side

Aku punya seribu satu cara untuk mengungkapkannya

“Gak ada balasan?” tanya Hwang Yeji yang tengah asik menyantap tart cokelat yang dibawanya. Dia sendiri yang bawa untuk ulang tahun Lia, dia sendiri pula yang menyantapnya.

Lia menggeleng menatap layar ponsel. menggeleng lagi ketika akhirnya ia sadar kelakuan karibnya.

“Gimana sih ini katanya buat yang ulang tahun.”

“Enak ternyata. Mau minta Seungmin beliin,” jawab Yeji tanpa merasa bersalah sedikit pun. Bukan perkara besar juga untuk Lia karena ia sendiri tidak yakin kue itu bakalan menggoda dirinya untuk disantap. Ujung-ujungnya malah berakhir teronggok begitu saja di kulkas jika bukan Yeji yang memakannya.

Pesan yang tak dibalas. Panggilan telpon yang tak diangkat.

Kemana Minho?

“Udah gak sayang kali sama lo.”

“Enak aja. Kemarin masih telpon.”

“Kan kemarin. Kali aja dia tidur cintanya habis.”

“Mulutnya Yeji. Semoga Seungmin—”

“Gak. Gak. Udah ah mau pulang. Gak asik banget ini ulang tahun tapi pacarnya ilang.”

Kue cokelat itu tinggal setengah. Bersama perasaan khawatir Lia yang sudah setengah memenuhi ruang hatinya. Alih-alih berpikiran negatif, Lia justru lebih khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Minho.

Ini ulangtahun pertama Lia setelah menjadi pacar Minho. Sempat papanya ingin merayakan ulangtahun Lia secara megah sebagaimana sebelum-sebelumnya. Tetapi Lia menolak keras ide tersebut. Ia sudah cukup dewasa untuk memiliki sebuah pesta ulangtahun kendati hal seperti itu memang trivial bagi keluarga-keluarga kaya raya.

Masalahnya karena Minho. Minho tidak ada di dekatnya. Minho masih menjalani pendidikan profesi berjarak ratusan kilometer dari tempat Lia bernapas. Seakan belum cukup harus menahan rindu, menggelar pesta tanpa kehadiran Minho hanya akan membuatnya semakin tersedu pilu.

Selain pesta ulangtahun yang meriah, jangan lupakan hadiah yang tak kalah fantastis yang selalu ia terima baik dari orangtua, kakaknya, teman-teman bahkan kolega-kolega papa. Namun tahun ini, tidak ada yang lebih diinginkan Lia dari apapun melainkan kehadiran Minho.

100 hari sepertinya cukup meyakinkan Lia bahwa dia memang benar jatuh cinta pada Minho setelah fase denial karena insekuriti dalam dirinya yang berperang dengan kenyataan tentang Minho.

“DEMI TUHAN JULIA LO GAK DENGER SUARA BEL?”

Yeji kembali membuka pintu kamarnya dengan sembrono. Untuk kemudian membawa sosok laki-laki yang sedari tadi paling dicari Lia.

“Kak Minho?!”

“Hai.”

Begitu Yeji pergi, Lia langsung memeluk Minho. Kemeja putih yang dikenakan Minho basah oleh airmata Lia.

“Hei, kenapa menangis?”

“Kakak gak jawab pesanku. Kakak juga gak angkat telponku. Aku kira Kakak lupa kalau hari ini—”

“Ulang tahun? Saya gak lupa. Makanya saya datang. Pesan dan telponnya—”

“Sengaja gak diangkat? Mau bikin surprise?”

Minho menggaruk tengkuknya. Kemudian mengulas senyum menatap Lia. Sebuah gelengan kepala diterima Lia sebagai jawaban.

“Memang hp nya mati. Saya pinjam charger ya. Tadi buru-buru jadi tertinggal di loker.”

2 jam sebelum hari ulang tahunnya berlalu. Lia nyaris saja menyesali keputusannya untuk tidak menyelenggarakan acara yang megah. Kendati ia merasa sudah cukup dewasa, tetap saja ia tidak ingin merasa sendiri di hari ini.

