Waktu Lagi Sedih [5]
Han x Chaeryeong
Han Jisung tentu saja sudah hafal di luar kepala berbagai emosi yang ditampakkan Chaery. Sebagaimana hari ini gadis yang lebih muda darinya itu terlihat sendu, sudah dapat dipastikan bahwa sesuatu telah terjadi hingga membuatnya sedih.
Sepulang mencari cincin lamaran, Jisung membawa Chaery mampir di salah satu rumah milik Changbin. Changbin memang punya beberapa rumah omong-omong, dan yang satu ini Han pinjam karena di halaman belakangnya ada ayunan gantung di bawah pohon.
Romantis cocok buat nyanyiin sebait lagu buat Chaery. Begitu katanya.
Iya, satu hal yang biasa Han lakukan setiap kali Chaery merasa sedih adalah menyanyikan lagu sembari bermain gitar. Chaery itu tidak pernah lama sedihnya. Asalkan sudah bercerita, mendengarkan sebuah lagu pun ia bisa kembali tersenyum.
Karena bagi Han, senyum Chaery itu candu dunia. Manis banget. Manisan buah kalah manis dari senyum Chaery. Jadi dia ingin Chaery selalu tersenyum meski kehidupan manusia pasti punya fase naik dan turun. Tapi paling tidak, fase turun berwujud kesedihan itu tak akan berlangsung lama.
“Rumahnya Kak Changbin bagus. Apa kita beli rumah ini aja ya, Kak?” usul Chaery ketika Han selesai memarkir mobil di garasi dan turun menyusulnya yang sudah lebih dulu berdiri di depan pintu utama.
“Boleh. Barangkali kita bisa dapat harga teman. Iya kan?” Ide Jisung malah mendapat hadiah cubitan kecil di perutnya.
“Gak boleh berharap harga temen tau, Kak. Kan Kak Changbin belinya juga pasti harganya gak murah.”
“Gak apa-apa dia udah kaya. Gak butuh duit.” Chaery akhirnya tertawa. menanggapi selorohan Han.
Ketika masuk ke dalam rumah, Chaery memperhatikan setiap detail rumah. Penataan interiornya sangat cocok dengan seleranya. Rumahnya juga tidak terlalu besar—walaupun 2 lantai—tetapi punya halaman belakang yang cukup luas untuk menghabiskan waktu bersantai di luar.
“Ayo ke belakang. Kita ngobrol di bawah pohon itu yuk.”
Han sempat pamit sebelumnya ke lantai dua. Rupanya ia mengambil gitar dari sana. Padahal baru saja Chaery ingin menyusul melihat-lihat juga isi lantai dua.
“Tabungan kita cukup kan beli rumah ini, Kak?”
Chaery sepertinya betulan jatuh cinta dengan Rumah Changbin ini. Kedua netra tak bisa lepas mengedar, memindai sudut demi sudut halaman belakang dimana ia dan Han kini berada. Ground lamp dipasang di titik-titik yang tepat sebagai pencahayaan yang iringi langkah.
Secarik kain ayunan terbentang di antara dua pohon angsana. Di belakangnya pagar kayu kecil mengawal sekumpulan bougenville yang sedang berbunga lebat. Pagar kayunya dihiasi oleh lampu-lampu hias kecil. Keduanya kini duduk bersisian di atas ayunan itu.
“Kalau aku bilang, kamu marah gak?”
Chaery menoleh. Tatapan membulat penuh selidik pada kekasihnya yang kini mengulas senyum lebar tampilkan deretan giginya yang rapi.
“Kak…”
“Hehe, bercanda. memang rencana mau kuambil. Tapi kan harus diskusi sama kamu dulu.”
Chaery menghela napas. Lega karena tebakannya salah.
“Nah sekarang—”
“Bentar Kak aku mau cerita dulu.”
Han sudah siap memetik gitar. Sudah memposisikan gitar di pangkuan, tapi Chaery menghentikannya.
