piechocolix

she writes as memories....

Waktu Lagi Sedih [7]

Seungmin x Yeji

Sedikit yang terhitung di jemari jika Seungmin ditanya seberapa sering Yeji menangis setelah keduanya berumah tangga. Kendati menurut Hyunjin—kembarnya Yeji—Yeji itu cengeng, tetapi selama ini hanya sekali dua kali Seungmin dapati Yeji menangis.

3 hari dari sekarang keluarga kecil ini akan pindah rumah. Setelah menikah, keduanya memutuskan tinggal di apartemen Seungmin yang memang lebih luas daripada milik Yeji dulu karena rumah yang semestinya mereka tempati masih dalam proses pembangunan.

Rumah yang akan mereka tempati ini berjarak hanya sekitar 10 menit dari kantor kejaksaan tempat Seungmin bekerja. Sementara Yeji yang berprofesi sebagai guru salah satu sekolah menengah pertama yang tak jauh dari apartemen lama mereka telah mengajukan mutasi. Yang artinya ia juga pindah tempat mengajar.

Dugaan Seungmin, hari ini Yeji berpamitan dengan murid-muridnya. Di hari terakhir masuk sekolah dan sebelum liburan panjang tiba. Yeji memang sudah memikirkan bahwa akan lebih baik ia berpamitan hari ini karena besok tidak perlu menghadapi anak-anak lagi. Begitu yang dikatakan Yeji semalam.

Sebagai wali kelas merangkap guru matematika yang kerap jadi musuh abadi anak sekolah, Yeji tentu saja menganggap bahwa tidak akan ada anak-anak yang begitu peduli dia pindah. Barangkali mereka malah menantikan hari dimana guru matematika pindah sekolah—kendati tetap saja bakalan ada gantinya.

Dilihat dari bagaimana Yeji kini menangis tersedu-sedu di kamar mandi, mungkin terkaannya sendiri salah semalam.

“Yeji?” Seungmin mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Ia dengan mudah dapat mendengar suara isakan Yeji yang sepertinya tidak menyadari kepulangannya.

“Hmm bentar,” jawab Yeji dengan suara serak. Terdengar suara air yang mengalir dari kran wastafel sebelum pintu kamar mandi terbuka dan hadirkan sosok Yeji dengan hidung yang merah.

Jujur, Seungmin ingin tertawa karena penampakan Yeji habis menangis itu sangat jarang dan ternyata menggemaskan.

“Ibu guru habis nangis?” Seungmin pegang bahu Yeji. Sedikit menunduk karena ingin menatap kedua mata Yeji yang menghindar.

“Diem. Aku lagi gak mood diledekin.”

Kali ini Seungmin betulan tertawa. Lantas membawa Yeji dalam pelukan erat. Hal yang selalu Seungmin lakukan setiap Yeji merasa kurang baik. Pelukan itu rupanya membuat Yeji kembali menangis.

“Ternyata anak-anak udah tahu aku mau pindah,” ujarnya sesenggukan.

Seungmin tahu rasanya ketika guru harus pindah. Entah semenyebalkan apapun beliau, tetap saja ada rasa sedih karena beliau-beliau adalah orang-orang yang pantas ditangisi perginya. Orang-orang yang telah sabar berbagi ilmu yang mereka punya.

Yeji melepaskan pelukan. Mengajak Seungmin berbicara lebih nyaman di tepian ranjang. Seungmin meraih kotak tisu di nakas untuk kemudian menyeka air mata di pipi Yeji.

“Jadi gimana perpisahannya tadi?”

“Kamu ingat aku pernah cerita ada satu murid yang sukanya gombalin aku tapi gak pernah ngerjain tugas-tugas dari aku?”

“Ingat.”

“Dia yang pertama kali tahu aku mau pindah. Terus dia bilang sama teman-temen sekelasnya. Entah darimana mereka juga tahu aku lagi isi. Jadi aku tadi dikasih kue tart dan surat. Waktu salaman semuanya nangis. Tapi lebih dari itu, aku paling tersentuh waktu mereka bilang terima kasih. Padahal aku ngerasa masih kurang buat mereka.”

“Dan murid yang gak pernah ngerjain tugas-tugas itu, hari ini dia kasih buku tugasnya ke aku. Dia bilang dia ngerjain tugas tapi dia gak mau ngumpulin karena suka ngeliet aku marah-marah.”

Seungmin menanggapi cerita Yeji dengan seulas senyum haru. Mengusap lembut kedua lengan Yeji. “Sainganku berat nih anak SMP.”

“Apaan sih malah becanda.”

Seungmin kembali mendekap Yeji. Menyandarkan kepala si puan di dadanya yang bidang. Tempat dimana Yeji selalu merasa nyaman.

“Aku tahu kamu mungkin bosan dengerin ini tapi aku benar-benar bangga sama kamu, Ji. Kalau perpisahannya saja begini, aku yakin aku gak perlu khawatirin kamu berlebihan di tempat ajar kamu yang baru nanti karena kamu bisa ngelakuin yang terbaik dimanapun itu.”

Seminggu terakhir ini setiap kali keduanya memiliki kesempatan untuk berkemas, Yeji selalu mengajukan tanya yang sama.

'Aku bisa cepat adaptasi gak ya?'

'Anak-anak nanti mudah paham gak ya sama metode ngajarku?'

'Apa aku gak usah pindah? Tapi jauh banget, aku gak mau suami aku gak keurus.'

“Yakin?”

“Sepuluh ribu persen yakin. Yeji dari dulu yang paling terbaik, Yang gak pernah setengah setengah jalanin apapun dimanapun. Kalau kamu ngerasa gak sanggup, kamu punya aku. Tapi kalau aku belum pulang kerja, baca lagi surat-surat yang kamu terima hari ini. Selain biar kamu gak lupa sama mereka, itu juga bagian dari support system. Secuil kenangan tentang bagaimana seorang Yeji berproses menjadi lebih baik dari hari ke hari.”

Seungmin yakin isi surat dari murid-murid itu pasti banyak membahas kesan merka dari awal bertemu Yeji. Memuat proses bagaimana Yeji bermula dari guru yang—bisa jadi—masuk dalam daftar-orang-yang-paling-tidak-ingin-aku-temui versih mereka, menjadi sosok yang akan sangat mereka rindukan nantinya. Kata-kata sarat akan kejujuran lebih dalam tertuang dengan mudahnya dalam secarik surat alih-alih hanya sepatah kata yang terlontar mengudara.

Yeji beralih duduk tegap. Menatap Seungmin sebelum mengecup bibir suaminya cepat.

“Suami aku kalau ngomong manis banget tapi selalu ada benarnya. Jadi terima kasih ya. I feel better now.”

—end—

Waktu Lagi Sedih [6]

Felix x Suyun

Felix tahu selain banyak tawa, Suyun—kekasihnya—ini juga punya banyak air mata. Ia akan dengan mudah tertawa oleh gurauan receh, sebanding dengan air mata haru oleh aksi atau bahkan sekedar kisah menyentuh hati yang ia simak.

Tetapi Felix tidak menyangka perempuan kesayangannya ini akan menangis selama ini. Felix belum berani kembali menjalankan mobil. Masih menanti Suyun mereda. Bahkan pelukan pun tak mampu meredam sedihnya.

Semua karena perpisahan. Kendati ini bukan perpisahan pertama kali dalam hidupnya, tapi rupanya ini yang paling menyakitkan baginya.

“Danbi bakalan baik-baik aja kan, Kak?”

Pertanyaan itu entah sudah berapa kali Felix dengar hari ini. Danbi adalah anjing piaraan Suyun. Seekor samoyed yang telah dirawatnya selama 5 tahun. Hari ini harus ia relakan diadopsi oleh karena alergi bulu yang dideritanya semakin memburuk.

“Of Course. Mereka juga baik. Even they let you visit Danbi anytime you want.” Felix dengan sabar memberi pengertian.

Ia sendiri sedih karena Danbi diadopsi. Danbi juga sudah sangat akrab dengannya. Saat pertama kali Felix sambangi tempat tinggal Suyun pun Danbi langsung menyambutnya hangat.

“Kita jalan sekarang gak apa-apa?”

Suyun akhirnya mengangguk. Felix mulai melajukan mobil meninggalkan kawasan perumahan pemilik baru Danbi. Tangisan Suyun pun sudah reda. Menyisakan hidungnya yang merah dan area bawah mata yang bengkak.

“Ini kalau orang gak tahu, dikiranya aku jahatin kamu lho.” Felix mencoba mencairkan suasana. Cukup berhasil karena Suyun akhirnya tersenyum lebar meski masih ada air mata di sudut mata.

“Cengeng banget, Kim Suyun,” rutuknya pada diri sendiri sembari menyeka air mata dengan tisu.

“If you don’t mind, how about an amusement park?”

Sebuah ide terpikirkan oleh Felix untuk menghibur Suyun. Gadis kesayangannya ini sangat menyukai keramaian. Felix pikir alih-alih membawanya pulang dengan perasaan sedih yang masih mendalam, mungkin ia butuh sedikit distraksi agar ia bisa lebih menerima perubahan situasi.

Taman hiburan sepertinya bukan ide buruk. Keramaian, cemilan manis. Oh jika mereka tiba tepat waktu, menikmati hamparan bumi sepanjang mata memandang di penghujung hari dari atas bianglala terdengar menyenangkan.

“Amusement park? Out of nowhere?”

“Aku khawatir. If wwe just come back home like this, kamu bakalan nangis lagi. Bau Danbi maih kuat banget di apartemen kamu.”

Suyun tak bisa mengelak. Ia juga yakin bakalan berakhir seperti itu. Sedari tadi ia memikirkan bagaimana saat ia pulang nanti tidak ada Danbi yang menyambut seperti dulu.

“Tapi aku udah jelek begini.”

“No, you’re cute, Pumpkin.”

“Said someone cuter.”

20 menit adalah waktu tempuh keduanya hingga tiba di taman hiburan. Karena malu kedua matanya yang bengkak, Suyun meminjam kacamata hitam Felix sebelum ia perbaiki riasan area mata agar terlihat lebih baik.