Siang tadi bersama orangtua dan kakaknya makan siang bersama sebagai perayaan kecil-kecilan. Sore hari bersama Yeji dan ketika ia telah memiliki tambatan hati, bukan mustahil Lia mengharapkan hadirnya hari ini.

Di penghujung hari ulangtahunnya kali ini, Lia merasa cukup. Sekalipun tak ada ucapan eksplisit darinya, eksistensi Minho nyatanya sudah cukup membuatnya merasa lengkap.

“Terima kasih, Lia.” Bersama satu kecupan di dahi sebelum keduanya terlelap dalam rengkuh malam.


Bukan...bukannya aku tidak sayang, hanya...tidak terbiasa

“Pasti suplemen sama vitaminnya gak diminum?”

”....”

“Makannya juga telat kan?”

”....”

“Tidurnya juga berantakan.”

“Lia...”

“Udah diem. Aku gak pernah semarah ini ya. Mana lagi ulang tahun pula.”

TIdak ada keanehan berarti ketika Lia membuka matanya pagi ini. Ucapan ulangtahun yang datang darimanapun dan dibalasnya satu persatu menjadi agenda awal harinya. Tetapi menjadi berantakan ketika panggilan telpon dari Minho diangkatnya.

Berpikir bahwa mungkin tahun ini ia akan dapat ucapan selamat dari Minho. Nyatanya suara lemas di seberang sana menghidupkan jiwa keibuan dalam diri Lia.

“Saya nyamperin kamu agak sore ya. Setelah istirahat sedikit.”

“Kakak sakit? Suaranya lemes gitu. Lia kesana aja ya.”

“Gak usah, Lia. Kakak—”

Lia enggan mendengar lanjutannya. Lebih baik menghampiri langsung dan menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Minho mengggigil, meringkuk di bed sofa apartemen studionya alih-alih di atas tempat tidur.

“Aku sebel sama Kakak.”

“39,1 dan kakak masih bilang cuma gak enak badan?”

Dan rentetan omelan lainnya khas ibu-ibu pada anaknya yang baru saja ketahuan melakukan pelanggaran makan es krim saat flu. Pada kasus Minho 2 minggu berturut-turut mengorbankan diri menukar shift jaga UGD supaya punya kesempatan cuti 2 hari untuk Lia. Kenyataannya lebih dari 2 hari karena sakit lengkap dengan Lia yang kesal di hari bahagianya.

“Maaf ya. Maksud saya bukan begini.”

“Aku gak tahu maksud kakak gimana tapi ini makan dulu buburnya.”

“Pahit.”

“Makan atau aku pulang.”

“Jangan senyum. Aku masih sebel Kakak teledor sama diri sendiri.”

3 hari adalah waktu yang digunakan Lia untuk memastikan Minho benar-benar bisa kembali ke rumah sakit dan menjalani harinya sebagai dokter magang. Selama 3 hari itu pula, keduanya membangun ruang paten di relung batin untuk ditempati satu sama lain. 3 hari itu semakin meyakinkan keduanya akan perasaan satu sama lain yang semakin kuat dan terikat.

“Kakak jaga diri ya. Jangan maksain buat ketemu Lia lebih lama kalau ujung-ujungnya bikin kakak sengsara begini.”

Minho mengangguk. “Terima kasih, Lia.”


Karena bagiku ada begitu banyak cara membuatmu bahagia daripada sebuah ucapan selamat

“Udah dibuka?” tanya Minho yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk.

“Belum. Bareng kakak aja. Aku gak berani sendiri.”

Minho duduk di sisi kosong couch tepat disamping Lia. Mengambil alih iPad dari Lia yang kini diliputi rasa panik dan takut tak keruan. Telapak tangan ia gunakan untuk menutup mata. Minho hanya bisa tertawa.

“Kalau hijau?”

“Aku gak akan minta hadiah ulangtahun dari Mama Papa dan Kak Dowoon.”

“Kalau merah?”

“Aku nangis.”

Minho benar-benar tergelak sekarang. Ia sudah punya jawaban yang terpampang di layar iPad milik Lia.

