piechocolix

she writes as memories....

Jalan [1]

untuk waktu yang tidak sebentar aku biarkan ruangan itu gelap bunga bougenville di dalamnya tumbuh tanpa bunga hanya kuncup yang tak sempat merekah karena jendela dan pintu tertutup rapat hari ini ... hari ini akhirnya pintu-pintu dan jendela dibiarkan terbuka memberi sambutan hangat mentari di ujung sana memberi hak pada kuncup bougenville tuk lebih indah

Pukul sepuluh pagi lewat sedikit mobil Ezra terparkir di depan kediaman keluarga Dandelya. Si bungsu yang akan dibawa pergi masih sibuk memilih warna lipstik. Oranye atau merah muda? Sementara Ezra sudah asyik bercengkrama dengan bunda dan Braja. 10 menit kemudian, Dandelya keluar dari kamarnya. Mengulas senyum serta melambaikan tangan kanannya menyapa Ezra.

“Tambah cantik aja ini adiknya Braja. Mau kemana?” goda Ezra yang membuat Dandelya tersipu. Si cantik membuat gerakan tangan seolah siap memukul Ezra saat itu juga sehingga mengundang tawa dari yang lainnya.

“Dijaga adek gue. Awas aja kalau baliknya gak utuh,” pesan Braja bernada gurau sebelum Ezra membawa adiknya pergi.

Dandelya masih tidak tahu kemana Ezra akan membawanya. Kenapa harus dia yang diajak pergi padahal bisa saja dia pergi dengan Braja seperti biasanya.

“Mau kemana sih, Kak?”

Ezra yang fokus mengemudi menoleh dan mengulas senyum pada Dandelya. Lemas, kaki Dandelya seperti tak bertulang. Senyum yang sama ketika sekuntum bougenville putih ia terima dari Ezra dua belas tahun yang lalu.

“Ntar juga tahu. Kalau aku bilang sekarang kamu gak bakalan mau nemenin kayaknya.”

Dandelya mencebik. Tangan kiri Ezra terulur menepuk puncak kepala Dandelya. Si gadis setengah mati berusaha terlihat biasa saja.

“Apaan sih pegang-pegang. Aku bilangin Mas Braja lho,” ancam Dandelya yang membuat Ezra terkekeh dan menggelengkan kepala.

“Kamu makan apa sih, Ly? Bisa-bisanya jadi cantik begini?” Ly. Lya. Ezra seorang yang memanggilnya Lya. Alasannya karena Lya ada dalam unsur Dandelya. Adel terlalu dipaksa katanya.

“Makan bunga kertas,” jawab Dandelya asal.

“Suzana?”

“Itu sih melati. Lagian aku udah cantik dari dulu ya.”

Ezra terkekeh. “Dulu biasa aja.”

“Biasa aja tapi—“

“Tapi apa?”

Dandelya memotong begitu saja kalimatnya. Menggantung tak bernyawa biarkan Ezra pikirkan sendiri lanjutannya. Tak peduli. Meski sendiri merasa telinganya bisa meledak saat itu juga ketika Ezra memujinya cantik beberapa saat lalu.

Mobil Ezra kini terparkir di lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan paling besar di kota ini. Demi apapun, Dandelya sedikit kecewa karena ia pikir Ezra akan membawanya pergi jauh menghabiskan waktu keluar kota. Menikmati udara yang jauh lebih segar dari ibukota provinsi ini kendati udara disini pun sudah lebih baik daripada di kota tempat domisilinya saat ini.

“Jadi, aku jauh-jauh mudik cuma buat nemenin dosen lulusan univ luar negeri masuk mall?”

Ezra melepas tawa. “Emang ngirain mau kuajak kemana sih kayaknya berkespektasi tinggi banget?”

“Sumba.”

“Mimpi.”

“Ya Tuhan, serius mending aku pulang aja.”

“Eh jangan dong. Beneran butuh saran kamu ini, Dan.”

“Dan? Komandan?”

“Sejak kapan adeknya Braja jadi receh gini sih.”

Melempar gurau yang tak begitu berarti adalah apa yang keduanya lakukan mengiringi langkah kaki yang masuk lebih dalam ke kawasan pusat perbelanjaan. Ezra sedikit berjalan lebih cepat. Sesekali menoleh memastikan Dandelya masih mengiringi langkahnya.

“Beliin aku kopi, Kak.”

“Nanti ya, Adik Manis. Upahnya setelah kamu nolongin aku.”

Rasa penasaran Dandelya semakin menggebu manakala langkah Ezra berhenti di outlet perhiasan. Segudang pertanyaan berkumpul dalam benak. Membuat Dandelya terpaku sesaat sampai tangan Ezra menarik pergelangan tangannya.

“Ngapain ke sini?” tanya Dandelya, clueless.

Ezra menatap Dandelya dengan seulas senyum lebar. “Bantu milih.”


Ezra dan Dandelya kini sudah duduk berhadapan di salah satu sudut coffee shop masih di dalam kawasan pusat perbelanjaan. Latte dingin yang menjadi pilihan Dandelya masih tak menyurutkan perasaan kacau yang kini melandanya.

Lucu sekali Ezra ini.

“Betah banget kamu sama Braja tinggal di sana? Gak pengin balik sini, Ly?” Ezra mengawali obrolan setelah keheningan beberapa saat oleh Ezra yang menerima panggilan telpon.

“Ya kenapa mesti gak betah. Kan tinggal sama nenek sendiri,” jawab Dandelya. “Lagipun, bentar lagi Ayah pensiun juga balik ke kampung halamannya kok,” sambung Dandelya.

“Iya sih.” Ezra mengangguk mengamini. “Cewek aku orang sana btw,” lanjutnya membeberkan informasi penting-tidak penting untuk diterima Dandelya.

Ceweknya ya? Perempuan yang menjadi alasan Ezra membawanya ke tempat ini. Perempuan yang akan menerima kalung bertahta bunga mawar pilihan Dandelya?

“Oh ya? Jadi pengin tahu kok bisa mau sama modelan Ezra gini,” gurau Dandelya sembari menggerling pada Ezra yang kini mendelik.

“Modelan Ezra gini? Aku laki-laki baik-baik lho.”

“Tapi tadi ngelus-elus rambutku.”

Ezra tertawa menanggapi. “Kamu kayak adek sih buat aku. Biarpun udah lama gak ketemu, ternyata masih tetap gini rasanya.”

“Kamu kan punya adek juga, Kak.”

“Si Satya kan cowo. Dipegang rambutnya, langsung ditendang.”

“Besok-besok lagi kalau Kak Ezra ngelus rambutku, kutendang.”

Masih panjang. Tukar kata dan kabar antara keduanya masih berjalan. Bungah di hati Ezra bertemu kembali dengan “adik perempuannya” tetapi porak poranda bagi Dandelya yang dikhianati harapan.

Ah....hujan masih deras rupanya kelabu angkasa masih mendominasi mentari belum benar-benar berkuasa kuncup bougenville kembali layu menyepi


27721

side

Aku punya seribu satu cara untuk mengungkapkannya

“Gak ada balasan?” tanya Hwang Yeji yang tengah asik menyantap tart cokelat yang dibawanya. Dia sendiri yang bawa untuk ulang tahun Lia, dia sendiri pula yang menyantapnya.

Lia menggeleng menatap layar ponsel. menggeleng lagi ketika akhirnya ia sadar kelakuan karibnya.

“Gimana sih ini katanya buat yang ulang tahun.”

“Enak ternyata. Mau minta Seungmin beliin,” jawab Yeji tanpa merasa bersalah sedikit pun. Bukan perkara besar juga untuk Lia karena ia sendiri tidak yakin kue itu bakalan menggoda dirinya untuk disantap. Ujung-ujungnya malah berakhir teronggok begitu saja di kulkas jika bukan Yeji yang memakannya.

Pesan yang tak dibalas. Panggilan telpon yang tak diangkat.

Kemana Minho?

“Udah gak sayang kali sama lo.”

“Enak aja. Kemarin masih telpon.”

“Kan kemarin. Kali aja dia tidur cintanya habis.”

“Mulutnya Yeji. Semoga Seungmin—”

“Gak. Gak. Udah ah mau pulang. Gak asik banget ini ulang tahun tapi pacarnya ilang.”

Kue cokelat itu tinggal setengah. Bersama perasaan khawatir Lia yang sudah setengah memenuhi ruang hatinya. Alih-alih berpikiran negatif, Lia justru lebih khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Minho.

Ini ulangtahun pertama Lia setelah menjadi pacar Minho. Sempat papanya ingin merayakan ulangtahun Lia secara megah sebagaimana sebelum-sebelumnya. Tetapi Lia menolak keras ide tersebut. Ia sudah cukup dewasa untuk memiliki sebuah pesta ulangtahun kendati hal seperti itu memang trivial bagi keluarga-keluarga kaya raya.

Masalahnya karena Minho. Minho tidak ada di dekatnya. Minho masih menjalani pendidikan profesi berjarak ratusan kilometer dari tempat Lia bernapas. Seakan belum cukup harus menahan rindu, menggelar pesta tanpa kehadiran Minho hanya akan membuatnya semakin tersedu pilu.

Selain pesta ulangtahun yang meriah, jangan lupakan hadiah yang tak kalah fantastis yang selalu ia terima baik dari orangtua, kakaknya, teman-teman bahkan kolega-kolega papa. Namun tahun ini, tidak ada yang lebih diinginkan Lia dari apapun melainkan kehadiran Minho.

100 hari sepertinya cukup meyakinkan Lia bahwa dia memang benar jatuh cinta pada Minho setelah fase denial karena insekuriti dalam dirinya yang berperang dengan kenyataan tentang Minho.

“DEMI TUHAN JULIA LO GAK DENGER SUARA BEL?”

Yeji kembali membuka pintu kamarnya dengan sembrono. Untuk kemudian membawa sosok laki-laki yang sedari tadi paling dicari Lia.

“Kak Minho?!”

“Hai.”

Begitu Yeji pergi, Lia langsung memeluk Minho. Kemeja putih yang dikenakan Minho basah oleh airmata Lia.

“Hei, kenapa menangis?”

“Kakak gak jawab pesanku. Kakak juga gak angkat telponku. Aku kira Kakak lupa kalau hari ini—”

“Ulang tahun? Saya gak lupa. Makanya saya datang. Pesan dan telponnya—”

“Sengaja gak diangkat? Mau bikin surprise?”

