piechocolix

she writes as memories....

HUJAN-HUJANAN

“Kapan redanya?” keluh Ryujin.

Sore itu, hujan mengguyur bumi seolah enggan untuk berhenti. Deras bukan main. Sesekali terdengar suara gelegar di ujung langit. Angin yang berhembus pun kencang membuat Ryujin harus berjalan menutup satu per satu daun jendela kelas.

Shin Ryujin. Gadis 18 tahun itu masih terjebak di sekolah. Melewatkan salam terakhir dari guru karena terlanjur lelap dibawa buaian alam bawah sadar. Sialnya kali ini karena tidak ada teman-teman yang membangunkan seperti biasa. Ia juga heran kenapa tidak ada teman yang membangunkan.

”Aku udah bangunin tadi. Kamu aja yang beler, Ryu.”

Adalah pesan balasan dari Chaeryoung, teman sebangkunya. Ryujin mengeluh karena merasa tidak dibangunkan padahal Chaeryoung sampai emosi. Menurut gadis yang kini sudah damai di balik selimut kamar tidurnya, Ryujin sudah sempat bangun dan memakai tas. Entah bagaimana bisa dia kembali jatuh tertidur.

Baiklah. Ryujin hanya bisa menerima kenyataan kalau memang begitu adanya. Ia juga yakin Chaeryoung tidak mungkin berbohong sebab gadis bersurai sebahu ini memang tidur dengan tas yang sudah menggantung di punggung.

Salah Ryujin karena tidak bisa tidur semalam suntuk. Memikirkan tentang hari ini. Kenapa?

Karena hari ini adalah hari ulangtahun seseorang yang Ryujin suka. Her crush.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini sebagai murid sekolah menengah atas, Ryujin tidak pernah membayangkan dirinya akan memiliki seseorang untuk ditaksir. Di SMP Ryujin tidak pernah tertarik pada siapapun kecuali basket. Bergabung dengan tim basket putri dan menjuarai beberapa turnamen tingkat Sekolah Menengah Pertama. Ia tidak sempat menghabiskan masa pubertas awalnya dengan jatuh cinta apalagi sampai patah hati.

Baru di SMA ini Ryujin tahu bagaimana rasanya kupu-kupu beterbangan dalam perut. Pekan raya yang dipenuhi makanan manis di pusat kota mendadak pindah di sekitarnya lengkap dengan hujan kelopak bunga merah muda dan langit berhias pelangi. Gemuruh di dada setiap kali berpapasan dengan si crush mengingatkan Ryujin pada sensasi sebelum ia melakukan three-point shoot.

Jika ada yang tahu tentang orang yang disukai Ryujin, bisa dipastikan mereka akan menjawab siapa yang tidak suka dengan dia? Ya, orang yang disukai Ryujin bukan sekedar murid biasa. Ia dikenal ramah, aktif di kegiatan olahraga dan tampan. Bahkan siswa laki-laki pun mengakui bahwa ia memang tampan.

Tapi bukan tampan itu yang membuat Ryujin menyukainya. Jika hanya dengan ketampanan Ryujin bisa jatuh cinta, seharusnya itu terjadi di pertemuan pertamanya. Pertemuan pertama ketik para sneior berlomba-lomba agar club mereka diminati oleh junior yang baru saja bergabung ke sekolah. Ryujin sempat mampir di stan club sepak bola hanya untuk menemani Choi Beomgyu—sahabatnya—mengantar formulir pendaftaran club.

Ryujin justru mulai tertarik pada sosok seniornya ini saat tidak sengaja melewati ruang kesenian. Mendapati sosok tampan itu sedang duduk menggambar dengan fokus. Di hadapannya adalah sebuah i-pad yang tampilkan sosok—entah siapa—seseorang yang kemudian digambar kembali oleh si senior dengan pensil.

Ryujin tidak melihat hasil gambar itu seketika karena sudah barang tentu mustahil. Ia baru melihat hasilnya ketika si senior mengunggah di laman social medianya. Postingan itu langsung mengundang ratusan komentar pujian dari teman-temannya. Ryujin sendiri dibuat takjub. Untuk ukuran Ryujin yang tidak punya ketertarikan sama sekali dalam hal menggambar, hasil gambaran si senior itu bukan main apiknya.

Apakah ada manusia sesempurna ini? Dianugerahi paras yang tampan, bakat di bidang seni dan olahraga. Kendati peringkat formalnya tidak begitu bagus, tapi juga tidak bisa dikatakan buruk. Di tengah-tengah. Belum lagi perangainya yang baik dan ramah.

Keramahan dan kebaikan itu Ryujin rasakan sendiri saat ia baru bergabung di club basket SMA. Sebuah bola basket yang dilempar rekan clubnya salah arah dan nyaris menimpuk kepala Ryujin. Entah darimana datangnya si senior karena bola itu malah membentur punggungnya alih-alih mengenai kepala Ryujin. Ryujin sempat heran kenapa ada anak club sepak bola datang di lapangan basket. Ternyata karena ia menemui kembarannya yang merupakan manajer tim basket putri.

Ryujin merogoh laci mejanya. Memastikan keberaadaan kotak hadiah kecil yang akan ia berikan pada senior yang disukainya. Sayangnya Ryujin tidak tahu bagaimana cara memberikannya. Ia hanya menyukai diam-diam. Bahkan Beomgyu yang merupakan sahabatnya sejak kecil pun tidak ia beritahu. Ryujin merasa memberitahukan perasaan ini kepada orang lain hanya akan semakin membuatnya repot.

Mungkin harus Ryujin letakkan di lokernya? Tidak. Itu bukan keputusan yang tepat. Atau mungkin Ryujin harus menyelinap ke kelasnya? Tidak juga.

“Masih ada orang rupanya.”

Satu suara dari arah pintu ruang kelas membuat Ryujin seketika menoleh. Pemandangan langit kelabu sebelumnya telah berganti menjadi sosok yang baru saja Ryujin pikirkan.

Sebentar.

Ryujin segera menegakkan posisi duduknya ketika pemuda itu masuk kelas. Berjalan mendekat lantas duduk di kursi tepat di hadapan Ryujin.

Tolong siapapun Ryujin tidak ingin dibangunkan kalau ini hanya sebuah mimpi di siang bolong.

“Kak Hyunjin belum pulang?” Ryujin beranikan diri ajukan tanya. Sebab pemuda yang sejak beberapa saat lalu masuk kelas ini hanya mengusak surainya yang basah dengan handuk kecil.

“Kalau sudah pulang, aku gak bakal ada di sini.”

Ryujin merutuki diri dalam hati. Merapalkan sumpah serapah untuk satu tanya yang tidak berfaedah. Tetapi maksud pertanyaannya bukan begitu. Apakah Ryujin kehilangan kemampuan berkomunikasi hanya karena pemuda bernama Hwang Hyunjin itu kini sedang menatapnya lekat-lekat.

“Kamu sendiri belum pulang. Kenapa?” Hyunjin balik bertanya.

“Aku ketiduran.”

“Gak ada yang bangunin?”

“Ada. Tapi aku ketiduran lagi,” jawab Ryujin apa adanya yang membuat Hyunjin tertawa. “Kak Hyunjin sendiri kenapa masih di sekolah?” lanjut Ryujin bertanya.

“Habis mandi.”

“Mandi?”

“Iya. Habis kotor-kotoran sama anak-anak sepak bola. Gak enak mau langsung pulang jadi mandi dulu. Eh, ternyata hujan.”

“Berarti anak-anak sepak bola masih di sekolah juga?”