Setahun terakhir ini, Lia mulai getol mengasah diri di bidang fashion. Tahun lalu ia berbagi banyak hal dengan Minho termasuk rasa suntuk dan tak berarti yang kerap menguasai dirinya.

Ia iri pada Dowoon, kakaknya. Dowoon tahu apa yang ingin ia lakukan. Tanpa ragu ia mengatakan pada Papa Mama tentang keinginannya menjadi anggota band. Begitulah ia berakhir menjadi drummer populer yang selalu muncul namanya dalam daftar pencarian oleh karena skill dan pesona dari parasnya yang menawan. Semua itu Dowoon mulai sejak memasuki bangku sekolah menengah pertama.

Sementara Lia menjalani hidup yang monoton. Belajar lalu bekerja. Orangtuanya tidak pernah membatasi ataupun memaksa anak-anaknya harus mengambil bagian dari perusahaan. Tak ada batasan seperti itu. Keduanya terbuka untuk apapun yang ingin dilakukan Dowoon dan Lia. Tetapi Lia benar-benar tak tahu apa yang ia suka. Lebih tepatnya tahu tapi tidak yakin.

Minho lah yang mendorong Lia untuk mencoba.

“Gak ada yang terlambat, Lia. Kamu sudah tahu dari dulu arah ketertarikan kamu, tapi kamu gak yakin. Kenapa gak yakin? Karena kamu gak pernah mau mencoba.”

Satu tahun penuh dorongan dari Minho ternyata membawa Lia pada keberanian menantang diri pada kompetisi design wedding dress bertema autumn.

“Hijau.”

“Bohong!”

Lia tidak lagi menutup kedua matanya. Tangan lebih cepat bergerak merebut iPad dari Minho untuk memastikan sendiri.

“Kak, mimpi gak sih? Bercanda gak sih? Prank ya ini?”

Pertanyaan bertubi-tubi sebagai respon dari kebingungan Lia membuat Minho tersenyum lebar.

“Lia kok nangis? Kan hijau bukan merah.”

Lia menggeleng. Menatap Minho dengan tawa ringan meski airmata menggenang di pelupuk. Untuk kemudian mengalir deras di pipi ketika Minho menariknya dalam pelukan.

“Kamu hebat, Lia.”

“Kak...karya aku masuk majalah. Kak...dunia gak lagi bercanda kan? Ini bukan cuma sesaat buat bikin aku bahagia di hari ulang tahun gitu aja kan? Kak...aku seneng banget.”

Lembut Minho mengusap punggung Lia. “Gak. Ini baru awal, Lia. Kamu hebat. Kamu pasti bisa. Terima kasih, Lia.”


CW// kiss

Senyum itu...sorot itu...kamu dan apa-apa yang ada di dirimu adalah lebih dari sekedar untuk disyukuri

“Oh, udah pulang, Kak?”

Singkat.

Sebagaimana yang telah lalu, Minho tak akan pernah membiarkan Lia sendiri di hari ulangtahunnya.

“Lapar.”

“Aku udah masak, Kak. Eh udah belum ya? Kalau di dapur gak ada berarti aku lupa. Pesan aja ya, Kak.”

Seriusan? Lia? Mengabaikannya?

Ini bulan keempat setelah keduanya resmi mengikat janji bersaksi semesta di altar. Sudah selama itu pula Lia benar-benar telah melepas diri dari pekerjaan tetap di kantor Papanya dan memilih menantang diri mengikuti perlombaan design lainnya setelah kemenangan tahun lalu.

Saking ambisnya, ia melupakan hari ini. Hari ulangtahunnya yang sangat ia hargai. Luar biasa memang perubahannya.

Dan Minho sepertinya sedang tidak ingin diduakan oleh ide-ide yang ramai di kepala Lia. Ide-ide yang sangat disayangkan jika tak segera dieksekusi.

“Kamu udah makan, Sayang?”

“Kayaknya udah.”

“Minum?”

“Itu aku ada tumblr.”

Penampakan punggung Lia yang tak sedikitpun menoleh saat diajak berbicaranya agaknya mulai membangkitkan jiwa iseng dalam diri Minho.