Minho menggaruk tengkuknya. Kemudian mengulas senyum menatap Lia. Sebuah gelengan kepala diterima Lia sebagai jawaban.

“Memang hp nya mati. Saya pinjam charger ya. Tadi buru-buru jadi tertinggal di loker.”

2 jam sebelum hari ulang tahunnya berlalu. Lia nyaris saja menyesali keputusannya untuk tidak menyelenggarakan acara yang megah. Kendati ia merasa sudah cukup dewasa, tetap saja ia tidak ingin merasa sendiri di hari ini.

Siang tadi bersama orangtua dan kakaknya makan siang bersama sebagai perayaan kecil-kecilan. Sore hari bersama Yeji dan ketika ia telah memiliki tambatan hati, bukan mustahil Lia mengharapkan hadirnya hari ini.

Di penghujung hari ulangtahunnya kali ini, Lia merasa cukup. Sekalipun tak ada ucapan eksplisit darinya, eksistensi Minho nyatanya sudah cukup membuatnya merasa lengkap.

“Terima kasih, Lia.” Bersama satu kecupan di dahi sebelum keduanya terlelap dalam rengkuh malam.


Bukan...bukannya aku tidak sayang, hanya...tidak terbiasa

“Pasti suplemen sama vitaminnya gak diminum?”

”....”

“Makannya juga telat kan?”

”....”

“Tidurnya juga berantakan.”

“Lia...”

“Udah diem. Aku gak pernah semarah ini ya. Mana lagi ulang tahun pula.”

TIdak ada keanehan berarti ketika Lia membuka matanya pagi ini. Ucapan ulangtahun yang datang darimanapun dan dibalasnya satu persatu menjadi agenda awal harinya. Tetapi menjadi berantakan ketika panggilan telpon dari Minho diangkatnya.

Berpikir bahwa mungkin tahun ini ia akan dapat ucapan selamat dari Minho. Nyatanya suara lemas di seberang sana menghidupkan jiwa keibuan dalam diri Lia.

“Saya nyamperin kamu agak sore ya. Setelah istirahat sedikit.”

“Kakak sakit? Suaranya lemes gitu. Lia kesana aja ya.”

“Gak usah, Lia. Kakak—”

Lia enggan mendengar lanjutannya. Lebih baik menghampiri langsung dan menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Minho mengggigil, meringkuk di bed sofa apartemen studionya alih-alih di atas tempat tidur.

“Aku sebel sama Kakak.”

“39,1 dan kakak masih bilang cuma gak enak badan?”

Dan rentetan omelan lainnya khas ibu-ibu pada anaknya yang baru saja ketahuan melakukan pelanggaran makan es krim saat flu. Pada kasus Minho 2 minggu berturut-turut mengorbankan diri menukar shift jaga UGD supaya punya kesempatan cuti 2 hari untuk Lia. Kenyataannya lebih dari 2 hari karena sakit lengkap dengan Lia yang kesal di hari bahagianya.

“Maaf ya. Maksud saya bukan begini.”

“Aku gak tahu maksud kakak gimana tapi ini makan dulu buburnya.”

“Pahit.”

“Makan atau aku pulang.”

“Jangan senyum. Aku masih sebel Kakak teledor sama diri sendiri.”

3 hari adalah waktu yang digunakan Lia untuk memastikan Minho benar-benar bisa kembali ke rumah sakit dan menjalani harinya sebagai dokter magang. Selama 3 hari itu pula, keduanya membangun ruang paten di relung batin untuk ditempati satu sama lain. 3 hari itu semakin meyakinkan keduanya akan perasaan satu sama lain yang semakin kuat dan terikat.

“Kakak jaga diri ya. Jangan maksain buat ketemu Lia lebih lama kalau ujung-ujungnya bikin kakak sengsara begini.”

Minho mengangguk. “Terima kasih, Lia.”


Karena bagiku ada begitu banyak cara membuatmu bahagia daripada sebuah ucapan selamat

“Udah dibuka?” tanya Minho yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk.

“Belum. Bareng kakak aja. Aku gak berani sendiri.”

Minho duduk di sisi kosong couch tepat disamping Lia. Mengambil alih iPad dari Lia yang kini diliputi rasa panik dan takut tak keruan. Telapak tangan ia gunakan untuk menutup mata. Minho hanya bisa tertawa.

“Kalau hijau?”

“Aku gak akan minta hadiah ulangtahun dari Mama Papa dan Kak Dowoon.”

“Kalau merah?”

“Aku nangis.”

Minho benar-benar tergelak sekarang. Ia sudah punya jawaban yang terpampang di layar iPad milik Lia.

Setahun terakhir ini, Lia mulai getol mengasah diri di bidang fashion. Tahun lalu ia berbagi banyak hal dengan Minho termasuk rasa suntuk dan tak berarti yang kerap menguasai dirinya.

Ia iri pada Dowoon, kakaknya. Dowoon tahu apa yang ingin ia lakukan. Tanpa ragu ia mengatakan pada Papa Mama tentang keinginannya menjadi anggota band. Begitulah ia berakhir menjadi drummer populer yang selalu muncul namanya dalam daftar pencarian oleh karena skill dan pesona dari parasnya yang menawan. Semua itu Dowoon mulai sejak memasuki bangku sekolah menengah pertama.

Sementara Lia menjalani hidup yang monoton. Belajar lalu bekerja. Orangtuanya tidak pernah membatasi ataupun memaksa anak-anaknya harus mengambil bagian dari perusahaan. Tak ada batasan seperti itu. Keduanya terbuka untuk apapun yang ingin dilakukan Dowoon dan Lia. Tetapi Lia benar-benar tak tahu apa yang ia suka. Lebih tepatnya tahu tapi tidak yakin.

Minho lah yang mendorong Lia untuk mencoba.

“Gak ada yang terlambat, Lia. Kamu sudah tahu dari dulu arah ketertarikan kamu, tapi kamu gak yakin. Kenapa gak yakin? Karena kamu gak pernah mau mencoba.”

Satu tahun penuh dorongan dari Minho ternyata membawa Lia pada keberanian menantang diri pada kompetisi design wedding dress bertema autumn.

“Hijau.”

“Bohong!”

Lia tidak lagi menutup kedua matanya. Tangan lebih cepat bergerak merebut iPad dari Minho untuk memastikan sendiri.

“Kak, mimpi gak sih? Bercanda gak sih? Prank ya ini?”

Pertanyaan bertubi-tubi sebagai respon dari kebingungan Lia membuat Minho tersenyum lebar.

“Lia kok nangis? Kan hijau bukan merah.”

Lia menggeleng. Menatap Minho dengan tawa ringan meski airmata menggenang di pelupuk. Untuk kemudian mengalir deras di pipi ketika Minho menariknya dalam pelukan.

“Kamu hebat, Lia.”

“Kak...karya aku masuk majalah. Kak...dunia gak lagi bercanda kan? Ini bukan cuma sesaat buat bikin aku bahagia di hari ulang tahun gitu aja kan? Kak...aku seneng banget.”

Lembut Minho mengusap punggung Lia. “Gak. Ini baru awal, Lia. Kamu hebat. Kamu pasti bisa. Terima kasih, Lia.”


CW// kiss

Senyum itu...sorot itu...kamu dan apa-apa yang ada di dirimu adalah lebih dari sekedar untuk disyukuri

“Oh, udah pulang, Kak?”

Singkat.

Sebagaimana yang telah lalu, Minho tak akan pernah membiarkan Lia sendiri di hari ulangtahunnya.

“Lapar.”

“Aku udah masak, Kak. Eh udah belum ya? Kalau di dapur gak ada berarti aku lupa. Pesan aja ya, Kak.”

Seriusan? Lia? Mengabaikannya?

Ini bulan keempat setelah keduanya resmi mengikat janji bersaksi semesta di altar. Sudah selama itu pula Lia benar-benar telah melepas diri dari pekerjaan tetap di kantor Papanya dan memilih menantang diri mengikuti perlombaan design lainnya setelah kemenangan tahun lalu.

Saking ambisnya, ia melupakan hari ini. Hari ulangtahunnya yang sangat ia hargai. Luar biasa memang perubahannya.

Dan Minho sepertinya sedang tidak ingin diduakan oleh ide-ide yang ramai di kepala Lia. Ide-ide yang sangat disayangkan jika tak segera dieksekusi.

“Kamu udah makan, Sayang?”

“Kayaknya udah.”

“Minum?”

“Itu aku ada tumblr.”

Penampakan punggung Lia yang tak sedikitpun menoleh saat diajak berbicaranya agaknya mulai membangkitkan jiwa iseng dalam diri Minho.

“Udah kosong. Aku ambilin minum ya?”

“Hmmm.”

Tak butuh waktu lama untuk Minho mengisi botol itu dengan air putih. Diletakkannya di sisi kanan meja Lia.

“Ada perempuan yang dulu sukanya marah-marah setiap aku kelupaan minum air putih.”

Kalimat itu sepertinya cukup ampuh mendistraksi Lia. Terbukti kegiatan menggambarnya terhenti. Tangan kanannya dengan cepat mengambil tumblr, membukanya, dan menenggak setengah dari isinya. Minho tersenyum.

1:0

“Kakak gak mandi?”

“Udah.”

Lihat. Betapa fokusnya Lia sampai tidak tahu bahwa suaminya datang ke ruang kerjanya sudah dalam keadaan bersih.

“Aku kayaknya bakalan sampai malam banget jadi mending Kak—”

Kalimat itu tak usai. Tangan Minho lebih cepat memutar kursi kerja Lia untuk menyerang bibir yang muda. Dari kecupan yang penuh tekanan, beralih pada lumatan lembut yang menguarkan isi kepala Lia.

Minho betulan lapar rupanya.

“Kamu ulang tahun, Lia,” ucap Minho dengan kening keduanya yang masih tak berjarak. Ucapan untuk sebuah jeda napas sebelum ciuman berikutnya yang lebih agresif.

“Kak...” erang Lia ketika sepersekian sekon Minho berhenti menyerangnya. Ingin ajukan protes atas penyerangan mendadak tetapi logikanya sudah tidak bisa lagi kembali lurus.

Iya, Lia baru ingat dia ulang tahun. Lia baru ingat juga akan janjinya untuk sebuah gaun tidur yang Minho berikan 3 hari lalu.

