STARS OVER ME
Ini nyaris pukul 12 malam.
Julia hampir saja mengumpat karena personal spacenya terganggu oleh suara bel yang tak henti-hentinya ditekan oleh entah siapa di balik pintu. Namun, gadis bersurai karamel sepunggung ini malah terpaku begitu membuka pintu unit apartemennya.
Itu dia. Minho.
“Gak bener nih. Gue halu kayaknya.” Julia menampar pipinya sendiri, menggeleng beberapa kali menatap sosok adam di hadapannya.
Julia tahu memendam rindu itu kerap kali menjadikan seseorang sedikit gila. Merasa kehadirannya padahal hanya ilusi sesaat.
Tangannya ditahan sebelum ia kembali menutup pintu.
“Hei, ini beneran saya, Jul.”
Ya Tuhan, bahkan skearang ilusi pun dapat menyentuhnya. Oh apa ini? Rasa hangat yang menjalar. Dan dia memanggil “Jul”?
“Bohong.”
“Iya. Tadi siang saya bohongin kamu. Maaf yaAAAAkk, jangan cubit lengan saya dengan kuku panjang kamu, Jul.”
Julia lekas menarik Minho masuk dan menutup pintu. Giliran Minho yang kini bingung dengan tingkah tidak biasa Julia. Apalagi gadis itu kini memeluknya erat.
Selain menjadikan seseorang gila, sepertinya rindu juga merubah kepribadian seseorang.
Julia mengizinkannya memeluk itu hanya terjadi jika Minho beruntung. Apa Minho marah? Tentu saja tidak. Baginya bisa melihat senyum hingga kedua netra si gadis berubah menjadi garis lengkung sudah lebih dari segala bahagia di semesta.
Bucin. Begitu kata Changbin yang belum tahu rasanya mengejar sebuah bintang yang paling indah dari yang ada di kanvas langit malam.
Minho balas memeluk.
“Segitu kangennya ya sama saya?”
“Masih perlu jawaban?”
“Gak usah. Saya udah tahu jawabannya. Berarti saya dimaafin ya untuk bohong tadi pagi?”
Julia melepas peluk—kendati ia sadar akan menyesali keputusan itu. Tapi ia ingin menatap wajah Minhonya yang lucu saat menunggu jawaban. Berkedip lebih sering dari biasanya. Julia tertawa dan menggeleng kepala.
Gemas. Minho pusing, Tuhan.
“Belum. Belum sampai Kakak—“
“Ayo jalan!”
Kalimat Julia terpotong oleh ajakan cepat Minho yang gemas karena Julianya pun tidak yakin akan menjawab apa. Ciri khas gadis kesayangannya saat pundung akan mengajukan syarat perdamaian yang terlintas spontan saat keduanya dalam konversasi rekonsiliasi.
“Kak, jam 12 lho ini.”
“Saya besok libur.”
“Aku juga.”
“Kalau begitu biar saya bermalam—“
“Yaudah ayo!”
Minho tertawa. Tahu betul cara menggoda gadis yang kembali dia rengkuh dalam dekap.
Perbedaan profesi, perbedaan domisili tempat kerja mau tidak mau membuat keduanya harus kuat hati menjalani hubungan jarak jauh. Hubungan yang telah terjalin selama 3 tahun yang kadang masih membuat Julia bertanya-tanya.
“Kok bisa ya sama Kak Minho?”
“Iya kok dia mau ya sama lo?” Itu adalah jawaban Jisung, salah satu karib Julia. Sebuah jawaban yang akan berakhir dengan Jisung yang dipukul lengannya tanpa ampun oleh Julia. Tapi tidak pernah kapok.
Namun, ada benarnya juga si Jisung.
Apa spesialnya Julia selain sebagai anak bungsu Mama Papa yang punya suara bagus tapi tidak pintar-pintar banget. Yang kerap kali merasa kesal karena diberi label Julia adik bungsu Kak Dowoon si drummer band. Atau Julia tetangga Dokter Bangchan yang tampan pewara talkshow seputar kesehatan di tv nasional.
