Waktu Lagi Sedih [2]

Lee Know x Lia

Minho tahu ini salah. Tetapi lebih salah lagi jika ia tidak mengambil tindakan.

Lia baru saja masuk ke kamar mandi setelah membuang asal iPadnya di kasur. Mengundang rasa penasaran Minho yang beberapa hari terakhir ini merasakan hawa kurang mengenakkan dari sang istri. Kendati mereka sudah menjadi pasangan suami istri selama 5 tahun, bukan berarti Minho bisa seenaknya mengusik teritori pribadi Lia tanpa seizinnya. Namun kali ini sepertinya Minho harus melanggar peraturan tidak tertulis itu. Ini sudah lewat dari batas hari dimana Lia akan bercerita dengan sendirinya mengenai masalah yang dia hadapi.

Begitu Minho menilik iPad sang istri, ia akhirnya mengerti mengapa Lia tidak berbagi padanya. Sebab rupanya ia sendiri adalah salah satu alasan mengapa Lia terlihat tertekan.

Dari perspektif Minho, menikahi Lia sangat-sangat beruntung. Sementara dari sisi Lia...cukup berat. Apa ya kata orang-orang? Serakah?

Seolah belum cukup dengan paras cantik, pribadi santun, keluarga kaya raya, kini ia bersuami dokter yang kerap mengisi kuliah umum dan seminar karena kepiawaiannya memberikan pemahaman perkara medis. Dan semua pencapaian—yang Lia sendiri pun tak pernah menyangka—berujung pada selorohan kurang mengenakkan tentang brand fashion yang ia dirikan 3 tahun terakhir ini.

Privilege? Benar. Lia tidak memungkiri bahwa ia bernapas bersama hak istimewa. Tapi bukan berarti ia tak bisa berkarya lho. Minho berani bersaksi paling depan bagaimana malam-malam panjang yang dilalui Lia setiap kali ia menerima permintaan design meskipun ia punya bawahan. Ditambah ia masih harus mengurus Jiho—putri pertama mereka yang kini berusia 4 tahun.

“Papi papi temenin Jiho gambal....”

Karena terlalu fokus pada iPad, Minho sampai tidak sadar putri kecilnya diam-diam masuk kamarnya dan kini menarik-narik ujung lengan kaosnya.

“Ayo. Mau gambar dimana?” Minho mengangkat tubuh kecil Jiho dalam gendongannya.

“Di sini aja ya di kamal Mami Papi.”

Mengingat Lia yang terlihat kurang baik, Minho pun menolak permintaan putrinya.

“Di kamar Jiho aja ya. Mami lagi capek banget biar bisa bobo.”

“Oke Papi.”


Suara tawa samar-sama masuki rungu Lia. Kedua netra yang masih kesulitan terbuka berusaha beradaptasi pada cahaya matahari yang menyorot dari jendela kamarnya.

“Hah? Ini jam berapa?”

Lia akhirnya tersadar waktu tak lagi subuh. Lebih-lebih mendapati sisi lain ranjangnya yang kosong. Ia bahkan tidak tahu pukul berapa Minho kembali ke kamar setelah menemani Jiho bermain. Atau malah suaminya tidak kembali dan tidur di kamar putri mereka.

Lia memang kelelahan. Pun akhir-akhir ini ditempa masalah kurang mengenakkan yang membuatnya stress dan tertekan. Ia juga belum sempat bercerita pada Minho karena merasa sendirinya masih sanggup—padahal tak terhitung sudah berapa kali ia menangis sendirian minggu ini tanpa Minho tahu.

Pakaian tidur telah berganti pakaian rumah santai. Suara tawa yang diduganya bersumber dari Minho dan Jiho semakin jelas tedengar seiring langkahnya menuruni satu persatu anak tangga.

“Ya ampun kalian ini ngapain?”

Betapa terkejutnya Lia mendapati Minho dan Jiho di dapur. Wajah dan apron belepotan oleh krim dan tepung.

“Selamat pagi, Mami. Jiho bikin kue baleng Papi.”

Entah sejak kapan keduanya berkutat di dapur. Sebab saat ini Jiho masih mengenakan piyama tidur bermotif kelinci kesukaannya di balik apron.

“Aduan yuk? Punyaku udah di oven. Kamu kan lebih jago kalau kue begini. Tapi kayaknya hari ini kamu kalah deh, Mi.”

Sambutan panjang lebar dari Minho ternyata membangkitkan jiwa kompetitif Lia. Ia yang awalnya kesal karena dapurnya berantakan entah mengapa justru tertantang untuk melawan sang suami—yang memang lebih pandai memasak darinya. Kecuali dessert. Itu bidang yang Lia kuasai.

“Jangan over pd dulu, Pi. Jiho, nanti jadi juri ya.”

“Juli apa, Mi?”

“Juri itu yang ngasih nilai. Nanti Jiho coba kue papi sama kue mami enakan mana, oke?”

“Oh gitu. Oke.”

Dan sepertinya Lia tidak bisa dengan mudah menuntaskan proses membuat kuenya. Jiho yang terus bermain dengan tepung, Minho yang usil mengambil sedikit krim dan dioleskan di pipi Lia.

Agak ribet. Tetapi entah mengapa Lia jadi lupa akan permasalahan-permasalahan yang dialaminya akhir-akhir ini. Ia pun jadi teringat bahwa selama ditempa masalah, ia jarang berbincang dengan Jiho—yang cerewetnya bukan main. Dan saat ini sangat menyenangkan mendengar putri kecilnya terus berbicara meski masih kaku melafalkan 'r'.

“Waktunya penilaian.”

Untuk pertama kalinya di weekend keluarga Minho tidak ada yang mandi pagi hingga pukul 10. Malah sudah mengobrak abrik dapur untuk 2 kue yang kini sudah tersaji dengan baik di meja makan. Masing-masing Minho dan Lia menyiapkan satu slice kue mereka untuk Jiho.

“Punya papi enak, punya mami juga enak.”

“Yang lebih enak?” tanya Minho meminta Jiho memilih.

“Mami. Ada stobeli.”

“Yeaay.” Lia bersorak sorai. Menepuk-nepuk punggung Minho mengejek.

Sarapan keluarga kecil ini 2 loyang kue tart. Sangat aneh memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Pagi ini adanya baru itu.

Jiho yang memang bangun lebih awal hari itu—Minho membangunkannya pagi-pagi untuk belanja bahan kue—langsung terlelap setelah mandi. Sementara Minho dan Lia menghabiskan waktu di ruang tengah menonton film.

“Udah mendingan?” tanya Minho yang berhasil mengalihkan fokus Lia.

“Konteks?”

“Aku tahu, kamu ada masalah. Tapi lagi mode pelit karena gak mau dibagi.”

Lia tersenyum menatap Minho. Lantas merubah posisi duduknya. Menyandarkan kepala di bahu sang suami.

“Bukannya pelit. Aku cuma gak dapet timing. Tapi iya mendingan. Maaf ya aku akhir-akhir ini jadi jarang merhatiin Jiho juga.”

Minho mengusap lembut surai Lia. “Gak apa-apa. Gak perlu minta maaf. Tapi gak boleh diem-diem lagi. Kalau dibagi sama aku kan kita bisa cari jalan keluarnya bareng-bareng. Kamu gak susah sendiri. Iya kan?”

Lia mengangguk. “Makasih ya, Kak.”

Dan mendaratkan satu kecupan di pipi yang membuat telinga Minho terbakar.

—end—