Waktu Lagi Sedih [4]
Hyunjin x Ryujin
“Hunting yuk?”
Weekend ini, pasangan pengantin baru Hyunjin Ryujin tidak memiliki rencana apapun. 2 bulan pertama setelah hari besar itu, keduanya kerap menghabiskan akhir pekan dengan berlibur ke tempat-tempat jauh. Sesekali mengunjungi sanak saudara satu sama lain agar semakin dekat dan akrab antar keluarga. Atau bahkan menghadiri acara-acara kecil yang diadakan teman-teman.
Ini sudah masuk bulan ketiga setelah menikah. Dan minggu kedua dimana sejoli ini hanya menghabiskan waktu bergelung di rumah. Lelah juga 2 bulan kemarin seolah tak pernah ada kata rehat. Satu minggu benar-benar penuh terisi tetapi tidak ada penyesalan.
Sementara ajakan tiba-tiba Hyunjin untuk hunting pun bukannya tanpa alasan. Ia paham Ryujin sangat suka tempat-tempat cantik dan berharap ajakan ini akan diamini sang istri untuk memperbaiki suasana hatinya yang kurang baik.
“Tiba-tiba banget,” Ryujin yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi merespon dengan kerutan di kening. Lantas berjalan mendekat dan duduk di sisi kosong sofa bed yang ditempati Hyunjin.
“Ya gak apa-apa. Kamu kelihatan kurang baik. Barangkali kalau jalan-jalan bisa membaik.”
“Aku ketebak banget ya?”
Hyunjin menatap Ryujinnya lantas mengusak surai yang muda. “Kita pernah berantem gara-gara ketularan mood satu sama lain. Aku gak mau ketularan juga sekarang.”
Ryujin terkekeh. Kembali mengulas dalam memori gambaran peristiwa ketika ia dan Hyunjin bertengkar hebat saat pacaran dulu. Semua bermula ketika Ryujin sedang dalam kondisi mood terburuk oleh karena pengajuan judul karya ilmiahnya ditolak karena tidak relevan dengan pembahasan. Sementara Hyunjin yang semula baik-baik saja ikut memburuk suasana hatinya oleh karena Ryujin yang meledak-ledak.
Namun, keduanya sama-sama belajar dari insiden itu. Hyunjin meminta maaf keesokan harinya sementara Ryujin menangis dalam pelukannya.
Setengah jam kemudian keduanya sudah di dalam mobil setelah berkemas singkat peralatan dan perlengkapan yang perlu dibawa bersama dalam hunting dadakan kali ini. Di dalam mobil, Hyunjin tidak membiarkan suasana sepi. Ia nyalakan pemutar musik untuk keduanya menikmati perjalanan. Sesekali Ryujin ikut bersenandung. Indikasi awal bahwa moodnya perlahan membaik.
Perjalanan itu membawa keduanya pada tujuan akhir sebuah danau yang dikelilingi pepohonan dan bukit. Tepat pukul 4 sore saat keduanya tiba di sana sehingga hanya butuh waktu tak lebih dari 2 jam menanti matahari terbenam untuk Hyunjin abadikan dalam kameranya.
Sementara menanti sang surya pamit, objek sementara adalah istrinya sendiri. Ryujin menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Hyunjin tidak perlu memintanya berpose begini begitu karena Ryujin sendiri lebih menyukai hasil foto Hyunjin saat diam-diam memotretnya.
“Hyun, kaget!” pekik Ryujin ketika matanya terpejam dan Hyunjin melingkarkan kedua tangan di pinggang yang muda. Memeluknya dari belakang.
Hyunjin terkekeh. “Maaf maaf.”
Karena Ryujin lebih pendek, Hyunjin dengan mudah mengecup puncak kepala Ryujin berulang kali. Membuat Ryujin terkikik geli tetapi sangat menyukainya.
“Wangi,” puji Hyunjin.
“Aku keramas tadi pagi.” Ryujin menautkan jemarinya dengan milik Hyunjin. Telapak tangan Hyunjin besar dan itu membuat Ryujin selalu merasa aman setiap kali keduanya menautkan jemari.
“Kamu kenapa sedih?”