Benar. Harusnya hari ini.

Minho menyeringai. Sebuah deklarasi kemenangan karena berhasil menyadarkan Lia. Membawa kembali sosok Lia yang mencintainya lebih dari gambar setengah jadi di layar iPadnya.

Minho kini berlutut. Menautkan jemarinya pada milik Lia. Menengadah menatap Lia yang pipinya sudah semerah tomat.

“Maaf ya, Kak. Aku lupa.”

Minho menggeleng. “Gak apa-apa. Istirahat dulu, ya. Hari ini kamu ulangtahun.”

“Tapi ini harus segera selesai, Kak.”

“1 jam. Kakak tungguin di sini ya.”

Lia mengangguk. Kembali memutar kursi ke posisi semula. Sementara Minho kembali ke bed sofa. Menatap punggung Lia yang kini fokus pada gambarannya.

“Lia.”

“Hmmm.”

“Terima kasih.”

Lia pikir terima kasih itu untuk 'makanannya'. Ia tersipu.


Sebab daripada sekedar ucapan selamat...aku lebih ingin selalu hadir memelukmu di hari seperti ini Daripada sekedar ucapan selamat...Terima Kasih terdengar lebih berarti...

Deja vu.

Lia ingat 3 jam yang lalu Minho membalas pesannya dingin. Sungguh Lia tidak suka dengan nada pesan tadi. Tetapi sosok itu kini telah berdiri di depan pintu rumah dengan senyum lebar.

“Suamiku ternyata suka bohong ya.”

“Aku suka Lia,” jawabnya lengkap dengan seulas senyum yang rasanya sudah lama tidak pernah Lia lihat.

Minho benar-benar gila-gilaan di rumah sakit. Menerima tawaran tukar shift dengan mudah. Mengabaikan peringatan Lia bahwa ia pernah jatuh sakit oleh karena terlalu memforsir jam kerja di rumah sakit. Dan Minho selalu berhasil membalikkan kalimat itu dengan dalih bahwa dulu ia masih tinggal sendiri jadi tidak ada yang mengontrol sementara sekarang ia punya Lia yang selalu memastikan ia tetap dalam kondisi baik-baik saja.

“Jalan-jalan yuk.”

“Kak ini jam 11 malam.”

“Kita pernah kayak gini, Lia. Ambil jaketku aja biar gak kedinginan.”

Lia menurut kali ini. Tak butuh waktu lama, Lia kembali dengan jaket Minho yang telah sempurna membalut tubuh kecilnya.

“Mau kemana, Kak?”

“Lihat bintang.”

Perjalanan ini tidak asing. Sebab mereka kembali ke pantai tempat dimana Minho melamar Lia dulu. Tidak. Lia tidak lagi berlari setelah keluar dari mobil. Ia menunggu Minho untuk menggenggam tangannya. Berdua tautkan jemari, berjalan bersisian menapaki pasir pantai.

Hari telah berganti. Ulangtahun Lia telah tiba.

Keduanya duduk beralaskan pasir pantai. Menikmati semilir angin laut menerpa wajah keduanya. Lia sandarkan kepala di bahu Minho, sementara Minho merengkuh pinggangnya.

“Kakak gak capek langsung ngemudi jauh sampai sini?”

“Capek.”

“Kenapa gak istirahat aja di rumah?”

“Aku lagi kangen seseorang. Aku mau cari dia disini.”

Lia tak lagi sandarkan kepala. Sempurna menoleh pada Minho. Ingin tahu siapa yang dicari suaminya.

“Siapa?”

Minho tersenyum. Isyaratkan Lia agar kembali menumpu kepala di bahunya.

“Ceritanya panjang. Jadi kamu sambil nyandar aja.”

Lia pun kembali ke posisi semula. Ia benar-benar penasaran. Mungkinkah itu mantan pacar Minho? Dalam kepala dipenuhi tanda tanya.

“Jadi?”

“Kamu gak sabaran banget, Sayang.”

“Ih, Kak. Aku pengin denger ceritanya. Jarang-jarang kan ada kesempatan waktu luang sebanyak i—oh scorpionya jelas banget.”

Lia menunjuk ke angkasa. Pada rasi scorpio yang terlihat jelas sebagai raksasa angkasa malam.

“Aku ketemu dia pertama kali di rumah teman. Dia pakai apron kotak-kotak warna cokelat. Rambutnya waktu itu warna hitam. Manis. Saat dia tersenyum jauh lebih manis lagi.”

“Ohh, nyeritain aku?”

“Lanjut gak?”

“Lanjutin.”

“Singkat cerita kita jadi sering ketemu tiba-tiba tanpa sengaja. Di rumah sakit, di pusat perbelanjaan, di toko roti. di toko hadiah, bahkan di bandara. Seolah-olah ada benang tidak kasat mata yang menggerakkan kita ke tempat yang sama di waktu yang tidak terduga. Pertemuan-pertemuan itu mengundang tanya 'kenapa'. Ternyata karena cupid selalu berhasil memanah tepat sasaran di setiap temu. Akhirnya aku datangi rumahnya, minta izin orangtuanya untuk menjadi lebih dari sekedar teman dekat baginya.”

Hening. Lia sudah 100% yakin cerita ini tentang dia. Tetapi ia ingin tahu lebih jauh bagaimana arti dia untuk Minho.

“Lia tidur?”

“Gak. Aku dengerin. Ceritanya menarik. Lanjutin, Kak.”

“Seiring waktu berlalu, rasa bersalah kepada dia mulai menumpuk. Semua karena aku gak pintar mengutarakan perasaan. Aku gak tahu apa yang harus aku berikan buat dia di hari spesialnya. Tetapi satu hal, aku gak mau dia menghabiskan waktu sendirian di hari ulangtahunnya. Suatu hari, karena kecerobohanku dia harus marah-marah sepanjang hari ulangtahunnya. Aku senang dia marah-marah karena memang semestinya begitu. Meski menghabiskan waktu bersama selama 3 hari, tapi semua sangat membebaninya. Mengurus orang sakit bukan hal yang mudah.”

Lia tertawa akhirnya. Teringat kembali ketika ia tergesa di pagi hari, menggerutu sepanjang jalan dari apartemennya menuju apartemen Minho yang berjarak puluhan kilometer.

“Meskipun terpisah jarak, aku selalu dibuatnya jatuh cinta setiap kita bertemu. Aku tidak tahu seberapa berat hari-hari berikutnya, abu-abu masih mendominasi isi kepalaku tentang hari esok, tetapi dia...aku tahu aku tidak bisa tanpa dia. Kita melangkah bersama, membuka lembaran baru kehidupan. Merajut impian bersama dalam satu naungan atap.”

Kabur. Pemandangan samudera yang luas itu kabur. Angkasa berbintang pun tak lagi sejelas tadi. Oleh karena airmata yang berkumpul di pelupuk mata Lia.

“Selama menghabiskan waktu bersamanya, aku paling suka saat dia fokus menarik garis, membentuk pola, membuka majalah dari iPadnya. Dia selalu cantik. Tapi saat-saat seperti itu, dia paling cantik. Dia sudah punya impian, dia sudah menemukan kegembiraan dari dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari sebelum-sebelumnya.”

“Tetapi suatu hari mimpinya membawa pada kegelapan. Membawa pada sesal dan rasa bersalah. Dia sempat tersesat. Dia sempat tak mau pulang. Dia sempat ingin pergi. Aku berusaha mengembalikan dia. Apapun caranya aku lakukan. Tidak mudah sampai akhirnya ia kembali. Perasaan-perasaan negatif itu berangsur pergi. Mengembalikan paling tidak sebagian kecil dari senyumnya yang sempat hilang.”

Minho tahu Lia mendengarkan. Minho tahu Lia menangis. Tetapi cerita ini belum berakhir.

“Dia kembali, tetapi tidak benar-benar kembali. Dia tinggalkan mimpinya, diacuhkan, digeletakkan begitu saja teronggok bersama tumpukan-tumpukan gelap yang sempat menguasainya. Rupanya dia masih tertahan. Dia masih ragu untuk kembali. Ia kembali dengan kedua mata yang ia tutup dengan telapak tangannya. Hanya celah kecil dari sela-sela jari yang ia biarkan terbuka, sebuah upaya kecil agar ia tidak tersandung lagi padahal dia punya penunjuk arah yang berjalan di sampingnya.”

Tangisan Lia tak sanggup lagi ia tahan. Luapan emosi yang ia rasakan dari cerita Minho menyadarkannya. Tentang seberapa keras usahanya mencari impian itu. Sebarapa banyak waktu yang telah ia luangkan. Tetapi begitu saja ia abaikan karena insiden yang tak pernah ia bayangkan. Insiden ketika ia kehilangan kesempatan pertama menjadi seorang ibu.

Lia sadari insiden itu membawa pengaruh besar dalam perubahan dirinya. Minho benar, Lia belum kembali. Lia masih menghalau netranya. Ia berpura-pura kembali bukan untuk dirinya. Ia berpura-pura kembali hanya agar Minho tidak menangis lagi.

Perlahan Minho merubah posisi duduknya. Ia ingin melihat Lia hari ini. Ia ingin melihat Lia di usia barunya. Rambut yang menghalangi paras cantik Lia, ia bawa ke belakang telinga. Lia masih tersedu menunduk.

“Lia, lihat Kakak, Sayang.”

Lembut Minho usap airmata Lia di pipi. Lia dengan kedua netra yang masih merah karena menangis menatap Minho. Demi apapun, Lia tidak sanggup. Perasaan yang tak terhitung berkecamuk di dada.

“Lia, aku di sisi kamu. Aku gak di depan, aku juga gak di belakang. Aku di samping kamu. Jangan takut, ya. Aku gak maksa buat kamu mulai gambar lagi besok, tapi aku cuma mau kamu lebih hidup. Lakukan apapun Lia. Apapun yang bisa bikin kamu merasa lebih baik, aku ada di samping kamu. Aku selalu di samping kamu.”

Lia mengangguk dan kembali menangis. Minho menariknya pelan dan membawanya dalam rengkuh.

“Terima kasih sudah dilahirkan, Lia. Terima kasih karena kamu nyata ada di hidupku. Terima kasih.”


