Yang rapuh yang direngkuh
[8SKALATOR]
Semua ini bukan salahmu
Sebesar apapun inginnya Calvin menggantikan Gladys untuk terluka, ia tetap tidak akan pernah bisa. Calvin tidak pernah tahu rasanya hidup bergantung pada diri sendiri sebelum ia bertemu Gladys. Perempuan yang berhasil torehkan cat merah muda di kanvas hidup seorang Calvin Antares. Yang akhirnya tahu bagaimana rasanya menjadi Kirino kepada Ai.
Gladys itu penuh enigma.
Setelah satu tanya akan timbul tanya lain. Calvin tidak pernah memiliki rasa ingin tahu sebesar ini tentang seseorang. Tetapi ia selalu mengingat pesan Mama untuk memperlakukan perempuan dengan bijaksana. Bijaksana dalam artian tanpa memaksa apapun yang tidak ingin ia lakukan atau katakan.
Namun, kali ini Calvin ingin meminta maaf pada Mama sebesar-besarnya.
Sebab sosok Gladys dalam keadaan paling berantakan yang pernah ada bukanlah apa yang ingin Calvin lihat di penghujung hari ini. Kalau Calvin tidak memaksanya masuk, kalau Calvin tidak memaksanya bertutur, kalau Calvin tidak memaksanya untuk percaya, Calvin bisa saja kehilangan Gladys.
Calvin pernah melihat kakak perempuannya menangis, tapi tidak sesendu Gladys. Tangisnya sore itu, Calvin belum tahu darimana hulunya. Yang Calvin tahu hanyalah bahwa Gladys berada di keadaan paling rapuh. Sementara Calvin hanya bisa merengkuh sampai tangis pilu itu berlalu.
Saat gelap mulai kuasai kanvas langit, dua insan ini duduk memeluk lutut di atas couch. Calvin hanya punya susu kotak rasa strawberry—yang itu pun dibeli oleh Gladys minggu lalu—untuk ia berikan pada Gladys. Gladys juga sudah tidak sekacau tadi saat baru tiba. Pakaiannya yang basah karena hujan-hujanan telah berganti menjadi kaus Leo kesayangan Calvin dan sweetpants abu-abu yang juga milik Calvin.
Gladys itu perempuan yang selalu punya persiapan. Maka kekhawatiran Calvin jelas mencapai puncak tertingginya ketika dapati sosok Gladys berdiri di depan pintu unit apartemennya. Tubuhnya basah oleh hujan, wajahnya sendu berderai airmata pilu.
“Maaf...Maaf ngerepotin, Cal.”
Akhirnya. Akhirnya Gladys bersuara. Selama jalan bersama setahun terakhir, hanya ceria yang dilihat Calvin dari diri Gladys. Ia selalu tampak gembira untuk apapun.
Memasak mie dengan tingkat kematangan yang pas untuk Calvin.
Menyeduh kopi untuk berdua saat mengerjakan tugas di apartemen Calvin.
Melempar guyon khas bapack-bapack fesbuk dan grup wassaf.
Bahkan ketika bertandang ke rumah Calvin dan bertemu Mama. Gladys menyapa ramah seperti sudah saling kenal untuk waktu yang lama. Kepada kakak perempuan Calvin pun laiknya kawan lama tak bersua.
Tangan yang memegang kotak susu kosong Calvin raih. Ia tautkan jemarinya dengan milik Gladys. Upaya itu membuat Gladys menoleh menatapnya. Lagi. Airmata itu jelas di pelupuk.
“Gak ngerepotin. Masih mau nangis?”
Gladys menggeleng. Mengusap sudut mata dengan satu tangan yang bebas. “Aku mau cerita tapi aku gatau harus gimana ceritanya. Aku malu sama kamu, Cal. Kalau setelah ini kamu mau kita udahan, aku ngerti.”
“Aku dengerin apapun yang saat ini bikin kamu kayak gini. Untuk kalimat terakhir kamu, aku anggap gak pernah dengar.” Calvin menguatkan tautan jemarinya dengan milik Gladys. Seolah memberitahu bahwa ia yakin dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Cal, you know I live with a single mom, right? What if I tell you that she'd ruin someone's family?”
Calvin dapat dengan jelas mendengar getaran pahit dari suara gadis di genggamannya ini. Tatapan yang sarat akan kecewa dan amarah. Tangannya gemetar mengeratkan genggaman pada Calvin seakan memberitahu bahwa ia benar-benar butuh penguatan.