“Udah kosong. Aku ambilin minum ya?”

“Hmmm.”

Tak butuh waktu lama untuk Minho mengisi botol itu dengan air putih. Diletakkannya di sisi kanan meja Lia.

“Ada perempuan yang dulu sukanya marah-marah setiap aku kelupaan minum air putih.”

Kalimat itu sepertinya cukup ampuh mendistraksi Lia. Terbukti kegiatan menggambarnya terhenti. Tangan kanannya dengan cepat mengambil tumblr, membukanya, dan menenggak setengah dari isinya. Minho tersenyum.

1:0

“Kakak gak mandi?”

“Udah.”

Lihat. Betapa fokusnya Lia sampai tidak tahu bahwa suaminya datang ke ruang kerjanya sudah dalam keadaan bersih.

“Aku kayaknya bakalan sampai malam banget jadi mending Kak—”

Kalimat itu tak usai. Tangan Minho lebih cepat memutar kursi kerja Lia untuk menyerang bibir yang muda. Dari kecupan yang penuh tekanan, beralih pada lumatan lembut yang menguarkan isi kepala Lia.

Minho betulan lapar rupanya.

“Kamu ulang tahun, Lia,” ucap Minho dengan kening keduanya yang masih tak berjarak. Ucapan untuk sebuah jeda napas sebelum ciuman berikutnya yang lebih agresif.

“Kak...” erang Lia ketika sepersekian sekon Minho berhenti menyerangnya. Ingin ajukan protes atas penyerangan mendadak tetapi logikanya sudah tidak bisa lagi kembali lurus.

Iya, Lia baru ingat dia ulang tahun. Lia baru ingat juga akan janjinya untuk sebuah gaun tidur yang Minho berikan 3 hari lalu.

Benar. Harusnya hari ini.

Minho menyeringai. Sebuah deklarasi kemenangan karena berhasil menyadarkan Lia. Membawa kembali sosok Lia yang mencintainya lebih dari gambar setengah jadi di layar iPadnya.

Minho kini berlutut. Menautkan jemarinya pada milik Lia. Menengadah menatap Lia yang pipinya sudah semerah tomat.

“Maaf ya, Kak. Aku lupa.”

Minho menggeleng. “Gak apa-apa. Istirahat dulu, ya. Hari ini kamu ulangtahun.”

“Tapi ini harus segera selesai, Kak.”

“1 jam. Kakak tungguin di sini ya.”

Lia mengangguk. Kembali memutar kursi ke posisi semula. Sementara Minho kembali ke bed sofa. Menatap punggung Lia yang kini fokus pada gambarannya.

“Lia.”

“Hmmm.”

“Terima kasih.”

Lia pikir terima kasih itu untuk 'makanannya'. Ia tersipu.


Sebab daripada sekedar ucapan selamat...aku lebih ingin selalu hadir memelukmu di hari seperti ini Daripada sekedar ucapan selamat...Terima Kasih terdengar lebih berarti...

Deja vu.

Lia ingat 3 jam yang lalu Minho membalas pesannya dingin. Sungguh Lia tidak suka dengan nada pesan tadi. Tetapi sosok itu kini telah berdiri di depan pintu rumah dengan senyum lebar.

“Suamiku ternyata suka bohong ya.”

“Aku suka Lia,” jawabnya lengkap dengan seulas senyum yang rasanya sudah lama tidak pernah Lia lihat.

Minho benar-benar gila-gilaan di rumah sakit. Menerima tawaran tukar shift dengan mudah. Mengabaikan peringatan Lia bahwa ia pernah jatuh sakit oleh karena terlalu memforsir jam kerja di rumah sakit. Dan Minho selalu berhasil membalikkan kalimat itu dengan dalih bahwa dulu ia masih tinggal sendiri jadi tidak ada yang mengontrol sementara sekarang ia punya Lia yang selalu memastikan ia tetap dalam kondisi baik-baik saja.

“Jalan-jalan yuk.”

“Kak ini jam 11 malam.”

