Leyeora itu...
Bisa dibaca.
Bagi Hansel, Rara bukan sebuah enigma yang sulit. Sejak pertama kali bersua di sudut kafe yang dipilihkan Nana, Hansel dengan mudah membaca Rara, Jaket levis itu adalah saksi pertama kalinya Hansel membaca Rara. Membaca ketidaknyamanan dalam dirinya ketika sebagian pahanya menjadi 'santapan' gratis dari beberapa pasang mata tidak sopan di sana.
Ketika pertama kali Nana memintanya mengajar Rara, Hansel tidak berekspektasi apapun. Apalagi sampai tahap jatuh cinta. Bukannya tidak pernah atau tidak mau. Hanya saja, Rara lebih muda darinya meski hanya berbeda setahun. Dan selama ini Hansel tidak pernah punya pacar yang seumuran apalagi lebih muda. Pacaran terakhir pun sudah hampir 2 tahun yang lalu dan Hansel hampir yakin bahwa sampai akhir masa mengajarnya, ia dan Rara tidak akan melewati garis tutor-murid.
Iya, itu 3 bulan lalu. 3 bulan telah berjalan ternyata semudah itu membuat Hansel luluh dan jatuh. Ia tahu betul bahwa ia telah benar-benar terperangkap dalam jerat yang tak pernah secara sengaja dibentangkan oleh Rara.
Hansel tahu ada kegelisahan yang dirasakan Rara. Kendati tidak masalah untuknya sekedar bertanya, tetapi Hansel memutuskan untuk tetap diam tak bertanya lebih jauh—selain menduga ia kurang enak badan.
“Gimana perasaan Kak Hansel kalau ada orang yang ngira aku pacarnya Kakak?”
Oh, ini rupanya.
Memangnya Hansel harus merasa bagaimana? Tentu saja dia senang. Berarti selama ini—sadar ataupun tidak—ia telah berperan sebagai pacar Rara bukan? Paling tidak menurut orang itu.
“Errmmm gak usah dijawab gak apa-apa sih, Kak. Aku—”
“Gak apa-apa.”
“Hmm?”
“Kamu dari tadi banyak melamun karena mikirin ini, Ra?”
“Errr...gak juga sih. Tapi...ya iya juga. Sedikit.”
Bohong. Jelas-jelas Rara terganggu akan hal itu. Hansel tahu dari Nana bahwa beberapa orang—Hansel tidak akan menyebut orang-orang seperti itu sebagai teman—di sekolah mulai membicarakan hal buruk tentang Rara yang kerap dijemput olehnya. Dan ya, salah Hansel juga karena dia terlalu mencolok.
Tapi mau bagaimana lagi, memang style dia kan seperti ini. Seperti ini adalah dari kepala sampai kaki dibalut barang branded.
“Gak apa-apa. Gak perlu khawatir. Aku gak masalah sama tanggapan orang lain karena kenyataannya bukan seperti yang mereka kira, kan?”
“Iya sih. Cuma aku gak enak aja kan Kak Hansel jalan sama anak SMA.”
Cara lain membaca Rara adalah hati-hati. Pelan-pelan. Sebagaimana sebuah novel yang menyampaikan pesan bagi pembaca dengan hati-hati seiring lembar demi lembar dibaca dengan seksama.
“Harusnya aku yang khawatir sama kamu sih, Ra. Mungkin beberapa orang merasa sangsi kamu sering jalan sama aku.”
Tetapi kenyataanya tak ada yang dikhawatirkan Hansel sama sekali dengan dirinya jalan bersama Rara. Rara gadis yang baik dan menyenangkan. Dia juga pintar dan mudah memahami penjelasan Hansel—kendati Hansel sampai saat ini masih kurang percaya diri mengajari Rara karena gadis ini memang sudah bawaannya cerdas.
Dan tiidak ada yang salah juga dari diaa jalan dengan anak SMA. Apakah ada undang-undang KUHP hitam di atas putih yang menyatakan mahasiswa dilarang mengencani anak SMA? Oh koreksi. Apakah ada undang-undang KUHP hitam di atas putih yang menyatakan mahasiswa dilarang jalan bersama anak SMA? Hansel dulu juga tidak merasa aneh kencan dengan mahasiswi.
