sefnok

Pukul 11 hari sabtu itu, Minho dan Julia tiba di venue tempat diselenggarakannya pernikahan sejawat mereka semasa SMA dulu. Beruntung keduanya tiba tepat waktu. Kehadiran mereka juga disambut oleh teman-teman lama dan mulai saling bertukar kabar dan cerita bagaimana waktu merubah pribadi serta keadaan mereka sejak SMA hingga hari ini.

Tak lama kemudian, acara dimulai. Hari itu Jung Yein—sang mempelai wanita—tampak begitu anggun dibalut gaun pernikahannya.

“Aku hampir lupa kalau Jung Yein yang di altar ini sama dengan Jung Yein yang dulu pernah jambak rambutku gara-gara aku telat bayar kas osis. Galak banget,” bisik Minho pada Lia yang duduk di sisinya dan langsung dihadiahi satu cubitan kecil di perut.

“Kamu sih dulu bandel. Kasihan Yein jadi bendahara menderita banget.” Minho hanya merespon dengan senyum jenaka.

Suasana pemberkatan terasa begitu sakral. Lia bahkan sampai meneteskan airmata ketika kedua mempelai saling mengucap janji. Minho bingung mencari tisu—padahal ada di dalam clutch Lia. Maka jemarinya lah yang ia gunakan untuk mengusap airmata Lia.

“Aku bawa tisu di clutch, No,” kata Lia ketika Minho masih sibuk mengusap airmatanya.

“Kelamaan nyari. Lagian kenapa pake nangis sih, Jul?”

“Terharu,” kata Julia. “Make up-nya jadi berantakan ya?” Oh jangan lupa Lia ini perempuan yang sudah sangat terkenal di dunia maya maupun nyata. Make up berantakan tentu saja tidak bisa dibiarkan.

“Enggak. Masih aman. Masih cantik.”

Lia sedikit tersentak mendengar tutur Minho barusan. Apa ini? Tadi mereka berangkat lewat mana? Kenapa Minho jadi manis begini? Bahkan sejak pagi tadi Minho bertingkah aneh.

Love setelah ucapan selamat pagi itu bukan Minho banget. Dan memang belum pernah terjadi.

Sadar perkataannya barusan membuat Lia tertegun, Minho buru-buru mengambil clutch Lia. Membukanya dan menarik beberapa lembar tisu.

“Hadap ke si—”

“Aku sendiri aja gak apa-apa.”

“Oke.”


Pukul 1 siang acara usai. Minho dan Julia bergegas pulang setelah berpamitan dengan mempelai dan teman-teman lainnya.

Sepanjang perjalanan, baik Lia maupun Minho tidak ada yang membuang kata ke udara. Berdua sama-sama tenggelam dalam benak masing-masing. Semua karena bombardir pertanyaan atau bahkan celetukan berbunyi sama dari teman-teman mereka.

“Ayo kalian nyusul. Aku sabar banget nunggu kalian berlayar.”

Suara bisikan Jung Yein paling keras mengiang di rungu Lia saat bersalaman tadi.

“Apaan aku gak pacaran sama Minho.” Lia balas berbisik pada Yein yang membuat sang mempelai wanita terlihat amat menyayangkan—dan tidak senang dengan jawaban itu.

Mau bagaimana lagi? Memang begitu adanya.

Semasa sekolah dulu, Lia ingat sekali berapa banyak kakak kelas atau bahkan adik kelas yang mencoba menggali informasi tentang Minho darinya. Mencoba ingin lebih dekat dengan Minho. Lia sendiri tidak pernah menghalang-halangi siapapun yang ingin berkenalan maupun berteman dengan Minho. Justru Lia sendiri ingin Minho punya banyak teman supaya ia tidak terus teringat akan trauma masa kecilnya.

“Jul.”

Di lampu merah sebelum berbelok ke kawasan apartemen Lia, Minho akhirnya bersuara.

“Hmm?”

“Diem aja. Sakit?” tanya Minho sembari menatapnya. Lia menggeleng sebagai jawaban.

“Aku mampir apartemen kamu boleh?”

“Hmm. Mampir aja. Biasanya juga langsung ngekor gak pake ijin dulu.”

“Ada yang mau aku omongin sebenernya.”

Kalimat Minho sukses menarik perhatian Julia. Fokusnya pada jalanan beralih pada sosok yang kini kembali mengendalikan kemudi setelah lampu lalu lintas berubah hijau.

“Serius banget kayaknya. Kenapa gak ngomong sekarang?”

“Ya karena emang beneran serius.”