“Kita pernah kayak gini, Lia. Ambil jaketku aja biar gak kedinginan.”

Lia menurut kali ini. Tak butuh waktu lama, Lia kembali dengan jaket Minho yang telah sempurna membalut tubuh kecilnya.

“Mau kemana, Kak?”

“Lihat bintang.”

Perjalanan ini tidak asing. Sebab mereka kembali ke pantai tempat dimana Minho melamar Lia dulu. Tidak. Lia tidak lagi berlari setelah keluar dari mobil. Ia menunggu Minho untuk menggenggam tangannya. Berdua tautkan jemari, berjalan bersisian menapaki pasir pantai.

Hari telah berganti. Ulangtahun Lia telah tiba.

Keduanya duduk beralaskan pasir pantai. Menikmati semilir angin laut menerpa wajah keduanya. Lia sandarkan kepala di bahu Minho, sementara Minho merengkuh pinggangnya.

“Kakak gak capek langsung ngemudi jauh sampai sini?”

“Capek.”

“Kenapa gak istirahat aja di rumah?”

“Aku lagi kangen seseorang. Aku mau cari dia disini.”

Lia tak lagi sandarkan kepala. Sempurna menoleh pada Minho. Ingin tahu siapa yang dicari suaminya.

“Siapa?”

Minho tersenyum. Isyaratkan Lia agar kembali menumpu kepala di bahunya.

“Ceritanya panjang. Jadi kamu sambil nyandar aja.”

Lia pun kembali ke posisi semula. Ia benar-benar penasaran. Mungkinkah itu mantan pacar Minho? Dalam kepala dipenuhi tanda tanya.

“Jadi?”

“Kamu gak sabaran banget, Sayang.”

“Ih, Kak. Aku pengin denger ceritanya. Jarang-jarang kan ada kesempatan waktu luang sebanyak i—oh scorpionya jelas banget.”

Lia menunjuk ke angkasa. Pada rasi scorpio yang terlihat jelas sebagai raksasa angkasa malam.

“Aku ketemu dia pertama kali di rumah teman. Dia pakai apron kotak-kotak warna cokelat. Rambutnya waktu itu warna hitam. Manis. Saat dia tersenyum jauh lebih manis lagi.”

“Ohh, nyeritain aku?”

“Lanjut gak?”

“Lanjutin.”

“Singkat cerita kita jadi sering ketemu tiba-tiba tanpa sengaja. Di rumah sakit, di pusat perbelanjaan, di toko roti. di toko hadiah, bahkan di bandara. Seolah-olah ada benang tidak kasat mata yang menggerakkan kita ke tempat yang sama di waktu yang tidak terduga. Pertemuan-pertemuan itu mengundang tanya 'kenapa'. Ternyata karena cupid selalu berhasil memanah tepat sasaran di setiap temu. Akhirnya aku datangi rumahnya, minta izin orangtuanya untuk menjadi lebih dari sekedar teman dekat baginya.”

Hening. Lia sudah 100% yakin cerita ini tentang dia. Tetapi ia ingin tahu lebih jauh bagaimana arti dia untuk Minho.

“Lia tidur?”

“Gak. Aku dengerin. Ceritanya menarik. Lanjutin, Kak.”

“Seiring waktu berlalu, rasa bersalah kepada dia mulai menumpuk. Semua karena aku gak pintar mengutarakan perasaan. Aku gak tahu apa yang harus aku berikan buat dia di hari spesialnya. Tetapi satu hal, aku gak mau dia menghabiskan waktu sendirian di hari ulangtahunnya. Suatu hari, karena kecerobohanku dia harus marah-marah sepanjang hari ulangtahunnya. Aku senang dia marah-marah karena memang semestinya begitu. Meski menghabiskan waktu bersama selama 3 hari, tapi semua sangat membebaninya. Mengurus orang sakit bukan hal yang mudah.”

Lia tertawa akhirnya. Teringat kembali ketika ia tergesa di pagi hari, menggerutu sepanjang jalan dari apartemennya menuju apartemen Minho yang berjarak puluhan kilometer.

