\LEMBAR 1\

Aku akan mulai menulis atas saran Anandito Baskara. Aku sudah tidak bisa lagi bercerita langsung padanya, tapi biarkan dia menjadi “teman” dalam tulisan-tulisan ini.

Bas, Ini hari ke-101 sejak terakhir kali kita bersua. Tiba-tiba aku ingat lagi waktu kita bertemu pertama kali di rumah Hamish.

Kamu ingat, Bas? Aku dengan muka bantalku—karena jetlag setelah perjalanan panjang. Kamu terkejut mendapati seorang perempuan dengan surai acak-acakan keluar dari kamar tidur Hamish. Aku pun terkejut mendapati seorang asing berdiri di depan kamar Hamish.

“Lo siapa?” tanyamu hari itu dengan tatapan penuh curiga.

“Lah lo yang siapa?” balasku dengan tanya tak mau kalah ketus.

Sampai akhirnya Hamish keluar dari kamar sebelah. Cengengesan minta maaf padamu karena tidak memberikan info bahwa kamarnya sementara diambil alih olehku—sepupunya yang datang untuk istirahat.

Lantas aku berkenalan denganmu—dan teman-temanmu yang juga teman-teman Hamish. Untuk pribadiku yang cukup tertutup, kalian sangat berisik tapi tetap sopan bersikap padaku. Kamu yang seumuran denganku pun tak segan-segan mengajakku berbincang. Kalau aku tak salah tangkap, bahkan kamu lebih banyak berbincang denganku ketimbang dengan teman-temanmu hari itu.

Setelah kenalan dan bertukar kata seadanya, aku undur diri. Rasa lapar yang tidak tertahan itu buatku putuskan untuk mencari sesuatu yang bisa disantap di dapur. Hanya ada roti. Om Jefri pagi tadi berangkat perjalanan dinas ditemani Tante Ana. Jika ditinggal perjalanan dinas begini, Tante Ana tidak akan meninggalkan bahan makanan—sebab Hamish tidak ramah dapur.

“Kak Riri beli makan di luar aja. Bareng Bang Babas nih orangnya sekalian mau ke SPBU.”

Aku tidak pernah menduga bahwa perjalanan singkat itu membawa kita berdua dalam situasi yang lebih serius. 6 bulan kemudian. Setengah tahun hidup bersama keluarga Hamish ternyata membawaku menemukan sebuah persinggahan. Iya. Hanya persinggahan. Sebab pada akhirnya, kita bukan tempat menetap untuk satu dengan yang lain.

Kamu temani aku benahi jiwa. Kamu temani aku yang selalu kelelahan. Kamu buat dirimu menjadi tempat yang ingin selalu kucari. Selama itu kamu buat aku untuk terus bergantung padamu.

Baskara, terima kasih karena selama 2 tahun aku berada di antara keluarga Om Jefri kamu ikut membantuku sembuh. Kamu ada di antara ketentraman istirahat yang harus kujalani. Sadar atau tidak, kamu telah memudahkan Tante Ana yang memang bertanggung jawab untuk kesembuhanku.

“Kamu bertahan sampai saat ini sendiri dengan segala hal luar biasa yang bertubi-tubi tuh udah keren banget, Ri. Aku senang kamu masih menghargai hidupmu. Gak ada yang salah dengan istirahat. Satu tahun, dua tahun. Gak ada batas waktu. Hidupmu milikmu. Kamu yang punya hak untuk mengendalikan.”

Makasih, Bas. Kamu dan kata-kata baikmu. Kadang aku merasa kamu lebih tua 10 tahun dariku. Kata-katamu selalu tak bisa kusanggah seakan kamu sudah hidup jauh lebih lama dariku.

Jikalau semesta perkenankan kita dalam temu lagi, maukah kamu memberiku seutas kalimat agar aku terus bertahan. Agar aku tetap menghargai hidup meski kamu tak lagi ada di sekitar edarku?

Karena setelah semua istirahat yang aku lalui, hari ini, aku mencoba menyakiti diri lagi. Lalu aku teringat pesanmu agar menuliskan apapun hal mengganggu yang buatku berpikir untuk menyakiti diri.

Kalau aku tidak menerima tawaran Tante Ana, kita gak akan pernah bertemu kan, Bas?

***/