Pulang...
Pulang. Dandelya tidak ingat kapan terakhir kali ia begitu ingin pulang. Setelah ia lulus sekolah dasar, setelah ayah menikah lagi, setelah ia dan Braja sekolah di kota Serabi, tidak ada definisi pulang yang benar-benar bisa ia jadikan ingin. Rumah di tanah tujuannya ini tidak lagi sama sejak ibu pergi. Ibu dan tempat istirahatnya mungkin satu dari sekian alasan yang bisa ia jadikan kilah untuk pulang. Lalu, ada Ezra.
Bagaimana kabarnya? Apa rambutnya masih cepak? Apa dia masih suka menggerutu tentang bunga bougenville yang—usut punya usut dia tanam di depan rumah untuk pagar—mengotori halaman? Berhubung sedang musim penghujan, Dandelya tidak akan menemukan gerombolan bunga kertas itu mekar. Kalaupun ada, tidak akan selebat saat musim kemarau.
Terakhir kali bertemu Ezra adalah saat pernikahan ayahnya. Dandelya dan Braja kembali ke tempat ini untuk menyapa wanita yang akan menemani ayahnya; menggantikan tugas mama. Saat itu Braja sudah berada di tingkat akhir SMA, sementara Dandelya baru saja masuk SMA. Setelah itu, Dandelya tak pernah lagi bertemu Ezra karena laki-laki itu meneruskan pendidikannya di luar negeri.
Dandelya ingin mengutuk orang-orang yang melabeli ibu tiri sebagai sosok penyihir jahat yang siap meracuni putri kesayangan ayah. Bunda—begitu Dandelya dan Braja memanggil ibu tiri mereka—adalah sosok yang baik. Selalu menghubungi Dandelya dan Braja rutin di sabtu sore atau minggu pagi. Dandelya senang dengan kehadiran bunda. Cantik, ceria dan menyenangkan. Seperti sekumpul bunga bougenville oranye di musim kemarau.
Senyum bunda dan lambaian tangan antusiasnya di antara banyaknya orang di area kedatangan adalah keindahan pertama yang Dandelya temui sesaat setelah menginjakkan kaki di tanah rantau ayah. Braja menyuruhnya keluar lebih dulu agar Bunda tidak sendirian menunggu sementara si sulung mengambil bagasi.
“Dek Adel tambah cantik. Sehat, Dek?” Bunda memeluk erat Dandelya siang itu. Menyambut hangat si bungsu yang paling hemat bicara. Dandelya mengangguk sebagai jawaban.
“Bunda sehat?”
Bunda mengangguk. “Sehat banget. Apalagi Mas Braja sama Dek Adel datang liburan lama di sini. Bunda jadi makin sehat.”
Tidak lama berselang, Braja keluar dengan satu troli penuh—dua koper, tiga dus oleh-oleh dari eyang dan dua plastik masing-masing kue lapis surabaya kesukaan ayah dan donat isi kesukaan bunda. Bunda menyuruh kakak adik menunggu sementara beliau mengambil mobil.
Angkasa yang mendung siang itu terasa cerah dan hangat bagi Dandelya. Bunda yang kasih sayangnya tidak pernah dibuat-buat. Bunda yang tulus menjaga ayah dan tidak memaksa Braja maupun Dandelya untuk membalas cintanya. Bunda yang tidak pernah melangkahi batas tak kasat mata yang dibangun Dandelya.
Kehilangan Ibu belasan tahun lalu masih menyisakan kehampaan bagi Dandelya. Ada bagian dari hatinya yang ia biarkan kosong dan ia tutup rapat-rapat agar tidak ada yang bisa menjangkau. Hanya dia seorang yang mampu membuka pintu tersebut. Bukan ayah, Braja apalagi Bunda.
“Dek Adel mau Bunda temani ke makam?”
“Gak, Bun. Adel bisa pergi sendiri.” Adalah jawaban konsisten Adel selama Bunda menjadi bagian dari keluarganya. Dandelya tidak suka ada yang mengganggu waktu berkualitasnya bersama Ibu. Dandelya hanya ingin bercerita tentang banyak hal kepada Ibu meski tidak dibalas.
“Boleh kalau Bunda gak repot.” Adalah jawaban Dandelya tahun ini. Di tahun kedelapan Bunda mengambil alih peran seorang ibu di keluarganya
“Kak Braja kemana, Bun?” tanya Dandelya sore hari kedua berada di rumah. Hanya ada dia dan Bunda di rumah. Ayah belum pulang sementara Braja tak nampak batang hidungnya.
“Ke rumah Ezra katanya, Dek.”
Mendengar nama Ezra membuat darah si gadis berdesir. Jantungnya mendadak berdegup cepat. Dandelya tidak tahu bahwa efek Ezra begitu dominan menguasainya. Seolah Ezra adalah pusat segala hidupnya. Sudah lama sejak terakhir kali bertemu, tapi Ezra masih punya tempat istimewa tak terjamah di hati Dandelya.
“Kak Ezra udah balik ke Indo, Bun?”
“Udah, Dek. Gak lama dari tahun lalu Adek sama Mas balik, Ezra juga balik. Sempat main ke sini juga bawain oleh-oleh.”
Ezra sejak kecil memang sangat akrab dengan Braja. Ezra pula teman Braja yang paling sering main ke rumah bahkan sampai menginap. Dari penuturan Bunda, sewaktu Ezra pulang dari luar negeri ia segera mengunjungi Ayah dan Bunda keesokan harinya untuk memberikan buah tangan dari negara tempatnya menimba ilmu.
Sementara sedang asik berbincang dengan Bunda, Braja datang dan langsung mengusak surai Dandelya. Membuat yang muda kesal dan refleks memukul lengan Braja. Braja hanya cekikikan, pun Bunda menatap keduanya dengan senyum dan gelengan kepala beberapa kali.
“Del, besok mau diajak pergi Ezra.” Dandelya yang hendak meneguk susu urung dilakukannya.
“Ngapain?” tanya Dandelya acuh, meski dalam hati ingin tahu.
“Gak tahu. Gak bilang mau ngapain. Tapi katanya wajib sama adeknya Braja mumpung lagi disini.”
Dandelya cepat-cepat meminum susunya. Lantas kembali ke kamarnya, mengunci pintu lalu membanting tubuhnya di kasur. Senyumnya merekah cantik, hatinya berbunga-bunga bak bougenville merah muda di musim kemarau. Dandelya sempat berpikir Ezra telah melupakannya. Bunga kertas yang sempat hidup tanpa bunga itu akhirnya menemukan matahari.