Satu tanya Hyunjin membuat Ryujin sadar bahwa kegelisahannya akhir-akhir ini belum sempat ia bagi dengan sang suami. Saat ini mereka sudah hidup bersama, ia tentu saja tak dapat menyembunyikan dengan mudah kesedihan yang menimpanya. Tetapi ini...menurutnya bukan masalah besar bagi Hyunjin. Oleh karena itu, ia urung memberitahukan suaminya karena ya...ia rasa ia masih bisa menyimpan sendiri.
“Aku udah telat seminggu. Tapi aku cek lagi ternyata masih satu garis.”
Dugaan Hyunjin benar. Saat Ryujin berbenah tadi, ia sengaja mendekati tong sampah di depan kamar mandi. Mengambil alat tes yang masih menampakkan satu garis di sana. Hyunjin paham betul betapa besar inginnya Ryujin menjadi seorang ibu. Setiap mendekati tanggal menstruasi, ia menaruh harap tinggi bahwa hari merah itu tak pernah datang.
Sayangnya 2 bulaa berturut-turut mereka datang tanpa pernah Ryujin harapkan.
“Gak apa-apa. Kita bisa coba lagi. Kita kan sama-sama sehat.”
“Iya sih….”
Tidak ada tuntutan dari pihak sekitar keduanya. Justru sumbernya dari Ryujin sendiri yang memang berharap langsung mendapat kepercayaan dari Yang Maha Kuasa.
“Kayaknya ilmu kita belum banyak gak sih makanya belum dikasih kepercayaan?”
“Atau aku yang terlalu maksa mintanya jadi malah gak dikasih.”
“Hhushh.. bukan enggak. Tapi belum.”
Hyunjin mengusap lembut ibu jari Ryujin yang ada di genggamannya. Berharap dengan itu ia dapat memberikan ketenangan hati untuk Ryujin.
“Kamu gak marah kan misalkan kita dikasihnya telat?”
“Kenapa aku mesti marah, Ryu? Harusnya aku gak sih yang bilang gitu ke kamu? Misalkan kita dikasihnya telat, kamu bakal marah gak sama diri kamu sendiri?”
Ryujin terdiam berpikir. Ia sendiri tidak tahu. Siapa yang pantas disalahkan kalau memang harus begitu. Sementara perkara ini sifatnya abstrak. Tergantung bagaimana usaha dan doa mereka agar menerima kepercayaan Tuhan bahwa mereka mampu menjadi orangtua untuk anak titipan-Nya.
“Ryu...aku gak bisa melarang kamu sedih karena itu perasaan kamu. Tapi aku mau kamu jangan jahat sama diri sendiri, Kita tetap berdoa dan berusaha berdua, kita belajar lagi bersama dan yakinin diri kita kalau kita memang sudah siap untuk kehadiran ciptaan Tuhan yang baru di antara kita.”
Entah itu karena kata-kata dari Hyunjin, atau pemandangan sang surya yang perlahan bergerak turun pamit pada Bumi yang telah ia sinari seharian menghadirkan ketentraman dalam batin Ryujin. Ia memang sedih karena bulan ini ia masih gagal, tapi Hyunjin ada benarnya. Kalau ia jahat pada dirinya hingga membuatnya tertekan, yang ada ia malah jadi tidak sehat.
“Mataharinya terbenam.”
“Iya.”
“Gak jadi kamu ambil fotonya?”
Masih memeluk Ryujin dari belakang dan mengecup puncak kepala kecintaannya itu, Hyunjin menggeleng. “Aku ke sini cuma biar kamu ngerasa lebih baik kok.”
Bagaimana mungkin Ryujin tidak tersentuh dengan usaha suaminya ini? Hyunjin yang dulu balas bad mood saat ia bad mood telah terabadikan dalam memori bersama masa mudanya. Yang kini ada di sampingnya dan akan terus menjadi pendamping hidupnya adalah Hyunjin yang telah mendewasakan diri bersama waktu dan setiap jengkal langkahnya bersama Ryujin.
Ryujin berbalik. Menatap Hyunjin tepat di mata. Mengulas senyum sebelum mengecup singkat bibir Hyunjin. “Terima kasih, Hyun.”
—-end—