melted

Pagi ini Yuna dibangunkan oleh suara alarm dari ponselnya. Sejujurnya, Yuna benar-benar tidak suka dengan alarm. Apalagi jika ia sampai terbangun oleh alarm. Inginnya Yuna di hari minggu itu dia bangun atas kehendaknya sendiri. Namun entah alarm apa yang ia setel sehingga membangunkannya bahkan sebelum mentari terbit.

Pukul 05.00 // DIJEMPUT KAK JEONGIN PUKUL 07

Membaca tampilan alarm tersebut membuat Yuna menghela napas. Iya, seharusnya hari ini ia pergi menghabiskan waktu hari minggu untk jalan-jalan bersama Kak Jeongin.

Kalau kalian ingin tahu siapa Kak Jeongin untuk Yuna maka jawabannya adalah tetangga sekaligus teman dekat. Iya, bukan pacar. Kendati kupu-kupu kerap menggerayangi perut Yuna setiap kali Jeongin menunjukkan afeksi berupa perlindungan tiba-tiba, tetapi tidak ada tanda-tanda Jeongin menyukainya sebagai seorang perempuan. Mengingat hal-hal baik yang dilakukan Jeongin untuknya terlampau jarang jika dibandingkan dengan perlakuan Jeongin padanya yang seperti seorang kakak pada adiknya.

Omong-omong jalan-jalan hari ini sepertinya tidak terealisasi. Padahal Jeongin sendiri yang mengajaknya. Ya bagaimana mau jalan-jalan kalau yang bersangkutan sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Sebuah akibat dari sikap sok jagoannya makan tteobokki yang katanya terkenal itu. Padahal toleransi rasa pedasnya rendah. Korbanlah lambungnya.

Yuna melempar asal ponselnya ke atas nakas lantas kembali membawa tubuhnya tidur. Tetapi Yuna sadar bahwa tidur tidak akan semudah itu jika ia sudah terbangun seperti ini.

Sampai akhirnya sebuah ide muncul di kepala. Yuna pun memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi.


Suara gordyn yang dibuka cukup mampu membuat Jeongin terbangun. Perlahan membuka kedua netra dan mendapati satu sosok jangkung sedang menatapnya. Bersandar di dinding setelah membuka kain gordyn jendela, gadis bersurai sepunggung itu mengulas senyum lebar.

“Selamat pagi!!!!!!” ucapnya riang. Yuna. Gadis yang tinggal di depan rumahnya.

“Jam berapa ini?” tanya Jeongin yang belum sepenuhnya sadar.

“Jam 8.”

Kali ini, kedua netranya benar-benar terbuka sempurna. Jam 8? Dan Shin Yuna sudah berada di ruang rawat inapnya?

Ada yang bermasalah dengan isi kepala gadis itu sepertinya.

“Kamu ngapain ke sini jam segini?”

“Mau menjenguk sekaligus mengingatkan Kak Jeongin kalau hari ini seharunya kita akan bermain roller coaster.”

Yuna kini menduduki kursi di sisi kiri ranjang Jeongin. Mengintip isi sarapan milik Jeongin di atas meja yang masih tersegel rapi. Pertanda bahwa pemuda di hadapannya benar-benar belum terbangun bahkan ketika petugas pengantar makanan datang.

Sementara Jeongin terlihat berpikir maksud perkataan Yuna. Ketika akhirnya ia paham, ia terkekeh.

“Maaf, ya. Diundur aja deh minggu depan.”

Seharusnya hari ini Jeongin menghabiskan waktu dengan Yuna di taman bermain. Ia bahkan sudah merencanakan wahana apa yang akan mereka naiki. Apa yang akan mereka makan untuk camilan dan makan siang pun sudah terpikirkan dengan baik.. Bahkan Jeongin sudah menyusun kalimat untuk menyatakan perasaannya pada Yuna.

“Ya tetap gak bakalan jadi kalau Kak Jeongin masih nekat makan pedes.”

Bermula dari 4 hari lalu Jeongin diajak Han Jisung makan tteobokki bersama Minho. Bertiga hampiri tempat makan yang menyajikan tteokbokki paling laris. Mulutnya mungkin mampu menahan rasa pedas dari saus kue beras itu. Tapi tidak dengan perutnya. Beginilah ia berakhir harus dirawat selama seminggu.

“Gak deh. Gak lagi-lagi.”

Kehadiran Yuna pagi ini, gadis itu secara sukarela membantu Jeongin melakukan ritual pagi bersih-bersih. Dengan cakap Yuna menuntun Jeongin untuk cuci muka di wastafel dan kembali ke tempat tidur untuk menyantap sarapan.

“Kak Jeongin bisa makan sendiri?”

“Bisa sebenernya. Tapi karena ada kamu disini, suapin boleh.”

“Dih.” Yuna mencibir, meski tangannya tetap bergerak menyiapkan sarapan Jeongin lantas mulai menyuapi si adam.

