Waktu Lagi Sedih [6]

Felix x Suyun

Felix tahu selain banyak tawa, Suyun—kekasihnya—ini juga punya banyak air mata. Ia akan dengan mudah tertawa oleh gurauan receh, sebanding dengan air mata haru oleh aksi atau bahkan sekedar kisah menyentuh hati yang ia simak.

Tetapi Felix tidak menyangka perempuan kesayangannya ini akan menangis selama ini. Felix belum berani kembali menjalankan mobil. Masih menanti Suyun mereda. Bahkan pelukan pun tak mampu meredam sedihnya.

Semua karena perpisahan. Kendati ini bukan perpisahan pertama kali dalam hidupnya, tapi rupanya ini yang paling menyakitkan baginya.

“Danbi bakalan baik-baik aja kan, Kak?”

Pertanyaan itu entah sudah berapa kali Felix dengar hari ini. Danbi adalah anjing piaraan Suyun. Seekor samoyed yang telah dirawatnya selama 5 tahun. Hari ini harus ia relakan diadopsi oleh karena alergi bulu yang dideritanya semakin memburuk.

“Of Course. Mereka juga baik. Even they let you visit Danbi anytime you want.” Felix dengan sabar memberi pengertian.

Ia sendiri sedih karena Danbi diadopsi. Danbi juga sudah sangat akrab dengannya. Saat pertama kali Felix sambangi tempat tinggal Suyun pun Danbi langsung menyambutnya hangat.

“Kita jalan sekarang gak apa-apa?”

Suyun akhirnya mengangguk. Felix mulai melajukan mobil meninggalkan kawasan perumahan pemilik baru Danbi. Tangisan Suyun pun sudah reda. Menyisakan hidungnya yang merah dan area bawah mata yang bengkak.

“Ini kalau orang gak tahu, dikiranya aku jahatin kamu lho.” Felix mencoba mencairkan suasana. Cukup berhasil karena Suyun akhirnya tersenyum lebar meski masih ada air mata di sudut mata.

“Cengeng banget, Kim Suyun,” rutuknya pada diri sendiri sembari menyeka air mata dengan tisu.

“If you don’t mind, how about an amusement park?”

Sebuah ide terpikirkan oleh Felix untuk menghibur Suyun. Gadis kesayangannya ini sangat menyukai keramaian. Felix pikir alih-alih membawanya pulang dengan perasaan sedih yang masih mendalam, mungkin ia butuh sedikit distraksi agar ia bisa lebih menerima perubahan situasi.

Taman hiburan sepertinya bukan ide buruk. Keramaian, cemilan manis. Oh jika mereka tiba tepat waktu, menikmati hamparan bumi sepanjang mata memandang di penghujung hari dari atas bianglala terdengar menyenangkan.

“Amusement park? Out of nowhere?”

“Aku khawatir. If wwe just come back home like this, kamu bakalan nangis lagi. Bau Danbi maih kuat banget di apartemen kamu.”

Suyun tak bisa mengelak. Ia juga yakin bakalan berakhir seperti itu. Sedari tadi ia memikirkan bagaimana saat ia pulang nanti tidak ada Danbi yang menyambut seperti dulu.

“Tapi aku udah jelek begini.”

“No, you’re cute, Pumpkin.”

“Said someone cuter.”

20 menit adalah waktu tempuh keduanya hingga tiba di taman hiburan. Karena malu kedua matanya yang bengkak, Suyun meminjam kacamata hitam Felix sebelum ia perbaiki riasan area mata agar terlihat lebih baik.

Setelahnya berdua berjalan dengan jemari yang saling bertaut. Membeli bando telinga hewan. Jerapah untuk Suyun dan anak ayam untuk Felix. Mengantri wahana sambil bersenda gurau. Menaiki wahana menantang sambil berteriak lepas dan tertawa.

Ya, perlahan-lahan Suyun mulai merasa lebih baik. Terlebih ketika keduanya kini sudah berada dalam bianglala. Suyun menatap jauh pada pemandangan kota yang mulai berkelap kelip oleh lampu yang dinyalakan. Pertanda kesiapan tuk sambut kanvas gelap malam.

“Masih kepikiran Danbi?” tanya Felix yang berhasil mengalihkan fokus Suyun.

“Semalam aku masih meluk Danbi. Danbi juga gak mau jauh-jauh dari aku. Aku ke kamar mandi, dia tungguin depan pintu. Aku tidur, dia juga ikut tidur tapi di bawah kaki. Aku makan tadi pagi pun dia minta tempat makannya di taruh di meja. Kayaknya dia juga ngerasa ya bakalan pisah, Kak.”

“She did. You treat her like your own kid. Hati kalian udah nyatu. Udah jadi soulmate buat satu sama lain.”

Meski terpaut jarak selangkah oleh ruang hampa di antara keduanya, Felix raih telapak tangan Suyun untuk digenggam. Diusap lembut ibu jarinya.

“I’m your soulmate too. You can always lean on me, cry with me when you miss her. visit her together with me once in a while. Ingat kalau perpisahan ini juga demi kebaikan dan kesehatan kamu.”

Suyun mengangguk. “Gak perlu visit Danbi lagi sih, Kak. Aku takut malah dia gak bisa get along sama owner barunya kalau ketemu aku lagi.”

“Are you sure?”

“Hmm.”

“Oke..”

“Kak Felix.”

“Hmm?”

“Thank you, I love you.”

“As always, I love you more, Pumpkin.”

—end—