Lazuardi....
Satu buket iris dan mawar putih itu Baskara letakkan perlahan di atas gundukan yang masih basah. 40 hari baru saja berlalu dan ini sudah kelima kalinya ia berkunjung. Duduk berlutut mengusap nisan bertulis nama yang paling ia kenal. Sosok yang 40 hari lalu telah usaikan rasa sakitnya tekanan dunia. Perempuan yang masih ia rindukan, masih ia selip namanya dalam putus asanya doa-doa pada pemilik nyawa.
“Ri, selagi aku masih bisa sesering ini datang, biarin aku temui kamu sampai aku bener-bener baik-baik saja. Aku pecundang, Ri. Benar bukan?”
Irish Lazuardi namanya. Namun lebih sering dipanggil Riri.
Karena satu sesal Baskara atas pergianya Riri adalah bahwa ia tidak ada di sisi si gadis saat sepi kembali merengkuh. Saat hari-hari kelam datang lagi dan membuatnya berdiri di bibir jurang antara bertahan atau melepas segala. Masa-masa penuh himpitan hingga sesak tak mampu dilapangkan. Hanya berdiri pasrah dan biarkan angin sampaikan pesan terakhir Tuhan.
Kasih Tuhan yang Agung membawanya pada kembali yang paling damai. Tuhan tidak biarkan Riri untuk nodai diri dan akhiri sendiri. Setelah semua percobaan yang ia upayakan tak Tuhan kabulkan, Tuhan lebih Tahu tentang ujung garis kehidupan Riri.
Riri dan semua rasa sakitnya di dunia telah usai. Tinggalkan sedih di antara yang ia tinggalkan. Sisakan duka tuk mereka yang hargai hadirnya.
Seperti Baskara.
[...]
“Nemuin Riri lagi?”
Pertanyaan dari Mama adalah yang pertama kali menyambut Baskara saat tiba di pintu rumah. Baskara mengangguk membenarkan.
Mama tahu betul cerita tentang si sulung dan mendiang Riri. Riri belum lama pergi sehingga wajar bagi beliau jika Baskara masih terus menengok si gadis yang telah tidur panjang. Mama juga mengerti seberapa besar rasa bersalah Baskara. Di antara sekian alasan keputusasaan Riri, Baskara pernah menjadi lentera pengharapan baginya. Sayangnya, lentera itu kehabisan bahan bakar. Apinya redup dan mati sisakan kepulan hitam kesia-siaan.
“Mau mama bikinin susu hangat?”
“Boleh. Tapi aku mau mandi dulu.”
Baskara bergegas menuju kamarnya. Lantas kembali ke pantry 30 menit kemudian. Dapati Mamanya berteman sebuah buku resep masakan duduk di salah satu kursi. Segelas susu hangat yang Baskara yakini adalah miliknya turut tersaji di atas meja.
“Ini punyaku, Ma?”
Mama mengangguk. Beliau tutup kembali bukunya. Biarkan Baskara meneguk susu hangatnya terlebih dahulu.
“Kayaknya ada yang Mama mau bicarain sama aku?” terka Baskara.
“Iya. Tadi siang Hamish ke sini. Nganterin ini buat kamu.”
Mama ulurkan sebuah amplop lazuardi. Dilihat-lihat dari tebalnya, ini bukan uang apalagi cek maupun giro. Meskipun tebal, lebih tepat jika dikatakan isinya adalah lembaran-lembaran kertas a5 yang dilipat 4 bagian.
“Kenapa gak Hamish antar langsung ke kantorku?”
Baskara merasa heran. Padahal jarak rumah Hamish lebih dekat dengan kantornya ketimbang ke rumahnya. Ibaratnya, dari ujung ke ujung.
“Hamish belum bisa nemuin kamu. Hamish bilang kamu bisa hubungi dia kalau ada yang ingin kamu tanyakan.”
Baskara tertegun membolak balik amplop di tangan. Ia masih tidak paham.
“Bas.”
“Iya.”
“Riri yang terakhir, ya?”
Baskara terpekur. Menatap Mamanya tepat di mata. Ada pengharapan dan doa-doa baik di antara keteduhan tatapnya. Terakhir. Baskara sudah berjanji paling tidak untuk dirinya sendiri bahwa Riri adalah kesalahan pertama dan terakhirnya. Teringat kembali kekecewaan Mama waktu itu. Bukan hanya Riri yang terluka, Mamanya bahkan enggan menyapa untuk beberapa waktu.
“Iya, Ma. Aku janji.”
Baskara masih duduk di pantry. Mama sendiri sudah masuk kamarnya menemani papa istirahat. Adik-adiknya mungkin sedang belajar atau bermain game di kamar masing-masing.
“Itu surat dari Riri. Lebih tepatnya, catatan-catatan dia setelah kalian gak bareng lagi. Katanya kamu pernah bilang kalau sewaktu-waktu Riri ingin menyakiti diri, coba untuk menulis hal-hal yang membuatnya gelisah.”
Setelah semua pasang surut antara keduanya, Riri masih bisa menulis namanya dengan lengkap di lembar-lembaran kertas ini. Mengerikan. Baskara merasa sangat mengerikan telah melepas Riri yang begitu tulus menyayanginya.
Riri yang sebatang kara. Riri yang hanya punya Baskara saat itu untuk bersandar. Sayangnya, sandaran itu hancur ditempa bencana. Puing-puingnya hanya melukai seiring bergantinya hari hingga Riri kembali ke haribaan kekasih abadi.
[...]
11032021