Kepingan Belasan Tahun Lalu

PROLOG

Kamu ingat bunga bougenville di halaman sekolah kita dulu? Katamu, dia tidak cantik. Bisanya mengotori halaman saja Jangan lihat saat dia berguguran kalau begitu Kamu pernah lihat saat dia mekar bergerombol di musim kemarau? Kurang lebih itulah aku waktu itu

Halaman sekolah—15 tahun lalu

Gadis manis sembilan tahun itu baru saja turun dari mobil. Diantar oleh supir pribadi ayahnya. Surai panjangnya yang diikat buntut kuda terayun seiring langkah. Masih ada satu jam sampai kelasnya masuk. Kelas tiga di sekolahnya masuk pukul sepuluh sebab tidak ada ruang kelas yang cukup di sekolah ini.

Di bawah pohon beringin ada tempat duduk yang terbuat dari semen. Ia duduk sendiri disitu seperti biasanya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan sembari menunggu teman-temannya datang. Hanya tangannya sibuk membaca nama-nama buah dalam sebuah permainan kartu kecil yang ia beli seharga Rp 500 di penjual mainan depan sekolah. Apa ya namanya? Kuartet?

“Hey, adiknya Braja!” Si gadis menoleh ketika merasa seseorang memanggilnya. Meski bukan memanggil namanya, tapi yang namanya Braja hanya satu orang di sekolah ini. Hanya kakaknya.

“Dandelya!” bentak si gadis pada anak laki-laki berambut cepak itu.

“Nama kamu susah disebut.”

“Adel. Lya.”

“Ya ... ya.”

Perlu diketahui bahwa Dandelya tidak suka dengan teman-teman kakaknya. Mereka berisik dan sangat mengganggu. Apalagi kalau mereka sedang main ke rumah. Dandelya sebal karena Nona—asisten rumah tangga di rumah mereka—akan kelelahan hanya untuk membereskan kekacauan yang mereka timbulkan sebelum ayah pulang.

Dandelya tidak mau ambil pusing dengan kehadiran teman kakaknya yang bukannya kembali ke kelas, malah duduk di kursi semen di hadapannya. Dandelya meliriknyaa sekilas sebelum mengeluarkan buku gambar a4 miliknya dan tempat pensil berbentuk rumah.

“Kamu mau gambar apa?”

“Bunga.”

“Ya, bunga doang. Gambar aku aja.”

“Gak suka gambar orang. Susah.”

Dandelya menulikan pendengarannya. Tidak tahu apakah teman Kak Braja di hadapannya ini sedang mengajaknya berbicara atau memang memilih diam saja. Yang kedua adalah jawabannya. Si rambut cepak memilih diam memperhatikan tangan kecil Dandelya yang sibuk menggores di atas buku gambar di pangkuan. Sejauh ini telah membentuk serangkaian daun. Sesekali tangan kiri Dandelya menghapus garis yang tidak benar.

“Kamu gambar apa?”

“Bunga.”

“Itu daun.”

“Bunga kertas.”

“Bunga kertas?”

Dandelya mengangguk. Mulai kesal karena si rambut cepak di hadapannya ini tak kunjung pergi malah melantur sana-sini.

“Mana ada bunga kertas.”

Dengan tangan kanan yang masih memegang pensil, Dandelya menunjuk ke salah satu arah. Si rambut cepak menoleh ke arah yang ditunjuk Dandelya.

“Oh. Ngapain digambar? Bunganya gak cantik. Bikin kotor halaman.”

“Terserah aku.”

Tepat setelah itu, suara bel sekolah berbunyi. Ezra berdiri dan melambaikan tangan ke lantai dua. Braja dan beberapa teman sekelasnya yang lain. Dandelya tidak peduli dan masih menyibukkan tangannya dengan pensil.

“Sampai jumpa lagi, Adiknya Braja.”

Pemakaman Umum di atas bukit—14 tahun lalu

Dandelya lupa kapan terakhir kali Braja memeluknya. Atau malah Braja tidak pernah memeluknya kecuali saat hari ulang tahun. Hari ini Braja memeluknya erat. Begitupun Dandelya yang balas memeluk Braja erat takut ia pergi. Seperti ibunya yang baru saja dikebumikan. Tante—adik ibu—mengelus puncak kepala Dandelya dan Braja dengan pengharapan agar kedua bocah yang belum sampai usia remaja ini mendapat kekuatan.

Ayah bungkam. Menatap kosong pusara ibu. Tidak berani menatap Dndelya dan Braja. Gundukan tanah yang basah itu mengotori celana di bagian lutut ayah. Tetapi ayah tidak peduli. Cintanya baru saja dikubur. Sendiri di dalam sepetak tanah.

Di hari ketujuh, Dandelya dan Braja diajak ayah ke makam ibu. Membawa bibit bunga kertas, ayah tanam di sisi nisan. Ketika kebanyakan kamboja putih yang ditanam, ayah memilih bunga kertas. Bagaimana jika makam ibu kotor nanti? Kendati kamboja putih mudah gugur, tapi bunganya lebih besar dan tidak sebanyak dan seringan bunga kertas.

Keesokan hari Dandelya berangat sekolah bersama Braja. Dandelya sudah naik kelas dan akan terus berangkat pagi bersama Braja. Keduanya berpisah di tangga. Kelas Braja di lantai dua. Dandelya di lantai satu. Bukannya ke kelas, Dandelya malah berjalan ke halaman. Mendektai bunga kertas warna ungu yang sedang subur bunganya. Ya, kota ini sedang panas-panasnya hingga bunga ini turut bahagia.

Warna bunga kertas apa yang ditanam ayah di dekat nisan ibu?

Dandelya mundur beberapa langkah ketika sekumpul bunga kertas putih terulur di depan wajahnya. Dandelya menoleh dan mendapati teman Braja yang dulu mengusiknya saat menggambar. Rambutnya sudah tidak cepak lagi. Sedikit panjang tapi tetap rapi. Kalandra Ezra adalah yang tertulis di name-badgenya.

“Ngapain?”

“Ambil bunganya. Kamu kan suka bunga kertas. Padahal bikin kotor.”

Dandelya mengambil bunga dari Ezra. Bagian batangnya sudah dilapisi dengan kertas sobekan buku bagian tengah sehingga durinya tidak akan terlalu menyakitkan. Bunga digenggamannya ditatap lama. Apa mungkin bunga kertas warna putih yang ditanam ayah?

“Hey, ayo kita menikah kalau sudah besar nanti.”

Dandelya tidak tuli. Meskipun ingin sekali menulikan pendengarannya untuk apapun yang keluar dari mulut Ezra. Ketika Dandelya menoleh ingin bertanya maksud Ezra, si bocah laki-laki malah tersenyum lebar.

“Kak, bunga warna apa yang mau Kakak tanam di kuburanku kalau aku meninggal duluan kayak Ibu?”

“Hmm—putih? Terlalu polos ya. Oranye? Gak, terlalu ramai. Ungu? Mungkin ungu.”

Dandelya mengulas senyum. Senyum pertama setelah ibu dikebumikan. Senyum dari keceriaan Ezra.

“Ungu—aku suka ungu.”


[24062021]