Hyunjin mengedikkan bahu. “Entah. Mungkin sebagian udah pulang.”

Meskipun jatuh cinta diam-diam, Ryujin bersyukur karena dia sudah sempat berkenalan dengan seniornya ini. Paling tidak, Hyunjin tahu namanya.

“Anak klub basket gak ada kegiatan?” Hyunjin kembali bersuara.

Ryujin menggeleng. “Pelatih dan Kak Yeji sepakat buat ngasih waktu rehat dulu seminggu setelah turnamen terakhir kemarin.”

“Selamat ya untuk kemenangan kemarin.”

“Terima kasih, Kak.”

[***]

Boleh tidak sih Ryujin minta hujan setiap hari dan ketiduran setiap hari lalu ditemukan Hyunjin seperti ini?

Saat ini keduanya sudah berjalan bersisian. Bernaung di bawah payung hasil pinjam dari satpam keduanya berjalan menuju halte bis terdekat. Hujan sudah reda, tetapi malam gelap telah datang.

Ryujin sebenarnya tak masalah jika harus berjalan sendiri tanpa payung. Namun, Hyunjin yang tidak mengizinkan.

“Kak, bahunya basah lagi itu.” Ryujin menunjuk pada bahu kanan Hyunjin yang tidak dilindungi payung dan terus menerima tetesan hujan.

“Gak apa-apa. Kamu basah gak?”

“Gak.”

Ryujin tidak bermimpi apapun semalam karena ia tidak bisa tidur. Tetapi hari ini, ia seperti berada di alam mimpi. Jalan berdua dengan orang yang dia sukai. Ryujin berharap degup jantung yang sudah tak beraturan ini tak sampai didengar oleh Hyunjin.

“Selamat ulangtahun, Kak Hyunjin,” ucap Ryujin begitu saja.

Ia tidak punya pilihan selain mengucapkan itu sekarang. Ia tidak tahu apakah besok dia masih punya kesempatan untuk jalan berdua begini bersama Hyunjin atau tidak.

“Terima kasih, Ryu—eh apa ini?”

Ucapan terima kasih Hyunjin terpotong karena Ryujin mengulurkan kotak hadiah.

“Ini buat Yeji?” Hyunjin kembali ajukan tanya karena tak kunjung menerima jawaban dari Ryujin yang saat ini ingin tenggelam saja dalam genangan.

“Buat Kak Hyunjin.”

“Serius?”

Ryujin mengangguk. Terlalu kelu untuk mengucap bahkan hanya sepatah kata. Kupu-kupu sialan ini kini terbang tak tentu arah di sekujur tubuhnya. Ryujin pusing sekarang. Apalagi ketika Hyunjin tersenyum menatapnya.

“Terima kasih, Ryujin,” ucap Hyunjin tulus. “Omong-omong boleh aku tanya sesuatu?”

Keduanya telah tiba di halte. Menduduki bangku yang kosong dan menunggu bis yang akan datang sekitar 10 menit lagi.

“Kak Hyunjin mau tanya apa?” Ryujin menghadapkan diri pada Hyunjin yang duduk di sampingnya.

“Beomgyu pacar kamu?”

Ryujin membulatkan kedua bola matanya. Berikutnya yang terjadi adalah Hyunjin berusaha menenangkan tawa Ryujin yang terpingkal-pingkal. Apa katanya? Beomgyu pacar Ryujin?

“Ya Tuhan...Kak...hahaha...mana ada...aku juga...hahaha gak mau sama Beomgyu kalau ditembak...hahahaduh tapi juga gak mungkin dia udah ada pacar hahaha lucu banget pertanyaannya astaga.”

Hyunjin mengelus tengkuknya dan mengulas senyum salah tingkah. Ryujin memang sedekat itu dengan Beomgyu sehingga wajar jika orang-orang di sekolah mengira keduanya berpacaran. Padahal Beomgyu sudah ada pacar meskipun berbeda sekolah.

“Berarti kalau aku bilang aku suka kamu, kamu terima?”

Apa katanya?

“Gimana, Kak?”

“Aku suka kamu,” bisik Hyunjin tepat di telinga Kanan Ryujin.

Gila. Jika ini nyata, Ryujin pasti sudah gila.

Tolong ingatkan Ryujin agar cukup tidur supaya tidak terlalu sering berhalusinasi. Mungkinkah sejak di sekolah tadi hingga detik ini halte bus hanya adegan-adegan dari mimpi Ryujin untuk tidur siangnya? Atau apakah setelah Hyunjin naik bis untuk membawanya pulang lebih dulu akan membangunkan Ryujin seketika bis itu berjalan?

Ryujin tidak sempat memproses kerja otaknya. Terlebih ketika Hyunjin mengacak pelan puncak kepalanya sebelum masuk ke dalam bis. Semakin berantakan rasanya. Hyunjin melambaikan tangan dari balik jendela. Dan memberi isyarat agar Ryujin menilik ponselnya.

Dunia Ryujin berubah seketika satu pesan itu tiba. Lututnya yang kokoh hasil kerja kerasnya sebagai atlet basket entah bagaimana jadi seperti jelly.

Ryujin jadi ingin hujan-hujanan saja sekarang.

[end]

Bunda...

15 tahun yang lalu

“Bu Sana, Minho dan Changbin bertengkar dengan temannya.”

“Bunda dia yang mulai duluan ngeledek Hyunie.”

Kegiatan Sana mendesain untuk pekan busana yang akan diselenggarakan 2 bulan ke depan siang itu terdistraksi oleh panggilan telpon dari sekolah. Tidak biasanya sekolah menghubunginya sebab semenjak ia hamil kali ini, Chan yang mengajukan diri untuk mengambil alih urusan sekolah 3 anak tertua mereka karena ia sempat bed-rest di awal kehamilan.

“Boleh saya bicara sebentar dengan Minho, Bu?”

Telpon di seberang segera diarahkan pada Minho oleh gurunya. Sana dapat mendengar helaan napas berat Minho. Kebiasaan si sulung setiap kali menahan tangis.

“Ada yang nangis, Kak?” tanya Sana untuk memastikan keadaan di sana.

“Hyunie nangis. Bunda jangan marahin Abin, ya. Emang teman-teman yang nakal ngeledek Hyunie.”

“Temennya diapain, Kak?”

“Ino buang tasnya di tempat sampah. Abin mukul kepala yang ngeledek Hyunie.”

Sana menghela napas. Ia harus akui kerjasama tim anak-anak tertuanya luar biasa. Seperti ketika ia meminta ketiganya membersihkan halaman belakang, si sulung berinisiatif membagi tugas supaya pekerjaan lekas tuntas.

Untuk kali ini, sepertinya ia tidak bisa untuk tidak marah.

“Kakak, Bunda udah pernah bilang kan kalau diledek diemin aja? Mereka mukul Hyunie gak?”

“Gak, Bunda.”

“Sekarang Bunda mau Kakak, Abin dan Hyunie minta maaf ke temennya karena udah buang tas dan mukul kepalanya.”

“Tapi dia ngeledek Hyunie, Bunda. Dia bilang Hyunie anak pungut di tempat sampah.”

Hari ini entah kenapa Minho lebih keras kepala. Sana sampai harus memijat kening. Di tambah pinggangnya yang nyeri karena hamil besar,

“Kenyataannya gitu gak, Kak?”

“Enggak. Hyunie lahir di rumah sakit waktu Kakak lagi di tk.”

“Temennya dikasih tahu kalau Hyunie lahir di rumah sakit. Nanti pasti temannya minta maaf karena udah salah sangka.”

“Tapi Bun—“

“Kak Minho... Mau dijemput Bunda gak?”