Selamat Ulang Tahun, Lia

21/07/2021

fallinlove—again

Bagi Calvin Antares, jatuh cinta itu agaknya sukar. Karena kenyataannya, bisa dihitung jari berapa kali ia jatuh cinta kendati dekat dengan beberapa perempuan. Sampai dia bertemu Claudia dan berpikir bahwa ia bisa berakhir “baik” dengan perempuan itu. Nyatanya disinilah Calvin. Duduk di antara sekian banyak hadirin tamu undangan, menikmati hidangan yang seharusnya bisa ia nikmati. Tetapi masih dominan pahit dalam hati melihat Claudia di singgasana berteman laki-laki yang siap bertanggung jawab untuk kehidupan barunya.

Ternyata flu beberapa bulan lalu menjadi terakhir kalinya Calvin mencari perempuan itu dalam keadaan mendesak. Sayangnya, Calvin kecewa pada Claudia. Sebab ia lebih dulu mengikat janji sehidup semati dengan laki-laki pilihannya bahkan sebelum Calvin jatuh cinta lagi.

Hh ... bagaimana bisa Calvin jatuh cinta lagi ketika Claudia yang sudah diikat begini saja masih ia harapkan?

Calvin dan cinta sepertinya kurang bersahabat.

Tapi Calvin dan rasa dingin yang tiba-tiba menjalar di area perutnya membuat kesadarannya kembali.

“Aduuh, maaf-maaf Mas, gak sengaja.”

Sungguh demi apapun, Calvin hampir meledak marah. Tidak masalah sebenarnya kalau hanya air putih dingin, tapi ini es krim.

Kemarahan Calvin tertahan begitu saja ketika melihat sepatu perempuan yang menumpahkan es krim di bajunya patah heelsnya. Namun, ia seperti tak peduli dengan pergelangan kakinya—yang pasti akan terasa sakit beberapa saat lagi—, malah sibuk mengeluarkan berlembar-lembar tisu guna membersihkan kemeja Calvin.

“Gak apa-apa, Mbak. Sini saya bersihkan sendiri.”

“Maaf ya, Mas. Saya cuciin aja bajunya.”

“Gak usah, Mbak. Ini gak apa-apa kok.”

“Ini es krim. Manis bikin lengket. Mengandung susu juga baunya nanti gak enak. Mending Mas ganti baju. Jasnya kena gak, Mas?” Perempuan itu kini beralih memeriksa jas Calvin setelah sebelumnya ia melepas sepasang sepatu yang sudah patah heelsnya.

“Tapi saya gak bawa baju ganti. Gak apa-apa Mbak. Ini saya juga mau pulang.”

“Ya udah sekalian kita ke parkiran. Saya ada kaos putih baru di mobil bisa buat Mas.”


“Rola?”

“Hmmm.”

“Gue suka sama lo.”

Insiden tak terduga di acara nikahan Claudia malah membawa Calvin pada temu tak terduga dengan Rola. Seakan semua sudah direncanakan langit. Rola dan es krim yang tumpah di baju Calvin. Rola dan kemeja Calvin yang ia kembalikan dengan cara yang sama tak terduganya.

Awalnya Rola bingung, bagaimana Calvin bisa tahu tempa kerjanya? Apa mungkin laki-laki itu diam-diam mencaritahu tentang Rola yang sudah menjanjikan segera mengembalikan kemejanya—tapi dengan bodohnya Rola lupa meminta nomor kontak yang bisa dihubungi.

Karena wujud Calvin yang tiba-tiba ada di hadapannya—di lobby utama kantornya—membuat Rola lekas menarik pemuda itu ke parkiran untuk mengembalikan kemejanya.

“Maaf ya, Mas. Tapi saya gak nyangka Mas sampai bisa nemuin kantor saya demi kemejanya.”

“Oh, bukan-bukan. Jangan salah paham, Mbak. Saya mau nemuin Papa saya.”

“Papanya kerja disini juga, Mas? Di divisi mana? Biar saya anterin kalau gitu.”

“Di lantai 8.”

“Lantai 8?! Lho....?”

Kepalang malu, tapi Rola betulan mengantar Calvin ke lantai 8—Ruang Direktur—meskipun si adam sudah hafal seluk beluk kantor ini. Sebelum pulang, Calvin sempatkan mampir di lantai 6 dimana divisi Rola berada. Meminta nomor ponsel si gadis dan menjanjikan temu minum kopi bersama untuk kaos putih yang si gadis berikan pada Calvin.

“Calvin lo serius?”

Kata ganti formal mereka luruh di pertemuan minum kopi. Berganti sapaan akrab layaknya kawan lama. Saling mengenal dan memberi informasi satu sama lain tentang hal-hal trivia. Kendati tak banyak hal yang selaras, tapi tidak sedikit pula yang bisa diikat, disambung dalam obrolan panjang 3 jam pertama mereka.

Hari ini, di tempat kopi yang sama Calvin berdeklarasi. Belajar dari yang lalu bahwa perasaan suka semestinya diutarakan. Perkara diterima atau ditolak sudah paten jawabannya hanya seputar dua kata itu.

6 bulan rasanya cukup bagi Calvin menafsirkan perasaannya sendiri. Bahwa menjemput Rola saat perempuan itu mesti lembur bukan sekedar perhatian biasa. Bahwa menunggu lampu kamar perempuan itu mati hanya untuk memastikan ia tidur tepat waktu saat dilanda sakit bulanan adalah bukan kekhawatiran tak berdasar. Bahwa debaran saat melihatnya tersenyum dan efek halo berlebihan pada sosoknya saat gembira adalah bukan sekedar gugup yang dibuat-buat.

“Serius. Tapi gue gak masalah harus nunggu. Gue juga gak akan maksa lo buat ngasih jawaban. Gue bilang begitu karena gue pengin ngebebasin perasaan gue. Gue gak mau perasaan itu berakhir terkubur paksa tanpa pernah bernapas bebas.”

Bagi Rola sendiri, ia terlampau paham. Perhatian-perhatian Calvin tentu bukannya tidak bermaksud. Meski sempat dibayangi dua kegamangan bahwa semua dari Calvin Antares entah itu benar-benar ketertarikan sebagai 2 entitas berbeda, atau sekedar kepedulian antara 2 manusia yang saling mengenal.

Hari ini Rola mendapatkan jawaban kegamangan yang melandanya. Sejatinya, ia tidak begitu menaruh harap pada apa-apa yang telah Calvin tujukan padanya. Baginya memiliki Calvin sebagai teman dekat saja sudah lebih dari sekedar cukup. Pun usia mereka adalah kekhawatiran lain dari Rola.

“Gue lebih tua, Cal.”

“Gak nyampe setahun,” tukas Calvin cepat seakan telah menduga pernyataan itu.

Rola terkekeh. “Lo bilang lo gak bakal maksa.”

Calvin menghela napas. “Gue gak maksa. Gue cuma ngasih lo keyakinan lebih biar lo percaya kalau umur bukan jadi masalah buat gue, La.”

Jujur hal itu juga sempat menjadi kekhawatiran bagi Calvin. Bukan, bukannya Calvin takut akan pandangan orang. Ia lebih takut pada Rola yang mungkin tidak nyaman harus bersanding dengan laki-laki yang lebih muda meski terpaut tak sampai setahun jika tidak melihat angka tahun lahir mereka.

Namun apalah artinya Calvin tanpa pahlawan di balik keyakinannya untuk maju. Mama dan Kirino—yang mengutip dari Bang Bayu.

“Waktu penciptaan, kita gak bisa minta Tuhan buat jodohin kita dengan siapa siapa secara spesifik. Tetapi ketika kita akhirnya dilahirkan dan dibiarkan Tuhan berkelana di muka bumi, Tuhan memberi kita kesempatan untuk meminta meski tak selalu Tuhan kabulkan. Kalau tidak dikabulkan, bukan berarti tidak baik. Mungkin sudah Tuhan siapkan untuk kita versi upgrade dari doa kita. Hanya Tuhan yang tahu. Jadi, mau dia lebih tua, lebih muda, kalau kamu ngerasa dia ada di antara substansi doa-doa kamu pada Tuhan, ambil.”—Mama Calvin.

“Nih ya kata Bang Bayuaji, S.Sos. umur tuh cuma angka. Kata lo dia seumuran gue kan? Lo kalau manggil gue juga kadang Kirina Kirino doang elah gini aja dipikirin. Suka ya suka aja. Dikejar. Diusahain. Jangan kalah lagi sebelum perang. Belajar kek dari yang sebelumnya.”—Kirino 'galak' Isha Khalil.

“Oke deh.”

“Apanya?”

“Jalan aja kita.”

“Kenapa lo jawabnya kayak terpaksa gitu sih, Rola?”

Melihat raut kesal Calvin membuat Rola tergelak. “Ya emang harus gimana lagi kalau gue juga suka sama lo, Calvin Antares?”

“Kan bener.”

“Apanya?”

“Gue tahu lo juga suka gue.”

“Sok tahu ah kayak mbah dukun.”

Usai deklarasi itu berdua masih larut bercengkrama. Berteman es kopi kesukaan masing-masing menyulam kata dalam susunan kalimat hingga menjadi kisah awal perjalanan mereka dalam relasi baru.


“Titik awal yang bikin lo sadar kalau lo emang suka sama gue?”

“Waktu lo lembur dan posisinya lo udah kena gejala flu. Itu pertama kalinya gue jemput lo. Awalnya lo nolak karena lo bawa mobil. Tapi gue tetap dateng karena denger suara lo loyo parah.”

“Sumpah gue bingung pas lo dateng. Bingung kenapa lo dateng padahal udah gue bilangin gak usah. Bingung juga karena lo ada 3. Gue pusing banget.”

“Kan ... jadi apa lo kalau gak gue jemput hari itu?”

“Hehe ... terus? Masa gara-gara itu doang?”

“Ya emang gara-gara itu doang. Gara-gara itu gue gak pengin lihat lo sakit. Gue pengin jagain lo. Gue juga pengin jadi orang yang ada di opsi pertama lo waktu lo butuh seseorang buat ada di sisi lo. Gue juga pengin jadi orang bisa lo percaya dan lo andalkan.”

“Cal.”

“Hmm.”

“Lo ngerasa lebih bucin dari Kirino temen lo itu gak sih?”

“Gak. Levelnya beda. Bucin gue berkelas.”

“Sekelas telor ayam atau telor bebek martabak telor kesukaan bapak gue?”

