\LEMBAR 5\
Aku ingkari kata-kataku dan memilih menulis hari ini.
Aku merindukan Baskara. Hari ini ... aku merindukanmu, Bas.
Tiba-tiba aku ingin dipeluk olehmu meski rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Iya ... itu tidak mungkin lagi.
Semua rasa sakit dan kecewa itu telah melebur diobati rasa syukur. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu di hari-hari terpuruk.
Kamu tawarkan kenyamanan sebagai kawan. Kamu beri pelukan sehangat mentari pagi setelah hujan. Kamu beri teduhan dari paparan terik siang yang menyalak. Kamu...kamu pernah ada dan menjadi baik untuk hari-hariku yang telah berlalu.
Oh, hujan turun akhirnya ....
Aku jadi teringat percakapan saat kita berteduh dari hujan. Aku masih ingat kamu pernah berkata bahwa hujan selalu membuatmu teringat peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Hujan seperti memiliki kekuatan magis untuk membuka pandora berisi kenangan-kenangan lama entah baik entah buruk.
Kenangan burukku bersama hujan adalah pemakaman Papi dan Mami.
Kenangan baikku bersama hujan adalah aku pergi darimu dengan air mata yang berderai.
Pada akhirnya, hari itu tiba. Hari dimana aku akhirnya mensyukuri perpisahan kita. Hari dimana aku sadari bahwa memang baiknya kita tidak bersama. Kamu baik meski bukan yang terbaik untukku. Aku tidak pernah meminta Tuhan untuk menjadikanmu kekasih, tapi Tuhan yang membawamu untuk mampir meski tak banyak waktu yang kita bagi.
“Cukup untukmu.” Mungkin begitu yang Tuhan katakan di hari terakhir cerita kita sudahi.
Cukup untukku bahagia. Cukup untukku rehat. Cukup untukku sembuh.
Tanganku capek. Ternyata banyak juga yang kutulis. Aku akan berhenti menulis karena aku tidak memiliki kegelisahan lagi.
Terima kasih dan selamat tinggal, Anandito Baskara. Semoga kamu bahagia begitupun aku yang mulai bahagia~
-Irish “Bahagia” Lazuardi- haha~
...