“Mau...” jawab si sulung dengan suara serak. Sana terka ia sudah menangis.

“Nurut kata Bunda. Minta maaf dulu karena kalian kelewatan balas nakal temennya. Habis itu bilang ke temennya kalau Hyunie bukan anak pungut dari tempat sampah. Bunda panggil taksi dulu ya, habis itu kita pulang. Nanti Bunda bikinkan pie cokelat untuk kudapan malam.”

Pesawat telpon telah kembali pada ibu guru tapi Sana minta untuk disambungkan pada orangtua si teman yang mengatai Hyunie. Ia bermaksud meminta maaf malah orangtua anak itu meminta maaf lebih dulu. Ia mengaku bahwa suaminya bekerja di perusahaan milik Chan dan berharap perkara ini tidak menyebabkan hal buruk pada suaminya.

“Gak apa-apa, Bu. Ini masalah anak-anak dan tidak ada hubungannya dengan ayah mereka. Saya maklumi mereka masih kecil tapi tolong ibu ajari anaknya agar hati-hati dalam bertutur apalagi jika itu bukan sesuatu yang baik. Saya juga mohon maaf karena anak-anak saya keterlaluan.”

Setelah urusan sekolah ketiga anak tertuanya bisa ia atasi sementara, Sana segera menghubungi Chan. Sayangnya panggilan telpon itu hanya diangkat oleh sekretaris Chan. Ia memberitahu Sana kalau atasannya sedang bertemu dengan klien dan baru akan kembali pukul 4. Sana memutuskan bergegas merapikan diri untuk kemudian memesan taksi menjemput ketiga anak tertuanya.

Tak lupa ia menghubungi orang rumah. Memastikan keadaan si kembar dan adik mereka yang diawasi oleh Bibi Jung—Nanny mereka—aman.

”Tadi Peter dan Felix berebut sumpit karena beda warna. Jadi saya pisah pisah warnanya biar masing-masing dapat 2 warna.”

“Ada-ada aja.”

”Bunda cepat pulaang Lix mau pie choco.”

”Peter ditambah keju, Bundaaaa.”

“Iya. Nurut sama Bibi Jung, ya. Jangan nakal sama Sky. Jangan berebut. Nanti bunda pisahin kalian kalau berantem. Peter ke Jepang, Felix ke Sydney. Mau?”

”Nooooooooo, gak mauuuuuu.”

Panggilan diakhiri saat Sana diberitahu asistennya bahwa taksi yang menjemput sudah tiba. Segera ia berangkat menjemput Minho. Changbin dan Hyunjin.

[...]

Orang-orang yang melihat Sana sering bertanya apa tidak repot memiliki anak banyak. Mereka juga masih kecil-kecil dan sekarang Sana sudah hamil lagi anak ketujuh. Memangnya tidak lelah? Rasanya mengurus satu saja sudah ingin menyerah.

Namun, baik Sana dan Chan mereka memang sepakat ingin punya anak lebih dari 1. Selama dokter berkata aman untuk Sana, Sana selalu siap. Sebagai sesama anak tunggal, Sana dan Chan tak ingin membiarkan anaknya kesepian seperti yang pernah mereka alami. Mereka ingin suasana rumah tetap hidup meskipun seiring berjalannya waktu anak-anak mereka akan meninggalkan rumah untuk kehidupan masing-masing.

Saat di taksi, Sana akhirnya menerima telpon dari Chan.

“Tadi sekretaris ayah bilang kalau ada telpon dari sekolah. Bunda juga nelpon.”

“Iya. Hyunie diejek temennya, kakak-kakaknya gak terima jadi nakalin temennya.”

“Temennya diapain, Bun?”

“Ino buang tasnya, Abin mukul kepalanya.”

Chan menghela napas. “Adaaa aja kelakuan bertiga ini.”

“Tadi aku udah minta anak-anak minta maaf. Aku juga udah minta maaf sama ibunya si temen mereka. Ini aku udah di taksi mau jemput. Bentar lagi sampai,” lanjut Sana meredakan emosi suaminya.

“Ya udah nanti tunggu di sekolah ya, Bun. Biar ayah jemput. Habis ini ayah langsung jalan.”

“Oke, Captain. Hati-hati. I love you.”

“I love you more. Tumben banget.”

“Gak apa-apa. Pengen aja. Udah sana buruan.”

“Haha. Iya.”

Di siang jelang sore hari itu, langit begitu cerah. Angin yang berhembus pun menyejukkan. Asalkan mengenakan pakaian yang hangat di penghujung musim dingin ini, semua terasa begitu menenangkan.

Sana tiba di sekolah dan langsung menuju ruang konseling dimana saat ini anak-anaknya berada. Ibu dari anak yang mengejek Hyunjin pun masih di sana. Sana langsung meminta maaf sekali lagi kepadanya dan juga pada guru yang bertanggung jawab. Sementara ketiga anak-anak Sana duduk menunduk tidak berani menghadap ibunda.

“Kak Minho, Kak Abin, Kak Hyuni gak ada yang mau disampein ke Bunda?” tanya Sana.

Hanya tinggal ia dan ketiga anak tertuanya yang masih berada di ruang konseling. Pihak-pihak yang terlibat sudah undur diri lebih dulu.

“Maaf ya, Bunda.”

“Abin minta maaf, Bunda.”

“Maafin Hyunie ya, Bunda.”

Ketiganya saling bersahutan mengucapkan maaf. Sana mengusap puncak kepala ketiganya bergantian. Ditambah mengusap pipi yang paling muda dari ketiganya karena ia telah meneteskan airmata.

“Janji ya sama Bunda yang seperti ini gak boleh terulang.” Ketiganya mengangguk patuh.

Sana segera membawa ketiganya keluar dari ruang konseling.

“Kak Minho,” panggil Sana sebelum si sulung berlari ke kelas mengambil tasnya.

“Iya, Bunda.”

“Nanti tunggu di dekat Om Satpam, ya. Bunda mau ke mini market dulu beli bahan pie cokelat.”

“Minho ikut Bunda aja.”

“Nanti Abin sama Hyunie gimana?”

“Ikut juga.”

Bunda menggeleng. “Tunggu aja ya. Bunda gak lama. Nanti kita dijemput Ayah kok.”

Kedua netra Minho berbinar begitu mendengar ayah akan menjemput. Sudah lama tidak pernah dijemput ayah.

“Oke Bunda hati-hati, ya.”

“Iya. Adeknya dijaga ya, Kak.”

Pesan itu selalu Sana ucapkan pada si sulung. Sayangnya, itu akan menjadi yang terakhir kalinya didengar si sulung.

Langit biru dengan gumpalan awan seputih kapas adalah hal terakhir yang Sana lihat ketika tubuhnya terhempas sesaat sebelum menyebrang. Suara orang-orang yang mulai mengerumuninya bersahutan memerintah untuk panggil ambulance hanya terdengar samar. Dikalahkan oleh suara riang tawa anak-anaknya saat bermain di halaman belakang yang entah bagaimana bisa terdengar olehnya.

Waktu pertama kali Sana berkencan dengan Chan.

Waktu pertama kali ia memberitahu Chan perihal kehamilannya.

Waktu orangtua mereka memberi hadiah rumah tinggal megah untuk hidup mereka dan anak-anak setelah menikah.

Waktu satu per satu anak-anaknya lahir.

Waktu ia membuka butik dan WO-nya bersama Mina, karibnya.

Waktu pertama kali mengantar Minho ke sekolah.

Waktu ia berhasil menampilkan karyanya di panggung pekan busana ternama dunia.