Setelahnya berdua berjalan dengan jemari yang saling bertaut. Membeli bando telinga hewan. Jerapah untuk Suyun dan anak ayam untuk Felix. Mengantri wahana sambil bersenda gurau. Menaiki wahana menantang sambil berteriak lepas dan tertawa.

Ya, perlahan-lahan Suyun mulai merasa lebih baik. Terlebih ketika keduanya kini sudah berada dalam bianglala. Suyun menatap jauh pada pemandangan kota yang mulai berkelap kelip oleh lampu yang dinyalakan. Pertanda kesiapan tuk sambut kanvas gelap malam.

“Masih kepikiran Danbi?” tanya Felix yang berhasil mengalihkan fokus Suyun.

“Semalam aku masih meluk Danbi. Danbi juga gak mau jauh-jauh dari aku. Aku ke kamar mandi, dia tungguin depan pintu. Aku tidur, dia juga ikut tidur tapi di bawah kaki. Aku makan tadi pagi pun dia minta tempat makannya di taruh di meja. Kayaknya dia juga ngerasa ya bakalan pisah, Kak.”

“She did. You treat her like your own kid. Hati kalian udah nyatu. Udah jadi soulmate buat satu sama lain.”

Meski terpaut jarak selangkah oleh ruang hampa di antara keduanya, Felix raih telapak tangan Suyun untuk digenggam. Diusap lembut ibu jarinya.

“I’m your soulmate too. You can always lean on me, cry with me when you miss her. visit her together with me once in a while. Ingat kalau perpisahan ini juga demi kebaikan dan kesehatan kamu.”

Suyun mengangguk. “Gak perlu visit Danbi lagi sih, Kak. Aku takut malah dia gak bisa get along sama owner barunya kalau ketemu aku lagi.”

“Are you sure?”

“Hmm.”

“Oke..”

“Kak Felix.”

“Hmm?”

“Thank you, I love you.”

“As always, I love you more, Pumpkin.”

—end—

Waktu Lagi Sedih [5]

Han x Chaeryeong

Han Jisung tentu saja sudah hafal di luar kepala berbagai emosi yang ditampakkan Chaery. Sebagaimana hari ini gadis yang lebih muda darinya itu terlihat sendu, sudah dapat dipastikan bahwa sesuatu telah terjadi hingga membuatnya sedih.

Sepulang mencari cincin lamaran, Jisung membawa Chaery mampir di salah satu rumah milik Changbin. Changbin memang punya beberapa rumah omong-omong, dan yang satu ini Han pinjam karena di halaman belakangnya ada ayunan gantung di bawah pohon.

Romantis cocok buat nyanyiin sebait lagu buat Chaery. Begitu katanya.

Iya, satu hal yang biasa Han lakukan setiap kali Chaery merasa sedih adalah menyanyikan lagu sembari bermain gitar. Chaery itu tidak pernah lama sedihnya. Asalkan sudah bercerita, mendengarkan sebuah lagu pun ia bisa kembali tersenyum.

Karena bagi Han, senyum Chaery itu candu dunia. Manis banget. Manisan buah kalah manis dari senyum Chaery. Jadi dia ingin Chaery selalu tersenyum meski kehidupan manusia pasti punya fase naik dan turun. Tapi paling tidak, fase turun berwujud kesedihan itu tak akan berlangsung lama.

“Rumahnya Kak Changbin bagus. Apa kita beli rumah ini aja ya, Kak?” usul Chaery ketika Han selesai memarkir mobil di garasi dan turun menyusulnya yang sudah lebih dulu berdiri di depan pintu utama.

“Boleh. Barangkali kita bisa dapat harga teman. Iya kan?” Ide Jisung malah mendapat hadiah cubitan kecil di perutnya.

“Gak boleh berharap harga temen tau, Kak. Kan Kak Changbin belinya juga pasti harganya gak murah.”

“Gak apa-apa dia udah kaya. Gak butuh duit.” Chaery akhirnya tertawa. menanggapi selorohan Han.

Ketika masuk ke dalam rumah, Chaery memperhatikan setiap detail rumah. Penataan interiornya sangat cocok dengan seleranya. Rumahnya juga tidak terlalu besar—walaupun 2 lantai—tetapi punya halaman belakang yang cukup luas untuk menghabiskan waktu bersantai di luar.

“Ayo ke belakang. Kita ngobrol di bawah pohon itu yuk.”

Han sempat pamit sebelumnya ke lantai dua. Rupanya ia mengambil gitar dari sana. Padahal baru saja Chaery ingin menyusul melihat-lihat juga isi lantai dua.

“Tabungan kita cukup kan beli rumah ini, Kak?”

Chaery sepertinya betulan jatuh cinta dengan Rumah Changbin ini. Kedua netra tak bisa lepas mengedar, memindai sudut demi sudut halaman belakang dimana ia dan Han kini berada. Ground lamp dipasang di titik-titik yang tepat sebagai pencahayaan yang iringi langkah.

Secarik kain ayunan terbentang di antara dua pohon angsana. Di belakangnya pagar kayu kecil mengawal sekumpulan bougenville yang sedang berbunga lebat. Pagar kayunya dihiasi oleh lampu-lampu hias kecil. Keduanya kini duduk bersisian di atas ayunan itu.

“Kalau aku bilang, kamu marah gak?”

Chaery menoleh. Tatapan membulat penuh selidik pada kekasihnya yang kini mengulas senyum lebar tampilkan deretan giginya yang rapi.

“Kak…”

“Hehe, bercanda. memang rencana mau kuambil. Tapi kan harus diskusi sama kamu dulu.”

Chaery menghela napas. Lega karena tebakannya salah.

“Nah sekarang—”

“Bentar Kak aku mau cerita dulu.”

Han sudah siap memetik gitar. Sudah memposisikan gitar di pangkuan, tapi Chaery menghentikannya.

“Oke …. kita sharing dulu. Ayo sini cerita sama Abang.” Han berlagak sok jagoAn sambil menggulung lengan kaos yang dikenakannya. Membuat Chaery gemas dan memukul pelan tangannya.

“Kakak nih bercanda mulu.”

“Maaf maaf. Jadi, ada apa gerangan yang mau diceritakan Chaery?” Han sandarkan gitarnya di batang pohon angsana. Untuk kemudian fokus penuh perhatian pada kekasihnya yang ingin bertutur.

“Aku kepikiran Kak Chaey.”

Ahh, Han paham. Beberapa hari lalu Chaey, kakak Chaery sekaligus temannya sempat menghubunginya. Berbagi cerita sedikit tentang Chaery yang mengkhawatirkan kakak sulungnya oleh karena ia menikah duluan. Padahal sedari awal justru Chaey yang mendorong hubungan keduanya agar segera melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Telapak tangan Chaery ia bawa dalam genggam. Menatap Chaery tepat di mata agar ia meneruskan ceritanya.

“Aku tuh sering denger bahasa gak enak tentang Kak Chaey. Aku jadi khawatir Kak Chaey kepikiran terus ngerasa terbebani apalagi tertekan. Tapi kan Kak Chaey juga ada pacar. Emang Kak Chaey sama Kak Jeno-nya aja yang masih pengen ngejar karir dan mimpi masing-masing,” tutur Chaery dengan mata berkaca-kaca.

“Orang-orang pada jahat banget ya, Kak,” lanjutnya final. Han Jisung mengangguk mengamini ucapan Chaery.

“Chaery tau gak kenapa orang-orang pada jahat?”

“Karena gak ada kerjaan?”

“Itu salah satunya. Selain itu, kenapa sih gampang banget ngatain orang gini gitu? Karena mereka punya ide yang jelas tentang bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup tapi mereka tidak punya ide itu untuk mereka.”

Han merapatkan duduknya dengan Chaery sehingga lebih mudah baginya untuk membawa Chaery dalam rengkuh Menepuk lembut punggung kecintaannya.

“Kata Chaey, Chaery gak usah mikirin omongan orang karena Chaey juga gitu. Omongan orang tuh gak ada habisnya. Ada aja yang mereka anggap salah dalam diri kita. Ada aja yang mereka mau buat kita lakuin. Coba kalau kita suruh balik, emangnya mereka mau?”

Pelukan itu meregang. Berganti usapan lembut di puncak kepala Chaery dari Han.

“Masih mau mikirin omongan orang sampai sedih?”

Chaery menggeleng. “Gak. Soalnya capek.”

Han mengacungkan ibu jari. Kemudian mengambil gitarnya. “Kalau gitu sekarang kita lepas sedihnya dengan bernyanyi. Siap?”

“Siap kapten!!!” seru Chaery penuh antusias.

Han mulai memetik gitar. Satu lagu terpikirkan di benak. Lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Chaery setiap kali keduanya harus terpisah jarak oleh urusan pekerjaan masing-masing.

Chaery juga ikut bernyanyi karena sudah sering mendengarkan Han menyanyikan lagu ini padanya. Tidak akan ada bosannya. Lagu yang selalu memberikannya perasaan nyaman dan tentram. Lagu yang membuatnya tak pernah lupa bahwa ia selalu punya penawar sendu, pelipur lara yang tak lama lagi akan mengikatnya dalam sumpah bersaksi semesta.

And I'm surrounded by A million people I I still feel alone Oh, let me go home Oh, I miss you, you know Let me go home I've had my run Baby, I'm done I gotta go home Let me go home It'll all be all right I'll be home tonight I'm coming back home

Lagu berakhir diiringi tepuk tangan riang dari Chaery. Yang kemudian mengejutkan Han dengan pelukan dan kecupan di pipi. “Terima kasih, Kak Han Jisung.”

—end—

Waktu Lagi Sedih [4]

Hyunjin x Ryujin

“Hunting yuk?”

Weekend ini, pasangan pengantin baru Hyunjin Ryujin tidak memiliki rencana apapun. 2 bulan pertama setelah hari besar itu, keduanya kerap menghabiskan akhir pekan dengan berlibur ke tempat-tempat jauh. Sesekali mengunjungi sanak saudara satu sama lain agar semakin dekat dan akrab antar keluarga. Atau bahkan menghadiri acara-acara kecil yang diadakan teman-teman.

