piechocolix

she writes as memories....

ID CHAT

Yeji ingin sekali mematahkan kaki saudara kembarnya, Hyunjin. Demi apa, Yeji sudah cukup lelah berhadapan dengan ratusan murid SMP di tempatnya mengajar sebagai guru kesenian. Sekarang waktu istirahat akhir pekannya diganggu oleh panggilan dari Hyunjin di saat matanya baru terbuka.

“Kamu harus datang di acara Reuni Akbar sekolah kita, Hwang Yeji. Membawa nama baikku. Jangan lupa dan jangan membuat malu.”

Sebuah reminder yang berguna karena Yeji sungguh lupa adanya agenda Reuni Akbar di akhir pekan ini. Tetapi ia sedikit kesal dengan kata-kata kembarannya. Apa tadi? Jangan bikin malu? Hyunjin ini memang tidak sadar diri. Padahal dirinya yang suka malu-maluin waktu sekolah dulu bersama ketiga karibnya yang lain.

Hwang Hyunjin memang jarang sekali di rumah semenjak dia menjadi pilot. Padahal Yeji pikir ia bisa berangkat bersama kembarannya karena Yeji terlalu lelah untuk mengemudi. Namun, apa boleh buat. Toh nanti ia juga akan bertemu teman-teman yang lama tak ia jumpai seperti Julia dan Yeonhee pun beberapa juniornya di klub tari—Ryujin dan Chaeryeong.

Mari tetap bersemangat meskipun lelah, Hwang Yeji! Begitu Yeji merapal mantra dalam hati.

Setibanya Yeji di sekolah—yang menjadi tempat diselenggarakannya reuni, ternyata sudah banyak orang yang datang dan tidak dikenali Yeji. Ada yang sudah berusia seperti ibunya yang membuat Yeji sadar bahwa sekolahnya sudah sangat tua. Yeji langsung mengambil ID card dan mencatat buku kehadiran.

Namun saat berbalik, Yeji malah menabrak sesuatu. Seseorang lebih tepatnya dan menjatuhkan tas juga ID cardnya. Yeji bergegas mengucapkan kata maaf dan meraih tasnya. Tapi tidak dengan ID cardnya yang lebih dulu diambil oleh orang yang ditabraknya tadi.

“Makas—Eh? Kak Bangchan?” terka Yeji seketika mendongak untuk menatap gerangan yang ditabraknya.

“Hwang Yeji? Kembarannya Hwang Hyunjin kan?” Yeji buru-buru mengangguk dan mengulas senyum.

“Lama gak ketemu, ya? Bagaimana kabarmu dan Hyunjin? Kamu datang sama dia kan?” Bangchan, laki-laki yg merupakan senior 2 tingkat di atasnya semasa SMA dulu celingukan mencari keberadaan Hyunjin—padahal Yeji datang sendiri.

Tolong ingatkan Yeji bahwa ini tahun ke 10 untuknya dan ke 12 untuk Bangchan sejak lulus SMA. Sialan sekali rasa gugupnya setiap kali berhadapan dengan senior ini ternyata tidak pulih meski telah termakan masa.

Coba lihat senyuman Bangchan. Manis. Manis sekali. Sangat tidak sehat untuk waktu sepagi ini mengkonsumsi yang terlalu manis.

“Kabar kami baik. Sayangnya aku datang sendiri, Kak. Hyunjin ada jadwal terbang jadi dia gak datang,” jawab Yeji berusaha setenang mungkin.

“Wah, sayang sekali. Oh ya, aku minta ID chatmu boleh kan, Yeji?” Bangchan mengeluarkan ponselnya dari saku jas bagian dalam. Padahal Yeji masih belum bisa memproses secara cepat kalimat Bangchan barusan.

Apa? Minta apa?

“Gimana, Kak?” Bodoh. Rutuk Yeji dalam hati. Kenapa malah balik bertanya.

Bangchan terkekeh. Menangkap ekspresi terkejut dari Yeji. “ID chat. Aku minta ID chat milik mu, boleh kan?” Bangchan mengulang ucapannya yang membuat Yeji tersadar ia tidak sedang berhalusinasi.

“Tentu saja boleh. Untuk apa, Kak?” Bodoh. Yeji sekarang sedang menghitung berapa kali pagi ini ia sudah mengatakan bodoh untuk dirinya sendiri.

Gak gak. Yeji jenius. Yeji pintar, Tuhan. Yang tadi bodoh itu bukan Yeji.

Yeji yakin kemampuannya sebagai guru yang pandai berbicara di depan khalayak hilang mendadak saat ia dihadapkan dengan Bangchan.

“Tentu saja menghubungimu. Aku ingin makan nasi kari buatanmu lagi atau kimbab yang dulu selalu kamu titipkan pada Hyunjin untukku.”

Seketika kotak makan siang yang kadang Yeji sediakan untuk Bangchan terlintas di kepala. Panas. Pipi Yeji seketika panas. Tersipu. Sebegitu ambiskah dia dulu mengejar cinta seniornya ini?

“Kukira dulu Kakak gak suka sama makanan-makanan itu.” Yeji mengusap tengkuknya meredam malu . “Memangnya Hyunjin tidak berkata apa-apa? Padahal aku berpesan padanya untuk mengatakan padamu bahwa makanan ini enak. Lebih enak dari makanan kantin sekolah. Anak itu.” Bangchan tertawa mengingatnya. Sementara Yeji mengumpat dalam hati di sela tawanya dengan Bangchan.

Hwang Hyunjin kau benar-benar mati pulang nanti. Batin Yeji. Yeji lalu memberikan ponselnya pada Bangchan dan bertukar ID KaTalk.

“Oke, terima kasih, Yeji. Sampaikan salamku untuk Hyunjin. Sampai jumpa nanti.” Bangchan pun berbalik arah. Yeji melambaikan tangan melepas perginya. Namun, di langkah ketiga Bangchan berbalik ke arahnya lagi.

“Aku lupa sesuatu, Yeji,” kata Bangchan sembari menatap Yeji.

“Iya?”

Bangchan mendekat ke arahnya. Lantas membisikkan kalimat yang sukses membuat persendian lutut Yeji menjadi jeli.

“You used to be pretty, and now you’re prettier.”

Biar apa? Biar apa berkata begitu, tersenyum, lalu pergi?

Meninggalkan Yeji membatu bersama pipi yang bersemu. Adakah kesempatan untuk cinta Yeji kembali bersemi?


Created 180716 Recreated 180521


HAI....

Di persimpangan jalan itu untuk pertama kalinya aku menjumpa. Satu sosok yang tinggalkan kesan baik. Menjadi alasan pikiran yang melanglangbuana tak tentu arah di ujung malam.

Dan ketika aku bertemu lagi dengannya hari ini, aku beranikan diri tuk hampiri.

“Hai, ada yang bisa saya bantu?” sapaku pada sosoknya yang sibuk mengobrak abrik isi tas. Sapaan itu pun tak kunjung membuatnya menoleh.

“Permisi.” Sekali lagi aku menyapa. Oh, dan berhasil.

Manis. Namun, ada kelabu tak kasat mata di parasnya.

“Sepertinya saya meninggalkan dompet di rumah,” jawabnya sendu.

“Saya bisa meminjamkan dulu,” responku cepat sembari mengambil dompet di saku belakang celana dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang kiranya cukup untuk transportasinya pulang pergi.

“Tapi—”

“Bisnya datang,” potongku cepat sebelum ia menolak.

“Ini terlalu bany—”

“Tidak apa. Saya hanya meminjamkan bukan memberi.”

Ia terlihat menimbang-nimbang sebelum akhirnya menerima beberapa lembar uang tersebut.

“Akan saya ganti. Terima kasih.”

Bergegas ia undur diri dan masuk ke bis. Ah, sepertinya ia lupa sesuatu. Sebelum bis meninggalkan halte, lekas aku berlari menahan pintu. Memohon paksa pada kondektur agar memberiku waktu sebentar.

“Nona bergaun bunga!” panggilku hingga membuatnya sedikit tersentak—dan terlihat gugup ketika tiba-tiba menjadi pusat perhatian orang-orang dalam bis.

“Nona jangan lupa ganti uangnya. Tapi bagaimana cara Nona mengganti sementara kita tidak saling kenal?”

Aku mengulas senyum padanya. Sementara ia menepuk kening sekali.

“Itu—bagaimana ya?”

“Bagaimana?” Aku mengedikkan bahu.

“Bung, ajak dia bertemu di Restoran Nelayan saja besok pukul 5 sore,” usul salah satu penumpang yang terlihat tak sabar karena perjalanannya terusik oleh ulah 2 insan yang tak saling kenal.

“Iya di sana saja. Ayo supir jalan saja!” sahut yang lain.

“Saya tunggu Nona di Restoran Nelayan esok sore pukul 5,” ucapku final sebelum kondektur menarikku turun.

Di balik jendela kudapatinya mengangguk setuju. Dan seulas senyum manis terpatri di wajahnya sebagai ucapan perpisahan sebelum bis benar-benar menjauh dari tempatku berdiri.

Sampai jumpa di senja esok hari, Cantik


sefnok

Pukul 11 hari sabtu itu, Minho dan Julia tiba di venue tempat diselenggarakannya pernikahan sejawat mereka semasa SMA dulu. Beruntung keduanya tiba tepat waktu. Kehadiran mereka juga disambut oleh teman-teman lama dan mulai saling bertukar kabar dan cerita bagaimana waktu merubah pribadi serta keadaan mereka sejak SMA hingga hari ini.

Tak lama kemudian, acara dimulai. Hari itu Jung Yein—sang mempelai wanita—tampak begitu anggun dibalut gaun pernikahannya.

“Aku hampir lupa kalau Jung Yein yang di altar ini sama dengan Jung Yein yang dulu pernah jambak rambutku gara-gara aku telat bayar kas osis. Galak banget,” bisik Minho pada Lia yang duduk di sisinya dan langsung dihadiahi satu cubitan kecil di perut.