Waktu Chan kalang kabut mengurus anak-anak sementara ia harus bed-rest di kehamilan keenam ini.

Semua waktu-waktu berharga itu berputar seperti film dokumenter. Senyum, airmata haru, tawa. Semua hal-hal yang telah terjadi hingga hari ini ternyata sudah sangat banyak yang ia alami. Sana seperti disadarkan bahwa ia telah dicintai dengan baik selama hidupnya. Ia telah bahagia dengan semua capaian-capaian yang ia upayakan sedari dulu.

Impian, menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya, memiliki anak-anak yang sehat dan baik.

Ia telah mencapainya.

Sakit.

Semua terasa sakit.

“Sana.... Sana....”

Suara itu. Suara milik laki-laki yang paling mencintainya. Genggaman tangan itu, Sana tahu hanya ia pemiliknya. Raut panik terpancar di wajahnya. Sana tidak ada kekuatan lagi untuk meraihnya.

Sakit.

“Bunda....”

“Bunda....”

“Bunda....”

Suara itu dekat. Begitu dekat tapi Sana tak lagi dapat bersuara selain merintih menahan sakit. Padahal masih ada banyak yang ingin ia katakan pada mereka.

Airmata adalah isyarat rasa sakitnya. Pun satu kalimat pinta pada tenaga medis saat ia mulai dipindahkan dari dinginnya aspal ke atas stretcher sebagai hal terakhir yang bisa ia ucapkan saat ini.

“Tolong...tolong selamatkan bayinya...”


UNTUK LAZUARDI

Sepucuk surat dari yang dirundung sepi Mencari asa di antara bait-bait elegi Berpendar di gelapnya sunyi Tertatih-tatih susuri setapak membawa diri

Di kaki langit kita berjanji temu Padu padankan sukma dalam sulam rindu Sambangi penawar malam-malam sendu Akhiri derita di balik awan kelabu

Setangkai kembang itu berayun diterpa angin Ia layu bak tak punya ingin Suatu hari ia merintih pedih Ungkapkan pilu ketika dunia menghimpit

Bunga... Aku masih mencarimu di lazuardi Aku masih menunggumu di arunika Aku masih berharap swastamita membawamu kembali Aku mencintaimu sampai lupa aku pernah begitu hina

Bunga... Mimpi burukmu telah pergi Tugasmu telah usai Sedihmu tak akan lagi menyambangi Di antara putus asanya doa-doaku untukmu agar kamu benar bahagia menemui kekasih abadi

[130321]

\LEMBAR 5\

Aku ingkari kata-kataku dan memilih menulis hari ini.

Aku merindukan Baskara. Hari ini ... aku merindukanmu, Bas.

Tiba-tiba aku ingin dipeluk olehmu meski rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Iya ... itu tidak mungkin lagi.

Semua rasa sakit dan kecewa itu telah melebur diobati rasa syukur. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu di hari-hari terpuruk.

Kamu tawarkan kenyamanan sebagai kawan. Kamu beri pelukan sehangat mentari pagi setelah hujan. Kamu beri teduhan dari paparan terik siang yang menyalak. Kamu...kamu pernah ada dan menjadi baik untuk hari-hariku yang telah berlalu.

Oh, hujan turun akhirnya ....

Aku jadi teringat percakapan saat kita berteduh dari hujan. Aku masih ingat kamu pernah berkata bahwa hujan selalu membuatmu teringat peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Hujan seperti memiliki kekuatan magis untuk membuka pandora berisi kenangan-kenangan lama entah baik entah buruk.

Kenangan burukku bersama hujan adalah pemakaman Papi dan Mami.

Kenangan baikku bersama hujan adalah aku pergi darimu dengan air mata yang berderai.

Pada akhirnya, hari itu tiba. Hari dimana aku akhirnya mensyukuri perpisahan kita. Hari dimana aku sadari bahwa memang baiknya kita tidak bersama. Kamu baik meski bukan yang terbaik untukku. Aku tidak pernah meminta Tuhan untuk menjadikanmu kekasih, tapi Tuhan yang membawamu untuk mampir meski tak banyak waktu yang kita bagi.

“Cukup untukmu.” Mungkin begitu yang Tuhan katakan di hari terakhir cerita kita sudahi.

Cukup untukku bahagia. Cukup untukku rehat. Cukup untukku sembuh.

Tanganku capek. Ternyata banyak juga yang kutulis. Aku akan berhenti menulis karena aku tidak memiliki kegelisahan lagi.

Terima kasih dan selamat tinggal, Anandito Baskara. Semoga kamu bahagia begitupun aku yang mulai bahagia~

-Irish “Bahagia” Lazuardi- haha~

...

\LEMBAR 4\

Aku terlalu banyak menangis dan membuat orang menangis di usia 20an.

Di awal 20 aku menangis karena kehilangan Papi dan Mami sekaligus. Sebagai tunggal, aku benar-benar sendiri. Untuk beberapa waktu setelah pemakaman, aku terus menangis dan menyakiti diri.

Kenapa mereka tidak membawaku? Kenapa mereka tidak menungguku menyelesaikan ujian hari terakhir baru pergi sehingga kita tetap bertiga meski pindah alam?

Di umur 25 aku menangis lagi karena hal memalukan. Seharusnya dari awal aku sadar kamu tidak pernah benar-benar sayang. Benar begitu Baskara? Perasaanmu hanya iba bukan?

Aku marah, sedih, kecewa dan menangis lagi. Tapi aku tidak bisa membenci Baskara. Dia selalu memelukku setiap aku butuh. Dia teman yang baik tapi bukan kekasih yang juga begitu. Harusnya dia tetap menjadi temanku.

We never meant to be lover. Never.

Hari ini, Tante Ana menangis karenaku. Sementara ia memelukku, aku bergeming karena aku tidak tahu apakah aku harus menangis atau apa untuk semua yang terjadi.

Tante bilang aku harus bergantung padanya. Aku bisa minta apapun padanya.

Tapi aku takut. Terakhir kali seseorang berkata begitu padaku, dia malah pergi. Bagaimana jika Tante Ana pergi?

Tanganku...

Aku tidak akan menulis apapun setelah ini. Aku tidak punya kekuatan untuk menulis lagi.

***

\LEMBAR 3\

Aku mulai menulis lagu lagi setelah beberapa waktu.

Kata Hamish, “Lagu lo sendu, Kak.”

Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Aku rindu.

Aku sudah berterus terang pada tante Ana tentang luka di tangan meskipun aku tidak bilang yang sebetulnya pada Hamish. Oke aku tahu terlalu berbahaya menyimpan benda tajam di kamar, tapi aku butuh untuk ... untuk apa?

Sewaktu-waktu aku pasti membutuhkannya ... ya?

Ini melelahkan. Mimpi itu masih datang tapi aku berhasil mengatasinya. Tante Ana tidak mau memberiku obat. Katanya lebih baik beliau menyiapkan makanan sehat.

Tapi akhir-akhir ini aku merasa mudah lelah padahal aku tidak banyak melakukan apa-apa. Mengunjungi kantor Papi hanya 2 kali seminggu dan itupun selalu diantar jemput.

Kata tante Ana aku lebih kurus daripada awal aku datang ke sini. Om Jefri juga sependapat. Saat aku menimbang aku juga kaget karena 5 kilo telah pergi entah kemana. Padahal aku selalu makan dengan teratur—Tante Ana akan mengomel sepanjang hari jika aku melewatkan satu waktu saja.

Apa aku harus periksa?