“Oke …. kita sharing dulu. Ayo sini cerita sama Abang.” Han berlagak sok jagoAn sambil menggulung lengan kaos yang dikenakannya. Membuat Chaery gemas dan memukul pelan tangannya.
“Kakak nih bercanda mulu.”
“Maaf maaf. Jadi, ada apa gerangan yang mau diceritakan Chaery?” Han sandarkan gitarnya di batang pohon angsana. Untuk kemudian fokus penuh perhatian pada kekasihnya yang ingin bertutur.
“Aku kepikiran Kak Chaey.”
Ahh, Han paham. Beberapa hari lalu Chaey, kakak Chaery sekaligus temannya sempat menghubunginya. Berbagi cerita sedikit tentang Chaery yang mengkhawatirkan kakak sulungnya oleh karena ia menikah duluan. Padahal sedari awal justru Chaey yang mendorong hubungan keduanya agar segera melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Telapak tangan Chaery ia bawa dalam genggam. Menatap Chaery tepat di mata agar ia meneruskan ceritanya.
“Aku tuh sering denger bahasa gak enak tentang Kak Chaey. Aku jadi khawatir Kak Chaey kepikiran terus ngerasa terbebani apalagi tertekan. Tapi kan Kak Chaey juga ada pacar. Emang Kak Chaey sama Kak Jeno-nya aja yang masih pengen ngejar karir dan mimpi masing-masing,” tutur Chaery dengan mata berkaca-kaca.
“Orang-orang pada jahat banget ya, Kak,” lanjutnya final. Han Jisung mengangguk mengamini ucapan Chaery.
“Chaery tau gak kenapa orang-orang pada jahat?”
“Karena gak ada kerjaan?”
“Itu salah satunya. Selain itu, kenapa sih gampang banget ngatain orang gini gitu? Karena mereka punya ide yang jelas tentang bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup tapi mereka tidak punya ide itu untuk mereka.”
Han merapatkan duduknya dengan Chaery sehingga lebih mudah baginya untuk membawa Chaery dalam rengkuh Menepuk lembut punggung kecintaannya.
“Kata Chaey, Chaery gak usah mikirin omongan orang karena Chaey juga gitu. Omongan orang tuh gak ada habisnya. Ada aja yang mereka anggap salah dalam diri kita. Ada aja yang mereka mau buat kita lakuin. Coba kalau kita suruh balik, emangnya mereka mau?”
Pelukan itu meregang. Berganti usapan lembut di puncak kepala Chaery dari Han.
“Masih mau mikirin omongan orang sampai sedih?”
Chaery menggeleng. “Gak. Soalnya capek.”
Han mengacungkan ibu jari. Kemudian mengambil gitarnya. “Kalau gitu sekarang kita lepas sedihnya dengan bernyanyi. Siap?”
“Siap kapten!!!” seru Chaery penuh antusias.
Han mulai memetik gitar. Satu lagu terpikirkan di benak. Lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Chaery setiap kali keduanya harus terpisah jarak oleh urusan pekerjaan masing-masing.
Chaery juga ikut bernyanyi karena sudah sering mendengarkan Han menyanyikan lagu ini padanya. Tidak akan ada bosannya. Lagu yang selalu memberikannya perasaan nyaman dan tentram. Lagu yang membuatnya tak pernah lupa bahwa ia selalu punya penawar sendu, pelipur lara yang tak lama lagi akan mengikatnya dalam sumpah bersaksi semesta.
And I'm surrounded by A million people I I still feel alone Oh, let me go home Oh, I miss you, you know Let me go home I've had my run Baby, I'm done I gotta go home Let me go home It'll all be all right I'll be home tonight I'm coming back home
Lagu berakhir diiringi tepuk tangan riang dari Chaery. Yang kemudian mengejutkan Han dengan pelukan dan kecupan di pipi. “Terima kasih, Kak Han Jisung.”
—end—