“Gue cuma gak pengin main catur kayak Kirino.”

—-end—-

06/07/2021

Pulang...

Pulang. Dandelya tidak ingat kapan terakhir kali ia begitu ingin pulang. Setelah ia lulus sekolah dasar, setelah ayah menikah lagi, setelah ia dan Braja sekolah di kota Serabi, tidak ada definisi pulang yang benar-benar bisa ia jadikan ingin. Rumah di tanah tujuannya ini tidak lagi sama sejak ibu pergi. Ibu dan tempat istirahatnya mungkin satu dari sekian alasan yang bisa ia jadikan kilah untuk pulang. Lalu, ada Ezra.

Bagaimana kabarnya? Apa rambutnya masih cepak? Apa dia masih suka menggerutu tentang bunga bougenville yang—usut punya usut dia tanam di depan rumah untuk pagar—mengotori halaman? Berhubung sedang musim penghujan, Dandelya tidak akan menemukan gerombolan bunga kertas itu mekar. Kalaupun ada, tidak akan selebat saat musim kemarau.

Terakhir kali bertemu Ezra adalah saat pernikahan ayahnya. Dandelya dan Braja kembali ke tempat ini untuk menyapa wanita yang akan menemani ayahnya; menggantikan tugas mama. Saat itu Braja sudah berada di tingkat akhir SMA, sementara Dandelya baru saja masuk SMA. Setelah itu, Dandelya tak pernah lagi bertemu Ezra karena laki-laki itu meneruskan pendidikannya di luar negeri.

Dandelya ingin mengutuk orang-orang yang melabeli ibu tiri sebagai sosok penyihir jahat yang siap meracuni putri kesayangan ayah. Bunda—begitu Dandelya dan Braja memanggil ibu tiri mereka—adalah sosok yang baik. Selalu menghubungi Dandelya dan Braja rutin di sabtu sore atau minggu pagi. Dandelya senang dengan kehadiran bunda. Cantik, ceria dan menyenangkan. Seperti sekumpul bunga bougenville oranye di musim kemarau.

Senyum bunda dan lambaian tangan antusiasnya di antara banyaknya orang di area kedatangan adalah keindahan pertama yang Dandelya temui sesaat setelah menginjakkan kaki di tanah rantau ayah. Braja menyuruhnya keluar lebih dulu agar Bunda tidak sendirian menunggu sementara si sulung mengambil bagasi.

“Dek Adel tambah cantik. Sehat, Dek?” Bunda memeluk erat Dandelya siang itu. Menyambut hangat si bungsu yang paling hemat bicara. Dandelya mengangguk sebagai jawaban.

“Bunda sehat?”

Bunda mengangguk. “Sehat banget. Apalagi Mas Braja sama Dek Adel datang liburan lama di sini. Bunda jadi makin sehat.”

Tidak lama berselang, Braja keluar dengan satu troli penuh—dua koper, tiga dus oleh-oleh dari eyang dan dua plastik masing-masing kue lapis surabaya kesukaan ayah dan donat isi kesukaan bunda. Bunda menyuruh kakak adik menunggu sementara beliau mengambil mobil.

Angkasa yang mendung siang itu terasa cerah dan hangat bagi Dandelya. Bunda yang kasih sayangnya tidak pernah dibuat-buat. Bunda yang tulus menjaga ayah dan tidak memaksa Braja maupun Dandelya untuk membalas cintanya. Bunda yang tidak pernah melangkahi batas tak kasat mata yang dibangun Dandelya.

Kehilangan Ibu belasan tahun lalu masih menyisakan kehampaan bagi Dandelya. Ada bagian dari hatinya yang ia biarkan kosong dan ia tutup rapat-rapat agar tidak ada yang bisa menjangkau. Hanya dia seorang yang mampu membuka pintu tersebut. Bukan ayah, Braja apalagi Bunda.

“Dek Adel mau Bunda temani ke makam?”

“Gak, Bun. Adel bisa pergi sendiri.” Adalah jawaban konsisten Adel selama Bunda menjadi bagian dari keluarganya. Dandelya tidak suka ada yang mengganggu waktu berkualitasnya bersama Ibu. Dandelya hanya ingin bercerita tentang banyak hal kepada Ibu meski tidak dibalas.

“Boleh kalau Bunda gak repot.” Adalah jawaban Dandelya tahun ini. Di tahun kedelapan Bunda mengambil alih peran seorang ibu di keluarganya


“Kak Braja kemana, Bun?” tanya Dandelya sore hari kedua berada di rumah. Hanya ada dia dan Bunda di rumah. Ayah belum pulang sementara Braja tak nampak batang hidungnya.

“Ke rumah Ezra katanya, Dek.”

Mendengar nama Ezra membuat darah si gadis berdesir. Jantungnya mendadak berdegup cepat. Dandelya tidak tahu bahwa efek Ezra begitu dominan menguasainya. Seolah Ezra adalah pusat segala hidupnya. Sudah lama sejak terakhir kali bertemu, tapi Ezra masih punya tempat istimewa tak terjamah di hati Dandelya.

“Kak Ezra udah balik ke Indo, Bun?”

“Udah, Dek. Gak lama dari tahun lalu Adek sama Mas balik, Ezra juga balik. Sempat main ke sini juga bawain oleh-oleh.”

Ezra sejak kecil memang sangat akrab dengan Braja. Ezra pula teman Braja yang paling sering main ke rumah bahkan sampai menginap. Dari penuturan Bunda, sewaktu Ezra pulang dari luar negeri ia segera mengunjungi Ayah dan Bunda keesokan harinya untuk memberikan buah tangan dari negara tempatnya menimba ilmu.

Sementara sedang asik berbincang dengan Bunda, Braja datang dan langsung mengusak surai Dandelya. Membuat yang muda kesal dan refleks memukul lengan Braja. Braja hanya cekikikan, pun Bunda menatap keduanya dengan senyum dan gelengan kepala beberapa kali.

“Del, besok mau diajak pergi Ezra.” Dandelya yang hendak meneguk susu urung dilakukannya.

“Ngapain?” tanya Dandelya acuh, meski dalam hati ingin tahu.

“Gak tahu. Gak bilang mau ngapain. Tapi katanya wajib sama adeknya Braja mumpung lagi disini.”

Dandelya cepat-cepat meminum susunya. Lantas kembali ke kamarnya, mengunci pintu lalu membanting tubuhnya di kasur. Senyumnya merekah cantik, hatinya berbunga-bunga bak bougenville merah muda di musim kemarau. Dandelya sempat berpikir Ezra telah melupakannya. Bunga kertas yang sempat hidup tanpa bunga itu akhirnya menemukan matahari.


Kepingan Belasan Tahun Lalu

PROLOG

Kamu ingat bunga bougenville di halaman sekolah kita dulu? Katamu, dia tidak cantik. Bisanya mengotori halaman saja Jangan lihat saat dia berguguran kalau begitu Kamu pernah lihat saat dia mekar bergerombol di musim kemarau? Kurang lebih itulah aku waktu itu

Halaman sekolah—15 tahun lalu

Gadis manis sembilan tahun itu baru saja turun dari mobil. Diantar oleh supir pribadi ayahnya. Surai panjangnya yang diikat buntut kuda terayun seiring langkah. Masih ada satu jam sampai kelasnya masuk. Kelas tiga di sekolahnya masuk pukul sepuluh sebab tidak ada ruang kelas yang cukup di sekolah ini.

Di bawah pohon beringin ada tempat duduk yang terbuat dari semen. Ia duduk sendiri disitu seperti biasanya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan sembari menunggu teman-temannya datang. Hanya tangannya sibuk membaca nama-nama buah dalam sebuah permainan kartu kecil yang ia beli seharga Rp 500 di penjual mainan depan sekolah. Apa ya namanya? Kuartet?

“Hey, adiknya Braja!” Si gadis menoleh ketika merasa seseorang memanggilnya. Meski bukan memanggil namanya, tapi yang namanya Braja hanya satu orang di sekolah ini. Hanya kakaknya.

“Dandelya!” bentak si gadis pada anak laki-laki berambut cepak itu.

“Nama kamu susah disebut.”

“Adel. Lya.”

“Ya ... ya.”

Perlu diketahui bahwa Dandelya tidak suka dengan teman-teman kakaknya. Mereka berisik dan sangat mengganggu. Apalagi kalau mereka sedang main ke rumah. Dandelya sebal karena Nona—asisten rumah tangga di rumah mereka—akan kelelahan hanya untuk membereskan kekacauan yang mereka timbulkan sebelum ayah pulang.

Dandelya tidak mau ambil pusing dengan kehadiran teman kakaknya yang bukannya kembali ke kelas, malah duduk di kursi semen di hadapannya. Dandelya meliriknyaa sekilas sebelum mengeluarkan buku gambar a4 miliknya dan tempat pensil berbentuk rumah.

“Kamu mau gambar apa?”

“Bunga.”

“Ya, bunga doang. Gambar aku aja.”

“Gak suka gambar orang. Susah.”

Dandelya menulikan pendengarannya. Tidak tahu apakah teman Kak Braja di hadapannya ini sedang mengajaknya berbicara atau memang memilih diam saja. Yang kedua adalah jawabannya. Si rambut cepak memilih diam memperhatikan tangan kecil Dandelya yang sibuk menggores di atas buku gambar di pangkuan. Sejauh ini telah membentuk serangkaian daun. Sesekali tangan kiri Dandelya menghapus garis yang tidak benar.

“Kamu gambar apa?”

“Bunga.”

“Itu daun.”

“Bunga kertas.”

“Bunga kertas?”

Dandelya mengangguk. Mulai kesal karena si rambut cepak di hadapannya ini tak kunjung pergi malah melantur sana-sini.

“Mana ada bunga kertas.”

Dengan tangan kanan yang masih memegang pensil, Dandelya menunjuk ke salah satu arah. Si rambut cepak menoleh ke arah yang ditunjuk Dandelya.

“Oh. Ngapain digambar? Bunganya gak cantik. Bikin kotor halaman.”

“Terserah aku.”

Tepat setelah itu, suara bel sekolah berbunyi. Ezra berdiri dan melambaikan tangan ke lantai dua. Braja dan beberapa teman sekelasnya yang lain. Dandelya tidak peduli dan masih menyibukkan tangannya dengan pensil.