/***/

\LEMBAR 2\

Susah payah aku mencari kemana perginya buku ini. Harusnya aku ikuti saran Hamish untuk tidak menyimpan benda tajam. Aku hampir mati ... darahnya masih merembes. Aku harus bilang apa pada Hamish?

Mimpi itu datang. Aku tidak tahu kenapa dia datang. Mereka bilang untuk apa aku hidup sendirian? Aku bukan anak yang bisa diandalkan semasa mereka masih ada. Harusnya aku yang mati bukan mereka.

Mereka menunjukkan padaku dimana letak cutter itu. Aku terlalu erat mencengkeram cutternya hingga pecah dan melukai telapak tangan kanan.

Aku takut...

Aku benar-benar takut. Kenapa mereka datang lagi?

***/

\LEMBAR 1\

Aku akan mulai menulis atas saran Anandito Baskara. Aku sudah tidak bisa lagi bercerita langsung padanya, tapi biarkan dia menjadi “teman” dalam tulisan-tulisan ini.

Bas, Ini hari ke-101 sejak terakhir kali kita bersua. Tiba-tiba aku ingat lagi waktu kita bertemu pertama kali di rumah Hamish.

Kamu ingat, Bas? Aku dengan muka bantalku—karena jetlag setelah perjalanan panjang. Kamu terkejut mendapati seorang perempuan dengan surai acak-acakan keluar dari kamar tidur Hamish. Aku pun terkejut mendapati seorang asing berdiri di depan kamar Hamish.

“Lo siapa?” tanyamu hari itu dengan tatapan penuh curiga.

“Lah lo yang siapa?” balasku dengan tanya tak mau kalah ketus.

Sampai akhirnya Hamish keluar dari kamar sebelah. Cengengesan minta maaf padamu karena tidak memberikan info bahwa kamarnya sementara diambil alih olehku—sepupunya yang datang untuk istirahat.

Lantas aku berkenalan denganmu—dan teman-temanmu yang juga teman-teman Hamish. Untuk pribadiku yang cukup tertutup, kalian sangat berisik tapi tetap sopan bersikap padaku. Kamu yang seumuran denganku pun tak segan-segan mengajakku berbincang. Kalau aku tak salah tangkap, bahkan kamu lebih banyak berbincang denganku ketimbang dengan teman-temanmu hari itu.

Setelah kenalan dan bertukar kata seadanya, aku undur diri. Rasa lapar yang tidak tertahan itu buatku putuskan untuk mencari sesuatu yang bisa disantap di dapur. Hanya ada roti. Om Jefri pagi tadi berangkat perjalanan dinas ditemani Tante Ana. Jika ditinggal perjalanan dinas begini, Tante Ana tidak akan meninggalkan bahan makanan—sebab Hamish tidak ramah dapur.

“Kak Riri beli makan di luar aja. Bareng Bang Babas nih orangnya sekalian mau ke SPBU.”

Aku tidak pernah menduga bahwa perjalanan singkat itu membawa kita berdua dalam situasi yang lebih serius. 6 bulan kemudian. Setengah tahun hidup bersama keluarga Hamish ternyata membawaku menemukan sebuah persinggahan. Iya. Hanya persinggahan. Sebab pada akhirnya, kita bukan tempat menetap untuk satu dengan yang lain.

Kamu temani aku benahi jiwa. Kamu temani aku yang selalu kelelahan. Kamu buat dirimu menjadi tempat yang ingin selalu kucari. Selama itu kamu buat aku untuk terus bergantung padamu.

Baskara, terima kasih karena selama 2 tahun aku berada di antara keluarga Om Jefri kamu ikut membantuku sembuh. Kamu ada di antara ketentraman istirahat yang harus kujalani. Sadar atau tidak, kamu telah memudahkan Tante Ana yang memang bertanggung jawab untuk kesembuhanku.

“Kamu bertahan sampai saat ini sendiri dengan segala hal luar biasa yang bertubi-tubi tuh udah keren banget, Ri. Aku senang kamu masih menghargai hidupmu. Gak ada yang salah dengan istirahat. Satu tahun, dua tahun. Gak ada batas waktu. Hidupmu milikmu. Kamu yang punya hak untuk mengendalikan.”

Makasih, Bas. Kamu dan kata-kata baikmu. Kadang aku merasa kamu lebih tua 10 tahun dariku. Kata-katamu selalu tak bisa kusanggah seakan kamu sudah hidup jauh lebih lama dariku.

Jikalau semesta perkenankan kita dalam temu lagi, maukah kamu memberiku seutas kalimat agar aku terus bertahan. Agar aku tetap menghargai hidup meski kamu tak lagi ada di sekitar edarku?

Karena setelah semua istirahat yang aku lalui, hari ini, aku mencoba menyakiti diri lagi. Lalu aku teringat pesanmu agar menuliskan apapun hal mengganggu yang buatku berpikir untuk menyakiti diri.

Kalau aku tidak menerima tawaran Tante Ana, kita gak akan pernah bertemu kan, Bas?

***/

Lazuardi....

Satu buket iris dan mawar putih itu Baskara letakkan perlahan di atas gundukan yang masih basah. 40 hari baru saja berlalu dan ini sudah kelima kalinya ia berkunjung. Duduk berlutut mengusap nisan bertulis nama yang paling ia kenal. Sosok yang 40 hari lalu telah usaikan rasa sakitnya tekanan dunia. Perempuan yang masih ia rindukan, masih ia selip namanya dalam putus asanya doa-doa pada pemilik nyawa.

“Ri, selagi aku masih bisa sesering ini datang, biarin aku temui kamu sampai aku bener-bener baik-baik saja. Aku pecundang, Ri. Benar bukan?”

Irish Lazuardi namanya. Namun lebih sering dipanggil Riri.

Karena satu sesal Baskara atas pergianya Riri adalah bahwa ia tidak ada di sisi si gadis saat sepi kembali merengkuh. Saat hari-hari kelam datang lagi dan membuatnya berdiri di bibir jurang antara bertahan atau melepas segala. Masa-masa penuh himpitan hingga sesak tak mampu dilapangkan. Hanya berdiri pasrah dan biarkan angin sampaikan pesan terakhir Tuhan.

Kasih Tuhan yang Agung membawanya pada kembali yang paling damai. Tuhan tidak biarkan Riri untuk nodai diri dan akhiri sendiri. Setelah semua percobaan yang ia upayakan tak Tuhan kabulkan, Tuhan lebih Tahu tentang ujung garis kehidupan Riri.

Riri dan semua rasa sakitnya di dunia telah usai. Tinggalkan sedih di antara yang ia tinggalkan. Sisakan duka tuk mereka yang hargai hadirnya.

Seperti Baskara.

[...]

“Nemuin Riri lagi?”

Pertanyaan dari Mama adalah yang pertama kali menyambut Baskara saat tiba di pintu rumah. Baskara mengangguk membenarkan.

Mama tahu betul cerita tentang si sulung dan mendiang Riri. Riri belum lama pergi sehingga wajar bagi beliau jika Baskara masih terus menengok si gadis yang telah tidur panjang. Mama juga mengerti seberapa besar rasa bersalah Baskara. Di antara sekian alasan keputusasaan Riri, Baskara pernah menjadi lentera pengharapan baginya. Sayangnya, lentera itu kehabisan bahan bakar. Apinya redup dan mati sisakan kepulan hitam kesia-siaan.

“Mau mama bikinin susu hangat?”

“Boleh. Tapi aku mau mandi dulu.”

Baskara bergegas menuju kamarnya. Lantas kembali ke pantry 30 menit kemudian. Dapati Mamanya berteman sebuah buku resep masakan duduk di salah satu kursi. Segelas susu hangat yang Baskara yakini adalah miliknya turut tersaji di atas meja.