Ini sudah masuk bulan ketiga setelah menikah. Dan minggu kedua dimana sejoli ini hanya menghabiskan waktu bergelung di rumah. Lelah juga 2 bulan kemarin seolah tak pernah ada kata rehat. Satu minggu benar-benar penuh terisi tetapi tidak ada penyesalan.

Sementara ajakan tiba-tiba Hyunjin untuk hunting pun bukannya tanpa alasan. Ia paham Ryujin sangat suka tempat-tempat cantik dan berharap ajakan ini akan diamini sang istri untuk memperbaiki suasana hatinya yang kurang baik.

“Tiba-tiba banget,” Ryujin yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi merespon dengan kerutan di kening. Lantas berjalan mendekat dan duduk di sisi kosong sofa bed yang ditempati Hyunjin.

“Ya gak apa-apa. Kamu kelihatan kurang baik. Barangkali kalau jalan-jalan bisa membaik.”

“Aku ketebak banget ya?”

Hyunjin menatap Ryujinnya lantas mengusak surai yang muda. “Kita pernah berantem gara-gara ketularan mood satu sama lain. Aku gak mau ketularan juga sekarang.”

Ryujin terkekeh. Kembali mengulas dalam memori gambaran peristiwa ketika ia dan Hyunjin bertengkar hebat saat pacaran dulu. Semua bermula ketika Ryujin sedang dalam kondisi mood terburuk oleh karena pengajuan judul karya ilmiahnya ditolak karena tidak relevan dengan pembahasan. Sementara Hyunjin yang semula baik-baik saja ikut memburuk suasana hatinya oleh karena Ryujin yang meledak-ledak.

Namun, keduanya sama-sama belajar dari insiden itu. Hyunjin meminta maaf keesokan harinya sementara Ryujin menangis dalam pelukannya.

Setengah jam kemudian keduanya sudah di dalam mobil setelah berkemas singkat peralatan dan perlengkapan yang perlu dibawa bersama dalam hunting dadakan kali ini. Di dalam mobil, Hyunjin tidak membiarkan suasana sepi. Ia nyalakan pemutar musik untuk keduanya menikmati perjalanan. Sesekali Ryujin ikut bersenandung. Indikasi awal bahwa moodnya perlahan membaik.

Perjalanan itu membawa keduanya pada tujuan akhir sebuah danau yang dikelilingi pepohonan dan bukit. Tepat pukul 4 sore saat keduanya tiba di sana sehingga hanya butuh waktu tak lebih dari 2 jam menanti matahari terbenam untuk Hyunjin abadikan dalam kameranya.

Sementara menanti sang surya pamit, objek sementara adalah istrinya sendiri. Ryujin menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Hyunjin tidak perlu memintanya berpose begini begitu karena Ryujin sendiri lebih menyukai hasil foto Hyunjin saat diam-diam memotretnya.

“Hyun, kaget!” pekik Ryujin ketika matanya terpejam dan Hyunjin melingkarkan kedua tangan di pinggang yang muda. Memeluknya dari belakang.

Hyunjin terkekeh. “Maaf maaf.”

Karena Ryujin lebih pendek, Hyunjin dengan mudah mengecup puncak kepala Ryujin berulang kali. Membuat Ryujin terkikik geli tetapi sangat menyukainya.

“Wangi,” puji Hyunjin.

“Aku keramas tadi pagi.” Ryujin menautkan jemarinya dengan milik Hyunjin. Telapak tangan Hyunjin besar dan itu membuat Ryujin selalu merasa aman setiap kali keduanya menautkan jemari.

“Kamu kenapa sedih?”

Satu tanya Hyunjin membuat Ryujin sadar bahwa kegelisahannya akhir-akhir ini belum sempat ia bagi dengan sang suami. Saat ini mereka sudah hidup bersama, ia tentu saja tak dapat menyembunyikan dengan mudah kesedihan yang menimpanya. Tetapi ini...menurutnya bukan masalah besar bagi Hyunjin. Oleh karena itu, ia urung memberitahukan suaminya karena ya...ia rasa ia masih bisa menyimpan sendiri.

“Aku udah telat seminggu. Tapi aku cek lagi ternyata masih satu garis.”

Dugaan Hyunjin benar. Saat Ryujin berbenah tadi, ia sengaja mendekati tong sampah di depan kamar mandi. Mengambil alat tes yang masih menampakkan satu garis di sana. Hyunjin paham betul betapa besar inginnya Ryujin menjadi seorang ibu. Setiap mendekati tanggal menstruasi, ia menaruh harap tinggi bahwa hari merah itu tak pernah datang.

Sayangnya 2 bulaa berturut-turut mereka datang tanpa pernah Ryujin harapkan.

“Gak apa-apa. Kita bisa coba lagi. Kita kan sama-sama sehat.”

“Iya sih….”

Tidak ada tuntutan dari pihak sekitar keduanya. Justru sumbernya dari Ryujin sendiri yang memang berharap langsung mendapat kepercayaan dari Yang Maha Kuasa.

“Kayaknya ilmu kita belum banyak gak sih makanya belum dikasih kepercayaan?”

“Atau aku yang terlalu maksa mintanya jadi malah gak dikasih.”

“Hhushh.. bukan enggak. Tapi belum.”

Hyunjin mengusap lembut ibu jari Ryujin yang ada di genggamannya. Berharap dengan itu ia dapat memberikan ketenangan hati untuk Ryujin.

“Kamu gak marah kan misalkan kita dikasihnya telat?”

“Kenapa aku mesti marah, Ryu? Harusnya aku gak sih yang bilang gitu ke kamu? Misalkan kita dikasihnya telat, kamu bakal marah gak sama diri kamu sendiri?”

Ryujin terdiam berpikir. Ia sendiri tidak tahu. Siapa yang pantas disalahkan kalau memang harus begitu. Sementara perkara ini sifatnya abstrak. Tergantung bagaimana usaha dan doa mereka agar menerima kepercayaan Tuhan bahwa mereka mampu menjadi orangtua untuk anak titipan-Nya.

“Ryu...aku gak bisa melarang kamu sedih karena itu perasaan kamu. Tapi aku mau kamu jangan jahat sama diri sendiri, Kita tetap berdoa dan berusaha berdua, kita belajar lagi bersama dan yakinin diri kita kalau kita memang sudah siap untuk kehadiran ciptaan Tuhan yang baru di antara kita.”

Entah itu karena kata-kata dari Hyunjin, atau pemandangan sang surya yang perlahan bergerak turun pamit pada Bumi yang telah ia sinari seharian menghadirkan ketentraman dalam batin Ryujin. Ia memang sedih karena bulan ini ia masih gagal, tapi Hyunjin ada benarnya. Kalau ia jahat pada dirinya hingga membuatnya tertekan, yang ada ia malah jadi tidak sehat.

“Mataharinya terbenam.”

“Iya.”

“Gak jadi kamu ambil fotonya?”

Masih memeluk Ryujin dari belakang dan mengecup puncak kepala kecintaannya itu, Hyunjin menggeleng. “Aku ke sini cuma biar kamu ngerasa lebih baik kok.”

Bagaimana mungkin Ryujin tidak tersentuh dengan usaha suaminya ini? Hyunjin yang dulu balas bad mood saat ia bad mood telah terabadikan dalam memori bersama masa mudanya. Yang kini ada di sampingnya dan akan terus menjadi pendamping hidupnya adalah Hyunjin yang telah mendewasakan diri bersama waktu dan setiap jengkal langkahnya bersama Ryujin.

Ryujin berbalik. Menatap Hyunjin tepat di mata. Mengulas senyum sebelum mengecup singkat bibir Hyunjin. “Terima kasih, Hyun.”

—-end—

Waktu Lagi Sedih [3]

Changbin x Jisun

“Bin.”

“Hmm.”

“Mau nanya boleh?”

“Boleh. Nanya apa?”

“Kamu...kamu nyesel gak jalan sama aku? I mean...iya kita kan bentar lagi nikah nih tapi kali aja kan ada penyes—”

“Gak.”

“Gimana?”

“Gak ada, Jisun. Aku gak pernah nyesel ketemu kamu.”

“Oh....oke deh.”

Percakapan itu berakhir begitu saja. Sebuah pertanyaan yang tak pernah Changbin duga rilis dari bibir Jisunnya yang selalu penuh percaya diri. Yang hari-harinya selalu memiliki motivasi setinggi langit. Ya sekali dua kali Jisun juga pernah loyo, tapi tidak sampai membuatnya murung berhari-hari.

Sebab kali ini, Changbin sadar bahwa Jisun lebih sering melamun. Bahkan saat fitting gaun tadi pun pandangannya kosong. Apa mungkin ini salah satu bentuk ujian untuk pasangan yang akan menikah? Entahlah...

“Kamu gak cocok overthinking,” celetuk Changbin yang tidak menerima tanggapan. Sebab yang diajak bicara malah menatap kosong jalanan dari jendela.

“Jisun.” Di lampu merah Changbin tepuk pelan bahu Jisun. Si gadis tersentak dan menoleh.

“Eh...iya? Kenapa Bin?”

Changbin menghela napas. “Kamu yang kenapa.”

“Aku gak apa-apa kok...iya.”

“Kamu berharap aku percaya?” Intonasi suara Changbin terdengar lebih serius.

“Enggak...” jawab Jisun lirih. “Oke, iya aku lagi apa-apa,” lanjutnya. Paham betul kalau Changbin kini telah mengaktifkan mode tidak-bisa-dihindari-apalagi-diberi-jawaban-omong-kosong.

Mobil kembali melaju setelah lampu lalu lintas berubah hijau. Changbin membiarkan Jisun mengatur pikiran sebelum bercerita. Ia tidak lagi mengajukan tanya sebab ia yakin Jisun sudah paham apa yang diinginkannya saat ini.

“Well...aku sebenernya gak mau ambil pusing sih. Tapi entah kenapa malah jadi kepikiran padahal gak pengen dipikirin.”

“Terus?”

“Yaudah makanya aku nanya kamu gitu...”

“Kenapa kamu sampai nanya aku kayak gitu?”

“Kamu ketawa gak nanti?”

“Mau aku ketawain sekarang aja?”

“Ih jangan dong. Soalnya lucu banget aku kepikiran omongan orang. Padahal biasanya juga enggak.”