“Meskipun terpisah jarak, aku selalu dibuatnya jatuh cinta setiap kita bertemu. Aku tidak tahu seberapa berat hari-hari berikutnya, abu-abu masih mendominasi isi kepalaku tentang hari esok, tetapi dia...aku tahu aku tidak bisa tanpa dia. Kita melangkah bersama, membuka lembaran baru kehidupan. Merajut impian bersama dalam satu naungan atap.”

Kabur. Pemandangan samudera yang luas itu kabur. Angkasa berbintang pun tak lagi sejelas tadi. Oleh karena airmata yang berkumpul di pelupuk mata Lia.

“Selama menghabiskan waktu bersamanya, aku paling suka saat dia fokus menarik garis, membentuk pola, membuka majalah dari iPadnya. Dia selalu cantik. Tapi saat-saat seperti itu, dia paling cantik. Dia sudah punya impian, dia sudah menemukan kegembiraan dari dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari sebelum-sebelumnya.”

“Tetapi suatu hari mimpinya membawa pada kegelapan. Membawa pada sesal dan rasa bersalah. Dia sempat tersesat. Dia sempat tak mau pulang. Dia sempat ingin pergi. Aku berusaha mengembalikan dia. Apapun caranya aku lakukan. Tidak mudah sampai akhirnya ia kembali. Perasaan-perasaan negatif itu berangsur pergi. Mengembalikan paling tidak sebagian kecil dari senyumnya yang sempat hilang.”

Minho tahu Lia mendengarkan. Minho tahu Lia menangis. Tetapi cerita ini belum berakhir.

“Dia kembali, tetapi tidak benar-benar kembali. Dia tinggalkan mimpinya, diacuhkan, digeletakkan begitu saja teronggok bersama tumpukan-tumpukan gelap yang sempat menguasainya. Rupanya dia masih tertahan. Dia masih ragu untuk kembali. Ia kembali dengan kedua mata yang ia tutup dengan telapak tangannya. Hanya celah kecil dari sela-sela jari yang ia biarkan terbuka, sebuah upaya kecil agar ia tidak tersandung lagi padahal dia punya penunjuk arah yang berjalan di sampingnya.”

Tangisan Lia tak sanggup lagi ia tahan. Luapan emosi yang ia rasakan dari cerita Minho menyadarkannya. Tentang seberapa keras usahanya mencari impian itu. Sebarapa banyak waktu yang telah ia luangkan. Tetapi begitu saja ia abaikan karena insiden yang tak pernah ia bayangkan. Insiden ketika ia kehilangan kesempatan pertama menjadi seorang ibu.

Lia sadari insiden itu membawa pengaruh besar dalam perubahan dirinya. Minho benar, Lia belum kembali. Lia masih menghalau netranya. Ia berpura-pura kembali bukan untuk dirinya. Ia berpura-pura kembali hanya agar Minho tidak menangis lagi.

Perlahan Minho merubah posisi duduknya. Ia ingin melihat Lia hari ini. Ia ingin melihat Lia di usia barunya. Rambut yang menghalangi paras cantik Lia, ia bawa ke belakang telinga. Lia masih tersedu menunduk.

“Lia, lihat Kakak, Sayang.”

Lembut Minho usap airmata Lia di pipi. Lia dengan kedua netra yang masih merah karena menangis menatap Minho. Demi apapun, Lia tidak sanggup. Perasaan yang tak terhitung berkecamuk di dada.

“Lia, aku di sisi kamu. Aku gak di depan, aku juga gak di belakang. Aku di samping kamu. Jangan takut, ya. Aku gak maksa buat kamu mulai gambar lagi besok, tapi aku cuma mau kamu lebih hidup. Lakukan apapun Lia. Apapun yang bisa bikin kamu merasa lebih baik, aku ada di samping kamu. Aku selalu di samping kamu.”

Lia mengangguk dan kembali menangis. Minho menariknya pelan dan membawanya dalam rengkuh.

“Terima kasih sudah dilahirkan, Lia. Terima kasih karena kamu nyata ada di hidupku. Terima kasih.”


Selamat Ulang Tahun, Lia

21/07/2021