Waktu Lagi Sedih [3]

Changbin x Jisun

“Bin.”

“Hmm.”

“Mau nanya boleh?”

“Boleh. Nanya apa?”

“Kamu...kamu nyesel gak jalan sama aku? I mean...iya kita kan bentar lagi nikah nih tapi kali aja kan ada penyes—”

“Gak.”

“Gimana?”

“Gak ada, Jisun. Aku gak pernah nyesel ketemu kamu.”

“Oh....oke deh.”

Percakapan itu berakhir begitu saja. Sebuah pertanyaan yang tak pernah Changbin duga rilis dari bibir Jisunnya yang selalu penuh percaya diri. Yang hari-harinya selalu memiliki motivasi setinggi langit. Ya sekali dua kali Jisun juga pernah loyo, tapi tidak sampai membuatnya murung berhari-hari.

Sebab kali ini, Changbin sadar bahwa Jisun lebih sering melamun. Bahkan saat fitting gaun tadi pun pandangannya kosong. Apa mungkin ini salah satu bentuk ujian untuk pasangan yang akan menikah? Entahlah...

“Kamu gak cocok overthinking,” celetuk Changbin yang tidak menerima tanggapan. Sebab yang diajak bicara malah menatap kosong jalanan dari jendela.

“Jisun.” Di lampu merah Changbin tepuk pelan bahu Jisun. Si gadis tersentak dan menoleh.

“Eh...iya? Kenapa Bin?”

Changbin menghela napas. “Kamu yang kenapa.”

“Aku gak apa-apa kok...iya.”

“Kamu berharap aku percaya?” Intonasi suara Changbin terdengar lebih serius.

“Enggak...” jawab Jisun lirih. “Oke, iya aku lagi apa-apa,” lanjutnya. Paham betul kalau Changbin kini telah mengaktifkan mode tidak-bisa-dihindari-apalagi-diberi-jawaban-omong-kosong.

Mobil kembali melaju setelah lampu lalu lintas berubah hijau. Changbin membiarkan Jisun mengatur pikiran sebelum bercerita. Ia tidak lagi mengajukan tanya sebab ia yakin Jisun sudah paham apa yang diinginkannya saat ini.

“Well...aku sebenernya gak mau ambil pusing sih. Tapi entah kenapa malah jadi kepikiran padahal gak pengen dipikirin.”

“Terus?”

“Yaudah makanya aku nanya kamu gitu...”

“Kenapa kamu sampai nanya aku kayak gitu?”

“Kamu ketawa gak nanti?”

“Mau aku ketawain sekarang aja?”

“Ih jangan dong. Soalnya lucu banget aku kepikiran omongan orang. Padahal biasanya juga enggak.”

Changbin betulan tertawa, Bukan meledek, tapi penampakan wajah kesal Jisun itu lucu banget. Apalagi sekarang puan itu menghadapkan tubuhnya ke arah Changbin dan menumpu kepalanya dengan lengan di sandaran kursi. Membuat Changbin bisa dengan jelas melihat parasnya saat sesekali menoleh.

“Kan aku baru spoiler gitu aja udah diketawain.”

“Kamu gemes kalau lagi kesel.”

“Udah gila.”

Kali ini Changbin benar-benar tergelak. Hey ia bukannya tidak peka, ia hanya ingin membantu Jisun meluruhkan pikiran-pikiran tidak perlu yang mengganggunya. Sampai akhirnya sebuah ide muncul seketika.

Matahari di ufuk timur telah mengusaikan tugasnya. Perjalanan pulang yang semestinya lurus ke barat, Changbin belokkan ke arah selatan.

“Kok belok?”

“Ayo nyobain rumah baru. Kolamnya udah jadi.”

“Apaan sih aku gak bawa baju ganti lhooo.”

“Baju aku udah ada yang di sana. Mampir minimarket aja kalau nyari—oh gak perlu. Aku udah beliin beberapa pasang di sana.”