Changbin betulan tertawa, Bukan meledek, tapi penampakan wajah kesal Jisun itu lucu banget. Apalagi sekarang puan itu menghadapkan tubuhnya ke arah Changbin dan menumpu kepalanya dengan lengan di sandaran kursi. Membuat Changbin bisa dengan jelas melihat parasnya saat sesekali menoleh.

“Kan aku baru spoiler gitu aja udah diketawain.”

“Kamu gemes kalau lagi kesel.”

“Udah gila.”

Kali ini Changbin benar-benar tergelak. Hey ia bukannya tidak peka, ia hanya ingin membantu Jisun meluruhkan pikiran-pikiran tidak perlu yang mengganggunya. Sampai akhirnya sebuah ide muncul seketika.

Matahari di ufuk timur telah mengusaikan tugasnya. Perjalanan pulang yang semestinya lurus ke barat, Changbin belokkan ke arah selatan.

“Kok belok?”

“Ayo nyobain rumah baru. Kolamnya udah jadi.”

“Apaan sih aku gak bawa baju ganti lhooo.”

“Baju aku udah ada yang di sana. Mampir minimarket aja kalau nyari—oh gak perlu. Aku udah beliin beberapa pasang di sana.”

Jisun mendelik. Menatap kekasihnya penuh selidik. Sementara Changbin hanya menyeringai dan mengedipkan sebelah mata.

Malam-malam musim panas memang cukup panas. Dan Changbin rasa tidak ada salahnya menghabiskan waktu berendam di kolam renang yang baru selesai dibuat sekitar 2 minggu lalu. Kolam renang yang letaknya di halaman berlakang rumah yang akan ia dan Jisun tempati setelah menikah nanti.

Selain uji coba kolam renang baru, maksud dan tujuan Changbin mengajak Jisun kemari adalah untuk meluruhkan pikiran-pikiran negatif yang mengganggunya. Syukur-syukur kalau Jisun akan berbagi sendiri kegelisahannya.

Tapi ya...Jisun selalu begitu. Ketika perasaannya membaik, ia akan bercerita sendiri.

Seperti saat ini. Keduanya duduk di bibir klolam dengan kaki terendam air. Menatap langit malam bertabur bintang yang hanya dapat samar-samar terlihat oleh karena cahaya dari lampu taman yang lebih benderang.

“Kata orang, selera kamu menurun.” Jisun memulai cerita.

“Siapa yang bilang gitu?”

Jisun menatapnya. Melempar senyum tipis. “Ada lah pokoknya.”

“Kamu dengar sendiri?”

Jisun mengangguk. “Mereka gak tahu aku dengerin omongan mereka. Tapi aku lebih gak nyangka ternyata itu jadi beban pikiranku akhirnya.”

Changbin merapatkan duduknya dengan JIsun agar bisa merangkul puannya. Menyandarkan kepala JIsun di bahunya lantas mengusap lembut lengannya.

“Susah juga ya pacaran sama laki-laki yang punya sejarah asmara sama orang-orang luar biasa. Akunya jadi keliatan biasa banget padahal aku sayang sama diriku sendiri.”

“Itu poinnya.”

“Apa?”

“Kamu sayang sama diri kamu sendiri itu udah paling luar biasa dari siapapun termasuk 'mereka'. Kamu percaya diri, kamu juga gak pernah jahat sama diri kamu, kamu tahu apa yang kamu bisa, kamu tahu mana yang kamu mampu, kamu mandiri. Kamu luar biasa dengan cara kamu.”

Jisun membebaskan diri dari rangkulan Changbin untuk menatap wajah kekasihnya. Lantas mendaratkan satu kecupan singkat di pipi.

“Kamu cerewet banget.”

“Aku lagi serius lho, Jisun,” sergah Changbin meski telinganya kini sudah merah hingga mengundang gelak tawa dari Jisun.

Changbin ikut tertawa. Sedikit menundukkan tubuh ke kolam untuk kemudian menciprati Jisun dengan air.

“Changbin!!”

Jisun yang kesal langsung mendorong Changbin ke kolam. Tapi tangan Changbin tak kalah cepat menarik serta pergelangan Jisun hingga keduanya tercebur dan tertawa bersama.

“Masih sedih gak?”

“Aku gak sedih.”

“Iki gik sidih. Tapi melamun 3 hari.”

Jisun yang malu hanya bisa menciprati Changbin dengan air. Tetapi reaksi Changbin lebih cepat untuk menghindar.

“Hehe. Ya gimana ya. Orang-orang itu ada benernya sih. Tapi yaudahlah karena kamu bilang aku luar biasa, jadi oke aku percayanya yang kamu bilang.”

“Lagian Mantan-mantan aku juga sudah bahagia sama hidup mereka. Sekarang aku juga bakalan lebih bahagia. Bahagia sama kamu. Iya kan?”

Jisun mengangguk. “Makasih ya.”

Bermain air antara Jisun dan Changbin tidak berakhir sesingkat itu. Sebab keesokan harinya berdua sama-sama diserang flu.

—end—

Waktu Lagi Sedih [2]

Lee Know x Lia

Minho tahu ini salah. Tetapi lebih salah lagi jika ia tidak mengambil tindakan.

Lia baru saja masuk ke kamar mandi setelah membuang asal iPadnya di kasur. Mengundang rasa penasaran Minho yang beberapa hari terakhir ini merasakan hawa kurang mengenakkan dari sang istri. Kendati mereka sudah menjadi pasangan suami istri selama 5 tahun, bukan berarti Minho bisa seenaknya mengusik teritori pribadi Lia tanpa seizinnya. Namun kali ini sepertinya Minho harus melanggar peraturan tidak tertulis itu. Ini sudah lewat dari batas hari dimana Lia akan bercerita dengan sendirinya mengenai masalah yang dia hadapi.

Begitu Minho menilik iPad sang istri, ia akhirnya mengerti mengapa Lia tidak berbagi padanya. Sebab rupanya ia sendiri adalah salah satu alasan mengapa Lia terlihat tertekan.

Dari perspektif Minho, menikahi Lia sangat-sangat beruntung. Sementara dari sisi Lia...cukup berat. Apa ya kata orang-orang? Serakah?

Seolah belum cukup dengan paras cantik, pribadi santun, keluarga kaya raya, kini ia bersuami dokter yang kerap mengisi kuliah umum dan seminar karena kepiawaiannya memberikan pemahaman perkara medis. Dan semua pencapaian—yang Lia sendiri pun tak pernah menyangka—berujung pada selorohan kurang mengenakkan tentang brand fashion yang ia dirikan 3 tahun terakhir ini.

Privilege? Benar. Lia tidak memungkiri bahwa ia bernapas bersama hak istimewa. Tapi bukan berarti ia tak bisa berkarya lho. Minho berani bersaksi paling depan bagaimana malam-malam panjang yang dilalui Lia setiap kali ia menerima permintaan design meskipun ia punya bawahan. Ditambah ia masih harus mengurus Jiho—putri pertama mereka yang kini berusia 4 tahun.

“Papi papi temenin Jiho gambal....”

Karena terlalu fokus pada iPad, Minho sampai tidak sadar putri kecilnya diam-diam masuk kamarnya dan kini menarik-narik ujung lengan kaosnya.

“Ayo. Mau gambar dimana?” Minho mengangkat tubuh kecil Jiho dalam gendongannya.

“Di sini aja ya di kamal Mami Papi.”

Mengingat Lia yang terlihat kurang baik, Minho pun menolak permintaan putrinya.

“Di kamar Jiho aja ya. Mami lagi capek banget biar bisa bobo.”

“Oke Papi.”


Suara tawa samar-sama masuki rungu Lia. Kedua netra yang masih kesulitan terbuka berusaha beradaptasi pada cahaya matahari yang menyorot dari jendela kamarnya.

“Hah? Ini jam berapa?”

Lia akhirnya tersadar waktu tak lagi subuh. Lebih-lebih mendapati sisi lain ranjangnya yang kosong. Ia bahkan tidak tahu pukul berapa Minho kembali ke kamar setelah menemani Jiho bermain. Atau malah suaminya tidak kembali dan tidur di kamar putri mereka.

Lia memang kelelahan. Pun akhir-akhir ini ditempa masalah kurang mengenakkan yang membuatnya stress dan tertekan. Ia juga belum sempat bercerita pada Minho karena merasa sendirinya masih sanggup—padahal tak terhitung sudah berapa kali ia menangis sendirian minggu ini tanpa Minho tahu.

Pakaian tidur telah berganti pakaian rumah santai. Suara tawa yang diduganya bersumber dari Minho dan Jiho semakin jelas tedengar seiring langkahnya menuruni satu persatu anak tangga.

“Ya ampun kalian ini ngapain?”

Betapa terkejutnya Lia mendapati Minho dan Jiho di dapur. Wajah dan apron belepotan oleh krim dan tepung.

“Selamat pagi, Mami. Jiho bikin kue baleng Papi.”

Entah sejak kapan keduanya berkutat di dapur. Sebab saat ini Jiho masih mengenakan piyama tidur bermotif kelinci kesukaannya di balik apron.

“Aduan yuk? Punyaku udah di oven. Kamu kan lebih jago kalau kue begini. Tapi kayaknya hari ini kamu kalah deh, Mi.”

Sambutan panjang lebar dari Minho ternyata membangkitkan jiwa kompetitif Lia. Ia yang awalnya kesal karena dapurnya berantakan entah mengapa justru tertantang untuk melawan sang suami—yang memang lebih pandai memasak darinya. Kecuali dessert. Itu bidang yang Lia kuasai.

“Jangan over pd dulu, Pi. Jiho, nanti jadi juri ya.”

“Juli apa, Mi?”

“Juri itu yang ngasih nilai. Nanti Jiho coba kue papi sama kue mami enakan mana, oke?”

“Oh gitu. Oke.”

Dan sepertinya Lia tidak bisa dengan mudah menuntaskan proses membuat kuenya. Jiho yang terus bermain dengan tepung, Minho yang usil mengambil sedikit krim dan dioleskan di pipi Lia.

