Waktu Lagi Sedih [7]
Seungmin x Yeji
Sedikit yang terhitung di jemari jika Seungmin ditanya seberapa sering Yeji menangis setelah keduanya berumah tangga. Kendati menurut Hyunjin—kembarnya Yeji—Yeji itu cengeng, tetapi selama ini hanya sekali dua kali Seungmin dapati Yeji menangis.
3 hari dari sekarang keluarga kecil ini akan pindah rumah. Setelah menikah, keduanya memutuskan tinggal di apartemen Seungmin yang memang lebih luas daripada milik Yeji dulu karena rumah yang semestinya mereka tempati masih dalam proses pembangunan.
Rumah yang akan mereka tempati ini berjarak hanya sekitar 10 menit dari kantor kejaksaan tempat Seungmin bekerja. Sementara Yeji yang berprofesi sebagai guru salah satu sekolah menengah pertama yang tak jauh dari apartemen lama mereka telah mengajukan mutasi. Yang artinya ia juga pindah tempat mengajar.
Dugaan Seungmin, hari ini Yeji berpamitan dengan murid-muridnya. Di hari terakhir masuk sekolah dan sebelum liburan panjang tiba. Yeji memang sudah memikirkan bahwa akan lebih baik ia berpamitan hari ini karena besok tidak perlu menghadapi anak-anak lagi. Begitu yang dikatakan Yeji semalam.
Sebagai wali kelas merangkap guru matematika yang kerap jadi musuh abadi anak sekolah, Yeji tentu saja menganggap bahwa tidak akan ada anak-anak yang begitu peduli dia pindah. Barangkali mereka malah menantikan hari dimana guru matematika pindah sekolah—kendati tetap saja bakalan ada gantinya.
Dilihat dari bagaimana Yeji kini menangis tersedu-sedu di kamar mandi, mungkin terkaannya sendiri salah semalam.
“Yeji?” Seungmin mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Ia dengan mudah dapat mendengar suara isakan Yeji yang sepertinya tidak menyadari kepulangannya.
“Hmm bentar,” jawab Yeji dengan suara serak. Terdengar suara air yang mengalir dari kran wastafel sebelum pintu kamar mandi terbuka dan hadirkan sosok Yeji dengan hidung yang merah.
Jujur, Seungmin ingin tertawa karena penampakan Yeji habis menangis itu sangat jarang dan ternyata menggemaskan.
“Ibu guru habis nangis?” Seungmin pegang bahu Yeji. Sedikit menunduk karena ingin menatap kedua mata Yeji yang menghindar.
“Diem. Aku lagi gak mood diledekin.”
Kali ini Seungmin betulan tertawa. Lantas membawa Yeji dalam pelukan erat. Hal yang selalu Seungmin lakukan setiap Yeji merasa kurang baik. Pelukan itu rupanya membuat Yeji kembali menangis.
“Ternyata anak-anak udah tahu aku mau pindah,” ujarnya sesenggukan.
Seungmin tahu rasanya ketika guru harus pindah. Entah semenyebalkan apapun beliau, tetap saja ada rasa sedih karena beliau-beliau adalah orang-orang yang pantas ditangisi perginya. Orang-orang yang telah sabar berbagi ilmu yang mereka punya.
Yeji melepaskan pelukan. Mengajak Seungmin berbicara lebih nyaman di tepian ranjang. Seungmin meraih kotak tisu di nakas untuk kemudian menyeka air mata di pipi Yeji.
“Jadi gimana perpisahannya tadi?”
“Kamu ingat aku pernah cerita ada satu murid yang sukanya gombalin aku tapi gak pernah ngerjain tugas-tugas dari aku?”
“Ingat.”
“Dia yang pertama kali tahu aku mau pindah. Terus dia bilang sama teman-temen sekelasnya. Entah darimana mereka juga tahu aku lagi isi. Jadi aku tadi dikasih kue tart dan surat. Waktu salaman semuanya nangis. Tapi lebih dari itu, aku paling tersentuh waktu mereka bilang terima kasih. Padahal aku ngerasa masih kurang buat mereka.”
“Dan murid yang gak pernah ngerjain tugas-tugas itu, hari ini dia kasih buku tugasnya ke aku. Dia bilang dia ngerjain tugas tapi dia gak mau ngumpulin karena suka ngeliet aku marah-marah.”
Seungmin menanggapi cerita Yeji dengan seulas senyum haru. Mengusap lembut kedua lengan Yeji. “Sainganku berat nih anak SMP.”
“Apaan sih malah becanda.”
Seungmin kembali mendekap Yeji. Menyandarkan kepala si puan di dadanya yang bidang. Tempat dimana Yeji selalu merasa nyaman.
“Aku tahu kamu mungkin bosan dengerin ini tapi aku benar-benar bangga sama kamu, Ji. Kalau perpisahannya saja begini, aku yakin aku gak perlu khawatirin kamu berlebihan di tempat ajar kamu yang baru nanti karena kamu bisa ngelakuin yang terbaik dimanapun itu.”
Seminggu terakhir ini setiap kali keduanya memiliki kesempatan untuk berkemas, Yeji selalu mengajukan tanya yang sama.
'Aku bisa cepat adaptasi gak ya?'
'Anak-anak nanti mudah paham gak ya sama metode ngajarku?'
'Apa aku gak usah pindah? Tapi jauh banget, aku gak mau suami aku gak keurus.'
“Yakin?”
“Sepuluh ribu persen yakin. Yeji dari dulu yang paling terbaik, Yang gak pernah setengah setengah jalanin apapun dimanapun. Kalau kamu ngerasa gak sanggup, kamu punya aku. Tapi kalau aku belum pulang kerja, baca lagi surat-surat yang kamu terima hari ini. Selain biar kamu gak lupa sama mereka, itu juga bagian dari support system. Secuil kenangan tentang bagaimana seorang Yeji berproses menjadi lebih baik dari hari ke hari.”
Seungmin yakin isi surat dari murid-murid itu pasti banyak membahas kesan merka dari awal bertemu Yeji. Memuat proses bagaimana Yeji bermula dari guru yang—bisa jadi—masuk dalam daftar-orang-yang-paling-tidak-ingin-aku-temui versih mereka, menjadi sosok yang akan sangat mereka rindukan nantinya. Kata-kata sarat akan kejujuran lebih dalam tertuang dengan mudahnya dalam secarik surat alih-alih hanya sepatah kata yang terlontar mengudara.
Yeji beralih duduk tegap. Menatap Seungmin sebelum mengecup bibir suaminya cepat.
“Suami aku kalau ngomong manis banget tapi selalu ada benarnya. Jadi terima kasih ya. I feel better now.”
—end—