“Oh.”

Entah mengapa ada perasaan tak enak dan curiga yang dirasakan Julia. Tetapi jika mengingat kelakuan absurd Minho, Lia memilih untuk tidak berkespektasi berlebihan. Sebab terakhir kali Minho berkata ingin bicara serius adalah perihal memilih hadiah untuk ulang tahun si kembar Peter Felix tahun lalu.

“Sekalian.”

“Sekalian? Sekalian apa?”

“Numpang tidur siang.”

Kan, apa Lia bilang?


“Aku ganti baju dulu,” ujar Lia yang direspon anggukan oleh Minho.

Minho sendiri memilih duduk di pantry setelah mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin. 10 menit kemudian, Lia sudah duduk di hadapannya. Kostum kondangan sudah berganti baju rumahan. Riasan di wajah sudah di hapus dan benar-benar menampilkan sosok Julia paling santai yang sudah Minho hafal di luar kepala.

“Mau ngomong apa sih, No? Kayaknya beneran serius banget ya?” desak Julia akhirnya sebab Minho tak kunjung bersuara dan hanya mengetuk jemari di meja.

“Jul.”

“Apa?”

“Kita udah temenan lama kan ya?”

“Iya. Udah lama banget. Kenapa?”

“Gak mau diupgrade gitu?”

Lia mengerutkan kening. Bingung. “Diupgrade gimana?”

“Nikah sama aku, Jul.”

Julia baru dua hari lalu menyambangi dokter THT untuk membersihkan serumen telinga. Ia yakin rungunya tak salah dengar pernyataan Minho barusan.

Iya pernyataan. Bukan pertanyaan.

Belum sempat kepalanya mencerna, Minho sudah beranjak dari duduknya. Mendekati Julia dan memeluknya dari belakang.

“Julia, kamu tahu aku gak pinter nyusun kalimat apalagi yang berkaitan dengan perasaanku. Aku butuh waktu lama untuk berpikir haruskah aku ungkap atau gak karena sebenarnya aku sendiri merasa gak pantas dapetin kamu. Tapi aku ingin sekali saja seumur hidupku untuk lebih egois. Maaf, Julia. Aku gak bisa jauh dari kamu. Aku mau kamu terus ada di hidupku.”

Lia masih butuh waktu untuk mencerna. Setelah sekian tahun berteman dengan Minho, ini pertama kalinya Minho berbicara panjang lebar mengungkapkan perasaannya.

“Minho k-kamu sakit?” Demi Tuhan Lia gugup. Terlebih dengan posisinya dipeluk dari belakang oleh Minho. Pun laki-laki itu yang kini menenggalamkan wajah di ceruk leher Lia. Deru napasnya membuat sekujur tubuh Lia meremang.

“Aku ngantuk. Tapi aku beneran soal yang aku ucapin barusan. Aku sungguh-sungguh, Lia.”

“Iya.”

“Iya?”

“Minho aku bingung. Kamu tiba-tiba banget.”

“Kamu gak mau?”

Lingkaran tangan kekar Minho di bahu Lia dilepas. Lia pun ikut berdiri lantas memeluk Minho erat. Minho balas memeluk Lia dan menumpu kepalanya di pundak Lia.

“Kamu tidur aja dulu.” Lembut Lia mengusap punggung Minho.

Pernyataan Minho membuatnya terkejut. Terlalu tiba-tiba kendati ia selalu menunggu. Tak dapat Lia elak bahwa kenyataannya ia juga menyimpan rapat rasa sukanya pada Minho.

Namun, rasa takut kehilangan Minho membuatnya urung untuk mengakui. Bagaimana jika ia berterus terang tentang perasaannya malah membuat Minho menjauh? Lia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya jika Minho tidak ada di antara barisan hal-hal menyenangkan yang memberi goresan warna cerah di kanvas miliknya.

Siang itu Minho terlelap di kamar tidurnya. Sebuah efek samping bagaimana semalaman suntuk Minho tak bisa terlelap barang sebentar hanya untuk memikirkan cara mengungkapkan perasaannya pada Lia.

Pada akhirnya ia berhasil mengungkapkan. Meski harus menunggu Lia memproses semuanya. Semua rasa yang ia miliki dan terbalaskan.


“Terima kasih sudah menyayangi Minho selama ini, Lia. Tolong bantu Minho keluar dan makan pie cokelat kesukaannya ya.


Secepat yang Lia mampu, ia beranjak pergi dari unit apartemennya. Mami. Ia harus membicarakannya dengan Mami.