Waktu Lagi Sedih [1]

Bangchan x Sana

Sana yakin ia sudah mengirim pesan pada suaminya bahwa tidak perlu datang—apalagi sampai membawa serta Jio ke rumah sakit jam 10 malam. Untuk beberapa hari ini keduanya terpaksa berbagi tugas karena Aira—putri sulung mereka—harus dirawat di rumah sakit akibat diare. Lepas kontrol makan makanan sembarangan sewaktu Sana meninggalkan keluarga kecilnya ini selama seminggu untuk pekerjaan di luar kota.

“Jio kangen bunda katanya.” kata Bangchan, suaminya.

“Jio atau ayahnya?”

“Dua-duanya.”

Bangchan menepuk pelan punggung Jio yang masih dalam gendongannya. Sana yang semula ketiduran setelah menyuapi Aira makan malam dan obatnya kini telah sepenuhnya sadar. Ia mengulurkan tangan mengambil alih Jio yang ia rindukan.

“Kasihan anak bungsu, Bunda. Maaf ya, Nak. Bunda masih harus ngurus kakak dulu.” Sana mengecup pipi tembam si bungsu yang tidak terusik tidurnya. Menimang selama beberapa saat sebelum membaringkannya di extra bed yang biasa ditempati Sana.

Setelah Sana melepas rindu pada si bungsu, giliran Bangchan yang tak mau kalah. Ia rentangkan tangan menyambut tubuh Sana yang kini dipeluknya erat.

“I miss you.”

“Kita ketemu tiap hari, Chan.”

“Tapi cuma bentar banget. Gak puas.”

Bangchan tau bagaimana perasaan Sana apalagi sebagai ibu. Hari ketika Aira masuk rumah sakit adalah hari dimana Sana baru saja menginjakkan kaki di rumah. Bangchan masih ingat betul bagaimana paniknya Sana malam itu. Wajah pucat Aira malam itu yang kekurangan cairan membuat Sana tak dapat membendung air mata. Ia terus menangis di pelukan Bangchan sampai dokter merilis diagnosanya.

Lelah fisik dan psikis oleh kerjaan diabaikan Sana sepenuhnya. Yang ada di pikirannya hanya Aira dan bagaimana agar putrinya lekas sembuh. Tiga hari terakhir ini sirkadiannya berubah oleh karena ia sendiri yang menjaga Aira. Sorot lelah di paras cantiknya sangat jelas tergambar. Di akhir pelukan, Bangchan mengecup keningnya.

“Aku tahu kamu makannya gak teratur. Tapi karena kondisi Aira udah membaik, sekarang makan dulu.”

Sana menggeleng. “Ini udah jam 10 lhoo.”

“Kamu gak kasihan sama Mama yang udah masakin ayam bumbu pedes buat kamu?”

Sana terbelalak. Sebuah reaksi keterkejutannya. Semakin terkejut ketika sang suami kini tengah melakukan unboxing kotak makan yang berisi ayam bumbu pedas. Masakan mertua yang menjadi kesukaan Sana. Satu menu yang menjadi stress-healing favoritnya.

“Kata Mama 'Enak punya menantu kayak Sana tuh, gak pernah minta makanan macem-macem. Dimasakin ayam bumbu gini aja udah bungah' gitu.” Bangchan menatap Sana yang masih terpaku berdiri di tengah ruangan. “Nungguin apa?” tanyanya yang dijawab gelengan oleh Sana.

“Gak apa-apa aku makan ini? Tapi Aira—”

“Gak apa-apa.” Bangchan agaknya sedikit tidak sabar. Dilihat dari bagaimana saat ini ia menuntun paksa sang istri untuk duduk serta di sofa bersamanya. “Makan gak bikin kamu jadi ibu yang jahat. Kalau kamu mau Aira cepat sembuh, kamu juga harus kuat,” lanjutnya.

Kata-kata Bangchan rupanya cukup membuat Sana terharu. Pandangan terpaku pada suaminya yang sibuk mengatur makanan di meja.

“I might be swallowed if you keep staring at me,” ujar Bangchan yang membuat Sana tertawa kecil.

“Pantes ya banyak yang iri sama aku.”

“Why?”

“Because you're my husband, my longlife partner, my best friend for—CHAN!”

Bangchan tergelak setelah mendaratkan satu kecupan tiba-tiba di bibir Sana.

“Cerewet banget. Ayo makan dulu. Recharge.”

Kendati satu dekade telah dilalui berdua, tetapi tak sedikitpun mengurangi rasa cinta satu sama lain. Dan karena sudah selama itu pula, Bangchan hafal betul cara meredakan stress pun meluruhkan kesedihan Sana.

“Makasih ya.”

—end—