“Kamu sih dulu bandel. Kasihan Yein jadi bendahara menderita banget.” Minho hanya merespon dengan senyum jenaka.

Suasana pemberkatan terasa begitu sakral. Lia bahkan sampai meneteskan airmata ketika kedua mempelai saling mengucap janji. Minho bingung mencari tisu—padahal ada di dalam clutch Lia. Maka jemarinya lah yang ia gunakan untuk mengusap airmata Lia.

“Aku bawa tisu di clutch, No,” kata Lia ketika Minho masih sibuk mengusap airmatanya.

“Kelamaan nyari. Lagian kenapa pake nangis sih, Jul?”

“Terharu,” kata Julia. “Make up-nya jadi berantakan ya?” Oh jangan lupa Lia ini perempuan yang sudah sangat terkenal di dunia maya maupun nyata. Make up berantakan tentu saja tidak bisa dibiarkan.

“Enggak. Masih aman. Masih cantik.”

Lia sedikit tersentak mendengar tutur Minho barusan. Apa ini? Tadi mereka berangkat lewat mana? Kenapa Minho jadi manis begini? Bahkan sejak pagi tadi Minho bertingkah aneh.

Love setelah ucapan selamat pagi itu bukan Minho banget. Dan memang belum pernah terjadi.

Sadar perkataannya barusan membuat Lia tertegun, Minho buru-buru mengambil clutch Lia. Membukanya dan menarik beberapa lembar tisu.

“Hadap ke si—”

“Aku sendiri aja gak apa-apa.”

“Oke.”


Pukul 1 siang acara usai. Minho dan Julia bergegas pulang setelah berpamitan dengan mempelai dan teman-teman lainnya.

Sepanjang perjalanan, baik Lia maupun Minho tidak ada yang membuang kata ke udara. Berdua sama-sama tenggelam dalam benak masing-masing. Semua karena bombardir pertanyaan atau bahkan celetukan berbunyi sama dari teman-teman mereka.

“Ayo kalian nyusul. Aku sabar banget nunggu kalian berlayar.”

Suara bisikan Jung Yein paling keras mengiang di rungu Lia saat bersalaman tadi.

“Apaan aku gak pacaran sama Minho.” Lia balas berbisik pada Yein yang membuat sang mempelai wanita terlihat amat menyayangkan—dan tidak senang dengan jawaban itu.

Mau bagaimana lagi? Memang begitu adanya.

Semasa sekolah dulu, Lia ingat sekali berapa banyak kakak kelas atau bahkan adik kelas yang mencoba menggali informasi tentang Minho darinya. Mencoba ingin lebih dekat dengan Minho. Lia sendiri tidak pernah menghalang-halangi siapapun yang ingin berkenalan maupun berteman dengan Minho. Justru Lia sendiri ingin Minho punya banyak teman supaya ia tidak terus teringat akan trauma masa kecilnya.

“Jul.”

Di lampu merah sebelum berbelok ke kawasan apartemen Lia, Minho akhirnya bersuara.

“Hmm?”

“Diem aja. Sakit?” tanya Minho sembari menatapnya. Lia menggeleng sebagai jawaban.

“Aku mampir apartemen kamu boleh?”

“Hmm. Mampir aja. Biasanya juga langsung ngekor gak pake ijin dulu.”

“Ada yang mau aku omongin sebenernya.”

Kalimat Minho sukses menarik perhatian Julia. Fokusnya pada jalanan beralih pada sosok yang kini kembali mengendalikan kemudi setelah lampu lalu lintas berubah hijau.

“Serius banget kayaknya. Kenapa gak ngomong sekarang?”

“Ya karena emang beneran serius.”

“Oh.”

Entah mengapa ada perasaan tak enak dan curiga yang dirasakan Julia. Tetapi jika mengingat kelakuan absurd Minho, Lia memilih untuk tidak berkespektasi berlebihan. Sebab terakhir kali Minho berkata ingin bicara serius adalah perihal memilih hadiah untuk ulang tahun si kembar Peter Felix tahun lalu.

“Sekalian.”

“Sekalian? Sekalian apa?”

“Numpang tidur siang.”

Kan, apa Lia bilang?


“Aku ganti baju dulu,” ujar Lia yang direspon anggukan oleh Minho.

Minho sendiri memilih duduk di pantry setelah mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin. 10 menit kemudian, Lia sudah duduk di hadapannya. Kostum kondangan sudah berganti baju rumahan. Riasan di wajah sudah di hapus dan benar-benar menampilkan sosok Julia paling santai yang sudah Minho hafal di luar kepala.

“Mau ngomong apa sih, No? Kayaknya beneran serius banget ya?” desak Julia akhirnya sebab Minho tak kunjung bersuara dan hanya mengetuk jemari di meja.

“Jul.”

“Apa?”

“Kita udah temenan lama kan ya?”

“Iya. Udah lama banget. Kenapa?”

“Gak mau diupgrade gitu?”

Lia mengerutkan kening. Bingung. “Diupgrade gimana?”

“Nikah sama aku, Jul.”

Julia baru dua hari lalu menyambangi dokter THT untuk membersihkan serumen telinga. Ia yakin rungunya tak salah dengar pernyataan Minho barusan.

Iya pernyataan. Bukan pertanyaan.

Belum sempat kepalanya mencerna, Minho sudah beranjak dari duduknya. Mendekati Julia dan memeluknya dari belakang.

“Julia, kamu tahu aku gak pinter nyusun kalimat apalagi yang berkaitan dengan perasaanku. Aku butuh waktu lama untuk berpikir haruskah aku ungkap atau gak karena sebenarnya aku sendiri merasa gak pantas dapetin kamu. Tapi aku ingin sekali saja seumur hidupku untuk lebih egois. Maaf, Julia. Aku gak bisa jauh dari kamu. Aku mau kamu terus ada di hidupku.”

Lia masih butuh waktu untuk mencerna. Setelah sekian tahun berteman dengan Minho, ini pertama kalinya Minho berbicara panjang lebar mengungkapkan perasaannya.

“Minho k-kamu sakit?” Demi Tuhan Lia gugup. Terlebih dengan posisinya dipeluk dari belakang oleh Minho. Pun laki-laki itu yang kini menenggalamkan wajah di ceruk leher Lia. Deru napasnya membuat sekujur tubuh Lia meremang.

“Aku ngantuk. Tapi aku beneran soal yang aku ucapin barusan. Aku sungguh-sungguh, Lia.”

“Iya.”

“Iya?”

“Minho aku bingung. Kamu tiba-tiba banget.”

“Kamu gak mau?”

Lingkaran tangan kekar Minho di bahu Lia dilepas. Lia pun ikut berdiri lantas memeluk Minho erat. Minho balas memeluk Lia dan menumpu kepalanya di pundak Lia.

“Kamu tidur aja dulu.” Lembut Lia mengusap punggung Minho.

Pernyataan Minho membuatnya terkejut. Terlalu tiba-tiba kendati ia selalu menunggu. Tak dapat Lia elak bahwa kenyataannya ia juga menyimpan rapat rasa sukanya pada Minho.

Namun, rasa takut kehilangan Minho membuatnya urung untuk mengakui. Bagaimana jika ia berterus terang tentang perasaannya malah membuat Minho menjauh? Lia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya jika Minho tidak ada di antara barisan hal-hal menyenangkan yang memberi goresan warna cerah di kanvas miliknya.

Siang itu Minho terlelap di kamar tidurnya. Sebuah efek samping bagaimana semalaman suntuk Minho tak bisa terlelap barang sebentar hanya untuk memikirkan cara mengungkapkan perasaannya pada Lia.

Pada akhirnya ia berhasil mengungkapkan. Meski harus menunggu Lia memproses semuanya. Semua rasa yang ia miliki dan terbalaskan.


“Terima kasih sudah menyayangi Minho selama ini, Lia. Tolong bantu Minho keluar dan makan pie cokelat kesukaannya ya.


Secepat yang Lia mampu, ia beranjak pergi dari unit apartemennya. Mami. Ia harus membicarakannya dengan Mami.


Makan siang

Siang itu, Lia bawa si kembar dan Sky makan siang di restoran yang tak jauh dari tempat kursus mereka. Berhubung mereka hanya memilik sedikit waktu sampai kelas tambahan mereka dimulai.

“Nanti agak telat dikit gak apa-apa kan?” sekali lagi Lia bertanya untuk memastikan bahwa 'penculikan' dadakan ini tidak berdampak buruk untuk mereka.

“Gak apa-apa, Kak. Kita belum pernah telat juga kok,” jawab Sky.

“Kukira Kak Lia tadi jemput sama Kak Ino,” ujar Peter yang membuat Lia heran.

“Kenapa ngira gitu? Kan kita beda kantor.”

Peter tersenyum sarat makna menatap Lia lantas mengedikkan bahu.

“Kak Lia gak mau jadi Kakak kita aja?” Giliran Felix kali ini yang mengajukan pertanyaan lucu—menurut Lia—hingga si jelita terbahak.

“Emang selama ini kalian gak anggap Kak Lia Kakak kalian? Yah, jadi sedih. Padahal kalian udah kayak adeknya Kak Lia.”

“Eeeh—bukan gitu maksudnya, Kak Lia. I mean—ya jadi Kakak beneran gitu?”

“Emang sekarang Kakak bohongan?”

“Kakak ipar.”

“Nikahnya sama siapa? Kak Hyun udah ada pacar lhoo.”

“Masih ada Kak Ino sama Kak Abin. Tapi kalau Kak Abin—”

“Gak gak. Gak mau sama Abin. Galak.”

“Tapi lebih galak Kak Ino.”

“Kak Ino kalau sama Kak Lia gak berani galak dia.”

“Nah kan. Udah sama Kak Ino aja.”

“No, no. Kak Lia sama Kak Ino cuma teman kok.”

“Yaah...gak asik.”

Sky hanya memperhatikan ketiga orang di meja ini berbincang. Tidak ada keinginan untuk menyahut. Apalagi masalah seperti itu yang ia sendiri tidak tahu jelasnya.