Agak ribet. Tetapi entah mengapa Lia jadi lupa akan permasalahan-permasalahan yang dialaminya akhir-akhir ini. Ia pun jadi teringat bahwa selama ditempa masalah, ia jarang berbincang dengan Jiho—yang cerewetnya bukan main. Dan saat ini sangat menyenangkan mendengar putri kecilnya terus berbicara meski masih kaku melafalkan 'r'.

“Waktunya penilaian.”

Untuk pertama kalinya di weekend keluarga Minho tidak ada yang mandi pagi hingga pukul 10. Malah sudah mengobrak abrik dapur untuk 2 kue yang kini sudah tersaji dengan baik di meja makan. Masing-masing Minho dan Lia menyiapkan satu slice kue mereka untuk Jiho.

“Punya papi enak, punya mami juga enak.”

“Yang lebih enak?” tanya Minho meminta Jiho memilih.

“Mami. Ada stobeli.”

“Yeaay.” Lia bersorak sorai. Menepuk-nepuk punggung Minho mengejek.

Sarapan keluarga kecil ini 2 loyang kue tart. Sangat aneh memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Pagi ini adanya baru itu.

Jiho yang memang bangun lebih awal hari itu—Minho membangunkannya pagi-pagi untuk belanja bahan kue—langsung terlelap setelah mandi. Sementara Minho dan Lia menghabiskan waktu di ruang tengah menonton film.

“Udah mendingan?” tanya Minho yang berhasil mengalihkan fokus Lia.

“Konteks?”

“Aku tahu, kamu ada masalah. Tapi lagi mode pelit karena gak mau dibagi.”

Lia tersenyum menatap Minho. Lantas merubah posisi duduknya. Menyandarkan kepala di bahu sang suami.

“Bukannya pelit. Aku cuma gak dapet timing. Tapi iya mendingan. Maaf ya aku akhir-akhir ini jadi jarang merhatiin Jiho juga.”

Minho mengusap lembut surai Lia. “Gak apa-apa. Gak perlu minta maaf. Tapi gak boleh diem-diem lagi. Kalau dibagi sama aku kan kita bisa cari jalan keluarnya bareng-bareng. Kamu gak susah sendiri. Iya kan?”

Lia mengangguk. “Makasih ya, Kak.”

Dan mendaratkan satu kecupan di pipi yang membuat telinga Minho terbakar.

—end—

Waktu Lagi Sedih [1]

Bangchan x Sana

Sana yakin ia sudah mengirim pesan pada suaminya bahwa tidak perlu datang—apalagi sampai membawa serta Jio ke rumah sakit jam 10 malam. Untuk beberapa hari ini keduanya terpaksa berbagi tugas karena Aira—putri sulung mereka—harus dirawat di rumah sakit akibat diare. Lepas kontrol makan makanan sembarangan sewaktu Sana meninggalkan keluarga kecilnya ini selama seminggu untuk pekerjaan di luar kota.

“Jio kangen bunda katanya.” kata Bangchan, suaminya.

“Jio atau ayahnya?”

“Dua-duanya.”

Bangchan menepuk pelan punggung Jio yang masih dalam gendongannya. Sana yang semula ketiduran setelah menyuapi Aira makan malam dan obatnya kini telah sepenuhnya sadar. Ia mengulurkan tangan mengambil alih Jio yang ia rindukan.

“Kasihan anak bungsu, Bunda. Maaf ya, Nak. Bunda masih harus ngurus kakak dulu.” Sana mengecup pipi tembam si bungsu yang tidak terusik tidurnya. Menimang selama beberapa saat sebelum membaringkannya di extra bed yang biasa ditempati Sana.

Setelah Sana melepas rindu pada si bungsu, giliran Bangchan yang tak mau kalah. Ia rentangkan tangan menyambut tubuh Sana yang kini dipeluknya erat.

“I miss you.”

“Kita ketemu tiap hari, Chan.”

“Tapi cuma bentar banget. Gak puas.”

Bangchan tau bagaimana perasaan Sana apalagi sebagai ibu. Hari ketika Aira masuk rumah sakit adalah hari dimana Sana baru saja menginjakkan kaki di rumah. Bangchan masih ingat betul bagaimana paniknya Sana malam itu. Wajah pucat Aira malam itu yang kekurangan cairan membuat Sana tak dapat membendung air mata. Ia terus menangis di pelukan Bangchan sampai dokter merilis diagnosanya.

Lelah fisik dan psikis oleh kerjaan diabaikan Sana sepenuhnya. Yang ada di pikirannya hanya Aira dan bagaimana agar putrinya lekas sembuh. Tiga hari terakhir ini sirkadiannya berubah oleh karena ia sendiri yang menjaga Aira. Sorot lelah di paras cantiknya sangat jelas tergambar. Di akhir pelukan, Bangchan mengecup keningnya.

“Aku tahu kamu makannya gak teratur. Tapi karena kondisi Aira udah membaik, sekarang makan dulu.”

Sana menggeleng. “Ini udah jam 10 lhoo.”

“Kamu gak kasihan sama Mama yang udah masakin ayam bumbu pedes buat kamu?”

Sana terbelalak. Sebuah reaksi keterkejutannya. Semakin terkejut ketika sang suami kini tengah melakukan unboxing kotak makan yang berisi ayam bumbu pedas. Masakan mertua yang menjadi kesukaan Sana. Satu menu yang menjadi stress-healing favoritnya.

“Kata Mama 'Enak punya menantu kayak Sana tuh, gak pernah minta makanan macem-macem. Dimasakin ayam bumbu gini aja udah bungah' gitu.” Bangchan menatap Sana yang masih terpaku berdiri di tengah ruangan. “Nungguin apa?” tanyanya yang dijawab gelengan oleh Sana.

“Gak apa-apa aku makan ini? Tapi Aira—”

“Gak apa-apa.” Bangchan agaknya sedikit tidak sabar. Dilihat dari bagaimana saat ini ia menuntun paksa sang istri untuk duduk serta di sofa bersamanya. “Makan gak bikin kamu jadi ibu yang jahat. Kalau kamu mau Aira cepat sembuh, kamu juga harus kuat,” lanjutnya.

Kata-kata Bangchan rupanya cukup membuat Sana terharu. Pandangan terpaku pada suaminya yang sibuk mengatur makanan di meja.

“I might be swallowed if you keep staring at me,” ujar Bangchan yang membuat Sana tertawa kecil.

“Pantes ya banyak yang iri sama aku.”

“Why?”

“Because you're my husband, my longlife partner, my best friend for—CHAN!”

Bangchan tergelak setelah mendaratkan satu kecupan tiba-tiba di bibir Sana.

“Cerewet banget. Ayo makan dulu. Recharge.”

Kendati satu dekade telah dilalui berdua, tetapi tak sedikitpun mengurangi rasa cinta satu sama lain. Dan karena sudah selama itu pula, Bangchan hafal betul cara meredakan stress pun meluruhkan kesedihan Sana.

“Makasih ya.”

—end—

Dari Julia...

Aneh sekali rasanya ketika tiba di rumah dan tidak ada yang menyambut. Seperti ada bagian yang hilang dari sirkadian. Begitulah adanya yang dirasakan Minho malam ini. Membuka pintu rumah dan hanya ruang-ruang kosong menemaninya terhitung dari hari ini hingga esok.

Julia, istrinya sedang pulang ke rumah orangtuanya. Ingin melihat keponakan baru, katanya. Minho sendiri yang mengantar tadi pagi tapi ia tidak bisa bergabung untuk menginap karena jadwal operasi besok yang tidak bisa dia tinggalkan.

Minho merehatkan sejenak tubuhnya di sofa ruang tengah. Penerangan ruang ia biarkan tetap remang. Ia nyaris saja terlelap di sana kalau tidak karena suara perutnya yang cukup mengejutkannya.

Ia putuskan untuk bangun dan membersihkan diri. Sempat luput dari pandangannya sebelum ia menyadari secarik amplop biru muda tergeletak di tengah tempat tidur.

Untuk Suamiku, Lee Minho

Begitu tulisan di amplopnya. Minho tak dapat menyembunyikan senyum sumringahnya. Rasa lapar tadi seakan menguar. Berganti rasa penasaran akan isi di balik amplop dari Julia ini. Akhirnya ia duduk di tepian ranjang untuk kemudian membaca dengan seksama surat dari Julianya.

Sudah dekat tahun ketujuh ya?

Ah...benar. Sebentar lagi mereka akan memasuki tahun ketujuh sebagai sepasang yang tak terpisahkan. Meski ikatan pernikahan baru diikrarkan 3 tahun yang lalu. Namun, sedari awal keyakinan Minho untuk menjadikan Julia kekasihnya ia tak pernah membayangkan akan dipisahkan oleh apapun dengan Julianya.

Tapi aku masih merasa seperti mimpi. Setiap kali terjaga dan melihat Kakak tidur di sampingku, aku masih merasa ini tidak nyata. Seorang seperti Kak Minho mau menjadi rekan hidupku. Saat pertama kali kakak membawaku bertemu teman-teman kakak—sesama mahasiswa medical—, rasanya aku ingin melebur menjadi debu lalu terbawa angin melayang di udara terbang ke arah lautan dan tenggelam ke dasar bumi.

Minho dibuat Lia tertawa oleh metaforanya. Tidak menyangka bahwa sang istri akan menulis perumpamaan seacak ini.

Demi apapun itu pertama kalinya aku begitu pasif dalam sebuah pertemuan. Tetapi teman-teman kakak baik dan mereka mau menjelaskan apapun yang tidak kupahami ketika mereka menangkap ekspresi bodoh di rautku.

Tentu saja Minho ingat. Itu adalah pertama kalinya ia membawa Lia bertemu teman-temannya di acara pernikahan salah satu temannya. Dan pertama kali pula bagi teman-temannya mengetahui identitas kekasih Minho yang selama ini dirahasiakan. Beberapa bahkan terkejut karena sebagian dari mereka telah mengetahui latar belakang Lia. Bahkan salah satu temannya adalah penggemar berat band Kak Dowoon, Kakak Lia.