“Sampai jumpa lagi, Adiknya Braja.”

Pemakaman Umum di atas bukit—14 tahun lalu

Dandelya lupa kapan terakhir kali Braja memeluknya. Atau malah Braja tidak pernah memeluknya kecuali saat hari ulang tahun. Hari ini Braja memeluknya erat. Begitupun Dandelya yang balas memeluk Braja erat takut ia pergi. Seperti ibunya yang baru saja dikebumikan. Tante—adik ibu—mengelus puncak kepala Dandelya dan Braja dengan pengharapan agar kedua bocah yang belum sampai usia remaja ini mendapat kekuatan.

Ayah bungkam. Menatap kosong pusara ibu. Tidak berani menatap Dndelya dan Braja. Gundukan tanah yang basah itu mengotori celana di bagian lutut ayah. Tetapi ayah tidak peduli. Cintanya baru saja dikubur. Sendiri di dalam sepetak tanah.

Di hari ketujuh, Dandelya dan Braja diajak ayah ke makam ibu. Membawa bibit bunga kertas, ayah tanam di sisi nisan. Ketika kebanyakan kamboja putih yang ditanam, ayah memilih bunga kertas. Bagaimana jika makam ibu kotor nanti? Kendati kamboja putih mudah gugur, tapi bunganya lebih besar dan tidak sebanyak dan seringan bunga kertas.

Keesokan hari Dandelya berangat sekolah bersama Braja. Dandelya sudah naik kelas dan akan terus berangkat pagi bersama Braja. Keduanya berpisah di tangga. Kelas Braja di lantai dua. Dandelya di lantai satu. Bukannya ke kelas, Dandelya malah berjalan ke halaman. Mendektai bunga kertas warna ungu yang sedang subur bunganya. Ya, kota ini sedang panas-panasnya hingga bunga ini turut bahagia.

Warna bunga kertas apa yang ditanam ayah di dekat nisan ibu?

Dandelya mundur beberapa langkah ketika sekumpul bunga kertas putih terulur di depan wajahnya. Dandelya menoleh dan mendapati teman Braja yang dulu mengusiknya saat menggambar. Rambutnya sudah tidak cepak lagi. Sedikit panjang tapi tetap rapi. Kalandra Ezra adalah yang tertulis di name-badgenya.

“Ngapain?”

“Ambil bunganya. Kamu kan suka bunga kertas. Padahal bikin kotor.”

Dandelya mengambil bunga dari Ezra. Bagian batangnya sudah dilapisi dengan kertas sobekan buku bagian tengah sehingga durinya tidak akan terlalu menyakitkan. Bunga digenggamannya ditatap lama. Apa mungkin bunga kertas warna putih yang ditanam ayah?

“Hey, ayo kita menikah kalau sudah besar nanti.”

Dandelya tidak tuli. Meskipun ingin sekali menulikan pendengarannya untuk apapun yang keluar dari mulut Ezra. Ketika Dandelya menoleh ingin bertanya maksud Ezra, si bocah laki-laki malah tersenyum lebar.

“Kak, bunga warna apa yang mau Kakak tanam di kuburanku kalau aku meninggal duluan kayak Ibu?”

“Hmm—putih? Terlalu polos ya. Oranye? Gak, terlalu ramai. Ungu? Mungkin ungu.”

Dandelya mengulas senyum. Senyum pertama setelah ibu dikebumikan. Senyum dari keceriaan Ezra.

“Ungu—aku suka ungu.”


[24062021]

melted

Pagi ini Yuna dibangunkan oleh suara alarm dari ponselnya. Sejujurnya, Yuna benar-benar tidak suka dengan alarm. Apalagi jika ia sampai terbangun oleh alarm. Inginnya Yuna di hari minggu itu dia bangun atas kehendaknya sendiri. Namun entah alarm apa yang ia setel sehingga membangunkannya bahkan sebelum mentari terbit.

Pukul 05.00 // DIJEMPUT KAK JEONGIN PUKUL 07

Membaca tampilan alarm tersebut membuat Yuna menghela napas. Iya, seharusnya hari ini ia pergi menghabiskan waktu hari minggu untk jalan-jalan bersama Kak Jeongin.

Kalau kalian ingin tahu siapa Kak Jeongin untuk Yuna maka jawabannya adalah tetangga sekaligus teman dekat. Iya, bukan pacar. Kendati kupu-kupu kerap menggerayangi perut Yuna setiap kali Jeongin menunjukkan afeksi berupa perlindungan tiba-tiba, tetapi tidak ada tanda-tanda Jeongin menyukainya sebagai seorang perempuan. Mengingat hal-hal baik yang dilakukan Jeongin untuknya terlampau jarang jika dibandingkan dengan perlakuan Jeongin padanya yang seperti seorang kakak pada adiknya.

Omong-omong jalan-jalan hari ini sepertinya tidak terealisasi. Padahal Jeongin sendiri yang mengajaknya. Ya bagaimana mau jalan-jalan kalau yang bersangkutan sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Sebuah akibat dari sikap sok jagoannya makan tteobokki yang katanya terkenal itu. Padahal toleransi rasa pedasnya rendah. Korbanlah lambungnya.

Yuna melempar asal ponselnya ke atas nakas lantas kembali membawa tubuhnya tidur. Tetapi Yuna sadar bahwa tidur tidak akan semudah itu jika ia sudah terbangun seperti ini.

Sampai akhirnya sebuah ide muncul di kepala. Yuna pun memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi.


Suara gordyn yang dibuka cukup mampu membuat Jeongin terbangun. Perlahan membuka kedua netra dan mendapati satu sosok jangkung sedang menatapnya. Bersandar di dinding setelah membuka kain gordyn jendela, gadis bersurai sepunggung itu mengulas senyum lebar.

“Selamat pagi!!!!!!” ucapnya riang. Yuna. Gadis yang tinggal di depan rumahnya.

“Jam berapa ini?” tanya Jeongin yang belum sepenuhnya sadar.

“Jam 8.”

Kali ini, kedua netranya benar-benar terbuka sempurna. Jam 8? Dan Shin Yuna sudah berada di ruang rawat inapnya?

Ada yang bermasalah dengan isi kepala gadis itu sepertinya.

“Kamu ngapain ke sini jam segini?”

“Mau menjenguk sekaligus mengingatkan Kak Jeongin kalau hari ini seharunya kita akan bermain roller coaster.”

Yuna kini menduduki kursi di sisi kiri ranjang Jeongin. Mengintip isi sarapan milik Jeongin di atas meja yang masih tersegel rapi. Pertanda bahwa pemuda di hadapannya benar-benar belum terbangun bahkan ketika petugas pengantar makanan datang.

Sementara Jeongin terlihat berpikir maksud perkataan Yuna. Ketika akhirnya ia paham, ia terkekeh.

“Maaf, ya. Diundur aja deh minggu depan.”

Seharusnya hari ini Jeongin menghabiskan waktu dengan Yuna di taman bermain. Ia bahkan sudah merencanakan wahana apa yang akan mereka naiki. Apa yang akan mereka makan untuk camilan dan makan siang pun sudah terpikirkan dengan baik.. Bahkan Jeongin sudah menyusun kalimat untuk menyatakan perasaannya pada Yuna.

“Ya tetap gak bakalan jadi kalau Kak Jeongin masih nekat makan pedes.”

Bermula dari 4 hari lalu Jeongin diajak Han Jisung makan tteobokki bersama Minho. Bertiga hampiri tempat makan yang menyajikan tteokbokki paling laris. Mulutnya mungkin mampu menahan rasa pedas dari saus kue beras itu. Tapi tidak dengan perutnya. Beginilah ia berakhir harus dirawat selama seminggu.

“Gak deh. Gak lagi-lagi.”

Kehadiran Yuna pagi ini, gadis itu secara sukarela membantu Jeongin melakukan ritual pagi bersih-bersih. Dengan cakap Yuna menuntun Jeongin untuk cuci muka di wastafel dan kembali ke tempat tidur untuk menyantap sarapan.

“Kak Jeongin bisa makan sendiri?”

“Bisa sebenernya. Tapi karena ada kamu disini, suapin boleh.”

“Dih.” Yuna mencibir, meski tangannya tetap bergerak menyiapkan sarapan Jeongin lantas mulai menyuapi si adam.

“Makanannya enak gak, Kak?” tanya Yuna di sela-sela menyuapi Jeongin.

“Cobain aja,” jawab Jeongin yang direspon gelengan kepala dari Yuna.

“Katanya gak ada rasanya.”

“Cobain aja.”

“Gak mau. Aku kan gak sakit.”

Selesai sarapan, Jeongin kembali beristirahat. Cukup membosankan harus rawat inap seperti ini. Tetapi hadirnya Yuna hari ini paling tidak bisa menemani Jeongin menghabiskan waktu yang terasa sangat lama.

“Kamu mau ngapain?” tanya Jeongin pada Yuna yang baru saja keluar dari toilet.

Yuna mengedikkan bahu lantas mengambil ponselnya dari dalam tas kecil yang dibawanya.

“Gak tahu. Kak Jeongin kan juga lagi gak boleh banyak gerak. Aku tungguin sampai Ibunya Kakak datang baru aku pulang.”

“Kalau gitu kabulin permintaanku dong.”

“Apa?”

“Beliin Ice Cream.”

Yuna menatap Jeongin kesal. “Gak. Aku gak mau dimarahin Ibunya Kakak.”

“Ayolah ... kan ibuku lagi gak ada.”

“Tetep aja. Gak mau. Kan gak boleh makan es krim dulu.”

“Ayolah, Yuna. Nanti jalan-jalannya jadi 2 minggu deh.”

Yuna terdiam. Menatap Jeongin penuh selidik. Sementara Jeongin menangkupkan kedua tangan memohon agar dikabulkan.

“Okelah. Gak boleh bohong lhoo ya. Beneran 2 minggu jalan-jalannya.”

“Iyaaa.”

Dengan begitu, Yuna pun keluar dari ruangan Jeongin. Menyisakan Jeongin yang kini tengah berimajinasi menikmati es krim yang sudah 3 hari dirindukannya.

10 menit, 20 menit, 30 menit berlalu. Tak ada tanda-tanda Yuna akan kembali.

“Kemana sih Yuna masa nyasar?” gumam Jeongin yang mulai khawatir.