Sampai akhirnya makan siang mereka dihidangkan, obrolan masih terus berlanjut. Namun, topiknya kali ini berbeda. Hanya seputar cerita-cerita konyol Peter dan Felix sewaktu mereka masih di Sydney.

Sebelum Lia mengantar mereka ke tempat kursus, Lia ajak ketiganya membeli kudapan di salah satu bakery tak jauh dari restoran tempat mereka makan siang. Lia menyilakan mereka memilih apa yang ingin mereka jadikan makanan penutup siang ini.

“Kak Lia suka pie cokelat?” tanya Felix ketika Lia meminta pelayan untuk mengemas pie cokelat.

“Iya. Felix juga ma—ah...maaf.”

Felix hanya mengulas senyum lebar. “Gak apa-apa, Kak. Ini aku udah ambil Scone.” Felix menunjukkan isi traynya dan segera berjalan menghampiri Peter yang sedang bingung memilih cheesecake atau brownie.

“Oh, Sky sudah milih?” Lia menoleh dan mendapati Sky hanya berdiri mematung di belakangnya.

“Udah, Kak,” jawabnya singkat dan mengekor Lia yang lebih dulu berjalan ke kasir.


Lia tiba di kantor pukul 3 tepat setelah memastikan 3 bersaudara tadi sudah masuk ke tempat kursus. Pie cokelat yang dibelinya tadi, ia letakkan di atas meja kerja. Satu slice sudah lenyap.

Lia sudah mengangkat ponselnya. Bersiap mengetikkan sesuatu di ruang obrolannya dengan Minho. Namun urung ia lakukan ketika mendengar namanya dipanggil oleh atasannya.

Dan akhirnya ia lupakan begitu saja.


“Kalau kamu mau pie cokelat, kabarin Kakak aja ya. Nanti kita makan berdua aja.”


Kak Minho dan Ayah

“Masuk, Kak.”

Adalah jawaban ayah ketika mendengar suara pintu ruang bacanya diketuk. Sudah tahu bahwa si sulung yang akan datang.

Tapi tidak tahu ada 'yang lain' ikuti si sulung ingin mencuri dengar. Siapa lagi kalau bukan Bunda.

“Ino gak ganggu kan, Yah?” Sekali lagi Minho pastikan bahwa keinginannya untuk bicara serius dengan Ayah malam ini sama sekali tidak mengganggu aktivitas beliau.

“Gak. Kenapa? Mau bicara apa kayaknya serius, ya?”

Minho duduk di couch. Sementara Ayah masih memilah buku sebelum akhirnya beliau juga duduk di sisi Minho.

Dan Bunda duduk di sofa ottoman dekat Ayah.

Minho nampak gusar sebelum akhirnya melontar tanya. “Ayah dulu waktu nembak Bunda gimana?”

Mendengar pertanyaan dari Minho, membuat sang ayah terpekur. Sementara Bunda menatap Minho iba. Salah banget nanya ke ayah.

“Ayah kamu gak romantis. Jangan ditiru.”

“Kayaknya Bunda kamu kesel waktu itu,” jawab Ayah sembari menatap langit-langit ruang bacanya. Seolah disana tengah berlangsung sebuah film dokumenter bagaimana beliau dulu mengungkap perasaannya pada Bunda.

“Kenapa kesel?” tanya Minho masih menatap ayahnya tidak mengerti.

“Bunda kamu lagi serius waktu itu. Numpang gambar di unit apartemen Ayah karena lokasinya dekat sama kantor redaksi majalah tempat bunda kerja waktu masih kuliah. Pokoknya Bunda serius sekali menggambar. Ayah cuma duduk di hadapannya. Tebak hari itu Bunda pakai baju apa?”

Minho berpikir sejenak. Mengingat-ingat baju apa yang sering Bunda pakai ketika sedang menggambar.

“Dress?”

“Kaos oblong putih. Ada coretan bolpoin di bagian perut kaosnya.”

“Kok tahu ada coretan bolpoin?”

Minho mengangguk-angguk paham. Dalam kepala membayangkan keadaan Bunda hari itu.

“Bunda kamu paling cantik kalau sedang serius. Setiap kali menggambar, seolah-olah kepalanya bisa pecah hingga membuat ide-idenya tumpah ruah. Fokus sekali. Apalagi hari itu Bunda sedang mengejar desain untuk edisi bulan berikutnya yang harus diajukan esok harinya.”

“Saat sedang serius-seriusnya ayah tiba-tiba bilang “Aku suka kamu, Kak'. Bunda marah. Kesal karena desainnya harus segera tuntas tapi Ayah malah menginterupsi.”

“Terus Bunda gimana?”

“Marah. Ayah diterima, tapi dibentak.”

Ayah tertawa menutup ceritanya. Meskipun Minho dapat dengan jelas melihat kesedihan di kedua netra sang ayah. Siapa yang tidak rindu pada Bunda di antara penghuni rumah ini? Rindu itu abstrak. Tak bisa diukur besarnya. Jika pun mungkin, rindu yang dipunya Minho jelas tak sebesar Ayah.

“Mau nembak Julia?”

Gemas. Bunda yang sedang duduk gemas ingin memukul lengan Ayah karena terlalu to the point. Khawatir Minho jadi malu dan malah urung mengungkapkan perasaannya pada perempuan yang sudah berhasil menginvasi ruang hatinya.

“Kelihatan banget ya, Yah?”

Ayah menggeleng. “Gak juga. Tapi siapa lagi perempuan yang sering kamu cari? Kemana-mana selalu kamu ajak, apa-apa harus sama dia selain Julia?” tanya Ayah retoris. “Ya...kecuali ternyata ada orang lain yang sebenernya kamu temui diam-diam tanpa Ayah apalagi adik-adik kamu tahu.” lanjut Ayah.

“Aku terlalu lama temenan sama Julia gak sih, Yah?”

“Belum 100 tahun, belum lama.”

“Duh, becandanya ayah gak asik.” Minho menatap ayahnya tak senang.

“Lho ayah gak sedang bercanda. Ayah bicara apa adanya.”

Minho mendengkus. Mungkin dia keliru berharap banyak dari Ayah untuk urusan begini. Pikirnya siapa lagi yang bisa ia ajak bicara selain ayah.

Ya mungkin Bunda bisa. Kalau Bunda masih ada.

“Kamu senang gak Kak lihat Lia?” tanya Ayah tiba-tiba. Ambigu.

“Dalam konteks apa dulu? Pertanyaan ayah tidak jelas.”

Ayah tertawa. “Apapun. Dalam hal apapun dalam keadaan apapun. Apa yang kamu rasain tiap kali lihat Lia? Senang? Kesel? Marah?”

“Aku gak bisa marah ke Lia.”

“Ya jangan dimarahin.”

“Serius kayaknya keputusanku salah ya cerita sama Ayah.”

Bunda mengangguk-angguk setuju. “Ayah kamu kebanyakan becanda. Tapi gak lucu.”

“Oke...oke. Listen, Son. Kamu udah tahu perasaan kamu terus apalagi yang bisa ayah bantu? Mau Ayah bilang ke Om Bam—”

“Gak gak.”

“Nah kan. Kamu aja gak mau Ayah yang maju ngomong ke Papinya Lia. Keburu Lia diambil orang. Kamu gak tahu aja berapa banyak kolega Om Bam yang minta anaknya dijodohin ke Lia.”

“Yang bener, Yah?”

“Tanya sendiri sana ke Om Bam.”

“Chan kamu tuh anaknya jangan digoda terus.” Kesal Bunda menggerutu.

Minho terlihat serius berpikir sebelum akhirnya ia berujar. “Kalau aku konfes ke Lia kayak Ayah konfes ke Bunda, kira-kira aku dimarahin juga gak, Yah?”

“Gak.”

“Dih ayah sok tahu.”

“Lho, ayah cuma jawab pertanyaan kamu, Kak.”

“Kalau ditolak gimana Yah?”

“Ya berarti gak jodoh.”

“Beneran lho, Yah?”

Lagi-lagi sang Ayah hanya menanggapi dengan kekehan. Sementara Bunda sudah terlihat lelah dan ingin pergi saja.

“Yang penting kamu tulus. Perempuan tahu kok. Perempuan punya superpower buat merasakan ketulusan. Ayah yakin Bunda kamu gak akan nerima Ayah waktu itu kalau Ayah gak tulus walaupun terkesan seperti bergurau. Walaupun dimarahin tapi diterima.”

Minho mengusak surainya. Ini merupakan hal baru baginya untuk mengungkapkan perasaan. Ia sering menerima ungkapan-ungkapan rasa suka semasa SMA bahkan saat kuliah. Tidak ada yang ia terima karena ia sudah merasa mengulurkan benangnya pada Lia.

Namun, benang itu belum diikat. Ia terlalu takut. Takut Lia tidak suka, dan takut ia tidak bisa bersikap biasa lagi dengan Lia bilamana ia ditolak.

“Jangan takut, Kak. Lia suka kok sama Kak Minho.” Bunda menepuk pundak putra sulungnya dan kini berpindah duduk di antara Ayah dan Minho.

“Gimana, Kak? Udah ada gambaran?”

Minho menghela napas dan beranjak. “Lihat nanti, Yah.”

“Lihat apa?”

Minho menatap Ayahnya. “Lihat bulan depen Ayah bisa dapet cucu gak.”

”....”

”....”

“HEY HEY JANGAN MACAM-MACAM KAK!!!”

“KAKAK!”

“BECANDA, YAH.”


Bunda dan Jeje

Pukul 04.15 petang.

Seperti biasa, Jeongin atau yang kerap disapa Jeje—panggilan dari Sky yang akhirnya menjadi panggilan kesayangan para kakak untuk si bungsu—sudah duduk di ruang keluarga. Terlihat seperti menunggu kehadiran seseorang—mungkin sesuatu—yang selama ini selalu menemaninya di waktu petang sebelum penghuni rumah yang lain pulang.

“Bunda sini,” panggil Jeongin pada gerangan yang ditunggu. Bunda.