“Aku tahu kamu gak lagi bohong. Tapi aku—Dys.”
Sebelum Calvin melihat airmata itu berderai lagi, ia lebih cepat merengkuh Gladys.
Calvin tahu ia tidak salah dengar. Tetapi ini bukan sesuatu yang bisa ia terima informasinya dengan mudah. Maksudnya—hei siapa yang menyangka perempuan seperti Gladys harus mengalami ini? Perempuan yang hidupnya terlalu banyak membaca segala hal dari sisi yang lebih baik.
“Cal, how am I supposed to do?”
“Cal, how can I face your Mom after this shit happened?”
“Cal....”
“Dys—”
“Dosaku banyak banget ya, Cal?”
“Dys—”
“Aku malu banget, Cal. Aku malu sama dunia. Aku malu sama semua orang. Sama kamu, sama Mama kamu, sama Kak Ara....”
Airmata itu seperti tak ada habisnya. Luapan emosi yang sekian tahun dipendam sendiri oleh Gladys. Malam ini semua tumpah berserakan di ruang tengah apartemen Calvin. Calvin hanya diam mendengarkan apa-apa tentang Gladys yang belum pernah ia tahu.
Untuk setiap penggal cerita, selalu diakhiri ”.....tapi aku senang, karena....” atau ”....aku bersyukur karena....” begitu. Seolah ia masih bisa menemukan emas di kubangan lumpur. Ia tahu rasanya menghargai kebahagiaan kecil untuk menutup segala kecewanya yang datang setiap hari dari hulu yang sama.
”....tapi kali ini, aku gak bisa menemukan apapun yang bisa aku syukuri. Aku gatau harus apa sekarang, Cal. Aku takut. Aku takut dicerca. Aku takut kehilangan apapun yang belum aku dapatkan buat hari esok.”
Lembaran tisu terakhir juga menjadi akhir kisah Gladys hari ini. Kepala Calvin mendadak penuh. Bukan. Bukannya ia mengeluh karena enggan menerima semua cerita yang mengejutkan tentang Gladys. Tetapi dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja gadis ini lakukan jika apartemen Calvin sama sekali tidak terlintas dalam benaknya saat ia hujan-hujanan tadi.
Sebesar rasa takut Gladys akan hari esoknya yang tentu saja tak lagi sama dibayang-bayangi oleh cercaan manusia, sebesar itu pula rasa takut Calvin tidak akan pernah bertemu Gladys lagi. Dan Calvin tidak akan pernah membiarkan ketakutannya menjadi nyata.
“Kamu udah nyerah?” tanya Calvin beranikan diri.
“Aku gak tahu...,” jawab Gladys lirih dan tentu saja Calvin tidak puas.
“Aku tahu kamu masih punya ingin buat maju, Dys. Kenapa kamu harus takut dicerca padahal bukan perbuatan kamu kan? Kenapa kamu takut hari esok padahal hari ini pun belum selesai.”
Gladys diam. Tidak ingin menyanggah. Pun tak ada kata-kata yang bisa ia kilah. Calvin menarik kedua telapak tangan Gladys untuk digenggam.
“Aku hanya minta kamu untuk tetap baik. Sulit. Aku tahu itu sulit untuk bersikap biasa-biasa saja setelah apa yang kamu hadapi ini. tapi salahnya bukan di kamu. Aku ulang, bukan kamu yang berbuat dan kamu gak perlu merasa takut apalagi bersalah. Masa depanmu milik kamu. Kalau kamu takut aku gak ada di antara substansi masa depanmu, aku akan tetap temani kamu hari ini karena aku nyata saat ini. Ada disini. Sebab apa yang kamu perjuangkan hari ini, balasannya ada di masa depan.”
Gladys menghela napas yang berat. Seakan beban yang penuh sesak dalam dada itu kembali menghimpit. Kata-kata dari Calvin penuh keyakinan. Tidak ada kebohongan yang Gladys temukan di sorotnya dan itu membuatnya semakin merasa tidak layak untuk Calvin.
Gladys pernah menggambar sosok Calvin yang lebih dewasa di angan masa depannya. Keduanya berjalan bersisian tersenyum dan telah menggenggam mimpi masa muda mereka. Bahagia untuk membuat cerita baru yang hari ini terusik bahkan sebelum ia menjadi nyata.