Thanks to Kak dokter Bangchan karena tanpa perannya, Julia mungkin tidak akan pernah bersama Minho hingga hari ini.
Bangchan, Jisung, Julia, Changbin dan kembarnya Om Jinyoung itu tetangga sejak jaman penjajahan. Antara satu keluarga dengan yang lain sudah seperti kesatuan keluarga besar. Hari itu, Mama Julia sedang masak banyak dan menyuruh Julia mengantar ke rumah Kak Bangchan. Kak Bangchan sedang ditinggal orang tuanya ke luar negeri sehingga sementara waktu urusan makannya dititipkan pada Mama Julia dan Mama Jisung sebagai tetangga terdekat,
Saat itulah Julia pertama kali bertemu Minho. Adam yang kini tengah mengendalikan setir mobil dengan lihai. Yang sedang bersenandung pelan iringi penyanyi dari pemutar musik.
Julia tidak tahu berapa kali ia bertemu dengan Minho sampai akhirnya laki-laki ini sambangi rumahnya. Bertemu Papa Mama Julia. Hari itu kebetulan Kak Dowoon turut duduk bersama di ruang tamu menyambut Minho. Julia masih ingat betapa merahnya telinga Minho hari itu ketika minta izin orangtua dan kakaknya untuk memacari Julia.
Semuanya bingung termasuk Julia yang tidak menyangka bahwa Minho menyukainya. Julia pikir dokter hanya akan menyukai sesama dokter. Atau kalaupun tidak dokter, paling tidak lebih pandai. Sementara Julia tidak memenuhi kriteria sama sekali.
Julia tidak sebodoh itu sebenarnya. Pas. Tengah-tengah. Setidaknya tidak malu-maluin banget begitu dia masuk di perusahaan Papa dan menjadi staf. Dia bisa mengikuti semua sesuai arahan karena Julia tidak malu bertanya.
“Makin dilihat kamu makin jatuh cinta sama saya nanti,” goda Minho tahu apa yang tengah Julia lakukan sedari tadi. Menatapnya dalam diam meski tidak tahu jika pikiran si gadis telah melanglang buana sampai pada temu pertama mereka.
“Emang aku gak boleh makin jatuh cinta sama Kakak?”
“Saya masih pengin hidup lebih lama, Julia. Jangan bikin saya ingin culik dan bawa pulang kamu ke rumah saya saat ini juga.”
“Hehe. Kesel ya, Kak?”
“Saya suka. Meskipun gak seperti kamu yang biasanya.”
“Sekali-sekali aku mau juga jadi luar biasa.”
“Kamu terus senyum saat ada di dekat saya itu sudah sangat luar biasa.”
“Kak.”
“Iya?”
“Aku cium ya.”
“JANGAN SEKARANG KITA BELUM SAMPAI TUJUAN.”
Julia terkekeh dapati raut panik Minho. Jadi begini ya rasanya menggoda pacar bucin. Lihat telinganya memerah membuat Julia makin tergelak. Wajahnya ia palingkan ke sisi kanan. Pandangi jalanan yang diterangi lampu.
Jika dulu Julia berpikir lampu-lampu jalan itu terlihat sendu berdiri sendiri, maka kali ini lampu-lampu itu seolah turut bahagia dengan semarak di batinnya. 3 tahun berjalan dan Julia merasa kadar sayangnya pada adam di balik kemudi ini tak menyurut. Atau malah mengembang seperti bola karet dalam minyak tanah.
Lucu. Kenapa minyak tanah? Julia kembali tertawa. Jiwa Jisung sepertinya sedang bersemayam dalam dirinya.
“Kamu oke, Jul? Saya agak ngeri kamu dari tadi senyum tertawa.”
Julia mengangguk. “Aku oke banget. Makasih ya, Kak Dokter.”
Minho mengulas senyum. Di lampu merah terakhir sebelum tujuan ia usap lembut belakang kepala Julia.
“Makasih buat?”
“Makasih udah datang malam-malam dan buat apapun.”