Seisi rumah tak ada yang tahu tentang ini. Malah salah satu teman sekolah Jeongin yang tahu tentang kehadiran Bunda di rumah setiap sore. Sebab ia juga bisa melihat Bunda.

“Kenapa, Dek? Kok mukanya kesel gitu?” tanya Bunda yang sudah duduk di sisi Jeongin.

“Iya. Kakak kakak yang SMA pada makan bareng Kak Lia. Aku gak diajak, Bun,” adu Jeongin yang membuat Bunda tertawa.

“Adek kan sekolahnya jauh dari Kakak Kakak.”

“Sia-sia aku sekolah cepet. Ternyata tetap gak bisa bareng Kak Sky,” gerutu Jeongin.

Setiap kali mendengar Jeongin bercerita, Bunda selalu merasa bersalah. Kesempatannya untuk tetap bisa berbincang dengan Jeongin perlahan berkurang. Cepat atau lambat, waktu 1 jamnya setiap sore bersama dengan Jeongin tidak akan pernah ada lagi.

“Kak Lia tuh baik banget ya, Bun.”

“Iya. Baik banget.”

Bunda jelas tahu tentang Lia. Putri tunggal sahabatnya, Mina. Gadis kecil yang berhasil membawa putra sulungnya keluar dari ruang jerat rasa bersalah dan trauma. Gadis kecil yang kini telah tumbuh dewasa dan tetap menjadi teman tempat Minho bersandar.

“Bunda mau punya menantu, Kak Lia?”

“Eeehh?”

“Aku mau punya kakak perempuan kayak Kak Lia. Baik, cantik, pintar, terkenal.”

“Maaf ya. Bunda juga gak nyangka bakalan punya anak cowok semua.”

Jeje buru-buru menggeleng. “Bukan gitu, Bun. Aku seneng kok sama kakak-kakak walaupun kadang ngeselin—terutama Kak Abin suka pinjem sepatuku sembarang. Maksud aku Kak Ino.”

“Kenapa Kak Ino?”

“Kenapa gak pacaran sama Kak Lia? Atau ngajak Kak Lia nikah? Kayaknya Ayah juga bolehin soalnya Om Bambam sama Ayah kan temenan.”

“Menurut adek kira-kira kenapa tuh Kak Ino gak ngajak Kak Lia pacaran?”

Jeje diam berpikir. Namun sepertinya ia tidak menemukan jawaban dari pertanyaan Bunda.

“Entah. Mungkin Kak Ino gak suka sama Kak Lia?” terka Jeje ragu.

“Kak Ino suka kok sama Kak Lia. Suka banget malahan.”

“Kok Bunda tahu?”

“Tahu dong. Kak Ino kan anak Bunda juga.”

Jeje menatap Bunda penuh selidik. Merasa tidak puas dengan ucapan Bunda barusan.

“Coba Adek tanya Kak Ino sendiri,” saran Bunda yang langsung direspon gelengan kepala Jeje.

“Gak bakal dijawab. Pasti nanti ngatain apasih anak kecil mau tau aja urusan orang dewasa. Gitu.”

Tak lama kemudian, pasukan kakak-kakak SMA tiba di rumah. Jeje buru-buru meminta Bunda bersembunyi. Padahal tak perlu bersembunyi pun kakak-kakaknya tidak akan melihat Bunda.

Bunda memang masih ada di rumah. Hanya 1 jam di sore hari waktunya untuk berbincang dengan Jeje. Dan hanya 1 jam itu pula Jeje bisa melihatnya.

Keberadaannya di rumah ini mungkin tak lagi lama. Sebentar lagi ia sudah harus pergi dan berhenti 'mengganggu' Jeongin. Rasa bersalahnya pada Jeongin begitu besar, tapi hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa berpisah dengan semuanya secara lebih baik.


Demam

Sebesar apapun inginnya Calvin menahan agar gadis ini tetap tinggal, semua hanya akan tertahan di ujung lidah tanpa pernah rilis. Mana berani Calvin meminta lebih ketika si gadis dengan tegas menyebutkan untuk yang ke-11091999x—atau mungkin lebih—bahwa ia sangat bersyukur memiliki sahabat yang selalu menerimanya dalam bagaimanapun keadaannya. Sahabat; Calvin Antares.

“Mau dianter ke dokter gak?”

Kalimat tanya yang entah sudah berapa kali Calvin dengar dari bibir Claudia. Perempuan yang hari ini mengenakan dress santai motif floral sebatas lutut yang tampak sangat pas membalut tubuh mungilnya.

Tolong jangan ingatkan Calvin bahwa dia baru saja merusak janji temu Claudia dan pacarnya hanya agar gadis ini membuatkannya semangkuk bubur bertabur sayur untuk tubuhnya yang kini terbujur di kasur. Kuyu. Flu itu benar-benar mengganggu.

“Mau dianter ke dokter gak, Calvin Antares?”

Kali ini Claudia muncul di ambang pintu kamar Calvin dengan dress floral tadi yang sudah dilapisi apron. Mengira bahwa tanya sebelumnya tidak bisa Calvin dengar—padahal memang tidak ingin ia jawab.

“Gak,” jawab Calvin lirih. Lemas. Claudia mendengkus.

“Gue telpon Mbak Cla—aw lo sakit gak sih? Masih bisa ngelempar orang.”

Claudia mencebik kesal. Calvin kembali sembunyikan kepalanya di balik selimut. Dia tidak suka Clara—kakak perempuannya—datang. Duh, ribet urusannya. Calvin pasti diseret bawa pulang ke rumah. Dia sedang tidak ingin mendengar ocehan 2 perempuan penguasa rumah (read: mama dan mbak Clara).

“Begadang terooos!!”

“Minum es kopi terusss!”

Cukup begini saja. Claudia ada itu sudah cukup. Gak perlu tambah yang lain.

1 jam yang lalu Calvin menghubungi Claudia yang sebelumnya mengirim pesan bahwa ia akan pergi dengan pacarnya hari ini.

“Bikinin gue bubur dulu sebelum lo cabut.”

“Lo sakit, Cal?”

“Iya kayaknya.”

“Anjir ini tuh sejam lagi gue dijemput. Gue beliin aja ya?”

“Gak mau. Yang beli-beli gitu biasanya berminyak.”

“Buburnya doang.”

“Bikinin plis. Alesan dulu ke pacar lo mules gitu habis makan sambel pecel.”

“Sumpah ya, Cal. Gue siram muka lo pake bubur.”

Saat Claudia datang, Calvin masih meringkuk di couch. Serta merta si gadis menuntun Calvin yang tak berdaya ke kamarnya. Merapatkan selimut untuk menghangatkan tubuh pemuda Antares. Menghela napas saat mengukur suhu tubuh si pemuda yang berada di 39,2 derajat—tapi tetap keras kepala tidak ingin mengunjungi dokter. Untungnya ia sempat mampir apotek untuk membeli plester pereda demam dan menempelkannya ke kening Calvin sebelum mulai membuatkan bubur.

“Lo habis ngapain bisa-bisanya demam tinggi begini?”

“Gak darimana-mana.”

Claudia sedang berbaik hati menawarkan diri untuk menyuapi Calvin dengan sabar. Jawaban Calvin membuatnya kesal hingga menyendokkan satu sendok penuh lebih banyak bubur dari sebelumnya.

“Makan nih bubur. Seneng banget boong.”

Susah payah Calvin menelan bubur yang baru saja masuk ke mulutnya sembari menahan tawa. Tolong jangan ingatkan Calvin bahwa perempuan yang sedang menyuapkan bubur ini seharusnya sedang menghabiskan waktu jalan-jalan dengan pacarnya. Bukannya merawat pemuda cupu yang sedang lemas tak berdaya ditimpa flu.

Atau sebaiknya Calvin harus berterima kasih pada flu karena tanpa hadirnya maka bubur buatan tangan Claudia tidak akan memanjakan indera pengecapnya hari ini. Kendati rasanya tetap tidak seenak saat dimakan di waktu sehat.

“Gue kemaren nemuin Kak Ino. Dia balik Surabaya tapi pake mobil gue.”

“Mobil Kak Ino kemana?”

“Diservice. 2 hari lalu lampu belakangnya pecah ditabrak orang.”

“Kok lo ujan-ujanan?”

“Gue motoran.”

“Motor siapa?”

“Ai. Kak Ino baliknya bareng Ai. Nikahan sepupunya.”

“Kenapa gak nunggu reda sih baru jalan?”

“Keburu malem.”

“Dih, apaan Calvin Antares takut malam. Kayak bakal diculik aja.”

“Ya gue ngapain lama-lama di rumah Ai. Main catur ama bokapnya?”

Jujur nih ya, Claudia sebal. Kesal dengan Calvin yang suka sekali menyusahkan diri sendiri. Tapi bisa-bisanya dia bercanda padahal dalam kondisi lemas begini.

“Biasanya nih ya, di jok motor tuh ada mantel.”

“Gue gak ngecek. Nanggung juga udah di lampu merah deket doa ibu.” Calvin menyebutkan nama warung nasi uduk langganannya yang membuat Claudia menepuk kening.

Padahal inginnya menepuk belakang kepala Calvin. Tapi Claudia masih memiliki rasa kemanusiaan. Dia tidak mau Calvin semakin lama sakitnya dan semakin sering merengek meminta dibuatkan bubur.

“Itu masih jauh ya, Calvin. Kenapa gak nepi di doa ibu?”

Calvin menghela napas. “Yaudah sih udah kejadian. Gue sakit juga tetep kena marah ya.”

Claudia mengusak surai Calvin. “Sorry. Maksud gue gak gitu. Ya udah lo tidur gih.”

Claudia sudah siap beranjak ketika tangan Calvin—yang masih terasa hangat—menahannya.

“Apa lagi?”

“Lo jadi jalan?”

Claudia menghela napas. Menoleh ke arah jam dinding. Sudah lewat 2 jam dari waktu seharusnya ia bertemu dengan pacarnya.