Lia memang lebih banyak diam hari itu. Tetapi sesekali ia akan bertanya ketika teman-teman Minho membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Lia adalah gadis yang pandai berkomunikasi. Ia paham kapan harus bertanya dan kapan harus menyela tanpa membuat sebuah obrolan menjadi canggung.

Jauh sebelum itu, yang paling legendaris adalah sewaktu kakak datang ke rumah. Bertemu Mama, Papa dan Kak Dowoon. 1. Aku malu! 2. Aku malu banget!!! 3. AKU MALU BANGET LEE MINHO!!! Aku gak paham ide darimana yang kakak dapatkan sampai harus mengajakku berpacaran di depan keluargaku. Hari itu aku benar-benar tidak bisa memikirkan apapun selain “Wah, Lee Minho ini mengajakku pacaran saja seperti ini, bagaimana jika dia melamarku nanti?”

Sejujurnya, Minho sendiri pun tak tahu darimana ide gila itu muncul. Bahkan hari itu cenderung impromptu. Ia memang berencana mengungkapkan perasaannya pada Julia. Awalnya hanya ingin pamit mengajak Julia pergi. Tetapi entah bagaimana ia merubah haluan dan berakhir mengungkapkan perasaannya di hadapan orangtua dan kakak Julia.

Hari itu masih membekas di ingatannya—dan tak akan pernah bisa hilang dari sana. Meski gugupnya tak bisa mengalahkan saat ia berdiri di altar untuk kemudian mengambil alih genggaman Julia dari ayahnya.

Tapi setelah dijalani, aku mulai paham tujuan kakak melakukan hal itu. Terlebih ketika melihat raut bungah dari Papa setiap kali kakak mampir ke rumah. Senyum hangat Mama dan antusiasme beliau setiap kakak datang. Bahkan Kak Dowoon—yang terlihat tidak peduli—pun pernah berkata “Aku lebih merasa aman kalau kamu pergi sama Minho daripada kamu pergi kemana-mana sendiri.”

Bagaimana jika Julia tahu bahwa Minho sendiri saat itu tak memiliki tujuan apapun? Tetapi ya, jujur, Minho sadari bahwa semua terasa mudah. Maksudnya, ia menjadi lebih mudah dekat dengan keluarga Julia. Dan ia sendiri menyadari bahwa keluarga Julia benar-benar menyambutnya seakan ia memang telah menjadi bagian dari keluarga itu untuk waktu yang lama.

Ya, seiring waktu berjalan, Minho pun paham bahwa tindakan impromptu itulah yang justru semakin meyakinkannya bahwa ia tidak salah mengambil langkah. Alih-alih mengutarakan secara empat mata, ternyata lebih menguntungkan ketika memupuk keberanian lebih bermodal nekat dan keyakinan bahwa ia pasti diterima.

Seandainya hari itu ia ditolak Julia, hmmmm tidak! Minho tidak pernah berpikir Julia akan menolaknya. Ia percaya diri.

Terima kasih, Kak Minho. Terima kasih telah membuat orang-orang kesayanganku percaya bahwa kakak adalah laki-laki yang pantas menjagaku.

Minho mengulas senyum. Lembar pertama dari 3 lembar surat itu ia pindahkan ke bagian belakang untuk kemudian meneruskan membaca lembar berikutnya.

Belum ya, Kak. Suratnya belum selesai... ehe~

Lagi Minho terkekeh. Dalam benak dihampiri raut Julia ketika mengucapkan kalimat di atas.

Menggemaskan. Minho jadi rindu.

Aku belum pernah cerita ke kakak soal ini. Soal Papa Mama yang sangat bersyukur karena kakak membantuku menemukan mimpiku—ya meski bisa dikatakan sudah cukup terlambat. Sejatinya papa mulai khawatir padaku ketika aku mulai bekerja di perusahaannya. Aku bisa mengikuti flow, tetapi aku tidak punya passion. Dan itu membuatku terlihat seperti mayat hidup—begitu kata papa.

Dan ketika akhirnya aku telah menemukan mimpiku, Mama bilang aku lebih terlihat seperti manusia. Sibuk dengan duniaku sendiri tetapi produktif. Meski harus merelakan waktu tidur, tetapi aku terlihat bahagia. Tanpa dorongan dari kakak, aku gak yakin apakah aku akan pernah mulai menggambar.

Jika mengulik ke belakang cerita mimpi Julia, sungguh menurut Minho ia tak banyak membantu. Selain karena kesibukannya yang kala itu masih menjadi asisten, ia benar-benar hanya bisa menjadi pendengar.

“Kakak emang dari kecil mau jadi dokter?”

“Gak juga. Waktu kecil, saya mau jadi astronot. Tetapi akhirnya saya lebih suka biologi alih-alih fisika. Dan karena saya sering ikut volunteer, saya jadi mengambil kesimpulan sendiri bahwa manusia di bumi membutuhkan dokter lebih banyak daripada bertualang di andromeda.

“Keren!”

“Lia sendiri? Mau jadi apa dulu?”

Lia mengedikkan bahu. “Entah. Aku gak pernah kepikiran.”

“Ada sesuatu yang kamu suka gak?”

“Entah....Baju? Koleksi bajuku banyak di rumah. Aku suka beli baju.”

“Hmmm...fashion ya? Pernah gambar?”

“Pernah. Sering sih dulu waktu kuliah kalau bosan aku biasa gambar di kertas kosong gitu. Iseng-iseng aja.”

“Kenapa gak ditekuni?”

“Kan cuma iseng.”

“Mau coba lagi gak? Gambar lagi maksudnya? Terus diikutin lomba.”

“Kakak nih becanda.”

“Saya gak becanda, Lia. Gak ada salahnya kan nyoba? Siapa tahu itu memang mimpi kamu yang gak kamu sadari karena kamu terus menyangkal? Mungkin kamu anggap itu hanya iseng untuk mengikis waktu luang, tetapi kamu tidak pernah tahu, Lia. Sama seperti saya jika tidak pernah ikut volunteer, bisa jadi hari ini saya betulan sudah di neptunus.”

Terima kasih, Kak Minho. Terima kasih karena telah membantu Julia si anak manja ini menemukan 'hidup'nya.

Minho ingat betul hari ulang tahun Lia bertepatan dengan pegumuman lomba. Si gadis menangis tersedu-sedu di pelukannya dan Minho benar-benar bangga dengan Lia. Minho senang karena Lia akhirnya menemukan 'hidup'nya.

Kendati suatu hari dari hari itu, 'hidup' itu pula yang membawa Lia pada trauma baru dan luka kehilangan yang memakan waktu untuk disembuhkan.

Belum, Kak. Ini terakhir...maksudku ini bagian terakhir

Lembar ketiga dimulai. Namun, tiba-tiba saja dunia menjadi begitu kabur. Oleh rintik-rintik pilu yang bergumul di pelupuk.

Setelah menikah, banyak hal-hal tak terduga terjadi. Tetapi yang paling kuingat adalah tangisan kakak di malam-malam itu.

Aku tahu, memejamkan mata terasa sulit untuk kakak. Khawatir kalau aku iba-tiba pergi. Tidak banyak yang bisa aku lakukan sebab kala itu aku pun ketakutan pada diriku sendiri.

Kosong, takut. Padahal nyata-nyata aku lihat ada yang lebih hampa dan takut daripada aku. Ada yang menangis diam-diam sepanjang malam sementara aku tetap pada egoku yang inginkanku pergi. Berpikir bahwa kepergianku mampu mengurangi beban emosional kakak. Maaf kak, waktu itu aku lupa kita saling mencintai...

Pengalaman pertama—dan terakhir—bagi keduanya. Dihadapkan pada kehilangan pertama akan sosok yang sangat dinantikan dalam sebuah rumah tangga. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Berdua sama-sama kehilangan, berdua sama-sama berusaha kembali hidup meski yang satu nyaris di ujung putus asa.

Terima kasih, Kak Minho. Terima kasih, Kekasihku. Terima kasih karena sabarmu telah berhasil menarikku kembali di jalur yang semestinya. Sebagaimana yang kamu katakan bahwa kamu bukan di depan ataupun di belakang, tetapi kamu ada di sisiku. Membersamai langkahku agar tidak terburu apalagi tertinggal. Setiap kali aku melihat kakak tersenyum saat kita bertukar kata, aku disadarkan pada pemahaman bahwa perjalananku masih panjang dan hidupku sangat berarti.

Maafku sungguh besar jagatnya. Sebab aku masih sering merepotkan kakak alih-alih menjadi pelipur lara. Tetapi terima kasih untuk kebesaran hati kakak yang tetap mau menerimaku menjadi teman hidup kakak.

Sedikit yang bisa kuberi... aku ingin menulis lebih banyak lagi tetapi sepertinya aku merindukan kakak. Mungkin kita harus lebih banyak mengobrol dari biasanya setelah ini.

Bukan. Bukan berarti Minho dan Lia jarang mengobrol. Hanya saja, keduanya jarang berbicara serius. Sama-sama dibayangi rasa takut akan topik tabu yang tanpa disadari masih membayangi keduanya.

Aku sayang kamu, Lee Minho. Mari kita tetap saling menyayangi dan mengingatkan satu sama lain bahwa kita akan tetap saling menyayangi untuk waktu yang tak dapat ditentukan.

-Your half- -Julia-

Ps. Tolong buka laci, kemudian telpon aku ya, Kak

Rasa laparnya kini telah benar-benar hilang. Berganti kerinduan pada Lia. Pada gadis yang baru saja membuatnya menangis bahagia. Dan kembali membuatnya menangis ketika membuka laci dan mendapati sebuah bahagia baru menantinya di depan.


“Halo, Lia.”

“Kak Minho?”

“Terima kasih.”

“Kak aku ngantuk. Besok ya.”


end

Leyeora itu...

Bisa dibaca.

Bagi Hansel, Rara bukan sebuah enigma yang sulit. Sejak pertama kali bersua di sudut kafe yang dipilihkan Nana, Hansel dengan mudah membaca Rara, Jaket levis itu adalah saksi pertama kalinya Hansel membaca Rara. Membaca ketidaknyamanan dalam dirinya ketika sebagian pahanya menjadi 'santapan' gratis dari beberapa pasang mata tidak sopan di sana.