Sejatinya rasa terima kasih Julia lebih dari sekedar itu. Terlalu banyak sampai rasanya ia butuh 3 rim kertas HVS untuk menjabarkan hal-hal luar biasa setelah Minho ada dalam garis edarnya. Atau bisa jadi lebih dari 3 rim.
Ketika jemari keduanya bertemu, bertaut, mengirimkan kenyamanan untuk satu sama lain, Julia tahu ia telah menemukan tempatnya pulang.
[*]
“AAAAAAAARRGHH DINGIN ASIK!”
Dengan sepasang sandal dalam genggam, Julia berlarian di atas dinginnya pasir pantai malam. Tak lagi peduli pada surainya yang berantakan diterpa angin laut pukul dua pagi. Segala kegundahan pun beban yang melandanya beberapa waktu terakhir sirna bersama angin.
Kedua tangan ia rentangkan. Hadapkan diri pada laut lepas dengan mata terpejam. Menghirup dalam-dalam aroma lautan.
“Hmmm? Kak?”
Sepasang tangan kekar milik Minho melingkar sempurna di pinggangnya. Julia tidak lagi merentangkan tangan. Tangannya bergerak mengusap lembut lengan Minho lantas tautkan jemari. Julia tidak bisa menatap wajah Minho saat ini karena dipeluk dari belakang. Tapi ia bisa merasakan deru napas kekasihnya di ceruk leher.
“Capek ya, Kak?”
“Capek banget. Jadi biarin saya pakai bahunya sebentar, ya.”
“Mau selamanya juga boleh,” timpal Julia yang membuat Minho tak lagi pejamkan mata.
Tak lagi memeluk si gadis, malah berjalan ke hadapannya. Ingin lihat wajah Julianya.
“Ulang coba.”
“Apa yang diulang?”
“Barusan.”
“Barusan apa?”
“Julia jangan bercandain saya.”
Julia tertawa. Dalam hubungan ini, ia yang paling jarang mengungkapkan afeksi dalam kata-kata. Julia anti kata-kata manis. Ia lebih suka mewujudkan kecintaannya dalam aksi.
Seperti tiba-tiba hampiri Minho di kota sebelah. Meski tidak bisa bertemu saat ia datang, Minho tahu Julia baru saja masuki huniannya. Pakaian yang sudah masuk dry cleaning, selimut yang terlipat rapi, hidangan di atas meja makan lengkap dengan satu sticky note “jangan lupa dimakan ya, Dok. Atau nanti aku belah perutnya pakai scapel.” Minho tidak pernah meminta, bahkan sempat melarang.
“Aku gak suka lihat tempat berantakan. Kalau gak mau aku beresin, ya jangan diberantakin.”
“Kamu lagi kenapa?” tanya Minho masih berdiri di hadapan Julia. Kali ini ia bawa pergelangan tangan Julia dalam genggaman.
Julia menggeleng. “Aku gak kenapa-kenapa, Kak. Beneran.”
“Kamu gak biasanya terang-terangan seperti tadi.”
“Ya gak apa-apa. Emang gak boleh?”
“Boleh. Sangat-sangat boleh. Saya suka.”
[*]
Beralaskan hamparan pasir pantai, berdua Minho dan Lia duduk menatap samudera. Menikmati suara debur ombak yang menyapa bibir pantai. Lama hening menguasai keduanya. Masing-masing biarkan satu sama lain berbincang dari batin dengan laut lepas.
Minho sedikit terbelalak ketika kepala Lia tiba-tiba bersandar di bahunya.
“Gantian aku pinjam bahunya Kakak.”
“Silakan.”
Di antara hening itu ada khawatir yang sambangi. Ada gugup yang tertutup deru napas gelisah. Ada pikiran yang melanglangbuana pada masa depan yang masih serupa bayangan.
Ketika orang-orang berkata bahwa masa depan adalah hasil dari yang dilakukan hari ini, Minho berpikir bisakah Julia jadi masa depannya? 3 tahun telah dilewati, dan hari ini pun Julia masih disini. Masih bersandar di bahunya. Masih membuatnya jatuh cinta setiap hari.