“Gak jadi. Gue udah bilang orangnya juga.”

“Lo bilang apa?”

“Gue bilang apa adanya lah. Cowok gue yang ini gak ribet. Yang penting jujur.”

“Bagus deh. Baik-baik. Gak usah drama-dramaan lagi dah.”

“Iya. Udah buru tidur. Malah ngoceh.”

Claudia benar-benar meninggalkan Calvin di kamarnya. Menutup rapat pintu kamar Calvin agar tidak terganggu istirahatnya.

“Makasih, Di. Makasih karena tetap mau repot buat temen lo yang cupu ini.”


“Lo pernah kepikiran pacaran sama gue gak, Di?”

“Gak pernah.”

“Misalkan gue suka sama lo?”

“Gak gak. Gak usah. Lo ngapain sih mikir aneh-aneh aja.”

“Gue kadang kesel sih lo kalau putus sama pacar lo gitu galaunya nyusahin. Mending pacaran sama gue kan?”

“Lo mabok, Cal?”

“Hehe. Tenang aja. Kalau udah gak ada lagi cowok yang mau sama lo, masih ada gue.”

“Mabok ni anak. Gue yang gak mau.”

“Kenapa lo ogah banget kayaknya?”

“Ya ngapain? Kita udah cocok banget jadi temen. Geli dah bayangin manggil sayang-sayangan.”

“Sayang.”

“Cal, lo belom pernah dilempar galon, ya?”


Yang rapuh yang direngkuh

[8SKALATOR]

Semua ini bukan salahmu

Sebesar apapun inginnya Calvin menggantikan Gladys untuk terluka, ia tetap tidak akan pernah bisa. Calvin tidak pernah tahu rasanya hidup bergantung pada diri sendiri sebelum ia bertemu Gladys. Perempuan yang berhasil torehkan cat merah muda di kanvas hidup seorang Calvin Antares. Yang akhirnya tahu bagaimana rasanya menjadi Kirino kepada Ai.

Gladys itu penuh enigma.

Setelah satu tanya akan timbul tanya lain. Calvin tidak pernah memiliki rasa ingin tahu sebesar ini tentang seseorang. Tetapi ia selalu mengingat pesan Mama untuk memperlakukan perempuan dengan bijaksana. Bijaksana dalam artian tanpa memaksa apapun yang tidak ingin ia lakukan atau katakan.

Namun, kali ini Calvin ingin meminta maaf pada Mama sebesar-besarnya.

Sebab sosok Gladys dalam keadaan paling berantakan yang pernah ada bukanlah apa yang ingin Calvin lihat di penghujung hari ini. Kalau Calvin tidak memaksanya masuk, kalau Calvin tidak memaksanya bertutur, kalau Calvin tidak memaksanya untuk percaya, Calvin bisa saja kehilangan Gladys.

Calvin pernah melihat kakak perempuannya menangis, tapi tidak sesendu Gladys. Tangisnya sore itu, Calvin belum tahu darimana hulunya. Yang Calvin tahu hanyalah bahwa Gladys berada di keadaan paling rapuh. Sementara Calvin hanya bisa merengkuh sampai tangis pilu itu berlalu.


Saat gelap mulai kuasai kanvas langit, dua insan ini duduk memeluk lutut di atas couch. Calvin hanya punya susu kotak rasa strawberry—yang itu pun dibeli oleh Gladys minggu lalu—untuk ia berikan pada Gladys. Gladys juga sudah tidak sekacau tadi saat baru tiba. Pakaiannya yang basah karena hujan-hujanan telah berganti menjadi kaus Leo kesayangan Calvin dan sweetpants abu-abu yang juga milik Calvin.

Gladys itu perempuan yang selalu punya persiapan. Maka kekhawatiran Calvin jelas mencapai puncak tertingginya ketika dapati sosok Gladys berdiri di depan pintu unit apartemennya. Tubuhnya basah oleh hujan, wajahnya sendu berderai airmata pilu.

“Maaf...Maaf ngerepotin, Cal.”

Akhirnya. Akhirnya Gladys bersuara. Selama jalan bersama setahun terakhir, hanya ceria yang dilihat Calvin dari diri Gladys. Ia selalu tampak gembira untuk apapun.

Memasak mie dengan tingkat kematangan yang pas untuk Calvin.

Menyeduh kopi untuk berdua saat mengerjakan tugas di apartemen Calvin.

Melempar guyon khas bapack-bapack fesbuk dan grup wassaf.

Bahkan ketika bertandang ke rumah Calvin dan bertemu Mama. Gladys menyapa ramah seperti sudah saling kenal untuk waktu yang lama. Kepada kakak perempuan Calvin pun laiknya kawan lama tak bersua.

Tangan yang memegang kotak susu kosong Calvin raih. Ia tautkan jemarinya dengan milik Gladys. Upaya itu membuat Gladys menoleh menatapnya. Lagi. Airmata itu jelas di pelupuk.

“Gak ngerepotin. Masih mau nangis?”

Gladys menggeleng. Mengusap sudut mata dengan satu tangan yang bebas. “Aku mau cerita tapi aku gatau harus gimana ceritanya. Aku malu sama kamu, Cal. Kalau setelah ini kamu mau kita udahan, aku ngerti.”

“Aku dengerin apapun yang saat ini bikin kamu kayak gini. Untuk kalimat terakhir kamu, aku anggap gak pernah dengar.” Calvin menguatkan tautan jemarinya dengan milik Gladys. Seolah memberitahu bahwa ia yakin dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Cal, you know I live with a single mom, right? What if I tell you that she'd ruin someone's family?”

Calvin dapat dengan jelas mendengar getaran pahit dari suara gadis di genggamannya ini. Tatapan yang sarat akan kecewa dan amarah. Tangannya gemetar mengeratkan genggaman pada Calvin seakan memberitahu bahwa ia benar-benar butuh penguatan.

“Aku tahu kamu gak lagi bohong. Tapi aku—Dys.”

Sebelum Calvin melihat airmata itu berderai lagi, ia lebih cepat merengkuh Gladys.

Calvin tahu ia tidak salah dengar. Tetapi ini bukan sesuatu yang bisa ia terima informasinya dengan mudah. Maksudnya—hei siapa yang menyangka perempuan seperti Gladys harus mengalami ini? Perempuan yang hidupnya terlalu banyak membaca segala hal dari sisi yang lebih baik.

“Cal, how am I supposed to do?”

“Cal, how can I face your Mom after this shit happened?”

“Cal....”

“Dys—”

“Dosaku banyak banget ya, Cal?”

“Dys—”

“Aku malu banget, Cal. Aku malu sama dunia. Aku malu sama semua orang. Sama kamu, sama Mama kamu, sama Kak Ara....”


Airmata itu seperti tak ada habisnya. Luapan emosi yang sekian tahun dipendam sendiri oleh Gladys. Malam ini semua tumpah berserakan di ruang tengah apartemen Calvin. Calvin hanya diam mendengarkan apa-apa tentang Gladys yang belum pernah ia tahu.

Untuk setiap penggal cerita, selalu diakhiri ”.....tapi aku senang, karena....” atau ”....aku bersyukur karena....” begitu. Seolah ia masih bisa menemukan emas di kubangan lumpur. Ia tahu rasanya menghargai kebahagiaan kecil untuk menutup segala kecewanya yang datang setiap hari dari hulu yang sama.

”....tapi kali ini, aku gak bisa menemukan apapun yang bisa aku syukuri. Aku gatau harus apa sekarang, Cal. Aku takut. Aku takut dicerca. Aku takut kehilangan apapun yang belum aku dapatkan buat hari esok.”

Lembaran tisu terakhir juga menjadi akhir kisah Gladys hari ini. Kepala Calvin mendadak penuh. Bukan. Bukannya ia mengeluh karena enggan menerima semua cerita yang mengejutkan tentang Gladys. Tetapi dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja gadis ini lakukan jika apartemen Calvin sama sekali tidak terlintas dalam benaknya saat ia hujan-hujanan tadi.

Sebesar rasa takut Gladys akan hari esoknya yang tentu saja tak lagi sama dibayang-bayangi oleh cercaan manusia, sebesar itu pula rasa takut Calvin tidak akan pernah bertemu Gladys lagi. Dan Calvin tidak akan pernah membiarkan ketakutannya menjadi nyata.

“Kamu udah nyerah?” tanya Calvin beranikan diri.

“Aku gak tahu...,” jawab Gladys lirih dan tentu saja Calvin tidak puas.

“Aku tahu kamu masih punya ingin buat maju, Dys. Kenapa kamu harus takut dicerca padahal bukan perbuatan kamu kan? Kenapa kamu takut hari esok padahal hari ini pun belum selesai.”

Gladys diam. Tidak ingin menyanggah. Pun tak ada kata-kata yang bisa ia kilah. Calvin menarik kedua telapak tangan Gladys untuk digenggam.

“Aku hanya minta kamu untuk tetap baik. Sulit. Aku tahu itu sulit untuk bersikap biasa-biasa saja setelah apa yang kamu hadapi ini. tapi salahnya bukan di kamu. Aku ulang, bukan kamu yang berbuat dan kamu gak perlu merasa takut apalagi bersalah. Masa depanmu milik kamu. Kalau kamu takut aku gak ada di antara substansi masa depanmu, aku akan tetap temani kamu hari ini karena aku nyata saat ini. Ada disini. Sebab apa yang kamu perjuangkan hari ini, balasannya ada di masa depan.”

Gladys menghela napas yang berat. Seakan beban yang penuh sesak dalam dada itu kembali menghimpit. Kata-kata dari Calvin penuh keyakinan. Tidak ada kebohongan yang Gladys temukan di sorotnya dan itu membuatnya semakin merasa tidak layak untuk Calvin.

Gladys pernah menggambar sosok Calvin yang lebih dewasa di angan masa depannya. Keduanya berjalan bersisian tersenyum dan telah menggenggam mimpi masa muda mereka. Bahagia untuk membuat cerita baru yang hari ini terusik bahkan sebelum ia menjadi nyata.