“Kalau kamu mau nyerah, aku gak akan nyegah, Dys. Tapi sangat disayangkan karena besok aku berniat ngajak kamu makan sundae strawberry bertabur remahan oreo kesukaan kamu di meksidi. Kalau kamu menyerah sekarang, kamu gak bakal ngerasain itu.”
Tatapan itu mengunci Calvin. Tidak terbaca namun sekejap berubah menjadi seulas senyum tersipu dari Gladys. Serta merta menulari Calvin hingga berubah jadi tawa.
Tawa pertama keduanya sore ini disponsori oleh sundae stroberi meksidi.
Terima kasih, Meksidi.
“Aku tahu yang kamu hadapi ini bukan sesuatu yang bisa dianggap yaudahlah ntar juga lewat. Ini perlu penyelesaian, perlu adanya pembicaraan dengan banyak pihak. Sedikit banyak kamu juga bakalan kena dampaknya. Tapi aku gak bisa menampik bahwa kamu lelah jiwa raga sekarang dan kondisi hati kamu belum bisa menemukan titik terang ataupun kejelasan yang bisa menenangkan kamu barang sebentar.”
Gladys mengangguk membenarkan. Tidak ada lagi kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ia hanya ingin mendengar Calvin dalam mode manusia-yang-telah-merasakan-pahit-manis-kehidupan-selama-berabad-abad.
“Kata bang Bayu to heal itu gak ada satuan waktunya. Jadi, sekarang kamu bisa rehat dulu daripada langsung menyerah. Rapikan lagi susunan jalan menuju mimpi yang lagi berantakan. Rapikan sambil kamu selesaikan persoalan antara kamu dengan beliau. Kalau dalam penyelesaian itu kamu terluka lagi, cari aku kayak yang sekarang kamu lakuin. Aku gak akan kemana-mana. Aku cuma pengin kamu ingat setiap kali kamu ingin menyerah kalau kamu punya aku buat jadi teman rehat. Atau suatu hari nanti, aku mungkin bisa jadi rumah abadi buat lindungi kamu dari apapun, siapapun bahkan dari beliau sekalipun.”
Langit gelap malam masih diselimuti awan kelabu. Suara gemuruh pun masih dapat didengar sesekali. Calvin mengajak Gladys sejenak menikmati terpaan angin dingin malam. Berbagi airpod dengarkan sebuah lagu.
“Kamu tumben dengerin lagu gini, Cal.”
“Waktu kamu mandi, aku buru-buru minta rekomendasi Mahesa. ini aku baru pertama kali dengerin kok.”
Jangan berhenti Yang kau takutkan takkan terjadi
“Aku cengeng hari ini,” ucap Gladys tiba-tiba. Kedua punggung tangan ia usapkan kasar pada pipinya tuk hilangkan airmata yang kembali menetes.
“Selama setahun kita jalan, ini pertama kalinya kamu nangis. Makasih, Dys. Makasih kamu sudah percaya sama aku dan biarin aku lihat sisi terlemah kamu. Makasih karena selama setahun ini kamu selalu tersenyum tertawa walaupun jauh...jauh di sudut hati kamu sembunyikan luka yang baru berani kamu lantangkan hari ini. Terima kasih karena kamu sudah kuat untuk bertahan walaupun kamu hanya bersandar pada dirimu sendiri. Makasih karena hari ini kehadiranmu bikin aku sadar bahwa kamu tetap berada di dalam daftar bahagia masa depanku dan telah paten adanya di sana.”
“Cal...”
“Kita berusaha tetap baik dan semesta yang akan bekerja sesuai instruksi Tuhan sebagai imbalan dari apa yang kita upayakan.”
Pukul 10 malam Calvin minta Gladys untuk beristirahat. Malam ini Calvin biarkan Gladys menguasai kamar tidurnya sementara ia akan mengungsi di unit Kirino—iya Kirino ini diam-diam sudah satu tower dengan Calvin.
Sayang...manusia tidak bisa memilih ingin dilahirkan seperti apa. Manusia tidak bisa memilih ingin dilahirkan dari keluarga atau orangtua yang seperti apa.
Manusia hanya bisa menerima, menjalani, mencari jalan keluar dari setiap problematika untuk terus berjalan sampai masa hidupnya kadaluarsa.
Tanganku selalu sedia untuk kau genggam saat terjatuh. Selamat istirahat, Gladys...
[24032021//20:09]