Minho tidak pernah menyesal pada bagaimana hidupnya. Bahkan ketika ia gagal jadi lulusan terbaik untuk medical study-nya—sebagaimana yang ia impikan di hari pertama kelas etika kedokteran—ia tidak menyesal. Satu hal yang dia sesali adalah tidak bertemu Julia lebih cepat.
“Gak ada yang bisa menjamin bakalan ada kebaikan kalau kita ketemu jauh sebelum aku anter sayur ke rumah Kak Bangchan. Ini tuh udah paling tepat, Kak.”
“Kak.”
“Jul.”
Berdua saling menatap lantas menertawakan diri masing-masing. Memanggil di waktu yang sama seakan tahu ada yang masing-masing ingin utarakan.
“Apa Kak?”
“Julia dulu.”
“Gak apa-apa sih. Habisnya Kakak diam. Aku kira tidur.”
“Saya lagi nyari Milky Way.”
“Aku udah ketemu dari tadi dong.”
“Mana?”
“Itu.”
Julia menunjuk pada sekumpulan kabut tipis di langit. Bertabur bintang serupa pasir. Meskipun sudah menjauh dari kota, tetap saja tak bisa nampak dengan jelas. Lain waktu Julia berharap Minho membawanya ke lembah agar dapat menikmati pemandangan gugusan bintang itu dengan lebih indah.
“Cantik.”
“Iya. Tapi kurang begitu jelas. Kak Minho kelihatan gak?”
“Kelihatan.”
“Cantik kan?”
“Cantik. Julia cantik.”
Lia diam tak lagi menengadah ke langit. Tolehkan kepala dan dapati Minho yang sedang menatapnya. Sorot lembut yang kerap Julia temukan di saat ia tersenyum. Julia selalu menerka, apakah senyumnya segitu membuat Minho hanyut?
“Malah gombal ih. Tadi nanyain Milky way.” Julia menepuk pelan bahu Minho membuat si Adam tertawa.
“Milky way saya disini.”
“Dimana?”
“Ini.” Minho menunjuk pada Lia. Membuat si gadis tersipu dan kembali menengadah temui milky way.
Ada apa dengan hari ini?
Julia kerap kali merasa takut setiap dilanda bahagia bertubi-tubi. Tapi ketakutan itu lekas sirna begitu ia mengingat kembali apa yang terjadi padanya di kantor seminggu terakhir ini. Semua begitu melelahkan. Julia bisa mengatakan bahawa minggu ini adalah minggu terproduktifnya selama menjadi pegawai kantor Papa.
Pada hakikatnya hidup memang seperti itu. Baik buruk. Sedih senang. Suka duka. Perasaan demi perasaan itu datang silih berganti tanpa pernah bisa diterka. Julia pernah membaca buku yang memaparkan bahwa sejatinya apa-apa yang akan terjadi pada manusia selalu diberi pertanda oleh Tuhan lewat alam semesta. Hanya saja tidak semua manusia memiliki kepekaan yang sama untuk berbincang dengan semesta
Termasuk Julia yang masih merasakan hangat di pipi meski tubuh rampingnya mulai goyah menahan dingin angin laut. Rasa dingin yang perlahan menjalar berangsur hilang begitu Minho menyampirkan jaketnya di punggung Julia yang duduk memeluk lutut. Kepala bertumpu di lutut Julia menoleh pada kekasihnya dengan seulas senyum terpatri di wajah tampannya.
Julia mungkin jarang memuji bagaimana indahnya senyum Minho. Tapi Julia selalu berharap ia bisa menjadi alasan senyum itu terus ada. Atau kalaupun bukan dia alasannya, ia ingin terus bisa melihat senyum indah Minho.
“Kakak ganteng banget kalau senyum.”
“Saya tahu. Kalau seperti ini masih ganteng?”
Senyum Minho berganti menjadi senyum jenaka menyebalkan yang membuat Julia gemas. Senyum tidak ikhlas yang biasa ia ulas pada Bangchan setiap kali Bangchan mengeluhkan kecerobohan Minho. Atau bisa juga waktu Minho enggan ikut Changbin duduk setor wajah di coffeeshop karena sedang menghabiskan waktu dengan Julia. Atau ketika dipaksa kembar Hwang foto bersama.