Jisun mendelik. Menatap kekasihnya penuh selidik. Sementara Changbin hanya menyeringai dan mengedipkan sebelah mata.

Malam-malam musim panas memang cukup panas. Dan Changbin rasa tidak ada salahnya menghabiskan waktu berendam di kolam renang yang baru selesai dibuat sekitar 2 minggu lalu. Kolam renang yang letaknya di halaman berlakang rumah yang akan ia dan Jisun tempati setelah menikah nanti.

Selain uji coba kolam renang baru, maksud dan tujuan Changbin mengajak Jisun kemari adalah untuk meluruhkan pikiran-pikiran negatif yang mengganggunya. Syukur-syukur kalau Jisun akan berbagi sendiri kegelisahannya.

Tapi ya...Jisun selalu begitu. Ketika perasaannya membaik, ia akan bercerita sendiri.

Seperti saat ini. Keduanya duduk di bibir klolam dengan kaki terendam air. Menatap langit malam bertabur bintang yang hanya dapat samar-samar terlihat oleh karena cahaya dari lampu taman yang lebih benderang.

“Kata orang, selera kamu menurun.” Jisun memulai cerita.

“Siapa yang bilang gitu?”

Jisun menatapnya. Melempar senyum tipis. “Ada lah pokoknya.”

“Kamu dengar sendiri?”

Jisun mengangguk. “Mereka gak tahu aku dengerin omongan mereka. Tapi aku lebih gak nyangka ternyata itu jadi beban pikiranku akhirnya.”

Changbin merapatkan duduknya dengan JIsun agar bisa merangkul puannya. Menyandarkan kepala JIsun di bahunya lantas mengusap lembut lengannya.

“Susah juga ya pacaran sama laki-laki yang punya sejarah asmara sama orang-orang luar biasa. Akunya jadi keliatan biasa banget padahal aku sayang sama diriku sendiri.”

“Itu poinnya.”

“Apa?”

“Kamu sayang sama diri kamu sendiri itu udah paling luar biasa dari siapapun termasuk 'mereka'. Kamu percaya diri, kamu juga gak pernah jahat sama diri kamu, kamu tahu apa yang kamu bisa, kamu tahu mana yang kamu mampu, kamu mandiri. Kamu luar biasa dengan cara kamu.”

Jisun membebaskan diri dari rangkulan Changbin untuk menatap wajah kekasihnya. Lantas mendaratkan satu kecupan singkat di pipi.

“Kamu cerewet banget.”

“Aku lagi serius lho, Jisun,” sergah Changbin meski telinganya kini sudah merah hingga mengundang gelak tawa dari Jisun.

Changbin ikut tertawa. Sedikit menundukkan tubuh ke kolam untuk kemudian menciprati Jisun dengan air.

“Changbin!!”

Jisun yang kesal langsung mendorong Changbin ke kolam. Tapi tangan Changbin tak kalah cepat menarik serta pergelangan Jisun hingga keduanya tercebur dan tertawa bersama.

“Masih sedih gak?”

“Aku gak sedih.”

“Iki gik sidih. Tapi melamun 3 hari.”

Jisun yang malu hanya bisa menciprati Changbin dengan air. Tetapi reaksi Changbin lebih cepat untuk menghindar.

“Hehe. Ya gimana ya. Orang-orang itu ada benernya sih. Tapi yaudahlah karena kamu bilang aku luar biasa, jadi oke aku percayanya yang kamu bilang.”

“Lagian Mantan-mantan aku juga sudah bahagia sama hidup mereka. Sekarang aku juga bakalan lebih bahagia. Bahagia sama kamu. Iya kan?”

Jisun mengangguk. “Makasih ya.”

Bermain air antara Jisun dan Changbin tidak berakhir sesingkat itu. Sebab keesokan harinya berdua sama-sama diserang flu.

—end—