“Kalau kamu mau nyerah, aku gak akan nyegah, Dys. Tapi sangat disayangkan karena besok aku berniat ngajak kamu makan sundae strawberry bertabur remahan oreo kesukaan kamu di meksidi. Kalau kamu menyerah sekarang, kamu gak bakal ngerasain itu.”

Tatapan itu mengunci Calvin. Tidak terbaca namun sekejap berubah menjadi seulas senyum tersipu dari Gladys. Serta merta menulari Calvin hingga berubah jadi tawa.

Tawa pertama keduanya sore ini disponsori oleh sundae stroberi meksidi.

Terima kasih, Meksidi.

“Aku tahu yang kamu hadapi ini bukan sesuatu yang bisa dianggap yaudahlah ntar juga lewat. Ini perlu penyelesaian, perlu adanya pembicaraan dengan banyak pihak. Sedikit banyak kamu juga bakalan kena dampaknya. Tapi aku gak bisa menampik bahwa kamu lelah jiwa raga sekarang dan kondisi hati kamu belum bisa menemukan titik terang ataupun kejelasan yang bisa menenangkan kamu barang sebentar.”

Gladys mengangguk membenarkan. Tidak ada lagi kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ia hanya ingin mendengar Calvin dalam mode manusia-yang-telah-merasakan-pahit-manis-kehidupan-selama-berabad-abad.

“Kata bang Bayu to heal itu gak ada satuan waktunya. Jadi, sekarang kamu bisa rehat dulu daripada langsung menyerah. Rapikan lagi susunan jalan menuju mimpi yang lagi berantakan. Rapikan sambil kamu selesaikan persoalan antara kamu dengan beliau. Kalau dalam penyelesaian itu kamu terluka lagi, cari aku kayak yang sekarang kamu lakuin. Aku gak akan kemana-mana. Aku cuma pengin kamu ingat setiap kali kamu ingin menyerah kalau kamu punya aku buat jadi teman rehat. Atau suatu hari nanti, aku mungkin bisa jadi rumah abadi buat lindungi kamu dari apapun, siapapun bahkan dari beliau sekalipun.”


Langit gelap malam masih diselimuti awan kelabu. Suara gemuruh pun masih dapat didengar sesekali. Calvin mengajak Gladys sejenak menikmati terpaan angin dingin malam. Berbagi airpod dengarkan sebuah lagu.

“Kamu tumben dengerin lagu gini, Cal.”

“Waktu kamu mandi, aku buru-buru minta rekomendasi Mahesa. ini aku baru pertama kali dengerin kok.”

Jangan berhenti Yang kau takutkan takkan terjadi

“Aku cengeng hari ini,” ucap Gladys tiba-tiba. Kedua punggung tangan ia usapkan kasar pada pipinya tuk hilangkan airmata yang kembali menetes.

“Selama setahun kita jalan, ini pertama kalinya kamu nangis. Makasih, Dys. Makasih kamu sudah percaya sama aku dan biarin aku lihat sisi terlemah kamu. Makasih karena selama setahun ini kamu selalu tersenyum tertawa walaupun jauh...jauh di sudut hati kamu sembunyikan luka yang baru berani kamu lantangkan hari ini. Terima kasih karena kamu sudah kuat untuk bertahan walaupun kamu hanya bersandar pada dirimu sendiri. Makasih karena hari ini kehadiranmu bikin aku sadar bahwa kamu tetap berada di dalam daftar bahagia masa depanku dan telah paten adanya di sana.”

“Cal...”

“Kita berusaha tetap baik dan semesta yang akan bekerja sesuai instruksi Tuhan sebagai imbalan dari apa yang kita upayakan.”

Pukul 10 malam Calvin minta Gladys untuk beristirahat. Malam ini Calvin biarkan Gladys menguasai kamar tidurnya sementara ia akan mengungsi di unit Kirino—iya Kirino ini diam-diam sudah satu tower dengan Calvin.

Sayang...manusia tidak bisa memilih ingin dilahirkan seperti apa. Manusia tidak bisa memilih ingin dilahirkan dari keluarga atau orangtua yang seperti apa.

Manusia hanya bisa menerima, menjalani, mencari jalan keluar dari setiap problematika untuk terus berjalan sampai masa hidupnya kadaluarsa.

Tanganku selalu sedia untuk kau genggam saat terjatuh. Selamat istirahat, Gladys...


[24032021//20:09]

Anak-anak...

Kalau bisa mengulang waktu, Minho ingin mengulang hari saat Jeongin lahir. Hari yang sama saat Bunda pergi. Hari dimana ia dan Changbin berlagak seperti superhero untuk Hyunjin.

Berangkat sekolah terasa menakutkan di hari-hari setelah pemakaman Bunda. Minho sampai harus menjalani perawatan khusus. Mimpi buruknya sama setiap malam. Rentetan kejadian sepulang sekolah di hari Jeongin lahir. Seperti itu terus setiap malam. Minho akan berakhir menangis menjerit di tengah malam. Sampai akhirnya ia benar-benar tidak ingin pergi ke sekolah.

Akhirnya Minho menjalani home-schooling sampai SMP. Saat SMA Minho memberanikan diri sekolah formal seperti anak-anak umumnya. Semua berkat usaha Julia—anak tante Mina.

Selama sekolah di rumah, Minho tentu kesepian dan tidak punya teman lain selain saudara-saudaranya. Tante Mina kerap bertandang bersama suami dan anaknya, Julia. Keduanya menjadi semakin dekat seiring berjalannya waktu. Julia pun kerap berbagi cerita bagaimana rasanya sekolah di luar.

“Kamu gak mau nyoba sekolah di luar?”

“Kamu mau sekolah SMA dimana?”

“Di SMA 85.”

“Oke. Aku mau sekolah tapi sama kayak kamu.”

Dengan begitu Minho kembali menjalani kehidupannya sebagai remaja. Sekolah, belajar, bermain, memiliki lebih banyak teman. Mimpi-mimpi buruk itu tidak pernah datang. Hanya sesekali ketika ia benar-benar penat.

“Aku yakin Bunda kamu pasti senang lihat kamu bisa kembali berbaur daripada terkurung di rumah.”

Hingga 15 tahun berlalu sejak Bunda pergi. Rindu itu tentu saja selalu ada. Minho sudah lebih bisa mengontrol emosinya tapi ia tidak bisa menahan airmata setiap kali melihat ayah menangis diam-diam di kamar memeluk pigura Bunda.

Ayahnya kuat. Maka Minho pun harus begitu. Paling tidak ia harus bisa menjadi yang diandalakan oleh adik-adiknya. Seperti permintaan Bunda yang hampir setiap hari Minho dengar.

“Jaga adik-adik ya, Kak.”

Changbin adalah yang paling duluan “sembuh” dari keadaan yang kacau itu.

Awalnya terasa berat karena ia tidak bisa mengajak Minho berbincang seperti dulu. Setiap kali ia mendekat, Minho selalu membentak tidak ingin diajak berbicara. Akhirnya ia menghabiskan waktu lebih banyak bersama Hyunjin.

Ia kecewa karena Minho tidak mau keluar rumah bahkan sampai harus sekolah di rumah. Padahal kalau sekolah seperti biasa, semua terasa lebih ringan. Begitu pikir Changbin sampai usianya menginjak SMA. Saat sudah lebih besar, ia baru paham seberapa tersiksanya Minho waktu itu. Menyaksikan bagaimana Bunda akhirnya terbaring di aspal yang dingin.

Ketika melihat Minho mengenakan seragam, Changbin merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Kak Minhonya kembali bersekolah.

“Udah rapi belum, Bin?”

“Udah.”

Minho mengulas senyum yang membuat Changbin tertegun sesaat. Semua orang benar ketika berkata bahwa Minho adalah versi copy+paste dari Bunda. Rasa rindu itu membuncah. Pagi-pagi buta di hari pertama Minho sekolah, Changbin menangis.

“Ayah sedih, kakak sedih, kalau aku juga sedih Hyunie bagaimana? Aku sedih tapi aku gak mau jadi lemah karena bunda bilang anak-anaknya harus kuat.”

Selama ini, Changbin pendam sendiri semua perasaannya. Karena keadaan Minho, ia menjadikan dirinya lebih kuat. Ketika Hyunjin merindukan Bunda, ia yang akan menghibur. Ia banyak membaca buku, ia juga semakin rajin belajar karena dia ingin adik-adiknya nanti mencarinya saat mereka butuh diajari pelajaran.

Di SMA, Changbin akhirnya menemukan cara agar ia bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini ia simpan sendiri. Musik. Ia banyak mendengarkan musik. Awalnya ia hanya membuat tulisan-tulisan acak. Lama-kelamaan ia mulai membuat melodi. Gitar, piano, ia coba apapun yang ia bisa.

Jika tidak menemukan Changbin di kamar, berarti dia sedang bertapa di studio. Ia minta ayah merombak kamarnya yang luas agar memiliki studio—yang masih digunakannya sampai hari ini. Studio yang menjadi saksi setiap airmata Changbin merindukan Bunda.

“Gak apa-apa nangis. Yang penting tangisan itu bikin kamu semakin kuat.”

Hyunjin itu hatinya paling mudah rapuh. Anak yang mudah meneteskan airmata karena tersentuh.

Sewaktu awal-awal Bunda pergi, Hyunjin menangis tiap malam. Ayah belum sembuh apalagi Minho. Hanya Changbin yang menghampirinya. Menemaninya tidur. Sewaktu Oma Opa dari Sydney masih di rumah, maka Oma lah yang menemaninya.

Hyunjin lupa bagaimana akhirnya ia bisa kembali menjalani hari seperti biasa. Kendati di waktu-waktu tertentu ia kerap merasa ada bagian yang hilang dari hidupnya.

Bunda.