Gemas. Lucu. Julia gila sekarang.
Kini keduanya tak lagi menatap lurus di gelapnya samudera. Bersisian memeluk lutut, menumpu kepala di atasnya dan saling menatap satu sama lain. Masih tak ada yang bisa dijadikan bahan obrolan. Sekedar mengirimkan afeksi dari netra yang menyapa.
“Julia?”
“Hmm?”
“Nikah sama saya, ya?”
“Iya.”
“Iya?”
“Iya.”
“Kok iya?”
“Emang harus gimana?”
Minho mengedikkan bahu. Lantas tawa ringan mulai mengisi ruang di antara keduanya.
“Kalau semudah ini harusnya saya bilang dari kemarin-kemarin ya.”
Julia menggeleng. “Belum tentu kemarin-kemarin bakalan langsung aku jawab, Kak.”
“Gitu?”
“Iya.”
“Jadi?”
“Iya.”
“Iya apa?”
“Nikah sama Kak dokter.”
“Bangchan?”
“Dokter Bedah Anak, Lee Minho.”
Bernaung langit di penghujung malam itu, Minho akhirnya berhasil utarakan resahnya. Hal yang paling membebaninya selama beberapa waktu terakhir. Ketakutan yang selalu hampiri di waktu luangnya. Ketakutan tak berdasar tentang perasaan Julia bila telah hilang. Ketakutan jika ia pernah tak sengaja melukai hati seseorang dan berimbas Julia tidak akan pernah menghiasi masa depannya.
Julia mungkin tidak sedewasa kebanyakan perempuan lainnya. Minho tahu betul seperti apa keluarga Julia—dan dia betul-betul nekat akan membawa anak gadis kesayangan orangtuanya ini pergi. Tanggung jawab sebesar apa di depan nanti, Minho sudah bisa membayangkan. Menakutkan. Bayangan memang menakutkan karena gelap. Tapi Julia akan menjadi cahaya di jalannya.
“Kakak udah bilang ke Papa?”
“Sudah.”
“Kapan?”
“Sebulan? Waktu saya diam-diam hampirin kamu tapi kamu malah pergi dengan Yeji.”
Lia terbelalak. teringat kembali hari dimana ia benar-benar lelah dengan pekerjaannya dan mengajak Yeji berbelanja di akhir pekan. Ia sudah pamit pada Minho, tapi saat ia pamit Minho sudah dalam perjalanan. Keduanya pun bertemu di minggu berikutnya dan Minho baru ini memberitahunya bahwa hari itu ia datang ke rumah.
“Kak, maaf. Kenapa kakak gak bilang?”
Minho mengulas senyum. “Kalau hari itu kamu gak pergi dengan Yeji saya belum tentu berani menyampaikan hal ini ke Papa kamu.”
Julia tertegun. Mencari kebohongan pada sorot Minho dan nihil. Julia sadar ia tidak pernah begitu baik dalam menjalin hubungan. Ia tidak yakin pernah memberi bekas yang baik dalam hidup orang-orang yang pernah ada dalam cerita asmaranya.
Bertemu Minho dan dicintai sebegininya oleh adam ini membuat Julia berpikir mungkin ini adalah doa yang dipanjatkan sang ibu di penghujung malam. Mungkin ini pengharapan orangtuanya agar ia tetap bersama seseorang yang dapat menjaganya dengan baik bahkan jika ia tak lagi tinggal bersama keluarganya. Julia mungkin bukan umat-Nya yang taat, tapi ia percaya bahwa Tuhan akan menjawab permohonan seorang ibu tentang anaknya.
“Kak.”
“Iya.”
“Aku udah lihat galaksiku.”
Minho menunjuk dirinya. Julia mengangguk. Keduanya melepas tawa lantas mempertemukan jemari dalam genggam.
“Julia siap?”
Tanpa ragu Julia mengangguk. “Aku siap.”
09032021