Ketika pertama kali Nana memintanya mengajar Rara, Hansel tidak berekspektasi apapun. Apalagi sampai tahap jatuh cinta. Bukannya tidak pernah atau tidak mau. Hanya saja, Rara lebih muda darinya meski hanya berbeda setahun. Dan selama ini Hansel tidak pernah punya pacar yang seumuran apalagi lebih muda. Pacaran terakhir pun sudah hampir 2 tahun yang lalu dan Hansel hampir yakin bahwa sampai akhir masa mengajarnya, ia dan Rara tidak akan melewati garis tutor-murid.

Iya, itu 3 bulan lalu. 3 bulan telah berjalan ternyata semudah itu membuat Hansel luluh dan jatuh. Ia tahu betul bahwa ia telah benar-benar terperangkap dalam jerat yang tak pernah secara sengaja dibentangkan oleh Rara.

Hansel tahu ada kegelisahan yang dirasakan Rara. Kendati tidak masalah untuknya sekedar bertanya, tetapi Hansel memutuskan untuk tetap diam tak bertanya lebih jauh—selain menduga ia kurang enak badan.

“Gimana perasaan Kak Hansel kalau ada orang yang ngira aku pacarnya Kakak?”

Oh, ini rupanya.

Memangnya Hansel harus merasa bagaimana? Tentu saja dia senang. Berarti selama ini—sadar ataupun tidak—ia telah berperan sebagai pacar Rara bukan? Paling tidak menurut orang itu.

“Errmmm gak usah dijawab gak apa-apa sih, Kak. Aku—”

“Gak apa-apa.”

“Hmm?”

“Kamu dari tadi banyak melamun karena mikirin ini, Ra?”

“Errr...gak juga sih. Tapi...ya iya juga. Sedikit.”

Bohong. Jelas-jelas Rara terganggu akan hal itu. Hansel tahu dari Nana bahwa beberapa orang—Hansel tidak akan menyebut orang-orang seperti itu sebagai teman—di sekolah mulai membicarakan hal buruk tentang Rara yang kerap dijemput olehnya. Dan ya, salah Hansel juga karena dia terlalu mencolok.

Tapi mau bagaimana lagi, memang style dia kan seperti ini. Seperti ini adalah dari kepala sampai kaki dibalut barang branded.

“Gak apa-apa. Gak perlu khawatir. Aku gak masalah sama tanggapan orang lain karena kenyataannya bukan seperti yang mereka kira, kan?”

“Iya sih. Cuma aku gak enak aja kan Kak Hansel jalan sama anak SMA.”

Cara lain membaca Rara adalah hati-hati. Pelan-pelan. Sebagaimana sebuah novel yang menyampaikan pesan bagi pembaca dengan hati-hati seiring lembar demi lembar dibaca dengan seksama.

“Harusnya aku yang khawatir sama kamu sih, Ra. Mungkin beberapa orang merasa sangsi kamu sering jalan sama aku.”

Tetapi kenyataanya tak ada yang dikhawatirkan Hansel sama sekali dengan dirinya jalan bersama Rara. Rara gadis yang baik dan menyenangkan. Dia juga pintar dan mudah memahami penjelasan Hansel—kendati Hansel sampai saat ini masih kurang percaya diri mengajari Rara karena gadis ini memang sudah bawaannya cerdas.

Dan tiidak ada yang salah juga dari diaa jalan dengan anak SMA. Apakah ada undang-undang KUHP hitam di atas putih yang menyatakan mahasiswa dilarang mengencani anak SMA? Oh koreksi. Apakah ada undang-undang KUHP hitam di atas putih yang menyatakan mahasiswa dilarang jalan bersama anak SMA? Hansel dulu juga tidak merasa aneh kencan dengan mahasiswi.

“Tapi Kak Hansel gak punya pacar kan?”

“Memangnya aku belum pernah bilang?”

“Lho? Jadi udah ada pacar ya?”

Belum. Baiklah, Hansel baru sadar bahwa ia tidak pernah secara terang-terangan berbagi pada Rara tentang cerita merah mudanya. Karena ya...tidak ada yang bisa diceritakan. Sebab ia memang solo. Single kalau di badminton.

“Makasih ya, Kak Hansel. Besok sore ketemu lagi. Ada tugas tambahan?” ucap Rara diakhiri tanya.

Di sisa perjalanan usai terjebak macet hingga tiba di rumahnya, tidak ada tukar kata antara Hansel dan Rara. Rara sendiri masih harus dikejutkan dengan suara Hansel untuk menyadarkannya dari lamunan panjang. Hansel agak ngeri sebenarnya. Ya semoga tidak ada barang halus yang diam-diam ikut dalam mobil lalu merasuki Rara.

“Sama-sama. Gak ada,” jawab Hansel.

“Oke, Kak”

“Gak ada.”

“Iya aku denger, Kak.”

“Pacar. Maksudku pacar. Aku gak ada pacar.”

Pertanyaan terakhir sebelum raungan suara klakson dari mobil belakang mereka baru bisa dijawab oleh Hansel. Ya. Sejak kedatangannya ke tanah airnya, ia belum tertarik pada siapapun. Apalagi sampai pacaran.

“Oh...iya.”

Rara itu punya kulit putih. Sehingga ketika jantungnya memompa cepat, Hansel dengan mudah menemukan rona merah di kedua pipi gembilnya.

Lucu banget. Mau gigit.

“Kenapa senyum gitu?”

“Eh? GAK APA-APA KOK. AKU PAMIT KAK.”

Rara buru-buru membuka pintu. Sekali lagi melambaikan tangan pada Hansel sebelum berlari bergegas masuk ke rumah. Tetapi sepertinya Hansel agak beruntung karena kantong plastik berlogo toko buku yang mereka sambangi tadi tertinggal.

“Rara!”

Langkah seribu Hansel berhasil menahan langkah Rara yang nyaris menutup pintu gerbang rumahnya. Matanya membulat lucu. Bingung.

“Bukunya ketinggalan.”

Rara menepuk kening sebelum mengambil alih buku dari tangan Hansel. “Makasih, Kak,” ucapnya yang dibalas anggukan.

“Ra.”

“Iya. Ada lagi, Kak?”

Hansel mengusap tengkuknya. Lantas mengulas senyum pada Rara dan menggeleng.

“Gak apa-apa. Jangan lupa belajar tapi tetap jaga kondisi. Jangan sakit.”

“Oke, Kak.”

Kalau adek gue nilai bahasa inggris ujian akhirnya minimal 9.00, gue kasih lampu ijo

“Dan jangan dipikirin omongan orang. Aminkan aja.”

“Maksudnya?”

Hansel tahu, ia mesti menunggu. Dan tidak semua orang sabar menunggu seperti tulisan di belakang truk kuning.

“Ya aminkan saja omongan orang. Siapa tahu jadi doa.”

“Omongan orang yang mana?”

Hansel tahu ada garis yang sudah digambar Nana di antara dia dan Rara. Tetapi tidak salah kan jika Hansel mengirim sinyal. Paling tidak, Rara tahu bahwa ia tidak jatuh sendirian.

“Yang ngira aku pacar kamu.”

Boleh Hansel jujur?

Hansel suka sekali strawberry. Ketika ayahnya bertugas di Korea, strawberry di sana sangat manis dan menyegarkan. Hansel belum pernah lagi merasakan strawberry seenak dan semenyegarkan itu.

Mungkin selera strawberry Hansel harus diganti. Oleh sepasang pipi kanan kiri merona Rara yang ternyata lebih menyegarkan.

Ya, Hansel harus lari sekarang. Sebelum ia benar-benar sinting dengan menarik Rara untuk mengecup kedua pipi merah menyegarkan itu.

“Sampai jumpa besok, Rara.”

Tidak apa. Besok tidak akan canggung. Hansel punya seribu satu cara untuk menggempur gunung es sebesar apapun.


[Tidak ada] kupu-kupu dalam perut

Jika seseorang bertanya pada Rara kemarin kapan terakhir kali ia berjalan di bawah naungan payung saat hujan ditemani seorang laki-laki maka jawabannya adalah sewaktu kelas 6 sd dan laki-laki itu adalah ayahnya. Tetapi jika pertanyaan yang sama diajukan sekarang, maka jawabannya adalah sekitar 10 menit lalu dengan laki-lakinya adalah Hansel. Teman Mbak Nana sekaligus tutor bahasa Inggrisnya selama tingkat akhir sekolah menengah atas ini.

Rara tahu kok, beberapa teman beda kelas mulai membicarakannya. Tentang Rara yang beberapa kali dijemput oleh mahasiswa tampan yang suatu hari mengendarai motor besar dan di hari lainnya mengendarai mobil bagus. Beranggapan bahwa mungkin laki-laki itu hanya menjadikan Rara 'mainan' saat membutuhkan distraksi sejenak dari serangkaian tugas kuliah yang memuakkan.

Persetan. Itu kan karena mereka mengira Hansel adalah pacarnya. Sementara status Rara dan Hansel hanya sebatas murid-tutor. Tidak lebih dari itu—di luarnya. Sebab Rara sudah lebih dari sekedar paham di usianya sekarang bahwa rasa menggelitik di perut setiap kali ia berinteraksi dengan Hansel adalah bukan disebabkan oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.

Hei, Rara tidak pernah menelan telur kupu-kupu omong-omong. Jadi, sangat tidak mungkin kupu-kupu betulan ada di dalam perutnya.

Rara pernah bertanya pada Ryama yang punya pacar seorang kakak tingkat populer. Seangkatan dengan Mbak Nana. Kenapa Ryama suka pada Kak Harsa? Apa alasan Ryama jatuh cinta pada Kak Harsa?

“Gak tahu juga. Mungkin karena dia tampan? Tapi banyak kok yang lebih tampan dari Kak Harsa. Mas Noah yang pernah jadi guru magang itu juga tampan. Atau karena baik? Tapi banyak juga yang baik.”

“Duuh...jadi kenapa kamu jatuh cinta sama Kak Harsa?”

Ryama mengedikkan bahu. “Mungkin karena hati aku milih dia.”

Setelahnya Rara berpura-pura muntah-muntah karena jawaban Ryama sangat menggelikan.