Salah satu kelemahan Yuna adalah lupa jalan. Jika jalan itu baru pertama kali dilewatinya, ia tidak akan ingat arah untuk kembalinya.

Jeongin sudah bersiap untuk menyusul Yuna ke kafetaria rumah sakit. Namun urung ketika mendengar suara pintu ruang rawatnya dibuka. Sosok Yuna muncul di sana tersenyum lebar. Senyum yang selalu berhasil menulari Jeongin energi baik.

“Lama ya, Kak? Hehe aku lupa jalan.”

Kan benar dugaan Jeongin.

“Gak apa-apa. Jadi, mana ice creamnya?” Sungguh Jeongin benar-benar hanya ingin es krim sekarang.

“Ini punya Kak Jeongin.” Yuna mengulurkan satu cup kertas kepada Jeongin yang diterima si pemuda dengan bingung. Semakin bingung ketika melihat isinya.

“Ini apa?”

“Es krim vanilla.”

Jeongin mengaduk-aduk isi cup itu dengan sendok kecil yang ada.

“Ini yogurt.”

“Itu es krim vanilla, Kak. Aku lelehin.”

“KENAPA DILELEHIN?”

“Kan gak boleh makan es krim. Tapi Kak Jeongin ngotot mau makan es krim. Ya udah aku lelehin es krimnya.”

“Ya jadinya es leleh dong Yunaaaa.”

“Ya kan asalnya dari es krim juga Kak Jeongiiiin.”

Jeongin menghela napas. “Untung sayang.”

“Apa, Kak?”

“Gak apa-apa. Makan aja es krim kamu.”

“Jadi 2 minggu kan jalannya?”

Lagi, Jeongin menghela napas. Menatap Yuna yang kini menghadirkan ekspresi memohon yang sungguh demi apapun Jeongin gemas. Gemas karena bagaimana bisa ia terpikirkan untuk melelehkan es krim ini.

Dan benar. Kalau tidak karena Jeongin menyayangi gadis ini, bukan mustahil Jeongin akan mendorongnya dari jendela lantai 5.

“Iya jadi.”

“Es krimnya gak dimakan?” tanya Yuna ketika Jeongin meletakkan cup kertas tadi di nakas lantas merebahkan diri dan menatap langit-langit ruang rawat inap yang tengah menertawakannya.

“Gak. Maunya es krim bukan es leleh.”

Selamat tinggal es krim. Selamat tinggal tabungan airpod. Sudah terlanjur janji bermain roller coaster 2 minggu. Apa boleh buat jika untuk orang yang tersayang?

Walaupun dongkol setengah mati, tapi tetap sayang. Jeongin tidak bisa marah.

“Habis ini langsung pulang ya, Kakak mau tidur.”

“Oke, Kak Jeongin.”


RUMAH OM BAM

“Halo, Om.”

“Halo, Tante.”

Riang si kembar menyapa Papi Mami Julia yang menyambut kedatangan mereka sore itu. Hanya Om Bam dan Tante Mina. Kak Julia yang juga ingin mereka sapa tak nampak batang hidungnya.

“Halo, Twins. Kalian main sama teman-teman kecil Om dulu, ya. Ayahnya Om culik bentar.”

“Oke.”

Peter dan Felix yang memang sudah akrab dengan kediaman keluarga Om Bam langsung saja menghampiri kucing-kucing milik Om Bam.

“Tante ada puding susu di kulkas. Ambil sendiri ya.”

Setelah memastikan si kembar aman, para dewasa lekas duduk bersama di ruang kerja Om Bam. Rupanya Julia sudah duduk di sana. Berdiri Julia menyambut kedatangan Ayah Chan.

“Hai, Julia. Kayaknya tadi habis pergi sama Minho?” sapa Ayah Chan.

“Iya, Om. Kondangan teman SMA,” jawab Julia.

Om Bam duduk di kursi utama. Sementara Tante Mina duduk di sisi Julia sembari menggenggam tangan putri semata wayangnya. Ayah Chan—dan Bunda—duduk berhadapan dengan Tante Mina. Karena tuan rumah hanya diam saja, Ayah Chan menatap kedua karibnya bergantian.

“Ada apaan nih? Udah manggil sampai sini malah didiemin.”

“Chan, Lia diajak nikah.”

Satu kalimat yang terlontar dari Om Bam sukses membuat Ayah Chan sumringah.

“Bagus dong. Selamat ya, Julia. Om ikut senang.”

Julia hanya tersenyum canggung.

“Jadi nikah sama siapa ini?” tanya Ayah Chan lebih lanjut.

“Sama anak kita.”

“Minho,” jawab Tante Mina akhirnya.

“Oh namanya Minho. Sama kayak nama anak pertamaku ya?”

“Yang dimaksud Mina tuh Minho anak kita, Chan.”

“Ya emang anakmu. Minho anakmu yang ngajak Lia nikah, Chan.”

“BENERAN MINHOKU?”


“Dulu aku pernah iseng ngobrolin ini sama Sana. Gimana kalau besok-besok kita jodohin anak-anak kita?” kenang Tante Mina.

“Aku juga ingat. Padahal dulu ngebayanginnya anakku yang cewe, anak kamu yang cowo,” sambung Bunda.

Sore itu,obrolan masih berlanjut hingga matahari terbenam. Lia menceritakan bagaimana Minho menyampaikan keinginannya untuk menikah. Begitupun Ayah Chan bercerita tentang Minho yang sempat bertanya padanya bagaimana ia dulu menyatakan perasaan pada Bunda Sana.

“Jadi? Julia sendiri gimana?”

Siang tadi, Julia lekas meninggalkan apartemennya. Tidur siang kilat memberinya sebuah bunga tidur hingga membuatnya gelisah. Hanya meninggalkan sticky note di atas ponsel Minho sebagai ucapan pamitnya karena meninggalkan Minho yang masih terlelap tidur siang.

Jika punya lebih banyak keberanian, Julia ingin sekali melompat-lompat. Atau mungkin terbang melayang di udara. Selama ini, hanya Mami tempatnya berbagi tentang perasaannya pada Minho. Hanya Mami orang yang dipercayanya. Bahkan ia meminta Mami merahasiakan hal ini dari Papinya.

Ketika hari dimana ia sendiri mendengar langsung pernyataan Minho, ia langsung temui Maminya. Siang tadi juga Papinya baru mengetahui semua. Alasan mengapa Julia selama ini enggan menjalin hubungan atau bahkan dijodohkan meski beberapa kali Papinya kerap membahas secara tersirat dengannya.

Menunggu.

Ketika menatap putri tunggalnya itu, Papinya tahu bahwa Julia kecilnya telah bertemu pangeran impiannya. Julia kecilnya telah berjumpa dengan seseorang yang ia selalu merasa aman hanya dengan berada di dekatnya.

Respon positif Mami dan Papinya lah yang membawa Ayah Chan datang ke rumahnya. Mendiskusikan bagaimana langkah berikutnya.

“Lia juga suka sama Minho, Om. Tapi kalau Om Chan gak mau Minho sama Lia—”

“Gak kok. Om tahu gimana kalian saling menjaga satu sama lain. Justru Om yang harus berterima kasih karena Lia mau menemani Minho padahal Om yakin Minho lebih sering ngerepotin Lia.”

Julia buru-buru menggeleng kepala. “Gak kok, Om. Lia gak merasa direpotin sama sekali. Minho juga baik sama Lia.”

“Well, aku tunggu keluargamu datang lagi lengkap dengan Minho.” Final dari Om Bam. Sebuah isyarat penerimaan yang disambut sumringah oleh hadirin di ruangan itu.

Kedua sahabat itu saling berpelukan.

“Makasih, Bam.”

“Makasih juga untuk Minho.”

“Makasih Julia. Makasih Mina. Makasih Bam. Tanpa kalian, anak-anakku makin merasa kesepian.”


“Om, Lia boleh tanya?”

“Boleh. Silakan.”

“Ada apa dengan pie cokelat dan Tante Sana?”

Ayah Chan tertegun. Lantas mengulas senyum getir sebelum menjawab. “Signature. Tante Sana itu suka sekali bikin pie cokelat untuk anak-anak Om.”

“Oooh. Tapi Lia pernah nawarin pie cokelat kok ditolak?”

“Siapa?”

“Minho pernah. Si kembar juga. Hampir semua.”

Jauh. Hampa. Sorot itu seketika terisi kekosongan yang nyata di jiwa. “Karena sebelum meninggal Tante Sana sudah menjanjikan pie cokelat untuk kudapan malam.”

Lia mengangguk paham. Kini ia tahu persis benang merah mimpinya. “Boleh gak Om sekali Lia coba bikinin pie cokelat?”

Ayah Chan mengulas senyum. Kali ini bukan senyum getir. Seulas senyum tulus penuh rasa terima kasih. “Dengan senang hati, Lia. Tapi tetap jangan berekspektasi akan langsung diterima ya, Nak.”

“Iya, Om.”

“Lia gak tahu gimana maksud Tante Sana, tapi semoga usaha ini sesuai yang Tante harapkan.”


Pertemuan mendadak

Ruang kerja Ayah Chan malam itu dipenuhi ketujuh anak laki-lakinya. Atmosfer serius yang jarang terjadi. Satu panggilan singkat di grup chat tadi cukup membuat ketujuhnya bertanya-tanya ada apa gerangan.

Lebih-lebih Kak Minho yang dinyatakan wajib hadir.

5 menit setelah semuanya kumpul, Ayah—dan Bunda—masuk. Ayah duduk di singgasananya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Berbeda dengan Bunda yang tersenyum sumringah.

“Bapak-bapak ini memang usil sekali. Anak-anaknya sampai tegang gitu mukanya.”

Sudah nyaris pukul 8 malam. Sudah bukan lagi waktu untuk Jeje melihat eksistensi Bunda kendati saat ini Bunda duduk di sisi kanannya.

“Hyun gak apa-apa ya hari ini gak malam mingguan dulu?” Pertanyaan pertama Ayah terlontar untuk si anak ketiga—Hyunjin.

“Gak apa-apa, Yah. Ryujin juga lagi ada kegiatan. Besok pagi Hyun yang jemput si kampus.”

Setelah mendengar jawaban Hyunjin, Ayah menatap satu persatu putranya. Tatapan serius di awal tadi berubah menjadi tatapan teduh penuh rindu.

“Chan....”

