang harus diajukan esok harinya.”
“Saat sedang serius-seriusnya ayah tiba-tiba bilang “Aku suka kamu, Kak'. Bunda marah. Kesal karena desainnya harus segera tuntas tapi Ayah malah menginterupsi.”
“Terus Bunda gimana?”
“Marah. Ayah diterima, tapi dibentak.”
Ayah tertawa menutup ceritanya. Meskipun Minho dapat dengan jelas melihat kesedihan di kedua netra sang ayah. Siapa yang tidak rindu pada Bunda di antara penghuni rumah ini? Rindu itu abstrak. Tak bisa diukur besarnya. Jika pun mungkin, rindu yang dipunya Minho jelas tak sebesar Ayah.
“Mau nembak Julia?”
Gemas. Bunda yang sedang duduk gemas ingin memukul lengan Ayah karena terlalu to the point. Khawatir Minho jadi malu dan malah urung mengungkapkan perasaannya pada perempuan yang sudah berhasil menginvasi ruang hatinya.
“Kelihatan banget ya, Yah?”
Ayah menggeleng. “Gak juga. Tapi siapa lagi perempuan yang sering kamu cari? Kemana-mana selalu kamu ajak, apa-apa harus sama dia selain Julia?” tanya Ayah retoris. “Ya...kecuali ternyata ada orang lain yang sebenernya kamu temui diam-diam tanpa Ayah apalagi adik-adik kamu tahu.” lanjut Ayah.
“Aku terlalu lama temenan sama Julia gak sih, Yah?”
“Belum 100 tahun, belum lama.”
“Duh, becandanya ayah gak asik.” Minho menatap ayahnya tak senang.
“Lho ayah gak sedang bercanda. Ayah bicara apa adanya.”
Minho mendengkus. Mungkin dia keliru berharap banyak dari Ayah untuk urusan begini. Pikirnya siapa lagi yang bisa ia ajak bicara selain ayah.
Ya mungkin Bunda bisa. Kalau Bunda masih ada.
“Kamu senang gak Kak lihat Lia?” tanya Ayah tiba-tiba. Ambigu.
“Dalam konteks apa dulu? Pertanyaan ayah tidak jelas.”
Ayah tertawa. “Apapun. Dalam hal apapun dalam keadaan apapun. Apa yang kamu rasain tiap kali lihat Lia? Senang? Kesel? Marah?”
“Aku gak bisa marah ke Lia.”
“Ya jangan dimarahin.”
“Serius kayaknya keputusanku salah ya cerita sama Ayah.”
Bunda mengangguk-angguk setuju. “Ayah kamu kebanyakan becanda. Tapi gak lucu.”
“Oke...oke. Listen, Son. Kamu udah tahu perasaan kamu terus apalagi yang bisa ayah bantu? Mau Ayah bilang ke Om Bam—”
“Gak gak.”
“Nah kan. Kamu aja gak mau Ayah yang maju ngomong ke Papinya Lia. Keburu Lia diambil orang. Kamu gak tahu aja berapa banyak kolega Om Bam yang minta anaknya dijodohin ke Lia.”
“Yang bener, Yah?”
“Tanya sendiri sana ke Om Bam.”
“Chan kamu tuh anaknya jangan digoda terus.” Kesal Bunda menggerutu.
Minho terlihat serius berpikir sebelum akhirnya ia berujar. “Kalau aku konfes ke Lia kayak Ayah konfes ke Bunda, kira-kira aku dimarahin juga gak, Yah?”
“Gak.”
“Dih ayah sok tahu.”
“Lho, ayah cuma jawab pertanyaan kamu, Kak.”
“Kalau ditolak gimana Yah?”
“Ya berarti gak jodoh.”
“Beneran lho, Yah?”
Lagi-lagi sang Ayah hanya menanggapi dengan kekehan. Sementara Bunda sudah terlihat lelah dan ingin pergi saja.
“Yang penting kamu tulus. Perempuan tahu kok. Perempuan punya superpower buat merasakan ketulusan. Ayah yakin Bunda kamu gak akan nerima Ayah waktu itu kalau Ayah gak tulus walaupun terkesan seperti bergurau. Walaupun dimarahin tapi diterima.”
Minho mengusak surainya. Ini merupakan hal baru baginya untuk mengungkapkan perasaan. Ia sering menerima ungkapan-ungkapan rasa suka semasa SMA bahkan saat kuliah. Tidak ada yang ia terima karena ia sudah merasa mengulurkan benangnya pada Lia.
Namun, benang itu belum diikat. Ia terlalu takut. Takut Lia tidak suka, dan takut ia tidak bisa bersikap biasa lagi dengan Lia bilamana ia ditolak.
“Jangan takut, Kak. Lia suka kok sama Kak Minho.” Bunda menepuk pundak putra sulungnya dan kini berpindah duduk di antara Ayah dan Minho.
“Gimana, Kak? Udah ada gambaran?”
Minho menghela napas dan beranjak. “Lihat nanti, Yah.”
“Lihat apa?”
Minho menatap Ayahnya. “Lihat bulan depen Ayah bisa dapet cucu gak.”
”....”
”....”
“HEY HEY JANGAN MACAM-MACAM KAK!!!”
“KAKAK!”
“BECANDA, YAH.”