Pertemuan mendadak
Ruang kerja Ayah Chan malam itu dipenuhi ketujuh anak laki-lakinya. Atmosfer serius yang jarang terjadi. Satu panggilan singkat di grup chat tadi cukup membuat ketujuhnya bertanya-tanya ada apa gerangan.
Lebih-lebih Kak Minho yang dinyatakan wajib hadir.
5 menit setelah semuanya kumpul, Ayah—dan Bunda—masuk. Ayah duduk di singgasananya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Berbeda dengan Bunda yang tersenyum sumringah.
“Bapak-bapak ini memang usil sekali. Anak-anaknya sampai tegang gitu mukanya.”
Sudah nyaris pukul 8 malam. Sudah bukan lagi waktu untuk Jeje melihat eksistensi Bunda kendati saat ini Bunda duduk di sisi kanannya.
“Hyun gak apa-apa ya hari ini gak malam mingguan dulu?” Pertanyaan pertama Ayah terlontar untuk si anak ketiga—Hyunjin.
“Gak apa-apa, Yah. Ryujin juga lagi ada kegiatan. Besok pagi Hyun yang jemput si kampus.”
Setelah mendengar jawaban Hyunjin, Ayah menatap satu persatu putranya. Tatapan serius di awal tadi berubah menjadi tatapan teduh penuh rindu.
“Chan....”
“Waktu benar-benar tidak terasa. Iya kan?”
Semuanya mengangguk. Peter yang biasanya suka menyahut gurau, malah berpegang tangan erat dengan kembarannya.
“Ayah paham, setiap yang ada di rumah ini pasti merindukan Bunda. Gak bisa dipungkiri, di saat-saat seperti ini Ayah jadi semakin rindu sama Bunda kalian.”'
Ino, Abin dan Hyun. Ketiganya duduk berjejer dan menunduk. Gambaran kejadian yang sama terlintas kembali di benak ketiganya. Si kembar, Peter dan Felix makin erat saling genggam. Bunda. Bagaimana tutur lembutnya masih kerap terdengar dalam angan.
Sementara Sky dan Jeje hanya menatap kakak-kakak tanpa tahu apa. Kepala keduanya ramai. Ramai menerka-nerka gerangan apa yang akan disampaikan Ayah setelah ini.
“Terima kasih anak-anak Ayah Bunda sudah tumbuh dengan baik kendati kalian menahan diri untuk tidak menunjukkan kerinduan kalian pada Bunda.”
Ucapan tulus Ayah itu membuat semua tertegun. Peter dari tempat duduknya bahkan dapat melihat Kak Abinnya meneteskan air mata.
“Ayah, C'mon. Pembukaannya berbelit-belit ah,” keluh Peter gurau. Berharap atmosfer sedih ini tidak bertahan lama.
Usahanya mungkin bisa dikatakan berhasil ketika akhirnya ia bisa melihat senyum lebar Ayah. Tak tahu saja Peter bahwa Bunda tengah mengusap kepalanya.
“Maafin Ayah ya bikin suasana sedih begini. Sebenarnya Ayah mau memberitahu sesuatu.”
“Kak Minho?” terka Jeje yang membuat 7 pasang mata lainnya menaruh perhatian padanya. 8 pasang kalau Bunda dihitung.
“Wah...adek cepat sekali pekanya.”
“Aku?” Minho menatap Jeje dan Ayah bergantian sembari menunjuk diri sendiri.
“Jeje tahu dari mana?” tanya Ayah ingin tahu. Jeje hanya mengusap tengkuknya. Telinganya merah saat menjawab.
“Nebak sih.”
“Beneran aku?”
Ayah mengangguk. “Jadi, kakak tertua kalian akan segera pamit dari rumah?”
“Why??!!”
“HAH??!!”
Si kembar yang paling dahulu bereaksi.
“Kak Minho mau kemana, Yah?” tanya Sky.
“Bentar—ayah jangan bilang Kak Minho—” Hyun cepat menyela sebelum Ayah menjawab tanya adim-adiknya.
“Julia?” tanya Abin ambigu yang mengundang perhatian si bungsu.
“Kenapa Kak Julia?”
“Kak Minho mau nikah sama Kak Julia, Nak,” ujar Bunda akhirnya meski tahu tidak akan ada yang mendengar.
“Kak Minho? Ada yang ingin disampaikan?”
“Kenapa ngajak adek-adek buat bahas ini, Yah?”
“Kenapa Kakak asal ngajak nikah anak orang?”
“HAH?”
“HAH?!
Anak Ayah Chan dan Bunda Sana mendadak menjadi pedagang keong.
“Akhir pekan depan, semua kosongkan jadwal kalian. Tugas-tugas sekolah dan kuliah lekas dituntaskan. Kita akan berkunjung ke rumah Om Bam dan Tante Mina.”
“Ayah....”
“YEAAAYY KAK LIA JADI KAKAK IPAR KITAAAA!!!”
“Selamat ya, Kak Minho.”