“Makanannya enak gak, Kak?” tanya Yuna di sela-sela menyuapi Jeongin.

“Cobain aja,” jawab Jeongin yang direspon gelengan kepala dari Yuna.

“Katanya gak ada rasanya.”

“Cobain aja.”

“Gak mau. Aku kan gak sakit.”

Selesai sarapan, Jeongin kembali beristirahat. Cukup membosankan harus rawat inap seperti ini. Tetapi hadirnya Yuna hari ini paling tidak bisa menemani Jeongin menghabiskan waktu yang terasa sangat lama.

“Kamu mau ngapain?” tanya Jeongin pada Yuna yang baru saja keluar dari toilet.

Yuna mengedikkan bahu lantas mengambil ponselnya dari dalam tas kecil yang dibawanya.

“Gak tahu. Kak Jeongin kan juga lagi gak boleh banyak gerak. Aku tungguin sampai Ibunya Kakak datang baru aku pulang.”

“Kalau gitu kabulin permintaanku dong.”

“Apa?”

“Beliin Ice Cream.”

Yuna menatap Jeongin kesal. “Gak. Aku gak mau dimarahin Ibunya Kakak.”

“Ayolah ... kan ibuku lagi gak ada.”

“Tetep aja. Gak mau. Kan gak boleh makan es krim dulu.”

“Ayolah, Yuna. Nanti jalan-jalannya jadi 2 minggu deh.”

Yuna terdiam. Menatap Jeongin penuh selidik. Sementara Jeongin menangkupkan kedua tangan memohon agar dikabulkan.

“Okelah. Gak boleh bohong lhoo ya. Beneran 2 minggu jalan-jalannya.”

“Iyaaa.”

Dengan begitu, Yuna pun keluar dari ruangan Jeongin. Menyisakan Jeongin yang kini tengah berimajinasi menikmati es krim yang sudah 3 hari dirindukannya.

10 menit, 20 menit, 30 menit berlalu. Tak ada tanda-tanda Yuna akan kembali.

“Kemana sih Yuna masa nyasar?” gumam Jeongin yang mulai khawatir.

Salah satu kelemahan Yuna adalah lupa jalan. Jika jalan itu baru pertama kali dilewatinya, ia tidak akan ingat arah untuk kembalinya.

Jeongin sudah bersiap untuk menyusul Yuna ke kafetaria rumah sakit. Namun urung ketika mendengar suara pintu ruang rawatnya dibuka. Sosok Yuna muncul di sana tersenyum lebar. Senyum yang selalu berhasil menulari Jeongin energi baik.

“Lama ya, Kak? Hehe aku lupa jalan.”

Kan benar dugaan Jeongin.

“Gak apa-apa. Jadi, mana ice creamnya?” Sungguh Jeongin benar-benar hanya ingin es krim sekarang.

“Ini punya Kak Jeongin.” Yuna mengulurkan satu cup kertas kepada Jeongin yang diterima si pemuda dengan bingung. Semakin bingung ketika melihat isinya.

“Ini apa?”

“Es krim vanilla.”

Jeongin mengaduk-aduk isi cup itu dengan sendok kecil yang ada.

“Ini yogurt.”

“Itu es krim vanilla, Kak. Aku lelehin.”

“KENAPA DILELEHIN?”

“Kan gak boleh makan es krim. Tapi Kak Jeongin ngotot mau makan es krim. Ya udah aku lelehin es krimnya.”

“Ya jadinya es leleh dong Yunaaaa.”

“Ya kan asalnya dari es krim juga Kak Jeongiiiin.”

Jeongin menghela napas. “Untung sayang.”

“Apa, Kak?”

“Gak apa-apa. Makan aja es krim kamu.”

“Jadi 2 minggu kan jalannya?”

Lagi, Jeongin menghela napas. Menatap Yuna yang kini menghadirkan ekspresi memohon yang sungguh demi apapun Jeongin gemas. Gemas karena bagaimana bisa ia terpikirkan untuk melelehkan es krim ini.

Dan benar. Kalau tidak karena Jeongin menyayangi gadis ini, bukan mustahil Jeongin akan mendorongnya dari jendela lantai 5.

“Iya jadi.”

“Es krimnya gak dimakan?” tanya Yuna ketika Jeongin meletakkan cup kertas tadi di nakas lantas merebahkan diri dan menatap langit-langit ruang rawat inap yang tengah menertawakannya.

“Gak. Maunya es krim bukan es leleh.”

Selamat tinggal es krim. Selamat tinggal tabungan airpod. Sudah terlanjur janji bermain roller coaster 2 minggu. Apa boleh buat jika untuk orang yang tersayang?

Walaupun dongkol setengah mati, tapi tetap sayang. Jeongin tidak bisa marah.

“Habis ini langsung pulang ya, Kakak mau tidur.”

“Oke, Kak Jeongin.”