“Ini punyaku, Ma?”

Mama mengangguk. Beliau tutup kembali bukunya. Biarkan Baskara meneguk susu hangatnya terlebih dahulu.

“Kayaknya ada yang Mama mau bicarain sama aku?” terka Baskara.

“Iya. Tadi siang Hamish ke sini. Nganterin ini buat kamu.”

Mama ulurkan sebuah amplop lazuardi. Dilihat-lihat dari tebalnya, ini bukan uang apalagi cek maupun giro. Meskipun tebal, lebih tepat jika dikatakan isinya adalah lembaran-lembaran kertas a5 yang dilipat 4 bagian.

“Kenapa gak Hamish antar langsung ke kantorku?”

Baskara merasa heran. Padahal jarak rumah Hamish lebih dekat dengan kantornya ketimbang ke rumahnya. Ibaratnya, dari ujung ke ujung.

“Hamish belum bisa nemuin kamu. Hamish bilang kamu bisa hubungi dia kalau ada yang ingin kamu tanyakan.”

Baskara tertegun membolak balik amplop di tangan. Ia masih tidak paham.

“Bas.”

“Iya.”

“Riri yang terakhir, ya?”

Baskara terpekur. Menatap Mamanya tepat di mata. Ada pengharapan dan doa-doa baik di antara keteduhan tatapnya. Terakhir. Baskara sudah berjanji paling tidak untuk dirinya sendiri bahwa Riri adalah kesalahan pertama dan terakhirnya. Teringat kembali kekecewaan Mama waktu itu. Bukan hanya Riri yang terluka, Mamanya bahkan enggan menyapa untuk beberapa waktu.

“Iya, Ma. Aku janji.”

Baskara masih duduk di pantry. Mama sendiri sudah masuk kamarnya menemani papa istirahat. Adik-adiknya mungkin sedang belajar atau bermain game di kamar masing-masing.

“Itu surat dari Riri. Lebih tepatnya, catatan-catatan dia setelah kalian gak bareng lagi. Katanya kamu pernah bilang kalau sewaktu-waktu Riri ingin menyakiti diri, coba untuk menulis hal-hal yang membuatnya gelisah.”

Setelah semua pasang surut antara keduanya, Riri masih bisa menulis namanya dengan lengkap di lembar-lembaran kertas ini. Mengerikan. Baskara merasa sangat mengerikan telah melepas Riri yang begitu tulus menyayanginya.

Riri yang sebatang kara. Riri yang hanya punya Baskara saat itu untuk bersandar. Sayangnya, sandaran itu hancur ditempa bencana. Puing-puingnya hanya melukai seiring bergantinya hari hingga Riri kembali ke haribaan kekasih abadi.

[...]

11032021

STARS OVER ME

Ini nyaris pukul 12 malam.

Julia hampir saja mengumpat karena personal spacenya terganggu oleh suara bel yang tak henti-hentinya ditekan oleh entah siapa di balik pintu. Namun, gadis bersurai karamel sepunggung ini malah terpaku begitu membuka pintu unit apartemennya.

Itu dia. Minho.

“Gak bener nih. Gue halu kayaknya.” Julia menampar pipinya sendiri, menggeleng beberapa kali menatap sosok adam di hadapannya.

Julia tahu memendam rindu itu kerap kali menjadikan seseorang sedikit gila. Merasa kehadirannya padahal hanya ilusi sesaat.

Tangannya ditahan sebelum ia kembali menutup pintu.

“Hei, ini beneran saya, Jul.”

Ya Tuhan, bahkan skearang ilusi pun dapat menyentuhnya. Oh apa ini? Rasa hangat yang menjalar. Dan dia memanggil “Jul”?

“Bohong.”

“Iya. Tadi siang saya bohongin kamu. Maaf yaAAAAkk, jangan cubit lengan saya dengan kuku panjang kamu, Jul.”

Julia lekas menarik Minho masuk dan menutup pintu. Giliran Minho yang kini bingung dengan tingkah tidak biasa Julia. Apalagi gadis itu kini memeluknya erat.

Selain menjadikan seseorang gila, sepertinya rindu juga merubah kepribadian seseorang.

Julia mengizinkannya memeluk itu hanya terjadi jika Minho beruntung. Apa Minho marah? Tentu saja tidak. Baginya bisa melihat senyum hingga kedua netra si gadis berubah menjadi garis lengkung sudah lebih dari segala bahagia di semesta.

Bucin. Begitu kata Changbin yang belum tahu rasanya mengejar sebuah bintang yang paling indah dari yang ada di kanvas langit malam.

Minho balas memeluk.

“Segitu kangennya ya sama saya?”

“Masih perlu jawaban?”

“Gak usah. Saya udah tahu jawabannya. Berarti saya dimaafin ya untuk bohong tadi pagi?”

Julia melepas peluk—kendati ia sadar akan menyesali keputusan itu. Tapi ia ingin menatap wajah Minhonya yang lucu saat menunggu jawaban. Berkedip lebih sering dari biasanya. Julia tertawa dan menggeleng kepala.

Gemas. Minho pusing, Tuhan.

“Belum. Belum sampai Kakak—“

“Ayo jalan!”

Kalimat Julia terpotong oleh ajakan cepat Minho yang gemas karena Julianya pun tidak yakin akan menjawab apa. Ciri khas gadis kesayangannya saat pundung akan mengajukan syarat perdamaian yang terlintas spontan saat keduanya dalam konversasi rekonsiliasi.

“Kak, jam 12 lho ini.”

“Saya besok libur.”

“Aku juga.”

“Kalau begitu biar saya bermalam—“

“Yaudah ayo!”

Minho tertawa. Tahu betul cara menggoda gadis yang kembali dia rengkuh dalam dekap.

Perbedaan profesi, perbedaan domisili tempat kerja mau tidak mau membuat keduanya harus kuat hati menjalani hubungan jarak jauh. Hubungan yang telah terjalin selama 3 tahun yang kadang masih membuat Julia bertanya-tanya.

“Kok bisa ya sama Kak Minho?”

“Iya kok dia mau ya sama lo?” Itu adalah jawaban Jisung, salah satu karib Julia. Sebuah jawaban yang akan berakhir dengan Jisung yang dipukul lengannya tanpa ampun oleh Julia. Tapi tidak pernah kapok.

Namun, ada benarnya juga si Jisung.

Apa spesialnya Julia selain sebagai anak bungsu Mama Papa yang punya suara bagus tapi tidak pintar-pintar banget. Yang kerap kali merasa kesal karena diberi label Julia adik bungsu Kak Dowoon si drummer band. Atau Julia tetangga Dokter Bangchan yang tampan pewara talkshow seputar kesehatan di tv nasional.

Thanks to Kak dokter Bangchan karena tanpa perannya, Julia mungkin tidak akan pernah bersama Minho hingga hari ini.

Bangchan, Jisung, Julia, Changbin dan kembarnya Om Jinyoung itu tetangga sejak jaman penjajahan. Antara satu keluarga dengan yang lain sudah seperti kesatuan keluarga besar. Hari itu, Mama Julia sedang masak banyak dan menyuruh Julia mengantar ke rumah Kak Bangchan. Kak Bangchan sedang ditinggal orang tuanya ke luar negeri sehingga sementara waktu urusan makannya dititipkan pada Mama Julia dan Mama Jisung sebagai tetangga terdekat,

Saat itulah Julia pertama kali bertemu Minho. Adam yang kini tengah mengendalikan setir mobil dengan lihai. Yang sedang bersenandung pelan iringi penyanyi dari pemutar musik.