“Waktu benar-benar tidak terasa. Iya kan?”

Semuanya mengangguk. Peter yang biasanya suka menyahut gurau, malah berpegang tangan erat dengan kembarannya.

“Ayah paham, setiap yang ada di rumah ini pasti merindukan Bunda. Gak bisa dipungkiri, di saat-saat seperti ini Ayah jadi semakin rindu sama Bunda kalian.”'

Ino, Abin dan Hyun. Ketiganya duduk berjejer dan menunduk. Gambaran kejadian yang sama terlintas kembali di benak ketiganya. Si kembar, Peter dan Felix makin erat saling genggam. Bunda. Bagaimana tutur lembutnya masih kerap terdengar dalam angan.

Sementara Sky dan Jeje hanya menatap kakak-kakak tanpa tahu apa. Kepala keduanya ramai. Ramai menerka-nerka gerangan apa yang akan disampaikan Ayah setelah ini.

“Terima kasih anak-anak Ayah Bunda sudah tumbuh dengan baik kendati kalian menahan diri untuk tidak menunjukkan kerinduan kalian pada Bunda.”

Ucapan tulus Ayah itu membuat semua tertegun. Peter dari tempat duduknya bahkan dapat melihat Kak Abinnya meneteskan air mata.

“Ayah, C'mon. Pembukaannya berbelit-belit ah,” keluh Peter gurau. Berharap atmosfer sedih ini tidak bertahan lama.

Usahanya mungkin bisa dikatakan berhasil ketika akhirnya ia bisa melihat senyum lebar Ayah. Tak tahu saja Peter bahwa Bunda tengah mengusap kepalanya.

“Maafin Ayah ya bikin suasana sedih begini. Sebenarnya Ayah mau memberitahu sesuatu.”

“Kak Minho?” terka Jeje yang membuat 7 pasang mata lainnya menaruh perhatian padanya. 8 pasang kalau Bunda dihitung.

“Wah...adek cepat sekali pekanya.”

“Aku?” Minho menatap Jeje dan Ayah bergantian sembari menunjuk diri sendiri.

“Jeje tahu dari mana?” tanya Ayah ingin tahu. Jeje hanya mengusap tengkuknya. Telinganya merah saat menjawab.

“Nebak sih.”

“Beneran aku?”

Ayah mengangguk. “Jadi, kakak tertua kalian akan segera pamit dari rumah?”

“Why??!!”

“HAH??!!”

Si kembar yang paling dahulu bereaksi.

“Kak Minho mau kemana, Yah?” tanya Sky.

“Bentar—ayah jangan bilang Kak Minho—” Hyun cepat menyela sebelum Ayah menjawab tanya adim-adiknya.

“Julia?” tanya Abin ambigu yang mengundang perhatian si bungsu.

“Kenapa Kak Julia?”

“Kak Minho mau nikah sama Kak Julia, Nak,” ujar Bunda akhirnya meski tahu tidak akan ada yang mendengar.

“Kak Minho? Ada yang ingin disampaikan?”

“Kenapa ngajak adek-adek buat bahas ini, Yah?”

“Kenapa Kakak asal ngajak nikah anak orang?”

“HAH?”

“HAH?!

Anak Ayah Chan dan Bunda Sana mendadak menjadi pedagang keong.

“Akhir pekan depan, semua kosongkan jadwal kalian. Tugas-tugas sekolah dan kuliah lekas dituntaskan. Kita akan berkunjung ke rumah Om Bam dan Tante Mina.”

“Ayah....”

“YEAAAYY KAK LIA JADI KAKAK IPAR KITAAAA!!!”

“Selamat ya, Kak Minho.”


last, lost

Di permulaan hari, pintu utama sang puan diketuk. Rungu yang peka membuatnya terkesiap dari lelap. Bertanya gerangan yang menginterupsi rehatnya.

Ketika pintu dibuka, ia tersentak.

“Sky??”

“Happy Birthday, Lucy.”

Lucy tidak pernah berharap selalu ada yang mengucapkan selamat di ulangtahunnya. Ada maupun tidak ada Sky di hidupnya, ia tidak pernah berharap. Bahkan kerap terlupa jika bukan karena Sky atau teman-temannya yang memberi peringatan dalam ucapan.

Bukan, bukannya tidak mensyukuri kehidupan. Hanya ia merasa cukup merepotkan untuk mengingat hari lahir di antara sekian banyak kesibukannya yang tak ada habisnya.

“Terima kasih, Sky. Padahal kamu bisa ucapin itu esok hari.”

Ia menggelengkan kepala lemah. Kedua netra menatap si puan penuh kasih dan rindu. Seulas senyum terpatri di sela tatapannya pada gadis yang masih dikuasai kantuk.

“Gak bisa. Kembalilah berisitirahat, Lucy.”

“Kamu gak mau bermalam saja?” tawar Lucy bukan untuk basa-basi. Toh adam di hadapannya ini bukan baru pertama kali akan menginap di huniannya. Namun, Sky kembali menggeleng.

“Aku harus segera pergi. Hati-hati dan jaga diri, Lucy.”

Lucy dengan rasa kantuk yang tak tertahan bergerak maju dan merengkuh 'langit'nya. Kenyamanan terbaik di dunia ketika kepalanya bertumpu di bahu Sky. Pun lembut usapan Sky di punggungnya hadirkan kenyamanan.

Bagi Lucy, kehadiran Sky di hidupnya bak siraman air hujan di sela kering. Hembusan bayu di bumi yang terik. Penuh arti baik dari pribadinya yang tenang. Yang selalu bisa menundukkan gejolak api dalam diri Lucy.

“Sampai jumpa besok Sky.”

“Hmmm. Terima kasih, Lucy.”

Ketika sosok Sky menghilang di belokan koridor, Lucy menutup pintu. Kembali pada buaian alam bawah sadar. Tanpa tahu apa yang diterimanya dalam 4 jam ke depan.

***

Karena keabadian hanya milik Tuhan. Dan semesta ada dalam kuasaNya. Lucy, mungkin kurang bersyukur. Lucy mungkin kurang peka pada tanda-tanda yang diamini alkemi. Di usia 20annya, Lucy diperingati langit untuk lebih sering menghargai hidupnya. Lucy diingatkan bahwa kapan saja, apa-apa yang ada di hidupnya bisa menjauh tanpa pernah menoleh. Pergi tanpa pernah kembali.


260521 – Happy Birthday Yeji

SPILL THE TEA, BUNDA...

Wajah lesu kakak sulung adalah yang pertama kali Jeje lihat begitu Minho memasuki rumah. Eksistensi Jeje yang sedang bermain game di ruang tamu sepenuhnya diabaikan. Padahal biasanya Minho akan mendekatinya dan bertingkah usil hanya supaya Jeje kalah dalam satu sesi gamenya.

“Kak Ino?” panggil Jeje—meski sedikit ragu—tepat sebelum si sulung membuka pintu kamarnya.

Minho tak acuh dan tetap membuka pintu kamar seakan tidak mendengar panggil Jeje barusan. Ada apa ini?

Seingatnya sang Kakak hari ini keluar dengan Julia. Biasanya Minho menampakkan wajah berbinar-binar dan penuh energi setiap kali selesai menghabiskan waktu dengan Julia. Aneh.

Ketika jam di dinding menunjukkan pukul 04.15, Jeje mengedarkan pandangan. Kalau seperti ini, biasanya Bunda lebih tahu. Bunda pernah bilang kalau Bunda selalu ngikutin Kakak-kakaknya kemanapun, tapi hanya Jeje yang bisa melihat meski tidak setiap saat.

“Dek, sini.” Jeje menoleh ke sumber suara. Di ujung tangga, bunda berdiri di sana memanggilnya dengan isyarat tangan.

Jeje lekas menghampiri. Namun belum sampai di lantai 2, suara pintu terbuka mencuri perhatiannya. Pintu kamar utama. Ayahnya keluar dari sana dengan ponsel di tangan. Terlihat seperti akan pergi.

“Ayah?”

“Hey, mau ikut?”

“Kemana, Yah?”

“Ke rumah Om Bam.”

Jeje menggeleng kepala sebagai jawaban. Berbincang dengan Bunda tidak bisa ia lewatkan begitu saja.

“Count me in, Yah.” Tiba-tiba Felix muncul entah dari mana membuat Jeje terkejut.

“Okay. 5 minutes to go.” Felix segera berlari kembali ke kamarnya—oh ke kamar Peter tepatnya.

“Dek, kalau lapar bilang ke kakak-kakak ya.”

“Oke, Yah.”

Jeje akhirnya kembali ke tujuan utamanya. Masuk ke kamar dan dapati Bunda tengah tersenyum lebar dan terlihat bahagia.

“Bunda kenapa ih senyam-senyum begitu?”

Alih-alih menjawab, Bunda malah tersenyum misterius.

“Bentar lagi bakalan ada kabar bahagia, Dek.”

“Kabar apa, Bun?”

“Bahagia.”

“Ihss Bundaaaaa,” rengek Jeje yang membuat Bunda gemas.

“Bunda mau ikut Ayah dulu ya, Dek.”

“Ih ngeselin nih Bunda. Tadi nyuruh aku cepet-cepet ke kamar sekarang malah ditinggal.”

Bunda sudah berdiri di ambang pintu. Namun, urungkan niatnya ketika melihat raut wajah Jeje yang ditekuk kesal.

“Prepare your cup.”

Sebuah kode rahasia yang hanya diketahui Jeje dan Bunda. Jeje berlagak membuka telinganya dan siap mendengarkan. Iya, sebuah isyarat Bunda akan membocorkan rahasia penting dari orang-orang rumah.

“Kak Minho...”

“Iya.”

“Kak Minho!”

Tak ada lagi kelanjutan. Jeje benar-benar kesal sekarang.

“Bunda spill the tea, pleaseeeeee.”

“Gak ah. Bunda gak mau kehilangan momen. Sampai besok, Dek. Nanti malam adek pasti tahu kok.”

“AAAAAAAAAAAArrrrrrrrrrrrghhhh.”


Pintu kamar Jeje diketuk beberapa saat kemudian. Sky muncul melongokkan kepala.

“Berisik banget sore-sore teriak-teriak.”

“Heheh maaf, Kak. Tapi emang kesel.”

“Mau makan? Kak Abin beli burger.”

“Iya nanti aku susul ke kamar Kak Abin.”