“Tapi Kak Hansel gak punya pacar kan?”
“Memangnya aku belum pernah bilang?”
“Lho? Jadi udah ada pacar ya?”
Belum. Baiklah, Hansel baru sadar bahwa ia tidak pernah secara terang-terangan berbagi pada Rara tentang cerita merah mudanya. Karena ya...tidak ada yang bisa diceritakan. Sebab ia memang solo. Single kalau di badminton.
“Makasih ya, Kak Hansel. Besok sore ketemu lagi. Ada tugas tambahan?” ucap Rara diakhiri tanya.
Di sisa perjalanan usai terjebak macet hingga tiba di rumahnya, tidak ada tukar kata antara Hansel dan Rara. Rara sendiri masih harus dikejutkan dengan suara Hansel untuk menyadarkannya dari lamunan panjang. Hansel agak ngeri sebenarnya. Ya semoga tidak ada barang halus yang diam-diam ikut dalam mobil lalu merasuki Rara.
“Sama-sama. Gak ada,” jawab Hansel.
“Oke, Kak”
“Gak ada.”
“Iya aku denger, Kak.”
“Pacar. Maksudku pacar. Aku gak ada pacar.”
Pertanyaan terakhir sebelum raungan suara klakson dari mobil belakang mereka baru bisa dijawab oleh Hansel. Ya. Sejak kedatangannya ke tanah airnya, ia belum tertarik pada siapapun. Apalagi sampai pacaran.
“Oh...iya.”
Rara itu punya kulit putih. Sehingga ketika jantungnya memompa cepat, Hansel dengan mudah menemukan rona merah di kedua pipi gembilnya.
Lucu banget. Mau gigit.
“Kenapa senyum gitu?”
“Eh? GAK APA-APA KOK. AKU PAMIT KAK.”
Rara buru-buru membuka pintu. Sekali lagi melambaikan tangan pada Hansel sebelum berlari bergegas masuk ke rumah. Tetapi sepertinya Hansel agak beruntung karena kantong plastik berlogo toko buku yang mereka sambangi tadi tertinggal.
“Rara!”
Langkah seribu Hansel berhasil menahan langkah Rara yang nyaris menutup pintu gerbang rumahnya. Matanya membulat lucu. Bingung.
“Bukunya ketinggalan.”
Rara menepuk kening sebelum mengambil alih buku dari tangan Hansel. “Makasih, Kak,” ucapnya yang dibalas anggukan.
“Ra.”
“Iya. Ada lagi, Kak?”
Hansel mengusap tengkuknya. Lantas mengulas senyum pada Rara dan menggeleng.
“Gak apa-apa. Jangan lupa belajar tapi tetap jaga kondisi. Jangan sakit.”
“Oke, Kak.”
Kalau adek gue nilai bahasa inggris ujian akhirnya minimal 9.00, gue kasih lampu ijo
“Dan jangan dipikirin omongan orang. Aminkan aja.”
“Maksudnya?”
Hansel tahu, ia mesti menunggu. Dan tidak semua orang sabar menunggu seperti tulisan di belakang truk kuning.
“Ya aminkan saja omongan orang. Siapa tahu jadi doa.”
“Omongan orang yang mana?”
Hansel tahu ada garis yang sudah digambar Nana di antara dia dan Rara. Tetapi tidak salah kan jika Hansel mengirim sinyal. Paling tidak, Rara tahu bahwa ia tidak jatuh sendirian.
“Yang ngira aku pacar kamu.”
Boleh Hansel jujur?
Hansel suka sekali strawberry. Ketika ayahnya bertugas di Korea, strawberry di sana sangat manis dan menyegarkan. Hansel belum pernah lagi merasakan strawberry seenak dan semenyegarkan itu.
Mungkin selera strawberry Hansel harus diganti. Oleh sepasang pipi kanan kiri merona Rara yang ternyata lebih menyegarkan.
Ya, Hansel harus lari sekarang. Sebelum ia benar-benar sinting dengan menarik Rara untuk mengecup kedua pipi merah menyegarkan itu.
“Sampai jumpa besok, Rara.”
Tidak apa. Besok tidak akan canggung. Hansel punya seribu satu cara untuk menggempur gunung es sebesar apapun.