SPILL THE TEA, BUNDA...

Wajah lesu kakak sulung adalah yang pertama kali Jeje lihat begitu Minho memasuki rumah. Eksistensi Jeje yang sedang bermain game di ruang tamu sepenuhnya diabaikan. Padahal biasanya Minho akan mendekatinya dan bertingkah usil hanya supaya Jeje kalah dalam satu sesi gamenya.

“Kak Ino?” panggil Jeje—meski sedikit ragu—tepat sebelum si sulung membuka pintu kamarnya.

Minho tak acuh dan tetap membuka pintu kamar seakan tidak mendengar panggil Jeje barusan. Ada apa ini?

Seingatnya sang Kakak hari ini keluar dengan Julia. Biasanya Minho menampakkan wajah berbinar-binar dan penuh energi setiap kali selesai menghabiskan waktu dengan Julia. Aneh.

Ketika jam di dinding menunjukkan pukul 04.15, Jeje mengedarkan pandangan. Kalau seperti ini, biasanya Bunda lebih tahu. Bunda pernah bilang kalau Bunda selalu ngikutin Kakak-kakaknya kemanapun, tapi hanya Jeje yang bisa melihat meski tidak setiap saat.

“Dek, sini.” Jeje menoleh ke sumber suara. Di ujung tangga, bunda berdiri di sana memanggilnya dengan isyarat tangan.

Jeje lekas menghampiri. Namun belum sampai di lantai 2, suara pintu terbuka mencuri perhatiannya. Pintu kamar utama. Ayahnya keluar dari sana dengan ponsel di tangan. Terlihat seperti akan pergi.

“Ayah?”

“Hey, mau ikut?”

“Kemana, Yah?”

“Ke rumah Om Bam.”

Jeje menggeleng kepala sebagai jawaban. Berbincang dengan Bunda tidak bisa ia lewatkan begitu saja.

“Count me in, Yah.” Tiba-tiba Felix muncul entah dari mana membuat Jeje terkejut.

“Okay. 5 minutes to go.” Felix segera berlari kembali ke kamarnya—oh ke kamar Peter tepatnya.

“Dek, kalau lapar bilang ke kakak-kakak ya.”

“Oke, Yah.”

Jeje akhirnya kembali ke tujuan utamanya. Masuk ke kamar dan dapati Bunda tengah tersenyum lebar dan terlihat bahagia.

“Bunda kenapa ih senyam-senyum begitu?”

Alih-alih menjawab, Bunda malah tersenyum misterius.

“Bentar lagi bakalan ada kabar bahagia, Dek.”

“Kabar apa, Bun?”

“Bahagia.”

“Ihss Bundaaaaa,” rengek Jeje yang membuat Bunda gemas.

“Bunda mau ikut Ayah dulu ya, Dek.”

“Ih ngeselin nih Bunda. Tadi nyuruh aku cepet-cepet ke kamar sekarang malah ditinggal.”

Bunda sudah berdiri di ambang pintu. Namun, urungkan niatnya ketika melihat raut wajah Jeje yang ditekuk kesal.

“Prepare your cup.”

Sebuah kode rahasia yang hanya diketahui Jeje dan Bunda. Jeje berlagak membuka telinganya dan siap mendengarkan. Iya, sebuah isyarat Bunda akan membocorkan rahasia penting dari orang-orang rumah.

“Kak Minho...”

“Iya.”

“Kak Minho!”

Tak ada lagi kelanjutan. Jeje benar-benar kesal sekarang.

“Bunda spill the tea, pleaseeeeee.”

“Gak ah. Bunda gak mau kehilangan momen. Sampai besok, Dek. Nanti malam adek pasti tahu kok.”

“AAAAAAAAAAAArrrrrrrrrrrrghhhh.”


Pintu kamar Jeje diketuk beberapa saat kemudian. Sky muncul melongokkan kepala.

“Berisik banget sore-sore teriak-teriak.”

“Heheh maaf, Kak. Tapi emang kesel.”

“Mau makan? Kak Abin beli burger.”

“Iya nanti aku susul ke kamar Kak Abin.”