Setiap kali kumpul bersama teman-temannya yang menceritakan betapa mereka lelah mendengar ocehan ibu-ibu mereka, Hyunjin hanya menyimak. Membayangkan jika Bunda masih ada, apakah ia juga akan mendengarkan ocehan beliau? Apakah Bunda akan memarahinya karena sering pulang larut? Apakah bunda akan menyiramnya dengan air karena sulit dibangunkan di pagi hari?

Hyunjin pernah menyadari bahwa teman-temannya kerap merasa bersalah pada Hyunjin setiap kali mereka selesai mengeluhkan tentang ibu mereka. Namun, Hyunjin berbalik merasakan hal yang sama karena membuat keadaan yang dialaminya menjadi penghalang keseruan teman-temannya.

“Santai. Gue kalau masih ada Bunda juga paling kayak kalian. Gue suka dengerin cerita kalian. Gak usah gak enakan gitu lah.”

Saat pertama kali Hyunjin jatuh cinta, ia seperti disihir. Perempuan itu seakan menjelma menjadi sosok Bunda. Memarahinya, menanyainya ini itu, memastikan dia meminum air putih dan tidak tidur lewat dari jam 1 pagi jika memang ada tugas yang harus segera dituntaskan. Bahkan gadis ini pula yang kerap membangunkannya. Menerobos ke kamarnya—atas izin ayah tentunya—menyibak tirai pun selimut yang hangat mendekap Hyunjin.

“Bangun! Kalau jam segini masih tidur, gimana mau bangun gedung 100 lantai?”

Dengan perempuan ini pula Hyunjin untuk pertama kalinya mengungkapkan segala rasa bersalah dan sesal setelah perginya Bunda. Bersama perempuan ini pula, luka lama Hyunjin yang hanya ia perban seadanya, dirawat dan disembuhkan dengan sabar olehnya. Perempuan yang selalu tahu kapan Hyunjin butuh pelukan hangat dan penuh ketulusan.

“Kamu bilang Bunda selalu meluk kamu tiap kamu nangis dulu. Kasih tahu aku kalau kamu sedih. Biar aku yang peluk kamu kalau gak ada yang bisa.”

The Twin. Si kembar kesayangan keluarga. Yang kelahirannya disambut gegap gempita. Bahkan Oma Opa di Sydney serta Kakek Nenek di Jepang turut menyambut kehadiran keduanya.

4 tahun pertama sejak dilahirkan di dunia mereka habiskan waktu bersama Ayah Bunda. 6 tahun berikutnya, bersama Oma Opa di Sydney. 6 tahun berikutnya masih bersama Oma di Sydney dan 2 tahun berikutnya mereka habiskan sendiri di Sydney. Di usia 18 tahun mereka kembali ke rumah.

3 kali—4 jika dihitung dengan perpisahan antara keduanya dengan Ayah serta kakak dan adik mereka—total perpisahan yang dihadapi si kembar. Tetapi keduanya tetap kuat dan tumbuh dengan baik berdua. Saling bergantung satu sama lain tanpa mengganggu kehidupan pribadi masing-masing. Saling mengerti satu sama lain meskipun sering bertengkar dan sering pula menangis menyesal mengapa harus bertengkar.

Sewaktu pindah ke Sydney pertama kali, baik Felix dan Peter tidak begitu memiliki ingatan yang bagus. Selain fakta bahwa keduanya sempat dikejar kawanan burung saat berkunjung ke gedung opera bersama Oma Opa. Kenangan itu sangat membekas.

Tentang Bunda, keduanya justru lebih dewasa dalam menghadapi. Lebih cepat menerima bahwa antara kehidupan dan kematian itu hanya dipisah oleh seutas benang. Jika masa hidupmu usai, kamu akan mati. Begitu yang diterangkan Opa.

“Berarti masa hidup Bunda sudah habis?”

“Kenapa masa hidup Bunda cuma sebentar?”

“Kalian pilih bunga yang cantik atau bunga yang layu untuk dipetik?”

“Yang Cantik.”

“Di taman gak boleh asal petik bunga, Opa. Tapi Peter pilih yang cantik.”

“Ya seperti itu. Bunda kalian orang yang baik dan cantik, sehingga ia dijemput duluan.”

“Berarti kalau gak mati-mati, orang jahat?”

“Gak juga. Itu tandanya diberi kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik sampai waktunya dipanggil.”

“Jadi, kalau suatu saat Opa dan Oma dipetik atau mungkin Ayah kalian dipetik kalian jangan takut dan panik apalagi sampai merasa tidak ada lagi gunanya untuk hidup karena tak ada lagi orang yang disayang. Sebab kematian itu tidak bisa kita diduga, tidak bisa ditunda apalagi ditolak. Dia datang begitu saja. Dan kalian harus rela.”

Petuah-petuah Oma Opa menjadikan si kembar betah berada di Sydney. Peter dan Felix akhirnya sepakat akan pulang ke rumah Ayah dan berkumpul bersama saudara-saudaranya nanti setelah Oma dan Opa tiada.

Ketika Opa pergi, Felix dan Peter tentu saja menangis sedih di pelukan Ayah. Tetapi keduanya juga melihat sendiri bagaimana Oma tetap tegar berdiri. Seolah beliau sudah siap untuk berpisah.

“Sebagaimana ada siang ada malam. Ada panas ada dingin. Begitu pula pertemuan akan ada perpisahan.”

Sky. Si cerdas.

Dia tidak tahu apa-apa. Dia juga tidak punya banyak ingatan soal Bunda. Ia bahkan tidak tahu—jika tidak ada yang bercerita—bahwa kata pertama yang bisa ia ucapkan adalah “Una” alias Bunda.

Sky dan Jeje—nama panggilan Jeongin dari Sky—tidak lama tinggal di Jepang. Sebagaimana si kembar yang dikunjungi setiap liburan, begitu pula Sky dan Jeje. Di kunjungan Ayah saat usia Sky 8 tahun, ia menahan jaket Ayah sebelum beliau berangkat kembali ke rumah. Ujung jaket Ayah yang bisa diraihnya ia genggam kuat-kuat. Sky ingin pulang. Sky ingin ikut ayah.

Selama di Jepang, Sky banyak menghabiskan waktu dengan Kakek. Belajar memancing, bersepeda, bermain baseball. Kakek begitu sayang padanya dan Jeje. Namun, entah kenapa hati Sky selalu merindukan ayah. Ia selalu bertanya kapan hari libur akan datang sehingga ayah mengunjunginya. Bukannya tidak betah di Jepang bersama kakek nenek. Dia hanya merasa tempat ini bukan untuknya. Bukan untuk ia tempati lebih lama lagi. Dengan begitu Sky pulang lebih dulu. Jeongin menyusulnya 2 tahun kemudian.

Tiba di rumah, ia disambut hangat oleh ketiga saudara tertuanya. Minho sudah membaik dan mulai bersekolah saat Sky kembali ke rumah. Meski begitu, Changbin dan Hyunjin yang lebih sering menghabiskan waktu dengannya untuk belajar.

Sky bukan anak yang berisik seperti si kembar. Pendiam juga tidak sebenarnya. Tenang. Kepribadiannya tenang seperti Ayah. Bahkan sejak dalam kandungan pun, Sky adalah bayi yang tenang. Dia berbicara seperlunya. Jika dia sudah mencapai puncak lelahnya belajar, ia akan bernyanyi sekeras mungkin. Karena cukup mengganggu, kerap kali Changbin menyeretnya agar bernyanyi di studio miliknya sebelum Minho menyerang.

Musuh abadinya adalah Minho karena kakak tertuanya itu entah mengapa senang mengusilinya. Siapa sangka keusilan Minho malah jadi pelajaran yang dipraktekan Sky kepada saudaranya yang lain.

Sky mungkin tidak mengungkapkan bagaimana senangnya ia begitu akhirnya semua saudara-saudaranya berkumpul di rumah ini. Meski ia lupa bagaimana Bunda dan tak banyak kenangan yang ia miliki tentang Bunda, Sky tetap bersyukur dilahirkan di keluarga yang hangat ini. Semua seolah tahu bahwa setiap individu di rumah ini memiliki kekosongan yang nyata. Tetapi kebersamaan yang diciptakan lewat kasih sayang antar sesama penghuni rumah ini cukup mampu menambal kekosongan itu.

”Terima kasih sudah jadi anak bunda yang paling cerdas, Sky.”

Ucap Bunda dalam mimpi Sky di malam ia tidur setelah menerima pengumuman keberhasilannya masuk kelas akselerasi.

[...]

Jeongin dan sekarang ia lebih senang dipanggil Jeje.

Saat pulang ke rumah, terasa asing. Benar-benar asing sampai ia ingin sekali kembali ke Jepang. Hanya Sky yang bisa dia percaya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa terutama dengan Hyunjin yang selalu mencoba dekat dengannya.

Begini rasanya punya kakak banyak?

Semuanya begitu menyayangi Jeongin. Apapun yang dia minta, selalu diberi. Apapun yang ingin dia lakukan selalu ada yang mau menemani.

Selama di Jepang dan hanya berdua dengan Sky, Jeongin jarang sekali bertengkar. Kakek dan nenek selalu memberikan apapun dalam jumlah genap sehingga tidak ada yang saling berebut. Meskipun Ayah juga selalu membelikan sesuatu berjumlah sesuai dengan penghuni rumah, bukan saudara namanya kalau tidak menggoda yang paling bungsu.

Lagi-lagi siapa? Benar. Minho.

Sewaktu awal-awal datang Jeongin benar-benar tidak mau dekat-dekat dengan Minho karena selalu jahil. Lama-kelamaan Sky juga ikut-ikutan seperti Minho dan hanya Hyunjin bisa diandalkan Jeongin. Changbin juga suka ikut-ikutan usil tetapi ia akan segera meminta maaf jika Jeongin sudah menjerit.

Namun, tidak ada yang tahu.

Jeongin tidak pernah mengatakan pada siapapun.

Jeongin mungkin tidak tahu seperti apa rasanya dipeluk Bunda, bagaimana rasa masakan Bunda. Tetapi Jeongin tahu bahwa ketika ia tiba di rumah ini, ia disambut dengan penuh haru. Hanya ia yang tahu, hanya ia yang bisa mengajaknya berbincang meskipun terbatas di waktu tertentu.