“Kenapa geleng-geleng, Ra? Ngelamunin apa?” Suara Hansel berhasil ditangkap rungunya. Membawa kembali Rara yang sempat terperangkap dalam ruang lamunan.

“Gak ngelamun kok.”

Hansel tertawa kecil. “Aku ajak ngobrol daritadi. Tapi gak disahutin.”

“Aaa...maaf ya, Kak.”

Rara kembali mengalihkan perhatian pada rak buku di hadapannya. Mencoba membuang rasa malu karena mengabaikan obrolan Hansel. Tak terbayang berapa banyak yang Hansel bicarakan sejak keduanya masuk di toko buku ini.

“Buku ini gimana, Ra?”

Hansel menunjukkan sebuah buku grammar. Demi apapun Rara sudah tidak bisa fokus lagi dengan tujuan awalnya sehingga ia hanya mengangguk.

“Coba dilihat ini ada yang udah dibuka. Oh kayaknya bukunya cocok buat kamu—”

Hansel masih menggebu menjelaskan pada Rara tentang buku yang ia temukan dan ia rasa cocok untuk Rara. Sementara Rara kembali melamun. Oh tidak. Rara malah salah fokus. Memperhatikan side profil Hansel. Pipinya...boleh disentuh tidak ya? Oh, Kak Hansel juga mancung. Dan bibirnya saat berbicara....

Rara....otaknya....

“Oke?” Hansel menoleh tiba-tiba. Membuat Rara terkejut hingga mundur satu langkah.

“Oke.”

“Apanya?”

“Bukunya?”

Hansel mengulas senyum. “Kamu capek ya, Ra? Harusnya tadi kita langsung pulang aja sih ketimbang mampir dulu. Iya gak?”

Rara buru-buru menggeleng. “Gak kok, Kak,” elaknya. Lantas buru-buru merebut buku dari tangan Hansel. “Aku bayar bukunya ini ya. Makasih udah dipilihin, Kak Hansel.”

Kata Mbak Nana kalau Kak Hansel menawarkan untuk membayarkan beli buku, Rara semestinya menolak dengan keras. Karena apa? Ya Rara sendiri tahu karena buku itu kebutuhannya. Ia juga selalu menerima uang lebih dari Papa Mama untuk membeli buku. Sebagaimana cepatnya tangan Hansel mengulurkan kartu kreditnya di meja kasir, secepat itu pula Rara mengeluarkan beberapa lembar uang cash dari dompetnya.

“Aku yang bayar aja.”

“Gak boleh, Kak. Ini kan buku buat aku,” tolak Rara dengan tegas. “Ambil uang cash nya aja, Mbak,“pinta Rara pada cashier yang bertugas—yang sempat bingung harus memilih yang mana.

Kenapa?

Kenapa Mbak Nana selalu bisa menerka pergerakan Hansel? Apa mungkin laki-laki selalu suka membelikan barang untuk perempuan? Tetapi Mbak Nana selalu menerima benda pemberian Kak Juan. Apa mungkin itu karena mereka sudah pacaran? Sementara ia dan Hansel—

“Kamu hari ini banyak melamun, Ra.”

—hanya murid dan tutor. Ya meskipun Hansel teman Mbak Nana.

“Rara boleh tanya, Kak?”

Hujan sudah reda sedari tadi. Tidak lagi ada adegan sepayung berdua dari lobby toko buku ke parkiran. Tetapi dalam jarak aman seperti ini pun Rara tetap tidak sanggup mengontrol debaran jantungnya yang sedikit kurang ajar ini.

“Boleh. Tapi sambil jalan pulang ya. Biar kamu gak kemaleman. Nanti aku yang dipenggal Nana kalau telat antar kamu pulang,” jawab Hansel berujung gurau. Membukakan pintu untuk Rara sebelum ia sendiri masuk ke sisi kemudi.

Sebagaimana sore-sore umumnya, perjalanan ke arah barat itu menyajikan pemandangan mentari yang mulai terbenar, Memberikan guratan jingga dan lila di angkasa barat. Meski tetap tidak mampu meredakan gelenyar aneh di hati Rara yang kini setengah berharap Hansel melupakan niatnya.

“Jadi mau nanya apa, Ra? Sambil nunggu traffic nih.”

Ya Tuhan...Rara ingin tenggelam saja. Tetapi lautan jauh di sana.

“Gimana perasaan Kak Hansel kalau ada orang yang ngira aku pacarnya Kakak?”


Jika ada yang bertanya apa yang paling dibutuhkan Rara saat ini maka ia akan menjawabnya dengan penuh keyakinana bahwa ia butuh mesin waktu. Mundur ke beberapa menit lalu sebelum pertanyaan itu ia lontarkan sehingga atmosfer di mobil ini menjadi hening—dan sedikit canggung.

“Errmmm gak usah dijawab gak apa-apa sih, Kak. Aku—”

“Gak apa-apa.”

“Hmm?”

“Kamu dari tadi banyak melamun karena mikirin ini, Ra?”

“Errr...gak juga sih. Tapi...ya iya juga. Sedikit.”

Tolong. Sekarang Rara ingin melebur menjadi debu dan menyanyi syalalalala. Hansel dan tawanya selalu bisa membuat kupu-kupu—yang tidak pernah benar-benar ada—i perutnya penuh sesak.

“Gak apa-apa. Gak perlu khawatir. Aku gak masalah sama tanggapan orang lain karena kenyataannya bukan seperti yang mereka kira, kan?” ujar Hansel akhirnya.

“Iya sih. Cuma aku gak enak aja kan Kak Hansel jalan sama anak SMA.”

“Harusnya aku yang khawatir sama kamu sih, Ra. Mungkin beberapa orang merasa sangsi kamu sering jalan sama aku.”

“Tapi Kak Hansel gak punya pacar kan?”

“Memangnya aku belum pernah bilang?”

“Lho? Jadi udah ada pacar ya?”

Tanya itu menggantung di utara. Karena berikutnya suara klakson mobil di belakang mobil Hansel telah meraung perintah maju. Hansel belum sempat menjawab. Tak lagi sempat mengalihkan fokus dari lalu lintas sore yang padat.

Sementara Rara...entahlah. Mual? Sepertinya kupu-kupu sialan itu mendesak untuk dimuntahkan. Sudah lelah beterbangan sembarangan dalam perut untuk setiap tingkah mengesankan Hansel padanya.

Memanggil namanya dengan manis. Menarik beberapa lembar tisu untuk menyeka noda eskrimnya. Menaunginya dari hujan dengan payung. Membangunkannya tanpa mengusik setiap kali ia ketiduran di sesi belajar mereka. Memberi reward sederhana untuk setiap pencapaian belajarnya. Memberi rekomendasi musik yang pas untuk Rara break sejenak dari belajar. Melempar kelakar setiap kali Rara merasa suntuk dan kehilangan motivasi belajar. Membelikannya strawbery smoothie. Menemaninya makan seblak padahal toleransi rasa pedasnya rendah. Membukakan pintu mobil.

Banyak. Banyak sekali hal-hal yang membuat Rara overthinking sebelum tidur. Bahwa hal-hal sederhana semacam itu yang ia dapatkan dari Hansel, bagaimana tidak bisa membuatnya tidak jatuh cinta pada Hansel?

Aduh ribet sekali, Rara.

Maksudnya...mana mungkin Rara tidak jatuh cinta pada Hansel sementara yang dilakukan laki-laki itu adalah hal-hal manis yang membuatnya ingin menangis kalau saja benar Hansel telah memiliki seorang kekasih?

Kalau sudah punya pacar, kenapa Mbak Nana ngotot sekali menyuruhnya menjadi tutor Rara? Bagaimana kalau pacarnya cemburu pada Rara?

Ya ampun, Rara. Memangnya Kak Hansel suka sama kamu? Pede banget.

“Sampai,” seru Hansel mengembalikan penuh kesadaran Rara. Mengantar kembali jiwanya yang berkelana pada berbagai praduga tentang Hansel dan hubungan merah muda laki-laki itu.

“Makasih ya, Kak Hansel. Besok sore ketemu lagi. Ada tugas tambahan?”

“Sama-sama. Gak ada.”

“Oke, Kak”

“Gak ada.”

“Iya aku denger, Kak.”

“Pacar. Maksudku pacar. Aku gak ada pacar.”

“Oh...iya.”

Apa ini?

Kupu-kupu sialan itu kembali turun ke perut padahal tadi sudah di pangkal lidah siap dimuntahkan. Dan seulas senyum dengan mudahnya menghiasi wajah manis Rara.

“Kenapa senyum gitu?”

“Eh? GAK APA-APA KOK. AKU PAMIT KAK.”

Rara buru-buru membuka pintu. Sekali lagi melambaikan tangan pada Hansel sebelum berlari bergegas masuk ke rumah.

“Rara!”

Langkah Rara terhenti tepat sebelum ia menutup kembali pintu pagar. Mendapati sosok Hansel dengan plastik toko buku yang mereka sambangi tadi.

“Bukunya ketinggalan.”

“Makasih, Kak.”

“Ra.”

“Iya. Ada lagi, Kak?”

Hansel mengusap tengkuknya. Lantas mengulas senyum pada Rara dan menggeleng.

“Gak apa-apa. Jangan lupa belajar tapi tetap jaga kondisi. Jangan sakit.”

“Oke, Kak.”

“Dan jangan dipikirin omongan orang. Aminkan aja.”

Rara mengerutkan kening. Tidak paham. “Maksudnya?”

“Ya aminkan saja omongan orang. Siapa tahu jadi doa.”

“Omongan orang yang mana?” Demi apapun Rara tidak paham kemana arah pembicaraan Hansel.

“Yang ngira aku pacar kamu.”

Dan ketika Rara akhirnya paham, ia tahu ada yang membara dalam dada. Kadar dopamin dalam dirinya tumpah ruah. Bahkan ketika Hansel melambaikan tangan seadanya lalu melenggang pergi begitu saja—oh Rara sempat melihat telinganya yang merah pekat—Rara sadar bahwa ia punya dominasi kesempatan untuk—paling tidak—tidak merasakan jatuh cinta bertepuk sebelah tangan.

Iya, terima kasih kupu-kupu dalam perut.