Julia tidak tahu berapa kali ia bertemu dengan Minho sampai akhirnya laki-laki ini sambangi rumahnya. Bertemu Papa Mama Julia. Hari itu kebetulan Kak Dowoon turut duduk bersama di ruang tamu menyambut Minho. Julia masih ingat betapa merahnya telinga Minho hari itu ketika minta izin orangtua dan kakaknya untuk memacari Julia.

Semuanya bingung termasuk Julia yang tidak menyangka bahwa Minho menyukainya. Julia pikir dokter hanya akan menyukai sesama dokter. Atau kalaupun tidak dokter, paling tidak lebih pandai. Sementara Julia tidak memenuhi kriteria sama sekali.

Julia tidak sebodoh itu sebenarnya. Pas. Tengah-tengah. Setidaknya tidak malu-maluin banget begitu dia masuk di perusahaan Papa dan menjadi staf. Dia bisa mengikuti semua sesuai arahan karena Julia tidak malu bertanya.

“Makin dilihat kamu makin jatuh cinta sama saya nanti,” goda Minho tahu apa yang tengah Julia lakukan sedari tadi. Menatapnya dalam diam meski tidak tahu jika pikiran si gadis telah melanglang buana sampai pada temu pertama mereka.

“Emang aku gak boleh makin jatuh cinta sama Kakak?”

“Saya masih pengin hidup lebih lama, Julia. Jangan bikin saya ingin culik dan bawa pulang kamu ke rumah saya saat ini juga.”

“Hehe. Kesel ya, Kak?”

“Saya suka. Meskipun gak seperti kamu yang biasanya.”

“Sekali-sekali aku mau juga jadi luar biasa.”

“Kamu terus senyum saat ada di dekat saya itu sudah sangat luar biasa.”

“Kak.”

“Iya?”

“Aku cium ya.”

“JANGAN SEKARANG KITA BELUM SAMPAI TUJUAN.”

Julia terkekeh dapati raut panik Minho. Jadi begini ya rasanya menggoda pacar bucin. Lihat telinganya memerah membuat Julia makin tergelak. Wajahnya ia palingkan ke sisi kanan. Pandangi jalanan yang diterangi lampu.

Jika dulu Julia berpikir lampu-lampu jalan itu terlihat sendu berdiri sendiri, maka kali ini lampu-lampu itu seolah turut bahagia dengan semarak di batinnya. 3 tahun berjalan dan Julia merasa kadar sayangnya pada adam di balik kemudi ini tak menyurut. Atau malah mengembang seperti bola karet dalam minyak tanah.

Lucu. Kenapa minyak tanah? Julia kembali tertawa. Jiwa Jisung sepertinya sedang bersemayam dalam dirinya.

“Kamu oke, Jul? Saya agak ngeri kamu dari tadi senyum tertawa.”

Julia mengangguk. “Aku oke banget. Makasih ya, Kak Dokter.”

Minho mengulas senyum. Di lampu merah terakhir sebelum tujuan ia usap lembut belakang kepala Julia.

“Makasih buat?”

“Makasih udah datang malam-malam dan buat apapun.”

Sejatinya rasa terima kasih Julia lebih dari sekedar itu. Terlalu banyak sampai rasanya ia butuh 3 rim kertas HVS untuk menjabarkan hal-hal luar biasa setelah Minho ada dalam garis edarnya. Atau bisa jadi lebih dari 3 rim.

Ketika jemari keduanya bertemu, bertaut, mengirimkan kenyamanan untuk satu sama lain, Julia tahu ia telah menemukan tempatnya pulang.

[*]

“AAAAAAAARRGHH DINGIN ASIK!”

Dengan sepasang sandal dalam genggam, Julia berlarian di atas dinginnya pasir pantai malam. Tak lagi peduli pada surainya yang berantakan diterpa angin laut pukul dua pagi. Segala kegundahan pun beban yang melandanya beberapa waktu terakhir sirna bersama angin.

Kedua tangan ia rentangkan. Hadapkan diri pada laut lepas dengan mata terpejam. Menghirup dalam-dalam aroma lautan.

“Hmmm? Kak?”

Sepasang tangan kekar milik Minho melingkar sempurna di pinggangnya. Julia tidak lagi merentangkan tangan. Tangannya bergerak mengusap lembut lengan Minho lantas tautkan jemari. Julia tidak bisa menatap wajah Minho saat ini karena dipeluk dari belakang. Tapi ia bisa merasakan deru napas kekasihnya di ceruk leher.

“Capek ya, Kak?”

“Capek banget. Jadi biarin saya pakai bahunya sebentar, ya.”

“Mau selamanya juga boleh,” timpal Julia yang membuat Minho tak lagi pejamkan mata.

Tak lagi memeluk si gadis, malah berjalan ke hadapannya. Ingin lihat wajah Julianya.

“Ulang coba.”

“Apa yang diulang?”

“Barusan.”

“Barusan apa?”

“Julia jangan bercandain saya.”

Julia tertawa. Dalam hubungan ini, ia yang paling jarang mengungkapkan afeksi dalam kata-kata. Julia anti kata-kata manis. Ia lebih suka mewujudkan kecintaannya dalam aksi.

Seperti tiba-tiba hampiri Minho di kota sebelah. Meski tidak bisa bertemu saat ia datang, Minho tahu Julia baru saja masuki huniannya. Pakaian yang sudah masuk dry cleaning, selimut yang terlipat rapi, hidangan di atas meja makan lengkap dengan satu sticky note “jangan lupa dimakan ya, Dok. Atau nanti aku belah perutnya pakai scapel.” Minho tidak pernah meminta, bahkan sempat melarang.

“Aku gak suka lihat tempat berantakan. Kalau gak mau aku beresin, ya jangan diberantakin.”

“Kamu lagi kenapa?” tanya Minho masih berdiri di hadapan Julia. Kali ini ia bawa pergelangan tangan Julia dalam genggaman.

Julia menggeleng. “Aku gak kenapa-kenapa, Kak. Beneran.”

“Kamu gak biasanya terang-terangan seperti tadi.”

“Ya gak apa-apa. Emang gak boleh?”

“Boleh. Sangat-sangat boleh. Saya suka.”

[*]

Beralaskan hamparan pasir pantai, berdua Minho dan Lia duduk menatap samudera. Menikmati suara debur ombak yang menyapa bibir pantai. Lama hening menguasai keduanya. Masing-masing biarkan satu sama lain berbincang dari batin dengan laut lepas.

Minho sedikit terbelalak ketika kepala Lia tiba-tiba bersandar di bahunya.

“Gantian aku pinjam bahunya Kakak.”

“Silakan.”

Di antara hening itu ada khawatir yang sambangi. Ada gugup yang tertutup deru napas gelisah. Ada pikiran yang melanglangbuana pada masa depan yang masih serupa bayangan.

Ketika orang-orang berkata bahwa masa depan adalah hasil dari yang dilakukan hari ini, Minho berpikir bisakah Julia jadi masa depannya? 3 tahun telah dilewati, dan hari ini pun Julia masih disini. Masih bersandar di bahunya. Masih membuatnya jatuh cinta setiap hari.

Minho tidak pernah menyesal pada bagaimana hidupnya. Bahkan ketika ia gagal jadi lulusan terbaik untuk medical study-nya—sebagaimana yang ia impikan di hari pertama kelas etika kedokteran—ia tidak menyesal. Satu hal yang dia sesali adalah tidak bertemu Julia lebih cepat.

“Gak ada yang bisa menjamin bakalan ada kebaikan kalau kita ketemu jauh sebelum aku anter sayur ke rumah Kak Bangchan. Ini tuh udah paling tepat, Kak.”