“Selamat datang, Jeongin. Anak Bunda yang tidak sempat Bunda peluk. Terima kasih karena sudah kuat dan tetap bertahan.”


Ayah...

Sewaktu pertama kali kenal dengan Sana, Chan tentu saja tidak menduga bahwa ia dan Sana akan berakhir dalam ikatan pernikahan. Lebih tidak menyangka lagi kalau ternyata bakalan punya banyak anak.

Hubungan itu bermula dari sebatas kenalan. Sahabat Chan—Bambam—mengajaknya liburan dan membawa serta kekasihnya—Mina. Karena Mina tidak mungkin diizinkan pergi sendiri maka ia membawa serta Sana. Dari situlah awal kisah keduanya dimulai.

Siapa yang jatuh cinta duluan?

Tentu saja Chan.

Kalau hari itu dia lebih memilih menyiapkan ujian ketimbang mengamini ajakan Bambam untuk liburan, ia mungkin tak punya kesempatan lain lagi untuk bertemu Sana. Sejak hari itu keduanya sering menghabiskan waktu bersama karena ternyata mereka partner konversasi yang baik untuk satu sama lain.

Chan juga jadi mengerti seperti apa seorang Sana. Baik, pekerja keras, tahan banting, berisik, humoris, pintar masak dan suka menggambar. Ini hanya sebagian kecil yang bisa disebutkan. Belum jika ditambah hal-hal yang tebilang sederhana dan kerap terabaikan.

Chan ingat pertama kali ia melihat Sana menangis adalah sewaktu karyanya diberi nilai E oleh dosen. Salah satu teman yang tidak suka akan karir Sana menyebar fitnah bahwa Sana memplagiat karyanya.

“Kamu beneran plagiat gak?”

“Ya gak lah. Kamu sendiri kan saksinya aku gak tidur 2 hari 2 malam demi desain itu. Aku harus gimana, Chan? Ini pihak majalah juga nuntut kebenarannya. Aku udah jelasin tapi mereka gak percaya.”

“Jangan cuma jelasin, kamu harus buktiin, Kak. Dan jangan berhenti. Kamu harus gambar terus.”

3 minggu kemudian Sana bebas dari tuduhan plagiarisme. Dibantu oleh Chan, ia mengumpulkan bukti-bukti bahwa ia tidak melakukan hal terhina itu. Teman yang menyebarkan fitnah sampai berlutut meminta maaf pada Sana karena ternyata dia sendiri yang melakukan plagiasi dari desain majalah beberapa tahun lalu.

Nilai Sana kembali. Desain-desainnya di majalah tetap rilis untuk bulan itu tapi kemudian Sana tidak memperpanjang kontrak dengan mereka karena dia direkrut oleh majalah yang telah menjadi impiannya sejak kecil.

Chan sangat menyukai Sana ketika sedang bersemangat. Apalagi saat ide-ide menggambar telah penuh sesak di kepala dan menuntut untuk segera dituang di atas sketch book a5 yang selalu dibawanya kemanapun.

“Aku suka sama kamu, Kak.”

“...”

“Kak Sana.”

“Diem jangan ganggu dulu aku lagi—sial buyar aaaarrrghhh.”

“Kak.”

“Iya aku juga suka sama kamu, Chan. Puas?”


Minho datang lebih cepat dari yang mereka duga. Kedua keluarga menyambut bayi laki-laki itu dengan gembira. Tidak menyangka bahwa mereka tidak perlu menunggu waktu lama untuk menimang cucu.

Kebahagiaan itu terus menghampiri keluarga Chan dan Sana. Apalagi ketika si kembar lahir. Meski kembar keduanya lahir di hari yang berbeda. Selisih 10 menit. 11:55 dan 00:05.

Dari Minho hingga Sky, semua laki-laki. Baik Sana dan Chan tidak pernah mempermasalahkan gender karena semua pemberian Yang Mencipta.

Bagi keduanya asalkan anak-anak mereka terlahir sehat, itu sudah cukup. Mereka berdua telah berjanji akan membesarkan anak-anak itu menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang selalu menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar mereka. Pribadi yang saling menyayangi satu sama lain.

Manusia hanya bisa berjanji. Manusia juga bisa mengingkarinya. Manusia juga suka membuat rencana. Tapi ada yang menentukan.

Saat mendengar ungkapan cinta dari Sana sore itu lewat panggilan telpon, ada perasaan aneh menjalar. Kendati ucapan itu bukan pertama kalinya ia dengar, namun rasanya sudah lama ia tidak merasakan sensasi itu. Ketulusan dari satu ucapan yang membuatmu merinding.

Seumur hidupnya, Chan bisa menghitung berapa kali ia terlambat datang ke sekolah. Mama dan Papa selalu mengajarkannya kedisiplinan waktu. Ia lebih baik menunggu daripada ditunggu. Ia akan merasa bersalah pada siapapun yang menunggunya ketika memiliki janji temu.

Sore itu, Chan tidak akan lupa. Ia terlambat. Chan sadar, semua ini karena ia datang terlambat.

Ia sempat memeluk Changbin dan Hyunjin, tapi tidak dengan Minho yang lebih dulu menyadari semua. Menyaksikan bagaimana tubuh perempuan kecintaannya itu tertabrak kendaraan angkutan umum yang kehilangan kendali.

Chan menitipkan anak-anak di pos satpam tetapi ketiganya tetap mengikutinya. Ketika kerumunan telah berhasil ia terobos, yang ia saksikan adalah tubuh kekasihnya yang telah kehilangan kuasa. Likuid merah mengalir dari kepalanya.

Anak-anak berteriak memanggilnya. Begitu juga dengan Chan. Namun, ia tetap bergeming. Tangan lemas itu Chan genggam. Seadanya kekuatan yang ia miliki, maka itulah yang coba ia salurkan pada Sana

Bayi laki-laki itu menangis saat akhirnya ia bisa menghirup udara dunia. Tidak perlu lagi bergantung pada makanan ibu. Sayangnya, napas pertamanya di dunia adalah napas terakhir sang ibu. Ia kehilangan kesempatan merasakan pelukan ibunya. Ia kehilangan kesempatan merasakan makanan yang dibuat oleh tangan ibunya.

Ia kehilangan kesempatan melihat langsung wanita yang melahirkannya di dunia.

Raga itu telah memutih. Chan menggenggam tangan dinginnya. Menangis pilu tak sempat ucapkan selamat tinggal yang lebih baik.

”Maafin aku, Chan,” ucap Sana dalam tangis yang tak bisa lagi didengar oleh Chan meskipun mereka masih di ruang yang sama.


Setelah disemayamkan semua kembali ke rumah. Minho enggan pergi ke sekolah. Changbin berdiam diri di kamar. Hyunie menangis setiap sebelum tidur. Si kembar terus bertanya. ”Bunda kemana?” ”Bunda bilang mau bikin pie choco.” ”Kenapa foto bunda diberi kalung bunga?” Sementara Sky terus menangis gelisah. Jeongin juga sudah dibawa pulang ke rumah oleh kakek neneknya—orang tua Sana.

Rumah besar itu ditempati juga oleh orangtua Sana dan orangtua Chan untuk sementara. Kedua keluarga sepakat menemani Chan dan cucu-cucu untuk sementara waktu.

Sementara. Pemilihan kata itu diartikan cukup lama untuk Chan bisa benar-benar bangkit. Rasa bersalahnya masih membumbung. Kekosongan itu masih terlalu jelas untuk ia tutup paksa. Ia bahkan tak berani menatap anak-anaknya.

“Bangun. Mau sampai kapan kamu merenung Sana gak akan kembali. Anak kamu bukan hanya satu. Apa kamu gak mikir perasaan mereka? Yang kehilangan bukan cuma kamu. Kamu harusnya mikir juga perasaan orangtua Sana.”

“Kalau kamu masih terus begini, anak-anak kamu papa bawa ke Aussie dan ke Jepang. Biar kamu mati kesepian sendiri disini. Biar kamu makin merasa bersalah dengan Sana karena gak bisa rawat anak-anak kamu.”

Tamparan kata-kata dari papanya hari itu membuat Chan malu. Malu pada dirinya dan Sana yang bercita-cita tidak ingin membuat anak-anak mereka merasa kesepian. Dia malu karena tidak bisa membesarkan hatinya dan menjadi sandaran untuk anak-anaknya. Chan akhirnya sadar, ia tidak ingin lagi kehilangan. Cukup Sana. Tidak dengan anak-anaknya.

Setelah semua keluarga berunding, akhirnya diputuskan. Untuk sementara si kembar akan dibawa ke Aussie bersama orangtua Chan. Sementara Sky dibawa ke Jepang bersama orangtua Sana beserta Jeongin—yang dijemput setelah berumur 6 bulan. Chan hanya akan ditemani oleh trio tertua. Terlebih Minho yang harus benar-benar mendapat perhatian lebih dari Chan karena ia menyaksikan semuanya dan terus bermimpi buruk setiap malam.

Anak-anak akan kembali ke rumah saat Chan sudah benar-benar siap merawat mereka bertujuh. Atau saat anak-anak sendiri memang sudah ingin pulang ke rumah.

Dalam waktu berdekatan Chan harus menghadapi perpisahan. Perpisahan selamanya dengan Sana, dan perpisahan sementara dengan anak-anaknya yang masih balita.

Saat mengantar Jeongin kecil, ia tak bisa menahan airmata dipeluk ibu mertuanya. Meminta maaf karena tak bisa menjaga Sana dan harus merepotkan mereka dengan mengurus sementara Sky dan Jeongin.

“Kamu harus kuat buat diri kamu dan anak-anak. Saat kalian sudah siap untuk bersama, kamu bisa jemput mereka. Tangan ibu dan ayah selalu terbuka buat kamu begitupun papa mama kamu. Kamu gak sendirian, Chan. Dan makasih sudah jadi yang paling baik untuk Sana.”