RUMAH OM BAM

“Halo, Om.”

“Halo, Tante.”

Riang si kembar menyapa Papi Mami Julia yang menyambut kedatangan mereka sore itu. Hanya Om Bam dan Tante Mina. Kak Julia yang juga ingin mereka sapa tak nampak batang hidungnya.

“Halo, Twins. Kalian main sama teman-teman kecil Om dulu, ya. Ayahnya Om culik bentar.”

“Oke.”

Peter dan Felix yang memang sudah akrab dengan kediaman keluarga Om Bam langsung saja menghampiri kucing-kucing milik Om Bam.

“Tante ada puding susu di kulkas. Ambil sendiri ya.”

Setelah memastikan si kembar aman, para dewasa lekas duduk bersama di ruang kerja Om Bam. Rupanya Julia sudah duduk di sana. Berdiri Julia menyambut kedatangan Ayah Chan.

“Hai, Julia. Kayaknya tadi habis pergi sama Minho?” sapa Ayah Chan.

“Iya, Om. Kondangan teman SMA,” jawab Julia.

Om Bam duduk di kursi utama. Sementara Tante Mina duduk di sisi Julia sembari menggenggam tangan putri semata wayangnya. Ayah Chan—dan Bunda—duduk berhadapan dengan Tante Mina. Karena tuan rumah hanya diam saja, Ayah Chan menatap kedua karibnya bergantian.

“Ada apaan nih? Udah manggil sampai sini malah didiemin.”

“Chan, Lia diajak nikah.”

Satu kalimat yang terlontar dari Om Bam sukses membuat Ayah Chan sumringah.

“Bagus dong. Selamat ya, Julia. Om ikut senang.”

Julia hanya tersenyum canggung.

“Jadi nikah sama siapa ini?” tanya Ayah Chan lebih lanjut.

“Sama anak kita.”

“Minho,” jawab Tante Mina akhirnya.

“Oh namanya Minho. Sama kayak nama anak pertamaku ya?”

“Yang dimaksud Mina tuh Minho anak kita, Chan.”

“Ya emang anakmu. Minho anakmu yang ngajak Lia nikah, Chan.”

“BENERAN MINHOKU?”


“Dulu aku pernah iseng ngobrolin ini sama Sana. Gimana kalau besok-besok kita jodohin anak-anak kita?” kenang Tante Mina.

“Aku juga ingat. Padahal dulu ngebayanginnya anakku yang cewe, anak kamu yang cowo,” sambung Bunda.

Sore itu,obrolan masih berlanjut hingga matahari terbenam. Lia menceritakan bagaimana Minho menyampaikan keinginannya untuk menikah. Begitupun Ayah Chan bercerita tentang Minho yang sempat bertanya padanya bagaimana ia dulu menyatakan perasaan pada Bunda Sana.

“Jadi? Julia sendiri gimana?”

Siang tadi, Julia lekas meninggalkan apartemennya. Tidur siang kilat memberinya sebuah bunga tidur hingga membuatnya gelisah. Hanya meninggalkan sticky note di atas ponsel Minho sebagai ucapan pamitnya karena meninggalkan Minho yang masih terlelap tidur siang.

Jika punya lebih banyak keberanian, Julia ingin sekali melompat-lompat. Atau mungkin terbang melayang di udara. Selama ini, hanya Mami tempatnya berbagi tentang perasaannya pada Minho. Hanya Mami orang yang dipercayanya. Bahkan ia meminta Mami merahasiakan hal ini dari Papinya.

Ketika hari dimana ia sendiri mendengar langsung pernyataan Minho, ia langsung temui Maminya. Siang tadi juga Papinya baru mengetahui semua. Alasan mengapa Julia selama ini enggan menjalin hubungan atau bahkan dijodohkan meski beberapa kali Papinya kerap membahas secara tersirat dengannya.

Menunggu.

Ketika menatap putri tunggalnya itu, Papinya tahu bahwa Julia kecilnya telah bertemu pangeran impiannya. Julia kecilnya telah berjumpa dengan seseorang yang ia selalu merasa aman hanya dengan berada di dekatnya.

Respon positif Mami dan Papinya lah yang membawa Ayah Chan datang ke rumahnya. Mendiskusikan bagaimana langkah berikutnya.

“Lia juga suka sama Minho, Om. Tapi kalau Om Chan gak mau Minho sama Lia—”

“Gak kok. Om tahu gimana kalian saling menjaga satu sama lain. Justru Om yang harus berterima kasih karena Lia mau menemani Minho padahal Om yakin Minho lebih sering ngerepotin Lia.”

Julia buru-buru menggeleng kepala. “Gak kok, Om. Lia gak merasa direpotin sama sekali. Minho juga baik sama Lia.”

“Well, aku tunggu keluargamu datang lagi lengkap dengan Minho.” Final dari Om Bam. Sebuah isyarat penerimaan yang disambut sumringah oleh hadirin di ruangan itu.

Kedua sahabat itu saling berpelukan.

“Makasih, Bam.”

“Makasih juga untuk Minho.”

“Makasih Julia. Makasih Mina. Makasih Bam. Tanpa kalian, anak-anakku makin merasa kesepian.”


“Om, Lia boleh tanya?”

“Boleh. Silakan.”

“Ada apa dengan pie cokelat dan Tante Sana?”

Ayah Chan tertegun. Lantas mengulas senyum getir sebelum menjawab. “Signature. Tante Sana itu suka sekali bikin pie cokelat untuk anak-anak Om.”

“Oooh. Tapi Lia pernah nawarin pie cokelat kok ditolak?”

“Siapa?”

“Minho pernah. Si kembar juga. Hampir semua.”

Jauh. Hampa. Sorot itu seketika terisi kekosongan yang nyata di jiwa. “Karena sebelum meninggal Tante Sana sudah menjanjikan pie cokelat untuk kudapan malam.”

Lia mengangguk paham. Kini ia tahu persis benang merah mimpinya. “Boleh gak Om sekali Lia coba bikinin pie cokelat?”

Ayah Chan mengulas senyum. Kali ini bukan senyum getir. Seulas senyum tulus penuh rasa terima kasih. “Dengan senang hati, Lia. Tapi tetap jangan berekspektasi akan langsung diterima ya, Nak.”

“Iya, Om.”

“Lia gak tahu gimana maksud Tante Sana, tapi semoga usaha ini sesuai yang Tante harapkan.”