“Kak.”

“Jul.”

Berdua saling menatap lantas menertawakan diri masing-masing. Memanggil di waktu yang sama seakan tahu ada yang masing-masing ingin utarakan.

“Apa Kak?”

“Julia dulu.”

“Gak apa-apa sih. Habisnya Kakak diam. Aku kira tidur.”

“Saya lagi nyari Milky Way.”

“Aku udah ketemu dari tadi dong.”

“Mana?”

“Itu.”

Julia menunjuk pada sekumpulan kabut tipis di langit. Bertabur bintang serupa pasir. Meskipun sudah menjauh dari kota, tetap saja tak bisa nampak dengan jelas. Lain waktu Julia berharap Minho membawanya ke lembah agar dapat menikmati pemandangan gugusan bintang itu dengan lebih indah.

“Cantik.”

“Iya. Tapi kurang begitu jelas. Kak Minho kelihatan gak?”

“Kelihatan.”

“Cantik kan?”

“Cantik. Julia cantik.”

Lia diam tak lagi menengadah ke langit. Tolehkan kepala dan dapati Minho yang sedang menatapnya. Sorot lembut yang kerap Julia temukan di saat ia tersenyum. Julia selalu menerka, apakah senyumnya segitu membuat Minho hanyut?

“Malah gombal ih. Tadi nanyain Milky way.” Julia menepuk pelan bahu Minho membuat si Adam tertawa.

Milky way saya disini.”

“Dimana?”

“Ini.” Minho menunjuk pada Lia. Membuat si gadis tersipu dan kembali menengadah temui milky way.

Ada apa dengan hari ini?

Julia kerap kali merasa takut setiap dilanda bahagia bertubi-tubi. Tapi ketakutan itu lekas sirna begitu ia mengingat kembali apa yang terjadi padanya di kantor seminggu terakhir ini. Semua begitu melelahkan. Julia bisa mengatakan bahawa minggu ini adalah minggu terproduktifnya selama menjadi pegawai kantor Papa.

Pada hakikatnya hidup memang seperti itu. Baik buruk. Sedih senang. Suka duka. Perasaan demi perasaan itu datang silih berganti tanpa pernah bisa diterka. Julia pernah membaca buku yang memaparkan bahwa sejatinya apa-apa yang akan terjadi pada manusia selalu diberi pertanda oleh Tuhan lewat alam semesta. Hanya saja tidak semua manusia memiliki kepekaan yang sama untuk berbincang dengan semesta

Termasuk Julia yang masih merasakan hangat di pipi meski tubuh rampingnya mulai goyah menahan dingin angin laut. Rasa dingin yang perlahan menjalar berangsur hilang begitu Minho menyampirkan jaketnya di punggung Julia yang duduk memeluk lutut. Kepala bertumpu di lutut Julia menoleh pada kekasihnya dengan seulas senyum terpatri di wajah tampannya.

Julia mungkin jarang memuji bagaimana indahnya senyum Minho. Tapi Julia selalu berharap ia bisa menjadi alasan senyum itu terus ada. Atau kalaupun bukan dia alasannya, ia ingin terus bisa melihat senyum indah Minho.

“Kakak ganteng banget kalau senyum.”

“Saya tahu. Kalau seperti ini masih ganteng?”

Senyum Minho berganti menjadi senyum jenaka menyebalkan yang membuat Julia gemas. Senyum tidak ikhlas yang biasa ia ulas pada Bangchan setiap kali Bangchan mengeluhkan kecerobohan Minho. Atau bisa juga waktu Minho enggan ikut Changbin duduk setor wajah di coffeeshop karena sedang menghabiskan waktu dengan Julia. Atau ketika dipaksa kembar Hwang foto bersama.

Gemas. Lucu. Julia gila sekarang.

Kini keduanya tak lagi menatap lurus di gelapnya samudera. Bersisian memeluk lutut, menumpu kepala di atasnya dan saling menatap satu sama lain. Masih tak ada yang bisa dijadikan bahan obrolan. Sekedar mengirimkan afeksi dari netra yang menyapa.

“Julia?”

“Hmm?”

“Nikah sama saya, ya?”

“Iya.”

“Iya?”

“Iya.”

“Kok iya?”

“Emang harus gimana?”

Minho mengedikkan bahu. Lantas tawa ringan mulai mengisi ruang di antara keduanya.

“Kalau semudah ini harusnya saya bilang dari kemarin-kemarin ya.”

Julia menggeleng. “Belum tentu kemarin-kemarin bakalan langsung aku jawab, Kak.”

“Gitu?”

“Iya.”

“Jadi?”

“Iya.”

“Iya apa?”

“Nikah sama Kak dokter.”

“Bangchan?”

“Dokter Bedah Anak, Lee Minho.”

Bernaung langit di penghujung malam itu, Minho akhirnya berhasil utarakan resahnya. Hal yang paling membebaninya selama beberapa waktu terakhir. Ketakutan yang selalu hampiri di waktu luangnya. Ketakutan tak berdasar tentang perasaan Julia bila telah hilang. Ketakutan jika ia pernah tak sengaja melukai hati seseorang dan berimbas Julia tidak akan pernah menghiasi masa depannya.

Julia mungkin tidak sedewasa kebanyakan perempuan lainnya. Minho tahu betul seperti apa keluarga Julia—dan dia betul-betul nekat akan membawa anak gadis kesayangan orangtuanya ini pergi. Tanggung jawab sebesar apa di depan nanti, Minho sudah bisa membayangkan. Menakutkan. Bayangan memang menakutkan karena gelap. Tapi Julia akan menjadi cahaya di jalannya.

“Kakak udah bilang ke Papa?”

“Sudah.”

“Kapan?”

“Sebulan? Waktu saya diam-diam hampirin kamu tapi kamu malah pergi dengan Yeji.”

Lia terbelalak. teringat kembali hari dimana ia benar-benar lelah dengan pekerjaannya dan mengajak Yeji berbelanja di akhir pekan. Ia sudah pamit pada Minho, tapi saat ia pamit Minho sudah dalam perjalanan. Keduanya pun bertemu di minggu berikutnya dan Minho baru ini memberitahunya bahwa hari itu ia datang ke rumah.

“Kak, maaf. Kenapa kakak gak bilang?”

Minho mengulas senyum. “Kalau hari itu kamu gak pergi dengan Yeji saya belum tentu berani menyampaikan hal ini ke Papa kamu.”

Julia tertegun. Mencari kebohongan pada sorot Minho dan nihil. Julia sadar ia tidak pernah begitu baik dalam menjalin hubungan. Ia tidak yakin pernah memberi bekas yang baik dalam hidup orang-orang yang pernah ada dalam cerita asmaranya.

Bertemu Minho dan dicintai sebegininya oleh adam ini membuat Julia berpikir mungkin ini adalah doa yang dipanjatkan sang ibu di penghujung malam. Mungkin ini pengharapan orangtuanya agar ia tetap bersama seseorang yang dapat menjaganya dengan baik bahkan jika ia tak lagi tinggal bersama keluarganya. Julia mungkin bukan umat-Nya yang taat, tapi ia percaya bahwa Tuhan akan menjawab permohonan seorang ibu tentang anaknya.

“Kak.”

“Iya.”

“Aku udah lihat galaksiku.”

Minho menunjuk dirinya. Julia mengangguk. Keduanya melepas tawa lantas mempertemukan jemari dalam genggam.

“Julia siap?”

Tanpa ragu Julia mengangguk. “Aku siap.”


09032021